Sisi

Sisi
JADIAN


__ADS_3

Aku pun sangat bahagia, ternyata aku sekarang bisa menemukan Sisi, walaupun sebelumnya menyamar sebagai Sandra. Tak lama setelah itu aku pun melepaskan pelukanku.


"Si, kenapa lo bohongin gua sih selama ini?." tanyaku.


"Maafin gua ya Syan." ucapnya.


"Gak apa apa Si, yang penting sekarang gua bisa ketemu lagi sama lo." ucapku dengan tersenyum.


"Lo gak marah Syan?." tanyanya.


"Gak, justru gua bahagia banget bisa bertemu sama lo." jawabku dengan tersenyum.


Kemudian kami berdua duduk di kursi, tempat biasa kami berdua duduk.


"Syan panggil gua Sandra aja ya sekarang." ucapnya.


"Lah kenapa?." tanyaku.


"Nama gua sekarang emang Sandra Arsyan, udah gak Sisi lagi." jawabnya dengan tersenyum.


"Oh gitu ya, tapi kenapa kok bisa ganti gitu?." tanyaku.


"Gua ganti nama panggilan sejak kelas 1 smp Syan,kata mama nama Sisi kurang bagus." jawabnya dengan tersenyum.


"Oh, ngomong ngomong tante Lina kabarnya gimana?." tanyaku.


"Alhamdulillah baik kok." jawabnya dengan tersenyum.


"Tapi udah tau kan kalau ada gua di Jakarta?." tanyaku lagi.


"Udah gua kasih tau Syan." jawabnya dengan tersenyum.


"Gimana dia kangen gak?." tanyaku lagi.


"Kangen dong, malah mama menyuruh gua untuk ngajak lo tinggal di rumah." jawabnya dengan tersenyum.


"Tapi gua mau nanya sama lo." ucapku dengan tersenyum.


"Nanya apa Arsyan?." tanyanya dengan tersenyum.


"Kenapa sih, ada acara bohongin gua segala?." tanyaku dengan tersenyum.


"Biar seru dong Syan, kalau gua langsung kasih tau lo di hari itu kan gak seru." jawabnya dengan tersenyum.


"Bisa aja deh lo Si." ucapku dengan tersenyum.


"Sandra Arsyan, gak Sisi." ucapnya dengan tersenyum.


"Oh iya gua lupa." ucapku dengan tersenyum.


"Masa sih lo gak ingat sama sekali wajah gua?." tanyanya dengan tersenyum.


"Gak, wajah lo itu beda banget Sandra, lo makin cantik sekarang." jawabku dengan tersenyum.


"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum.


"Beneran Sandra gua gak bohong." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi jujur deh, lo juga beda banget tau gak mungkin jika kita waktu itu gak kenalan, pasti gua gak akan tau kalau lo itu Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya dong gua kan makin ganteng." ucapku dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong, gimana nih kabarnya tante Indah sama om Toni?." tanyanya dengan tersenyum.


"Alhamdulillah baik kok, malahan ibu gua sedang hamil sekarang." jawabku dengan tersenyum.


"Masa sih?." tanyanya dengan tersenyum.


"Iya Sandra." jawabku dengan tersenyum.


"Habis ini, punya adik dong." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya dong." ucapku dengan tersenyum.


"Kalau adik gua umurnya udah 5 tahun kalau gak salah." ucapnya dengan tersenyum.


"Lo udah punya adik?." tanyaku.


"Iya Arsyan." jawabnya dengan tersenyum.


"Cewek atau cowok adik lo?." tanyaku.


"Cowok kek lo." jawabnya dengan tersenyum.


"Namanya siapa?." tanyaku.


"Nanti juga tau sendiri Syan." jawabnya dengan tersenyum.


Kemudian aku tiba tiba teringat dengan Safira, aku pun langsung mengeluarkan handphoneku dari saku celanaku dan aku langsung video call Safira.


"Lo video call siapa Syan?." tanyanya.


"Safira, lo masih ingat gak?." tanyaku.


"Masih dong Syan." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Safira pun menjawab video call dariku, terlihat Safira di layar telepon dengan rambutnya yang di ikat ke belakang.


"Cantik banget sih." ucapku dengan tersenyum.


"Tumben lo video call gua, biasanya aja gak pernah." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian aku memberikan handphoneku ke Sandra dan Sandra menerima handphone itu.


