
Karena keasikan aku mengobrol dengan mbak Syifa, tak terasa kami berdua telah selesai menghabiskan makanan yang kami berdua makan.
"Aku buang dulu ya mbak?." tanyaku.
"Iya Syan." jawabnya.
Aku pun membuang bungkus itu ke tempat sampah yang ada di depan rumah makan. Setelah membuang sampah, aku pun langsung kembali duduk di samping mbak Syifa.
"Cindy beraknya lama banget ya mbak." ucapku.
"Iya nih, sampai makanan kita habis loh, dia belum keluar keluar." ucapnya.
"Paling ketiduran di toilet." ucapku dengan tersenyum.
"Bisa jadi juga sih." ucapnya.
Tak lama setelah itu Cindy pun keluar dari ruangan dapur rumah makan dan berjalan menuju ke arah kami berdua.
"Baru di omongin udah datang ya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya mbak, panjang umur dia." ucapku dengan tersenyum.
"Kalian lagi ngomongin aku ya." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Nggak, cuma heran aja gitu, iya kan mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Iya." ucap mbak Syifa.
Kemudian Cindy duduk di sampingku.
"Heran kenapa Syan?." tanyanya.
"Berak kamu lama banget." jawabku dengan tersenyum.
"Biasa kali Syan,namanya juga belum berak selama dua hari jadi sekalian totalan." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Gak capek apa tapi jongkok mulu di toilet." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Nggak dong mbak, kan dengan berak kita bisa menemukan sebuah inspirasi gitu." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Inspirasi ngilangin bau tai." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Tapi bener juga sih mbak yang di katakan Cindy." ucapku dengan tersenyum.
"Inspirasi apatuh." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Inspirasi membangun masa depan yang cerah." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Bisa aja deh kamu." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Tapi, ngomong ngomong cita cita kamu mau jadi apa Cin?." tanyaku.
"Dokter dong." jawab Cindy.
"Kalau mbak Syifa?." tanyaku.
"Kalau mbak, pengen jadi pesepakbola profesional sih aslinya tapi gagal." jawab mbak Syifa.
"Emang mbak bisa main bola? ." tanyaku dengan tersenyum.
"Ngeledek mbak ya kamu Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Gak mbak cuma nanya doang kok." ucapku dengan tersenyum.
"Kalau cita cita kamu apa Syan?." tanya Cindy.
"Pemain sepak bola profesional dong, sama kek mbak Syifa, tapi skill aku kurang bagus." jawabku dengan tersenyum.
"Mbak dulu sering banget ikut turnamen sepak bola loh Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Seriusan mbak?." tanyaku.
"Iya,bahkan pernah juara lagi saat mewakili sekolah sma mbak dulu." jawab mbak Syifa.
"Wihh keren." ucapku dengan bertepuk tangan.
"Kalau aku sih gak suka sama bola." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Sukanya kamu mah nonton drakor." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya dong utama itu." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Kalau kamu Syan, pernah ikut lomba?." tanya mbak Syifa.
"Pernah sih mbak,tapi gak pernah menang." jawabku.
__ADS_1
"mainnya di posisi apa Syan?." tanya mbak Syifa.
"Striker sih mbak, kalau gak gitu sayap." jawabku.
"Pernah ngegolin gak?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.
"Jarang sih, aku cuma cetak satu gol saat turnamen kemarin." jawabku dengan tersenyum.
"Berarti kamu kurang tajam Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya mbak mungkin." ucapku "tapi kalau mbak posisinya dulu apa?. " tanyaku.
"Bek sayap, kanan kiri juga bisa." jawabnya.
"Kenapa kok bek sayap mbak?." tanyaku dengan penasaran.
"Karena mbak paling lincah dari yang lain Syan, drible dan passing mbak juga lumayan loh." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Pernah ngegolin gak mbak?." tanyaku dengan tersenyum.
"Pernah dong tapi jarang,seringan mbak nyumbang asist." jawab mbak Syifa.
"Wah keren mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Mbak pernah ikut seleksi di persija junior loh dulu, tapi gak masuk soalnya saingannya berat." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Keren sih hampir masuk persija." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi sayang mbak gagal jadi pemain sepak bola." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau sekarang masih bisa main bola mbak?." tanyaku.
"Gak tau Syan, mbak gak pernah main bola lagi sekarang, mbak aja terakhir main bola umur 20 tahun kalau gak salah." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Udah lama banget ya mbak." ucapku dengan. tersenyum.
