Sisi

Sisi
SUNNY : Atmosfer


__ADS_3

__ 2 Minggu kemudian__


Aku menatap jam dilenganku. Jam yang selalu kulihat saat lupa waktu dan Jam yang sama yang selalu berisik saat jantungku merengek.


06.15 AM. Kelas masih sepi.


Aku menghela nafas seraya mengeluarkan Tumbler dan kantung kecil yang khusus mama buat untuk menyimpan obat obatku.


6 jenis obat setiap hari. Dengan jadwal yang berbeda.


Aku menatap sekeliling seraya meneguk air putih. Kalau dilihat kelas ini menyenangkan juga. Dengan kapasitas 32 orang. Di set seperti ruangan kelas di drama korea yang pernah aku tonton berasama mama.


Kelasnya cukup luas dengan 2 pintu masuk. Tempat duduk di set menjadi 4 baris dan 4 jajar Setiap siswa mendapat teman sebangku. Akan tetapi, bukan dalam artian satu meja dua kursi. Setiap siswa mendapatkan meja dan kursi masing masing.


Pintu pintu terletak disebelah kiri ruangan kelas. Mejaku dan Daisy berada dibarisan ke 3 dari pintu. Sedangkan meja Demian berada paling depan barisan kami. Meja guru terletak diantara barisan 3 dan 4. Tidak dipojok kanan karena, tepat di pojok kanan atas terdapat televisi yang selalu dipergunakan saat belajar.


Yang unik dari kelas kami adalah kami masih menggunakan Blackboard dan loker yang terletak di belakang meja siswa agar tidak ada alasan untuk kami lupa membawa buku pelajaran.


Alasan sekolah kami masih menggunakan Blackboard cukup sederhana. Para guru jarang sekali menulis di Board saat menjelaskan materi. Biasanya, mereka menjelaskan materi menggunakan monitor tv. Sehingga, pihak sekolah merasa tidak perlu mengganti Blackboard dengan Whiteboard.


Aku memasukan kembali obat dan Tumbler kedalam tasku.


Aku menatap sekitar. Seketika tatapanku tertuju pada dua orang di balik jendela, dua orang siswa yang baru saja datang.


Daisy dan Demian?


Aku tidak tahu mereka sedekat itu.


Yang menarik adalah aku melihat senyum lebar dan hangat dari wajah Daisy sesekali di tengah obrolan mereka. Ini pertamakali aku melihat teman sebangkuku secerah itu. Mereka terlihat sangat dekat. Apa mereka memiliki hubungan spesial?.


Aku lihat Demian sengaja masuk pertama lalu membukakan pintu untuk Daisy. Daisy meresponnya dengan mengangguk seraya tersenyum sopan. Sekilas dia seperti bangsawan.


"Eh sunny?." Mata Demian tertuju padaku. Daisy mengikuti arah mata Demian. Seketika wajahnya kembali dingin seperti biasa saat mentapku.


"Sunny,kenapa pagi pagi udah disini?." Tanya Demian seraya berjalan mendekat ke arahku. Daisy meletakan tasnya disebelahku.


Mata hazelnya menatap tajam kepadaku. Tanda ia benar benar tak suka keberadaanku yang merusak pagi cerahnya. Ia merogoh saku tasnya dan mengambil Headset. Ia pun sesegera memasangnya lalu melangkah pergi meninggalkan kami. Kenapa Daisy harus bereaksi seperti itu? Apakah mereka berpacaran?.


Kulihat wajah Demian cerah saat menatapku. Sial! Aku benci situasi seperti ini.


"Sunny! Ko ga dijawab?." Ia terlihat bersemangat sekali.


Aku menghela nafas panjang.


"Kenapa emangnya?" Jawabku malas.


"Ya gak apa apa sih, biasanya kan kamu datang jam 06.50 AM atau jam 07.00 AM."


Aku cukup terkejut mendengar ucapannya. Bagaimana dia bisa tahu? Dia menguntitku?


Aku menatap wajahnya yang selalu tersenyun menjijikan dihadapanku. Dia memang terlihat ramah bagi orang kebanyakan. Namun, mereka tidak tahu mata Demian mengatakan yang sebenarnya. Aku benci tipe orang seperti dia, yang menjual kebaikannya pada orang lemah sepertiku demi mendapat pujian murahan dari orang orang.


"Mau gua datang jam berapapun itu bukan urusan lo." Ucapku kesal. Raut wajahnya berubah seketika.


Aku menyunggingkan bibirku. Akhirnya dia terpancing juga.


Tapi tidak!.


"Ya cuman mau tahu aja,kan kita bisa ketemu di gerbang. Nanti gua bantuin lo naik tangga." Ucapnya dengan senyum lebar. Aku mengakuinya dia pemain yang hebat.


"Thanks, tapi gua bisa sendiri." Ucapku seraya meninggalkannya.


Aku meninggalkan kelas dengan perasaan kesal. Mengapa aku selalu menjadi magnet bagi orang orang yang haus akan pujian?. Aku tahu tubuhku lemah dan payah namun, bukan berarti mereka bisa dengan bebas memperlakukanku seperti itu. Sucks!


