
__Beberapa hari setelah Terapi__
Hari ini hari senin yang menyenangkan. Aku selalu merasa lebih baik setelah Terapi.
Harum dari roti panggang buatan Mama menyeruak di ruangan saat aku melangkah menuju dapur. Seperti biasa setiap pagi Mama selalu sibuk dengan Apron yang terpasang ditubuhnya dan beberapa peralatan dapur kesayangannya.
"Pagi ma." Sapaku.
"Pagi ka." Papaku yang menjawab.
"Eh papa?" Ucapku tak menyadari kehadiran papa yang tiba tiba berdiri disampingku.
"Kenapa? Gak sadar ya?". Ucapnya dengan seringainya yang khas.
Aku mengerucutkan bibirku saat papa mulai meledeku dengan menjulurkan lidahnya. Seperti biasa papaku senang sekali bercanda di Pagi hari.
Setelah selesai Mama menghidangkan Roti panggang yang dibuatnya ke meja makan. Kami duduk dibangku masing masing di tempat kami makan.
"Gimana Terapi kemarin?" Papa membuka obrolan.
"Kayak biasa, menyenangkan."ucapku seraya mengunyah roti panggang yang ditambah selai Strawberry buatan Mama.
"Gimana sekolah kamu? Temen temennya asik ga?"
Ting.
Pesan masuk di Hp-ku. Aku membukanya. Ah iya! Aku lupa memberitahu bahwa semenjak Demian bercerita di Ruang musik ketika itu, mulai dari situ aku dan dia bertukar nomor ponsel.
Devon:
Goedemorgen!
^^^Me:^^^
^^^??^^^
Devon:
Goedemorgen! (Selamat pagi! B.belanda)
^^^Me:^^^
^^^Ohh, Selamat pagi!^^^
^^^Ada apa?^^^
Devon:
Cepet ke sekolah!! Ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu😉
Aku? