
Keesokan harinya setelah semalam aku ke mall dengan Sandra, aku pun terbangun dengan perutku yang masih sakit dan badanku yang panas serta masih sangat lemas. Setelah itu aku pun berdiri perlahan, lalu aku berjalan perlahan menuju ke kamar mandi dengan menahan rasa sakit di perutku.
Setelah beberapa saat, setelah aku selesai berwudhlu di kamar mandi, lalu aku pun berjalan perlahan kembali ke kamarku, sembari memegangi perutku yang masih terasa sakit.
Aku pun langsung masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat subuh dengan perut yang masih terasa sakit. Beberapa saat kemudian, setelah melaksanakan sholat subuh, aku pun langsung berbaring ke kasurku lagi karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit.
Setelah itu aku berbaring dengan memegangi perutku, mencoba untuk menahan rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Tak lama setelah itu tiba tiba handphone ku berdering, menandakan ada panggilan yang masuk. Aku pun langsung mengambil handphone ku yang ada di meja, samping kasurku.
Ternyata itu telpon dari Sandra, lalu aku pun langsung mengangkatnya.
"Arsyan." panggilnya.
"Iya ada apa?." tanyaku.
"Lo masih sakit?." tanyanya.
"Iya Sandra, perut gua sakit, badan gua panas sama lemas juga." jawabku.
"Yaudah gua nanti ke sana ya?." tanyanya.
"Gak usah Sandra, nanti gua ngerepotin lo lagi." jawabku.
"Gak apa apa Syan, sekalian gua ngasih obat ke lo." ucapnya.
"Gak usah Sandra." ucapku.
"Pokoknya gua ke sana titik." ucapnya.
Kemudian dia langsung mematikan telponnya sehingga merasa tidak enak dengannya, karena dia sudah terlalu baik kepadaku selama ini, saat aku berada di Jakarta. Sandra menganggapku sebagai cowok yang paling dia percaya.
Setelah beberapa saat, terdengar motor Sandra dari luar rumah.Tak lama setelah itu Sandra pun sampai di kamarku, dengan membawa bungkusan di kedua tangannya.
"Arsyan." panggilnya dengan tersenyum.
setelah itu dia menghampiriku, lalu duduk di kasur di samping aku berbaring.
"Masih sakit Arsyan?." tanyanya.
"Iya Sandra." jawabku dengan suara yang lumayan serak.
Setelah itu Sandra menaruh bungkusan itu ke meja yang ada di samping kasurku.
"Makan dulu ya Arsyan?." tanyanya.
"Gak lapar Sandra." jawabku.
"Lo gak nafsu makan ya?." tanyanya.
"Iya Sandra." ucapku.
Kemudian aku mencoba untuk duduk, namun Sandra melarangku.
"Lo tiduran aja Arsyan, gak usah bangun." ucapnya dengan tersenyum.
Sehingga aku pun masih tetap berbaring seperti yang di katakan Sandra. Setelah itu Sandra mengelus dahiku yang panas sembari tersenyum ke arahku.
"Makasih ya Sandra udah mau temenin gua." ucapku dengan tersenyum ke arah nya.
"Iya Arsyan gak apa apa kok." ucapnya dengan tersenyum ke arahku sembari terus mengelus dahiku.
"Sama maaf ya jadi ngerepotin lo." ucapku.
"Gak apa apa Syan, gua kan teman lo, masa temannya sakit di biarin aja sih." ucapnya dengan tersenyum ke arahku, sembari terus mengelus dahiku.
"Sandra, jadi gak enak gua sama lo." ucapku dengan tersenyum ke arahnya.
"Santai aja kali Syan, oh iya nanti gua tidur di rumah lo boleh kan?." tanyanya.
"Boleh aja sih, tapi orang tua lo sudah bolehin gak?." tanyaku balik.
"Sudah dong Arsyan, tenang aja." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu." ucapku dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra mengambil bungkusan yang ada di meja makan.
"Makan dulu ya Syan, gua bawakan nasi masakan gua." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Gak Sandra, nanti aja." ucapku.
"Gua suapin aja deh kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak usah Sandra." ucapku.
"Please deh Syan, gua gak ingin lihat teman gua sakit." ucapnya dengan memohon.
"Yaudah deh iya." ucapku setuju.
"Gitu dong dari tadi." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra langsung mengeluarkan nasi dari bungkusan itu, kemudian Sandra membuka wadah kotak yang berisi nasi itu, kemudian dia mengambil sendok yang ada di bungkusan itu.
"San, lo udah makan?." tanyaku.
"Sudah dong." jawabnya dengan tersenyum.
Sandra mengambil nasi yang ada di wadah kotak itu dengan sendok, tak lupa juga dengan lauk ayamnya, lalu makanan itu di suapkan ke mulutku perlahan.
"Enak gak Arsyan masakan gua?." tanyaku.