Aku berjalan kearah tangga. Aku melihat Daisy sedang duduk dipojok tangga. Hembusan nafasku begitu kasar saat melihatnya. Aku pun tak suka orang seperti dia yang tak peduli sama sekali terhadap apapun selain yang berhubungan dengan dirinya.


Namun, ada yang menarik disini. Kulihat Daisy sedang mendengarkan musik seraya mengacung acungkan tangannya seperti komposer.


"Woyyy!! Yang diatas!Bantu dong!" Seseorang mengagetkanku.

__ADS_1


Aku menarik bahuku kebelakang lalu menarik nafas agar rileks. Tenang.. tenang...tenang. Dan berhasil.


Romi berteriak dari bawah tangga. Romi adalah teman sekelasku. Dan yeahh, teman sebangku Demian juga.


"Tolong dong, berat nihh!!." Gerutunya. Kulihat ia membawa beberapa buku tebal dam besar itu seperti kamus besar bahasa Indonesia.


Aku menepuk bahu Daisy. Ia pun menoleh seraya melepaskan Headsetnya.


"Itu Romi minta bantuan." Ucapku seraya menunjuk ke arah Romi. Matanya mengikuti arah yang aku tunjukan. Lalu menatapku kosong. Demi Tuhan! Mengerikan sekali.


"Lo bisa sendirikan?." Ia menyunggingkan bibirnya seraya meninggalkanku. Demi Tuhan! Manusia jenis apa dia?!.


"Woyy!! Cepet dong!! Berat nih!." Keluh Romi dibawah sana. Tidak bisakah dia meminta tolong baik baik.


Aku melangkah menghampiri Romi.


"Nih!"ucapnya seraya memberikan 15 KBBI. Tubuhku limbung saat menerimanya.


"Gila berat banget!." Keluhku.


"Makannya. Tapi, Lo olahraga dikit gak apa apa ya." Ucapnya seraya menyeringai  dan melangkah mendahuluiku.


Menyebalkan! Bukannya aku tak tulus membantu Romi. Akan tetapi, aku takut kalau tiba tiba jantungku merengek lagi.


Romi sudah di puncak tangga. Dia cepat sekali.


"Sunny! Cepet dong! Bisa kagak?" Romi meneriakiku dari atas sana. Sialan! Aku kesal tidak pernah olahraga. Ini melelahkan sekali. Aku mengumpati mereka bertiga. Bisa bisanya mereka menyusahkanku.


Tangga penghubung lantai 2 dan 3 memiliki 20 anak tangga. Setiap anak tangga memiliki ketebalan 25 cm. Kini aku sudah di anak tangga ke 10. Payah sekali! Baru juga segini tanganku rasanya akan lepas dan kakiku seperti di pasangi karung beras.


"Sunny!!" Oh come on! Pahlawan kesiangan datang. Siapa lagi kalau bukan, Demian.


Ia sesegera mendekat kearahku dan mengambil KBBI secara paksa ditanganku.


"Lo tuh harusnya nolak aja waktu Romi minta bantuan." Ucapnya. Luar biasa sekali orang ini.


"Oyy Devon!! Cepet ya!" Ucap Romi seraya melangkah pergi.


Ia berjalan mendahuluiku seraya membawa 15 KBBI ditangannya. Dia terlihat tidak kesusahan sama sekali


Aku mendengus kesal. Mengapa orang seperti dia yang selalu datang saat aku butuh bantuan?


...*  *  *...


__Bel istirahat berbunyi__


Aku membereskan mejaku memasukan buku buku dan alat tulis lainnya kedalam tas dengan rapih.


"Sunny! Hayu mau ke kantin bareng gak?" Seru Sarah Anindiya.


Gadis manis dan pintar. Ia berkerudung dan baik kepadaku. Sarah juga seorang ADM (Artis Dunia Maya). Dia hobby sekali membagikan kegiatan sehari harinya di media sosial. Followersnya pun di beberapa platform medsos bisa dibilang banyak.


Ia teman sekelasku. Sarah bercerita bahwa ia mengagumi Demian sejak hari  pertama kami sekolah. Namun, untungnya ia tak pernah marah saat Demian selalu datang seperti pahlawan kesiangan disaat aku membutuhkan bantuan.


"Boleh boleh." Aku menghampiri Sarah. Ia menggandengku. Kami berjalan menuju kantin. Kami berjalan bersama menuju kantin.


-


-


-


_Kantin SMA NEGERI PILAR BANGSA_


Aku suka kantin sekolahku. Bersih dan rapih. Sekolah menyediakan makan siang agar para siswa tidak jajan sembarangan dan membawa banyak sampah khususnya bekas bungkus makanan ke dalam lingkungan sekolah.  Ya, memang sekolahku itu terakreditasi A dari Badan akreditasi nasional.


Fasilitas di sekolahku cukup lengkap. Sekolahku mengedepankan kualitas dibanding kuantitas dalam mendidik siswa. Untuk itu, SMNPB (Sekolah negeri pilar bangsa) hanya menyediakan kapasitas 864 siswa saja.3 jurusan dari setiap tingkatan. IIS,MIA dan Bahasa. Setiap kelas diisi dengan 32 orang siswa.


