
Malamnya aku,ibu,ayah, tante Ifa, sedang duduk lesehan di teras rumah. Kami sedang membicarakan tentang hubungan tante Ifa dan mas Bejo, yang sebentar lagi mereka akan merencanakan pernikahannya.
"Temen ta dek, mbek Bejo iku sampian?." tanya ayah ke tante Ifa. (ል)
"Nggeh mas, Ifa sampon mantep karo Bejo mas." Jawa tante Ifa. (ጌ)
"Bapak mbek ibu wes pok kandani ta dek?. " tanya ayah. (ር)
"Dereng mas, tapi ibu karo bapake Bejo sampon eroh." jawab tante Ifa. (ዕ)
"Yowes nek ngono dek, pokok e pan wes mbalik nok Lamongan, engko kandani bapak karo ibuk." ucap ayahku(ቿ)
"Nggeh mas." ucap tante Ifa. (ቻ)
Aku pun menyimak omongan keduanya, walaupun sebenarnya tidak faham.
"Ayah sama tante, ngomongnya pakai bahasa Jawa ya bu?." tanyaku dengan berbisik.
"Iya sayang." jawab ibu.
"Kalau ibu bisa bahasa Jawa gak?." tanyaku.
"Gak bisa sayang, cuma dikit dikit doang." jawab ibu.
"Mau tante ajarin bahasa Jawa Syan?." tanya tante Ifa.
"Boleh, tante." jawabku.
"Besok besok tante ajarin ya." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.
"Kalau mbak Indah masa gak bisa bahasa Jawa?. " tanya tante Ifa.
"Gak bisa Ifa, dikit dikit doang." jawab ibu.
"Masa gak pernah diajarin sama mas Toni?. " tanya tante Ifa.
"Gak pernah." jawab ibu.
"Wah parah sampean mas, mosok bojone dewe kok gak di ulangi boso Jowo." ucap tante Ifa(ኗ).
"Gak sempat Ifa, aku sibuk banget." ucap ayah.
"Sok sibuk kan." ucap tante Ifa.
"Iya, sok sibuk dia Ifa." ucap Ibu.
Kemudian setelah itu tante Rani dan Prisila menghampiri kami yang sedang duduk di teras rumah.
"Ikutan nongkrong dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Duduk aja Rani." ucap Ibu.
Kemudian Prisila duduk di pangkuanku.
"Katanya kamu mau nikah sama Bejo ya?. " tanya tante Rani.
"Iya mbak. " jawab tante Ifa.
"Tapi kapan Ifa?. " tanya tante Rani.
"Belum tentu sih mbak, pokoknya kata Bejo, perkiraan tahun depan paling lambat, atau mungkin bisa lebih." jelas tante Ifa.
"Kok lumayan cepat ya." ucap tante Rani.
"Iya mbak." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Kamu udah siap kan?." tanya tante Rani.
"Sudah dong mbak." jawab tante Ifa.
"Yaudah kalau begitu, semoga lancar ya Ifa." ucap tante Rani.
"Amin mbak. " ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Cocok gak sih Rani, Ifa sama Bejo?." tanya ibu.
"Cocok aja sih." jawab tante Rani dengan tersenyum.
Kemudian di saat asiknya mengobrol tiba tiba ada telpon dari Safira.
"Tunggu dulu Sil, mas Arsyan ada telpon. " ucapku.
"Iya mas." ucap Prisila.
"Siapa Syan yang nelpon kamu?. " tanya ibu.
"Safira bu." jawabku.
"Oh." ucap ibuku.
Kemudian aku pun masuk ke dalam rumah mencari tempat yang sepi, untuk mengangkat telpon dari Safira. Dan aku mengangkat telpon Safira.
"Syan." ucapnya.
"Apa Safira cantik?. " tanyaku.
"Lo tau gak?. " tanyanya.
"Gak tau lah, belum lo kasih tau." jawabku.
"Iya juga ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Ada apa?. " tanyaku.
"Ternyata calon suaminya mbak Nadin itu beneran Andi Syan." jawabnya.
"Masa sih?. " tanyaku.
"Iya Syan, gua lihat sama mata kepala gua sendiri tau gak. " ucapnya.
"Masih ada di rumah mbak Nadin dia?." tanyaku.
"Masih Syan, baru masuk malahan." jawabnya.
__ADS_1
"Gua ke toko lo sekarang gak apa apa kan." ucapku.
"Gak apa apa kesini aja." ucapnya.
"Yaudah gua kesana sekarang." ucapku.