"Hai Safira." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Ini siapa ya?." tanya Safira.


"Masa sih gak kenal?." tanyanya lagi.

__ADS_1


"Gak kenal." jawab Safira.


"Gua Sisi, Safira, masa sih sama teman sendiri lupa." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Beneran lo Sisi?." tanya Safira dengan tersenyum.


"Iya Safira." jawab Sandra dengan tersenyum.


"Gimana kabar lo Si?." tanya Safira.


"Alhamdulillah baik kok Safira, kalau lo sendiri." ucap Sandra.


"Sama aja dong." ucap Safira dengan tersenyum.


"Mulai sekarang jangan panggil gua Sisi lagi ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Lah kenapa Si?." tanya Safira dengan bingung.


" Nama gua sekarang Sandra." jawab Sandra dengan tersenyum.


"Jadi beneran lo yang di tabrak Arsyan waktu itu?." tanya Safira.


"Emang bener." jawab Sandra dengan tersenyum.


"Lo di katain Arsyan jutek tau dan dia berharap jika Sisi bukan lo." ucap Safira dengan tersenyum.


Kemudian Sandra/Sisi menoleh ke arahku.


"Bener Syan kata Safira?." tanya Sandra dengan tersenyum.


"Dulu itu Sandra." jawabku dengan tersenyum.


Kemudian Sandra menghadap ke handphone kembali.


"Ngomong ngomong Shinta gimana kabarnya sekarang?." tanya Sandra.


"Baik juga kok Si." jawab Safira dengan tersenyum.


"Gak lo tambahin dia ra, biar kita bisa video callan bareng." ucap Sandra..


"Gak aktif dia Si." ucap Safira.


"Sandra, bukan Sisi, Safira." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Gua lupa." ucap Safira dengan tersenyum.


"Di biasain manggil gua Sandra ya Safira." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Siap Sandra, btw udahan dulu ya video callnya gua mau bersih bersih rumah nih." ucap Safira dengan tersenyum.


"Yaudah deh kalau begitu, semangat ya bersih bersih rumahnya." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Iya harus dong, bye Sisi." ucap Safira.


"Sandra, Safira." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Oh iya, bye Sandra." ucap Safira dengan melambaikan tangan.


Setelah itu Safira mematikan video callnya dan Sandra mengembalikan Handphoneku.


"Ini handphone lo Syan." ucap Sandra dengan mengembalikan handphoneku kepadaku.


Kemudian aku memasukkan handphoneku ke saku celana.


"Syan, gua boleh kan bersandar di bahu lo?." tanyanya.


"Boleh kok." jawabku dengan tersenyum.


Setelah itu Sandra bersandar di bahuku.


"Syan lo mau gak tidur di rumah gua?." tanyanya.


"Berapa hari Sandra?." tanyaku.


"Lo maunya berapa hari?." tanyanya.


"Kalau gak mau gimana?." tanyaku dengan tersenyum.


"Harus mau dong pokoknya titik." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi ada syaratnya dong." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian Sandra menegakkan kepalanya dan menoleh ke arahku.


"Apa syaratnya?." tanyanya dengan penasaran.


"Lo harus ikut gua pulang ke desa." jawabku dengan tersenyum.


"Berapa hari tapi?." tanyanya dengan tersenyum.


"Terserah lo aja deh." jawabku dengan tersenyum.


"Seminggu boleh gak?." tanyanya dengan tersenyum.


"Boleh dong." jawabku dengan tersenyum.


"Nanti yang nganterin gua pulang ke Jakarta siapa?." tanyanya dengan tersenyum.


"Gua dong , Arsyan yang ganteng ini." ucapku dengan tersenyum.


"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum sembari mencubit pipiku pelan.


"Tapi gua mau ngomong sesuatu." ucapku dengan raut wajah serius.


"Ngomong aja!." perintahnya.


"Lo, ada perasaan gak sama gua?." tanyaku dengan ragu ragu.


"Perasaan, lo suka gua gitu?." tanyanya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Iya, gua suka sama lo Sandra." jawabku.


"Lo tau gak Syan, gua nolak cowok itu karena apa?." tanyanya.


"Gak tau." jawabku.


"Karena gua itu yakin kalau kita bakalan ketemu Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"Jadi lo suka sama gua gak Si?." tanyaku dengan ragu.


Setelah itu Sandra memegang tanganku.