Dilengkapi juga dengan kantin pribadi, kolam renang pribadi, lapangan upacara, Gor olahraga, Aula seni, Lab. Komputer, Ruang musik, Mushola, Laboratorium, dan beberapa ruangan khusus untuk beberapa ekstrakulikuler.

__ADS_1


Aku mengambil nampan makanku. Tak lupa dengan garpu dan sendok. Menu hari ini cukup menggiurkan nasi jagung, cumi asam manis dan acar.


"Sunny ari kamu boleh makan ini gak?" Tanya sarah didepanku


"Boleh ko, yang ga boleh itu makan makanan cepat saji. Yang kalorinya tinggi" Jelas ku.


Kami selesai mengambil makanan dan mencari meja. Aku mengikuti sarah yang mencarikan meja untuk kami. Saat sudah dapat entah mengapa aku benar benar tak suka. Tempat duduk kami bersebrangan dengan tempat duduk Demian dkk. Daisy juga duduk disana. Dia duduk di tengah teman laki laki?. Ia terlihat santai saat bersama mereka. sesekali senyum tipis terukir diwajah dinginnya saat mendengarkan celotehan teman teman Demian.


Kantin hanya dipenuhi suara alat makan yang saling beradu dan sesekali mendengar tawa kecil dari siswa. Aku berdecak kagum cukup tertib juga makan disini.


"Sunn, makan atuh! Ari kamu liatin siapa?" Tegur sarah dengan dialek sundanya.


Aku memakan nasi jagung yang dibuat oleh Bibi kantin yang selalu ramah kepada para siswa.


Disela sela makan kami, tak sengaja mataku dan Demian bertemu. Lagi lagi ia tersenyum menggelikan kearahku. Daisy yang melihat itu segera ia memalingkan wajah saat melihatku.


"Nyengir ame siape lu,von?" Tanya Romi pada Demian dengan nada cukup keras. Sehingga, semua teman Demianterhenti dari kegiatan makannya.


"Tuhh." Ia menunjuku dengan bibirnya yang mengerucut.


Aku menyembunyikan wajahku saat mereka semua menoleh kearahku. Sarah yang merasa banyak memperhatikan seketika ia menyapa Demian dengan panggilan akrab Demian seraya melambaikan tangan,nakal.


"Hai Devon!"


"Hi." Balas Demian dengan seringai andalannya.


"Disgusting!" Aku mengumpat pelan. Selera makanku hilang seketika.


"Sarah? Lo suka sama sarah?" Tanya teman Demian yang lainnya. Demian aku menjawab ia kembali menyantap makan siangnya.


"Sarah, sunny duluan ya. Ga apa apa kan?" ucapku pada sarah.


"Lohh, kenapa atuh gak dihabisin? Itu liat kamu baru makan beberapa suap." Tanyanya seraya menunjuk nampan makanku yang masih terisi banyak.


"Udah gak selera, gak apa apakan?" Ia mengangguk mengerti.


Tiba tiba..


BRUK!! KLONTANG! Semuanya jatuh berserakan. Aku terjatuh dan sialnya semua makananku jatuh mengenai seragamku. Semua orang memperhatikanku tiba tiba. Shit!.


Aku melihat wajah orang yang dengan sengaja menubruku. Nampannya juga jatuh namun dia tidak kotor sama sekali ia tertunduk memungut sendok dan garpunya. Tak lama kemudian, wajahnya terangkat dan kulihat ternyata wajah dingin menyebalkan itu yang menubruku. Dia melakukannya dengan sengaja?


"Sunny, kamu gak apa apa?" Suara itu, suara yang terus membuatku jengkel saat mendengarnya yang selalu datang menjadi pahlawan kesiangan.


Tangannya membersihkan makanan sisa yang jatuh mengenaiku. Aku menepis tangannya. Sesegera aku berdiri dan membersihkan makanan yang berceceran ditubuhku. Aku tidak bisa membiarkannya kali ini!.


"Kalian berdua!!" Pekiku. Kami menjadi tontonan seru saat ini.


"Wahhh Hebat ya!! Yang satu nabrak orang dengan sengaja tanpa minta maaf. Yang satu tiba tiba datang bantuin kaya pahlawan kesiangan. Hebat sekali kalian!!" Ucapku.


nafasku tidak beraturan. Dan tentu saja bukan hal yang baik. Namun, aku tak bisa menahannya lagi.


"Demian!! Apa gua umpan buat lo?" Demian tidak bergeming.


"Hebat ya kalian menyusun skenario memanfaatkan orang lemah kaya gua demi dapet applause dari orang orang!!" Ucapku seraya bertepuk tangan meledek mereka


"Gua emang sakit bukan berarti gua ***** ya!!"


"Sunny bu..." aku memotong ucapan Demian.


"Cukup!! Lo tuh Munafik!"ucapku tepat didepan wajahnya seraya pergi meninggalkan kekacauan di kantin.


"Hehe." Samar aku mendengar ia terkekeh.


Seriously??


-


-

__ADS_1


-


To be Continue...


__ADS_2