Sisi

Sisi
KABAR


__ADS_3

Tak lama setelah itu tiba tiba anak mbak Tya pun menangis.


"Kok nangis sih." ucap mbak Syifa.


"Takut mbak kali." ucap mbak Tya dengan tersenyum.


"Iya kali mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Minta susu itu anak kamu pasti." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Iya kali mbak." ucap mbak Tya.


"Lucu banget ya kalau lagi nangis." ucap Cindy dengan tersenyum.


"Iya, kek unyu unyu gimana gitu." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah semuanya aku matiin dulu ya, mau nyusuin soalnya, sama sekalian mau tidur juga." ucap mbak Tya dengan tersenyum.


"Tidur yang nyenyak tuan putri." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Bye semuanya." ucap mbak Tya.


Mbak Tya pun mematikan video callnya, lalu mbak Syifa langsung memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya.


"Aslinya aku manggil mbak Syifa tante gak sih." ucapku dengan tersenyum.


"Kok bisa tante sih." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Bibi aja Syan, jangan tante." ucap Cindy dengan tersenyum.


"Cocok juga gak sih di panggil bibi." ucapku dengan tersenyum.


"Cocok banget dong Syan." ucap Cindy dengan tersenyum.


"Mama aja gak sih." ucapku dengan tersenyum.


"Ibu aja gak sih." ucap Cindy dengan tersenyum.


"Emak aja gak sih." ucapku dengan tersenyum.


"Kalian apa apaan sih, panggil mbak aja kali gak usah aneh aneh." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Bagaimana kalau mulai sekarang kita panggil bunda Syifa aja." ucapku dengan tersenyum.


"Setuju dong." ucap Cindy dengan tersenyum.


"Terserah kalian aja deh mau manggil mbak apa sekarang." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Bunda Syifa." panggilku.


"Bagus gak kalau di panggil bunda?." tanya Cindy.


"Bagus bagus aja." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Tapi kalau anak anak mbak, manggilnya apa?." tanyaku.


"Ibu." jawabnya.


"Kenapa gak mama aja mbak?." tanya Cindy.


"Kalau mama itu kek anak orang kaya gak sih, sedangkan mbak kan gak kaya, jadi gak pantas." ucap mbak Syifa.


"Masa sih buat orang kaya doang." ucapku.


"Itu pemikiran mbak doang Arsyan." ucap mbak Syifa.


"Kalau anak kamu nanti Cindy, kamu suruh manggil apa?." tanyaku.


"Ibu aja, gak usah aneh aneh." ucap Cindy.


"Kalau di panggil mama gak mau?." tanyaku.


"Gak." jawab Cindy.


"Kenapa gak mau?." tanyaku.


"Ya gak mau aja sih." jawab Cindy.


Kemudian setelah itu handphoneku berbunyi, menandakan ada panggilan.Aku pun langsung mengambil handphoneku dari saku celanaku dan ternyata itu ada telpon dari nomer yang tak di kenal.


"Cewek yang ke berapa Syan?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.


"Gak tau mbak, ini nomer tidak di kenal." jawabku.


"Tadi waktu kamu berak, udah dua kali loh Arsyan video call sama cewek." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Masa sih mbak?." tanya Cindy dengan tersenyum.


"Iya, mana yang satunya sayang sayangan lagi Cin." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Simpanannya banyak kali dia." ledek Cindy dengan tersenyum.


"Cuma teman sama adik kelas tadi mbak." ucapku.


"Lah sekarang gak kamu angkat telponnya?." tanya mbak Syifa.


"Aku takut penipuan gitu, atau gak pembunuhan." jawabku dengan tersenyum.


"Lebay banget sih, mana mbak angkatin telponnya." ucap mbak Syifa.


Kemudian aku memberikan telponku kepada mbak Syifa dan mbak Syifa mengangkat telponnya.Terdengar suara wanita dari dalam telpon yang memanggilku.


"Hai Arsyan." panggilnya.


"Maaf mbak, Arsyan siapa ya?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.


"Ini bukan nomernya Arsyan ya?." tanyanya.


"Mungkin salah sambung kali mbak." jawab mbak Syifa.


"Yaudah saya matiin dulu telponnya." ucapnya.

__ADS_1


"Jangan dulu dong mbak, kan Arsyannya ada di depan saya." ucap mbak Syifa.


"Gimana sih mbak?." tanyanya.


Kemudian mbak Syifa mengembalikan telponnya kepadaku.