Kemudian aku matikan telpon dari Safira, lalu aku langsung keluar dari rumah.
"Mau kemana sayang?. " tanya ibu.
"Ada urusan penting bu." jawabku.
"Jangan malam malam loh pulangnya." ucap ibuku.
"Iya ibu." ucapku.
Aku berjalan menuju ke motorku yang ada di depan rumah, kemudian aku langsung menaikinya dan berangkat menuju ke toko Safira dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga akhirnya aku sampai di depan toko yang di jaga oleh Safira,
Lalu Safira pun keluar dari toko.
"Sayang aku, cantik banget." ucapku dengan tersenyum.
"Alay banget deh. " ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku pun turun dari motorku, Lalu Safira mengajakku ke rumah mbak Nadin yang tak jauh dari toko. Hingga akhirnya kami pun sampai di rumah mbak Nadin yang tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil. Di depan rumahnya terdapat motornya Andi.
"Asalamualaikum mbak Nadin." ucap salam Safira.
Kemudian mbak Nadin keluar dari rumahnya,dengan memakai daster warna pink.Lalu dia menghampiri kami berdua.
"Waalaikum salam, eh Safira tumben kesini." jawab mbak Nadin.
"Iya mbak mau main aja ke rumah mbak, ngomong ngomong anak mbak udah tidur ya?." tanya Safira.
"Udah dari tadi, btw teman lo ini namanya siapa ya Ra?." tanya mbak Nadin.
"Kenalin mbak saya Arsyan. " ucapku dengan mengajak jabat tangan mbak Nadin.
Kemudian aku dan mbak Nadin pun berjabat tangan.
"Udah tau nama Saya kan?." tanya mbak Nadin.
"Udah dong mbak. " jawabku dengan tersenyum.
"Yaudah." ucap mbak Nadin dengan tersenyum.
"Btw ini motornya siapa ya mbak bagus banget?. " tanya Safira.
"Oh,ini motornya calon suami mbak." jawab mbak Nadin.
"Mana calon suaminya mbak?. " tanyaku.
"Ada di dalam Arsyan." jawabnya.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Yaudah, ayo masuk dulu kalian! . " ajak mbak Nadin.
"Iya mbak." ucap Safira.
Kemudian aku dan Safira pun masuk ke dalam rumah mbak Nadin. Ternyata di dalam ada Andi yang sedang asik bermain game.
"Iya Ra, ini calon suami mbak." jawab Safira.
Kemudian Andi menoleh ke arahku dan Safira.
"Kalian berdua." ucapnya dengan kaget.
"Kamu kenal mereka sayang?. " tanya mbak Nadin.
"Iya dong mbak, namanya juga teman sekelas." ucapku.
"Iya sayang." ucapnya.
Kemudian aku berdua duduk di sofa, samping Andi duduk,lalu mbak Nadin pun juga ikut duduk.
"Sebenarnya aku kenal sama Nadin sejak lama Safira." ucap Andi.
"Masa sih." ucapku.
"Iya Syan, jadi ayah mbak itu dulu sopirnya ayahnya Andi." ucap mbak Nadin.
"Oh gitu ya,terus ayah mbak sekarang di mana? ." tanyaku.
"Udah meninggal Arsyan." ucap Safira.
"Iya Arsyan, udah meninggal lima tahun yang lalu." ucap mbak Nadin dengan raut wajah sedih.
"Maaf ya mbak aku gak tau." ucapku.
"Iya, gak apa apa Arsyan." ucap mbak Nadin.
"Arsyan sih." ucap Safira.
"Kan gak tau Safira." ucapku.
"Semenjak ayah mbak, meninggal dunia, mbak jadi pembantunya keluarga Andi." ucap mbak Nadin.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Dan aku berhenti menjadi pembantu, di saat aku bertemu mas Arif, suami mbak yang baru saja meninggal." ucap mbak Nadin dengan sedih.
Air mata mbak Nadin seketika menetes.
"Padahal baru saja mbak, dan suami mbak bahagia,namum takdir berkata lain, mbak tak di izinkan tinggal lebih lama dengan suami mbak." ucap mbak Nadin dengan sedih.
"Yang sabar ya mbak." ucap Safira.
"Iya Safira." ucap mbak Nadin.
"Btw,anak mbak namanya siapa ya?." tanyaku.
"Alfan." jawab mbak Nadin.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
__ADS_1
Safira hendak bertanya sesuatu pada mbak Nadin.