"Syan, dari sekian banyak cowok hanya lo yang gua percaya Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"jadi?." tanyaku.


"Gua juga suka sama lo." ucapnya dengan senyuman manis yang terpancar dari wajah cantiknya.


"Berarti kita jadian dong?." tanyaku dengan tersenyum.


"Iya emang." jawabnya dengan tersenyum.


Setelah itu aku memegang tangan Sandra kemudian aku menciumnya.


"Jangan di cium cium gini ah, malu tau." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya deh." ucapku dengan tersenyum.


"Kita pulang yuk!." ajaknya.


"Yuk, tapi gua ngambil barang dulu ya." ucapku dengan tersenyum.


"Gua ikut ya." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian kami berdua pun berdiri dan dengan perlahan berjalan menuju ke tempat parkir taman. Sesampainya di tempat parkir, aku pun langsung membayar parkir ke tukang parkir.


"Motor lo mana San?." tanyaku.


"Gua gak bawa motor Arsyan." jawabnya dengan tersenyum.


"Lah terus lo kesininya pakai apa?." tanyaku.


"Ngojek dong." jawabnya dengan tersenyum.


Kemudian aku langsung naik ke motorku.


"Ayo naik Sandra kita jalan jalan!." ajakku.


"Ayo." ucapnya setuju.


Kemudian dia naik ke motorku dan aku pun langsung menjalankan motorku menuju ke rumahnya mas Ricky.


"Mbak Syifa udah kerja San?." tanyaku.


"Tadi pagi mbak Syifa udah ke rumah gua kok." jawabnya dengan tersenyum.


"Makasih ya San, lo udah mau bantuin mbak Syifa." ucapku dengan tersenyum.


"Santai aja kali, lagi pula gua juga lagi butuh pembantu kok." ucapnya dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu kami pun sampai mas Ricky, yang biasa aku tempati. Terdapat tante Santi dan mas Ricky sedang duduk berdua. Setelah itu kami berdua pun turun dari motor, lalu berjalan menuju ke tante Santi dan mas Ricky.


"Katanya sama Sisi, mana Sisi nya?." tanya tante Santi.


"Ini Sisi nya tante." jawabku dengan menunjuk ke arah Sandra.


"Ini bukannya Sandra ya?." tanya tante Santi dengan bingung.


"Iya tante, Sisi itu nama kecilku dulu tante yang sekarang udah ganti menjadi Sandra." jawab Sandra dengan tersenyum.


"Oh gitu ya." ucap tante Santi dengan mengangguk.


"Kita udah jadian loh tante." ucapku dengan tersenyum.


"Beneran?." tanya tante Santi dengan kaget.


"Iya, tante. " jawabku.


"Bagus dong kalau begitu, sini duduk di samping tante." perintah tante Santi.


Kemudian kami berdua duduk di samping tante Santi dan mas Ricky.


"Tante, nanti Arsyan mau tinggal beberapa di rumahnya Sandra sekalian mau ketemu sama tante Lina teman ibu." ucapku.


"Iya sayang, tante juga habis ini mau pulang kok." ucap tante Santi dengan tersenyum.


"Terus habis itu kamu udah gak tinggal di rumah, mas Ricky lagi Syan?." tanya mas Ricky dengan tersenyum.


"Gak mas, habis di rumahnya Sandra, Arsyan langsung kembali ke desa." jawabku dengan tersenyum.


"Yaudah kalau begitu." ucap mas Ricky dengan tersenyum.


"Tante kapan ke rumah lagi?." tanyaku dengan tersenyum.


"Kapan kapan aja sayang,kalau tante ada waktu." jawab tante Santi dengan tersenyum.


"Aku tunggu ya pokoknya tante." ucapku dengan tersenyum.


"Iya sayang." ucap tante Santi dengan tersenyum.


"Yaudah tante, aku mau masuk ngambil tas aku, lalu langsung berangkat ke rumah Sandra." ucapku dengan tersenyum.


"Iya sayang. " ucap tante Santi dengan tersenyum.


Kemudian aku menoleh ke Sandra yang ada di samping kiriku.


"Lo di sini aja sama tante Santi ya Sandra." ucapku.


"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian aku berjalan perlahan menuju ke dalam rumah untuk mengambil tasku yang ada di dalam.


.....................,.....BERSAMBUNG............................


__ADS_2