"Halo siapa ya?." tanyaku.


"Masa sih lupa sama aku." jawabnya.


"Dari suaranya sih, kek Nia ya?." tanyaku.


"Iya Arsyan." jawabnya.


"Ngomong ngomong, bagaimana nih kabarnya?." tanyaku.


"Alhamdulillah baik kok, kalau lo gimana?. " tanyanya balik.


"Alhamdulillah sehat wal afiat." jawabku.


"Syukurlah kalau begitu." ucapnya.


"Tau nomer gua dari mana Nia?." tanyaku.


"Dari Vina." jawabnya.


"Ohh." ucapku.


"Kamu simpan ya nomer aku." ucapnya.


"Iya, Nia." ucapku.


"Yaudah nanti lagi ya aku telpon Syan, lagi sibuk nih soalnya." ucapnya.


"Sibuk apa nih?." tanyaku.


"Ya sibuk aja gitu." jawabnya.


"Yaudah deh iya." ucapku dengan tersenyum.


"Bye Syan." ucapnya.


"Bye Nia, jangan lupa makan ya." ucapku dengan tersenyum.


"Iya." ucapnya.


Lalu setelah itu Nia mematikan telponnya, kemudian aku memasukkan lagi handphoneku ke dalam saku celanaku.


"Pacar ke tiga ya Syan?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.


"Teman mbak." jawabku.


"Teman apa teman?." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Friend kalau gitu." jawabku dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu tiba tiba mobil mas Ricky pun datang dan berhenti di depan rumah makan.Setelah itu mas Ricky dan tante Santi pun keluar dari mobil, lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah makan dengan bergandengan tangan.Seketika kami semua pun berdiri, lalu tante Santi pun langsung menghampiriku dan tante Santi langsung memelukku.


"Gak apa apa tante." ucapku.


Kemudian tante Santi melepaskan pelukannya.


"Tapi tante janji kok kalau udah nikah nanti tante akan temenin kamu di rumah." ucapku dengan tersenyum.


"Iya tante, kalau aku masih tinggal di Jakarta." ucapku dengan tersenyum.


"Gimana Syan tinggal sendiri di rumah mas?." tanya mas Ricky.


"Biasa aja sih mas." jawabku dengan tersenyum.


"Gak takut kamu sayang?." tanya tante Santi.


"Gak dong tante kan Arsyan pemberani." jawabku dengan tersenyum.


"Dapat telpon dari nomer gak di kenal aja gak berani ngangkat." ledek mbak Syifa dengan tersenyum.


"Diam dong mbak." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian tante mengelus pipiku..


"Keponakan tante udah mandiri ya sekarang." ucap tante Santi dengan mengelus pipiku.


"Oh iya mas ada apa tumben ke sini?." tanya mbak Syifa.


"Ada yang mau aku omongin mbak." jawab mas Ricky.


"Oh." ucap mbak Syifa.


"Yaudah sekarang ayo masuk dulu." ajak mas Ricky.


"Aku juga mas Ricky?." tanya Cindy.


"Iya Cin, biar nanti kasirnya di ganti mbak Santi dulu." jawab mas Ricky.


"Oh iya mas." ucap Cindy.


Kemudian kami berempat pun masuk ke dalam ruangan dapur, Hanya ada tante Santi yang di pusat rumah makan.


"Semuanya kumpul dulu!." perintah mas Ricky.


Kemudian semua karyawan pun berkumpul di depan mas Ricky.


"Oke jadi ada yang mau saya omongin ke kalian, hari hari ini rumah makan kita selalu sepi,penghasilan juga sangat minim, maka dari itu saya mohon maaf sebesar besarnya apabila dalam satu minggu ke depan tetap seperti ini, maka mau tak mau rumah makan ini akan saya tutup." jelas mas Ricky.


Aku lihat wajah kekecewaan dari seluruh karyawan.


"Mohon maaf ya semuanya, mungkin hari minggu yang akan datang, akan saya putuskan dan juga sudah ada orang yang ingin membeli rumah makan ini, oke mungkin itu aja dari aku bisa di lanjutin lagi kerjannya." jelas mas Ricky.


Kemudian mas Ricky pun langsung keluar dari ruangan dapur,aku lihat wajah mbak Syifa yang begitu sedih, raut wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia sangat sedih. Lalu aku menghampiri mbak Syifa dan mencoba menenenangkannya.


"Mbak Syifa yang sabar ya mbak." ucapku sembari menenangkan mbak Syifa.