"Enak dong." ucapku sembari mengunyah makanan yang ada di mulutku perlahan.
"Sudah pantas jadi istrinya orang dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Sudah dong." ucapku dengan tersenyum.
Setelah beberapa suapan akhirnya aku pun sudah terasa kenyang.
"Udah Sandra." ucapku.
"Tapi masih banyak loh Syan." ucapnya.
"Gak apa apa Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra menaruh kotak nasi itu kembali ke bungkusan itu dan menaruhnya kembali ke meja. Lalu setelah itu, dia mengambil botol minum yang ada di meja serta bungkusan yang satunya.
"Minum dulu ya Syan." ucapnya dengan memberikan botol minum ke arahku.
"Ini tadi gua beliin obat di apotek Syan." ucapnya.
"Kok lo repot repot aja sih." ucapku.
"Gak apa apa Syan biar lo cepat sembuh." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian dia memberi obat yang telah di kupasnya itu kepadaku, kemudian aku pun langsung meminum obat itu.
"Kalau lagi sakit, gua selalu minum obat itu." ucapnya.
"Masa sih Sandra." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu tiba tiba aku teringat dengan pekerjaanku, aku belum memberitahukan mbak Syifa bahwa aku hari ini tidak masuk.
"Sandra." panggilku.
"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
"Gua boleh minta tolong gak?." tanyaku.
"Boleh dong." jawabnya dengan tersenyum.
"Lo buka handphone gua,telpon mbak Syifa lalu beritahu jika gua hari ini sakit." ucapku.
"Siap Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra mengambil handphoneku yang ada di meja, lalu dia langsung menelpon mbak Syifa dan mbak Syifa mengangkat telpon darinya.
"Iya ada apa Arsyan?." tanya mbak Syifa.
"Ini Sandra mbak." jawabnya.
"Iya Sandra ada apa nelpon mbak?." tanya mbak Syifa.
__ADS_1
"Arsyan sakit mbak, jadi dia izin gak masuk." jawabnya.
"Oh, sakit apa dia Sandra?." tanyaku.
"Perutnya sakit sama badannya panas mbak." jawabnya.
"Jadi kamu sekarang ada di rumah Arsyan ya?." tanya mbak Syifa lagi.
"Iya mbak." jawabnya.
"Coba kamu video call ya Sandra, mbak pengen lihat Arsyan." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak." ucapnya.
Kemudian Sandra mengarahkan handphone ke arahku.
"Gak kuat berdiri dia mbak." ucapnya dengan tersenyum.
"Arsyan bisa sakit juga ternyata." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kan masih manusia mbak." ucapku dengan suara yang lumayan serak.
"Iya iya, yaudah istirahat aja dulu biar cepat sembuh sama jangan lupa minum obat ya." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak." ucapku.
"Jagain Arsyan loh Sandra, jangan sampai dia telat makan." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak." ucapnya.
"Yaudah mbak matiin dulu ya, udah mau berangkat soalnya." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak hati hati loh." ucap Sandra.
"Iya, cepat sembuh ya Arsyan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya mbak." ucapku.
Lalu mbak Syifa mematikan video callnya, setelah itu Sandra meletakkan kembali handphoneku ke meja seperti sebelumnya. Sandra mengambil boneka pangeran yang ada di meja itu.
"Ini boneka istimewa banget ya Syan bagi lo." ucapnya.
"Iya Sandra." ucapku.
Setelah itu Sandra meletakkan kembali boneka pangeran itu di meja, lalu setelah itu dia kembali mengelus dahiku.
"Cepat sembuh ya temanku." ucapnya dengan tersenyum kearahku dan terus mengelus dahiku.
Aku pun hanya bisa tersenyum ketika melihat Sandra yang tersenyum ke arahku dan terus mengelus dahiku.
"Sudah mandi belum San?." tanyaku.
"Sudah dong, tadi sebelum subuh." jawabnya dengan tersenyum.
"Pagi banget." ucapku.
"Biasanya juga mandinya jam segitu." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi lo cantik banget tau gak." ucapku dengan tersenyum ke arahnya.
"Sakit sakit gini kok masih bisa ngegombal ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya dong kan gua,tapi ngomong ngomong,mungkin gua lebih cepat sembuhnya kalau ada lo." ucapku dengan tersenyum.
"Kenapa kok gitu?." tanyanya dengan bingung.
"Kan wajah cantik lo bagaikan obat bagiku." ucapku dengan tersenyum.
"Bisa aja deh lo Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
"Memang iya kan Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Iya deh iya, apa kata lo aja gua, pokoknya yang penting lo cepat sembuh, biar kita bisa jalan jalan lagi." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya, terus kita berdua pakai kaos yang kemarin kita beli." ucapku.
"Iya dong wajib itu." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
.......................... BERSAMBUNG............................