
Seminggu setelah kelulusanku,aku berniat untuk pergi ke Jakarta hari ini. Aku menyiapkan barang barangku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ibu pun menghampiriku di kamarku dan duduk di kasur kamarku, sementara aku tetap melanjutkan mengemasi barang barangku.
Setelah beberapa saat akhirnya aku pun selesai mengemasi barang barangku, lalu aku duduk di samping ibu yang duduk di kasur kamarku.Ibu menatapku seperti dia tidak rela aku akan pergi jauh darinya.
"Sayang, jaga dirimu baik baik ya di sana." ucap ibu dengan mengelus rambutku.
"Iya ibu, Arsyan akan selalu menjaga diri baik baik." ucapnya.
Kemudian ada telpon masuk dari tante Santi, kemudian aku mengangkat telponnya.
"Arsyan." panggilnya.
"Iya tante." ucapku.
"Kamu berangkat ke sini kapan?. " tanyanya.
"Habis ini tante." jawabku.
"Tante udah di Jakarta, di rumah yang akan kamu tempati nanti." ucapnya.
"Oh iya tante." ucapku.
"Nanti tante akan kirim lokasinya ya sayang." ucapnya.
"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah tante matiin dulu ya telponnya." ucapnya.
"Iya tante." ucapku.
Kemudian tante Santi mematikan telponnya.
"Kamu mau tinggal di rumahnya calon suaminya tante Santi sayang?. " tanya ibu.
"Iya bu." jawabku.
"Jangan buat aneh aneh loh sayang." ucap ibu.
"Iya ibu." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian ibu memelukku, dan mencium keningku.
"Jaga dirimu baik baik ya sayang di sana." ucap ibu.
"Iya ibu sayang." ucapku dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu aku pun mempersiapkan motorku di teras rumah, sekaligus menggendong tas ku di punggung, setelah itu aku memakai helmku, lalu ibu menghampiriku.
"Sudah mau berangkat sayang?." tanya ibu.
"Iya ibu sayang." jawabku.
Kemudian setelah itu tante Rani dan Prisila menghampiriku.
"Arsyan katanya mau minta fotonya tante Lina." ucap tante Rani.
"Oh iya tante, Arsyan lupa." ucapku dengan mengelus keningku.
"Yaudah, ini fotonya, tapi ada tante Rani juga di sana gak apa apa kan." ucap tante Rani dengan memberikan bingkai foto itu padaku.
"Gak apa apa tante." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku melihat foto itu dengan tersenyum. Lalu setelah itu aku masukkan foto itu ke dalam tas.
"Makasih tante." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Arsyan, jangan lupa kabarin tante kalau udah ketemu tante Lina." ucap tante Rani.
"Sama ibu juga bilangin ya Arsyan." ucap ibuku.
"Siap deh ibu, tante." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian setelah itu aku bersaliman dan mencium tangan tante Rani dan juga ibuku.
Setelah itu Prisila menatapku dengan muka datar.
"Kok mukanya gitu sil." ucapku dengan tersenyum.
Seketika Prisila memelukku.
"Mas Arsyan kita kapan bertemu lagi." ucap Prisila.
"Gak tau Sil, nanti kalau memang Prisila video call aja mas Arsyan." ucapku dengan.
Kemudian Prisila melepaskan pelukannya, kemudian aku langsung naik di motorku.
__ADS_1
"Arsyan pergi dulu." pamitku.
"Iya hati hati loh sayang." ucap ibuku.
Kemudian aku pun menjalankan motorku terlebih dahulu menuju ke rumah tante Indri untuk berpamitan dengan tante Indri dan Sania.Tak lama setelah itu aku pun sampai di depan rumah tante Indri. Di halaman rumah ada tante Indri sedang menyapu di halaman.
"Eh Arsyan,udah mau berangkat?." tanya tante Indri.
"Iya tante." jawabku.
Kemudian aku turun dari motorku dan langsung menghampiri tante Indri yang sedang menyapu.Setelah itu aku bersaliman dan mencium tangan tante Indri.
"Sania mana tante?." tanyaku.
"Ada di dalam masih tidur." jawab tante Indri.
"Kalau om Ahmad?. " tanyaku lagi.
" Kerja Arsyan." jawab tante Indri.
"Oh, yaudah tante Arsyan berangkat dulu." pamitku.
"Gak makan dulu, di rumah tante." ucap tante Indri.
"Gak tante, udah kenyang Arsyan." ucapku dengan tersenyum.
"Oh yaudah, hati hati loh." ucap tante Indri.
"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku langsung menaiki motorku, lalu menyalakan motorku dan setelah itu menjalankan motorku, perlahan meninggalkan rumah tante Indri.
"Huh" ucapku.
Kemudian aku menuju ke rumah Safira telebih dahulu untuk berpamitan pada sahabat wanitaku itu.Tak lama setelah itu aku pun sampai di rumah Safira, aku melihat ada dua gadis di teras rumahnya, yang tak lain adalah Safira dan Shinta yang telah kembali.
"Safira cantik." panggilku.
Kemudian mereka berdua menoleh ke arahku, kemudian Safira berdiri dan langsung menghampiriku.
"Safira lo pakai daster, cantik banget." ucapku dengan tersenyum.