"Mbak, aku boleh nanya gak?. " tanya Safira.
"Tanya apa?. " tanya mbak Nadin.
"Kalian berdua mau nikah kapan nih?. " tanya Safira dengan tersenyum.
"Iya mbak Nadin kalian mau nikah kapan?. " tanyaku.
"Sekitar berapa bulan ke depan, nunggu Andi lulus sekolah. " jawab Mbak Nadin.
"Tapi lo nggak jadi kuliah, di?. " tanyaku.
"Jadilah Syan, tapi ya sama kerja juga di perusahaan." jawab
"Kan Andi anak orang kaya, gimana sih Syan." ledek Safira dengan tersenyum.
"Jangan gitu dong Safira." ucap Andi dengan tersenyum.
"Iya deh. " ucap Safira dengan tersenyum.
"Tapi jangan bilangin teman teman ya, kalau aku pacaran sama mbak Nadin." ucap Andi.
"Enak aja, ada syaratnya dong, iya kan Safira." ucapku dengan tersenyum ke arah Safira.
"Iya dong sayang." ucap Safira dengan tersenyum.
"Kok sayang sih?. " tanya Andi dengan bingung.
"Kalian udah pacaran ya?. " tanya mbak Nadin.
"Gak sih mbak, cuma biasa aja aku sayang sayangan sama Arsyan, iya kan sayang." ucap Safira dengan tersenyum.
"Apasih yang gak buat kamu sayang." ucapku dengan tersenyum.
"Btw, apa syaratnya Syan?." tanya Andi dengan penasaran.
"Jangan lupa undang gua ya." jawabku dengan tersenyum.
"Yaelah Syan, masa sih gua gak undang temen sendiri." ucap Andi dengan tersenyum.
"Oh iya, ayo makan dulu ya, mbak Nadin udah masak makanan enak loh!." ajak mbak Nadin.
"Gak usah mbak. " ucapku.
"Iya mbak gak usah. " ucap Safira.
"Gak apa apa Arsyan, Safira daripada nanti makanannya mbak buang kan mubazir." ucap mbak Nadin.
Lalu aku menoleh ke arah Safira.
"Yaudah deh mbak iya." ucapku.
"Yaudah mari makan bersama sama, mbak juga belum makan." ucap mak Nadin.
"Aku juga mau ikut dong sayang." ucap Andi.
"Yaudah ayo. " ucap mbak Nadin.
Kemudian kami pun hendak makan malam bersama sama di rumah mbak Nadin.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami pun telah selesai makan, aku dan Safira pun langsung berpamitan sama mbak Nadin.
"Mbak kita pulang dulu ya. " pamit ku.
"Iya Syan. " ucap tante.
"Makasih loh makanannya, jadi ngerepotin." ucap Safira dengan tersenyum.
"Santai aja kali, yaudah hati hati loh kalian." ucap mbak Nadin.
"Iya mbak." ucap kami berdua.
Kemi berdua berjalan meninggalkan rumahnya mbak Nadin dan menuju ke toko.
"Lo cemburu gak?." tanyaku.
"Gak ngapain cemburu,aku malah senang kali." jawab Safira.
"Beneran?. " tanyaku lagi.
"Iya Arsyan ganteng." jawab Safira.
"Masa sih." ucapku.
"Bodoh amat." ucap Safira.
Kemudian Safira kembali masuk ke dalam tokonya, sementara aku naiki motorku.
"Safira cantik." panggilku.
Kemudian Safira kembali keluar.
"Gua balik dulu ya sayang." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sayang,hati hati loh." ucap Safira.
"Iya sayang, semangat jaga tokonya." ucapku.
"Kek udah jadian aja, sayang sayangan." ucap Safira dengan tersenyum.
Kemudian aku pun pergi meninggalkan toko Safira, dan langsung menuju ke rumah, karena aku telah begitu mengantuk.
...................BERSAMBUNG................
ል. Beneran ta dek, kamu sama Bejo kamu itu.
ጌ.Iya mas, Ifa sudah mantap sama Bejo mas.
ር.Bapak sama ibuk, sudah kamu bilangin dek.
ዕ. Belum mas, tapi ibu sama bapaknya Bejo sudah tau.
ቿ. Yaudah dek kalau begitu, pokoknya kalau sudah kembali ke Lamongan, nanti bapak sama ibu bilangin.
__ADS_1
ቻ. Iya mas.
ኗ. Wah parah kamu mas, masa istrinya sendiri kok gak di ajarin bahasa Jawa.