"Iya Syan, udah lima belas tahun lalu." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Tapi mbak masih lincah kek dulu gak ya?." tanyaku dengan tersenyum.
"Ya jelas gak dong Syan, mbak sekarang lari bentar aja udah ngos ngosan." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau dulu mbak?." tanyaku dengan tersenyum.
"Kalau dulu ya, maju mundur oke aja sih Syan maklum juga dulu masih muda,masih kuat fisiknya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya dong Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Tapi fans apa dulu nih?." tanyaku.
"Fans Barcelona dong Syan gimana sih." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Pantesan agak agak gimana gitu." ucapku.
"Kalau kamu fans apa?." tanya mbak Syifa.
"Fans manchester United dong." jawabku dengan tersenyum.
"Itu mah kalahan Syan." ledek mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau aku fans Real Madrid." saut Cindy dengan tersenyum.
"Katanya kamu gak suka sepak bola Cin?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.
"Ikut nonton bapak aja biasanya di rumah." jawab Cindy dengan tersenyum.
"Mbak Tya juga fans manchester United loh Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Masa sih mbak?." tanyaku.
"Iya Syan, biasanya aja pakai baju mu dia." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Berarti se frekuensi dong aku sama mbak Tya." ucapku dengan tersenyum.
"Iya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba handphone mbak Syifa pun berbunyi menandakan ada telpon masuk. Lalu mbak Syifa mengambil handphonenya yang ada di saku celananya.
"Mbak Tya, video call mbak Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Angkat mbak." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian mbak Syifa mengangkat video call dari mbak Tya.
"Hai mbak Syifa kangen aku gak?." tanya mbak Tya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Gak ada yang kangen sama kamu." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Ah masa." ucap mba Tya dengan tersenyum.
"Mbak di tengah biar kelihatan semua." ucap Cindy.
"Iya deh mbak di tengah." ucap mbak Syifa.
Mbak Syifa pun berdiri, sementara aku bergeser ke kanan dan mbak Syifa duduk di tengah tengah aku dan Cindy. Aku pun ikut melihat handphone mbak Syifa, terlihat mbak Tya sedang rebahan dengan anaknya di kasur kamarnya, dengan memakai jersey mu.
"Cie fans mu." ucapku dengan tersenyum.
"Iya dong." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong kamu sakit apa?." tanya mbak Syifa.
"Kan aku udah bilang tadi mbak, sakit perut sama badan aku panas." jawab mbak Tya.
"Oh iya, mbak lupa." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Maklum aja sih udah tua." ledek mbak Tya dengan tersenyum.
"Iya udah tua,udah mulai pikun." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong kita sama sama fans mu loh mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Masa sih." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Iya dong mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Kita bully sama sama ya nanti Syan,kalau Barcelona kalah." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Siap dong mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Awas aja kalian kalau manchester United kalah, aku bully kalian berdua." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Santai aja gak sih Syan." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Iya dong mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Sakit kok senyum senyum gitu Tya?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.
"Sudah sembuh sekarang." jawab mbak Tya dengan tersenyum.
"Bentaran doang sakitnya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kan udah anak aku obatnya." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Berarti kamu cuma alasan tadi." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Tadi aku beneran sakit mbak." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Bilang aja mau bermesraan sama suami." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
Mbak Tya memanyunkan bibirnya.
"Yang penting kan sekarang aku bisa tidur sama anak aku tercinta ini." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Ye, ngomong ngomong suami kamu mana Tya?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.
"Keluar mau ngopi tadi katanya." jawab mbak Tya.
"Mbak, gak ikut ngopi sekalian." ucapku dengan tersenyum.
"Malu dong, masa ibu ibu ngopi." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Barang kali mbak mau ngopi." ucapku dengan tersenyum.
"Ya gak lah Syan,mbak kan pengen berduaan sama anak mbak, iya kan sayang." ucap mbak Tya dengan tersenyum ke arah anaknya.
Kemudian anak mbak Tya pun tersenyum senyum.
"Tuhkan senyum senyum dia." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Ih lucu banget." ucap Cindy dengan tersenyum.
"Tapi masih lucu ibunya sih, imut imut gimana gitu." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya dong, ibunya kan masih unyu unyu." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Jadi pengen cubit pipinya gak sih Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Cubit aja kali mbak, nanti aku cubit juga pipi mbak." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Cubit pipi anak kamu, ngapain juga aku mau cubit pipi kamu,mendingan juga cubit pipinya Arsyan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
__ADS_1
..........................BERSAMBUNG.............................