"Ngeledek lo ya." ucap Safira dengan tersenyum.
Kemudian terlihat gadis memakai hem hijau, celana jeans dan kerudung berwarna hitam serta kacamata bulat menghampiri kami berdua.
"Ingat dong, btw lo sekarang pakai kacamata Shin." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan, gua min." ucap Shinta.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Lo mau berangkat sekarang Syan ke Jakarta?." tanya Shinta.
"Iya Shin." jawabku dengan tersenyum.
"Mau cari Sisi dia Shin." ucap Safira dengan tersenyum.
"Apaan sih lo, ngomong ngomong lo udah gak pakai hijab lagi Fir." ucapku dengan tersenyum.
"Kan gua gak keluar rumah Arsyan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Ini keluar rumah anjing." ucapku dengan tersenyum.
"Maksudnya keluar ke mana gitu anjing." ucap Safira dengan tersenyum.
"Oh iya gua faham,yaudah gua pergi dulu." pamitku ke Safira.
"Harus turun dari motor dong kalau pamitan sama gua." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya, gak sopan tau." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Iya deh gua turun nih." ucapku.
Kemudian aku turun dari motorku, lalu berdiri depan Safira seketika Safira langsung memelukku.
"Sayang jaga diri lo baik baik ya di sana." ucap Safira.
"Iya sayang, lo juga jaga diri lo baik baik di sini." ucapku dengan tersenyum.
"Kok sayang sih, kalian udah jadian ya?." tanya Shinta dengan bingung.
Kemudian Safira melepaskan pelukannya.
"Gak anjir, ngapain juga gua pacaran sama dia." ucap Safira dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kok sayang sayangan gitu." ucap Shinta dengan bingung.
"Gua udah biasa sayang sayangan sama Arsyan Shinta, walaupun gak pacaran." ucap Safira dengan tersenyum.
"Oh gitu ya." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Btw, lo ke Bandung kapan Fir?." tanyaku.
"bulan depan, gua ke Bandung sama Shinta." jawab Safira dengan tersenyum.
"Lo udah gak di Surabaya lagi Shin?." tanyaku.
"Gak Syan, kuliah di Bandung sama Safira." jawab Shinta.
"Oh yaudah gua berangkat dulu ya." pamitku.
"Btw, kalau lo udah ketemu Sisi jangan lupa kabarin gua sama Shinta ya." ucap Safira.
"Iya santai aja." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku menaiki motor, namun baru saja mau berangkat tiba tiba mama Safira datang dari arah yang berlawanan denganku. Seketika aku pun langsung turun dari motorku, lalu aku bersaliman dan mencium tangan mamanya Safira.
"Habis dari mana tante?." tanyaku.
"Habis dari rumah tetangga Syan." jawabku.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Kamu mau berangkat ke Jakarta sekarang Syan?." tanya mamanya Safira.
"Iya tante." jawabku.
"Sekarang kamu udah gak jemput Safira lagi deh." ucap mamanya Safira dengan tersenyum.
"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku menaiki motorku dan langsung berniat pergi menuju ke Jakarta.
"Arsyan berangkat dulu ya tante, Safira , Shinta." pamitku.
"Iya Syan hati hati." ucap mamanya Safira.
"Semoga cepat cepat ketemu Sisi Arsyan." ucap Safira.
Kemudian aku pun langsung melanjutkan perjalananku, aku terlebih dahulu melewati desa Melati, tiba tiba aku teringat dengan mbak Nadin.Aku pun berniat berpamitan dengan mbak Nadin yang ada di rumahnya. Tak lama setelah itu aku pun sampai di rumahnya mbak Nadin. Mbak Nadin ada di halaman rumah,dengan menggendong anaknya, sembari menyuapi nya makan.
"Mbak Nadin." panggilku.
"Mau berangkat ke Jakarta Syan?." tanya mbak Nadin.
Kemudian aku turun dari motorku,dan menghampiri mbak Nadin.
"Iya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Gak makan dulu di rumah mbak." ucap mbak Nadin dengan tersenyum.
"Gak mbak makasih, ngomong ngomong Andi gak kesini?." tanyaku.
"Kemarin sore habis ke sini, mungkin juga nanti sore dia kesini lagi." ucap mbak Nadin dengan tersenyum.
kemudian aku mencubit pipi anaknya mbak Nadin.
"Ngomong ngomong, kamu kerja apa di Jakarta Syan?." tanya mbak Nadin.
"Masih belum tau mbak." jawabku.
"Kok belum tau." ucap mbak Nadin.
"Baru mau cari di Jakarta nanti mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Oh." ucap mbak Nadin dengan mengangguk.
"Yaudah mbak, aku pergi dulu ya." pamitku.
kemudian aku bersaliman dan mencium tangan mbak Nadin.
"Hati hati loh Syan." ucap mbak Nadin.
"Iya mbak." ucapku.
Kemudian aku langsung naik ke motorku.
"Semoga berhasil Arsyan." ucap mbak Nadin.
"Iya mbak." ucapku.
__ADS_1
Lalu aku pun langsung menjalankan motorku untuk perjalanan menuju ke Jakarta. Hatiku begitu bahagia, karena sebentar lagi, mungkin aku akan bisa menemukan Sisi.
.......................... BERSAMBUNG............................