__ADS_1


"Iya Syan." ucap mbak Syifa.


Tak lama setelah itu tante Santi pun masuk ke dalam ruang dapur dan menghampiriku.


"Arsyan, mana kuncinya sayang." ucap tante Santi.


"Ini tante kuncinya." ucapku sembari memberikan kunciku.


Kemudian tante Santi menerima kuncinya.


"Mau tidur di rumah, tante?." tanyaku.


"Gak Syan, cuma istirahat doang di tempat kamu, nanti siang tante pulang." jawabnya.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


Kemudian aku bersaliman dan mencium tangan tante Santi.


"Tante pergi dulu ya sayang." pamit tante Santi.


"Iya tante hati hati." ucapku.


"Iya sayang." ucap tante Santi dengan tersenyum.


Kemudian tante Santi keluar dari ruangan dapur.


"Kerja apa habis ini, kalau beneran di tutup." ucap mas Anto dengan kesal.


"Iya." ucap mas Ridho.


Kemudian mbak Syifa mengajak aku dan Cindy keluar dari ruang dapur.


"Ayo keluar dulu!." ajak mbak Syifa.


"Ayo." ucapku dan Cindy setuju.


Kemudian kami bertiga pun keluar dari ruang dapur rumah makan dan kembali duduk di tempat kasir rumah makan. Terlihat tante Santi dan mas Ricky sudah pergi dari rumah makan. Seketika mbak Syifa pun mengeluarkan air matanya.


"Mbak Syifa jangan nangis." ucapku mencoba menenangkan mbak Syifa.


"Iya mbak." ucap Cindy.


"Mbak gak tau harus kerja apa lagi Syan habis ini." ucap mbak Syifa dengan sedih.


"Sini dulu mbak sandaran di bahu aku." ucapku.


Kemudian mbak Syifa bersandar di bahuku.


"Yang sabar mbak ini mungkin cobaan." ucapku.


"Iya Syan, mbak takut nanti anak mbak gak bisa sekolah." ucap mbak Syifa dengan sedih.


"Main bola tarkam aja kali mbak." ucapku.


Kemudian mbak Syifa menegakkan kepalanya, dan menoleh ke arahku.


"Kamu kok lucu banget sih Syan." ucap mbak Syifa.


"Lucu gimana mbak?." tanyaku dengan tersenyum.


"Gak tau aku harus tertawa atau sedih sekarang." ucap mbak Syifa.


"Ya bagus dong kalau tertawa." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian mbak Syifa mencubit pipiku pelan.


"Lucu dong nanti mbak kalau main bola lagi." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Masa sih skillnya udah hilang?." tanyaku.


"Sudah dong Syan, kan udah lama mbak gak main bola." jawab mbak Syifa.


"Di coba dulu aja kali mbak, sekaligus memulihkan fisik mbak." ucapku.


"Sudah tua Arsyan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Di coba dulu kali mbak, joging joging atau apa gitu." ucapku.


"Gak ah Syan,kamu aja yang masih muda." ucap mbak Syifa.


"Kalau Arsyan sih masih bisa main bola mbak, walaupun skillnya gak jago jago amat." ucapku dengan tersenyum.


"Kalau mbak, jujur nyesel sih dulu Syan saat tidak lolos seleksi, malah gak berusaha lagi tapi malah berhenti total." ucap mbak Syifa.


"Mbak sih mudah menyerah." ucapku dengan tersenyum.


"Iya Syan, padahal mbak punya potensi dulu jadi pemain sepak bola profesional." ucap mbak Syifa.


"Mbak sih dulu gak mikir dua kali." ucapku.


"Iya Syan, mbak membayangkan deh bisa menjadi pemain timnas." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Tapi gini gini aku atlet loh mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Atlet apa Syan?." tanya mbak Syifa.


"Atlet lomba lari dong, kemarin aja aku habis menang mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Masa sih." ucap mbak Syifa.


"Iya mbak Syifa." ucapku dengan tersenyum.


"Keren kamu Syan, tapi ikut lomba lagi aja Syan, tingkat nasional atau tingkat provinsi gitu." ucap mbak Syifa.


"Iya mbak, Arsyan juga masih berusaha." ucapku dengan tersenyum.


"Semangat terus pokoknya, jangan mudah menyerah kek mbak." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Iya mbak Syifa." ucapku dengan tersenyum.


.............................. BERSAMBUNG........................

__ADS_1


__ADS_2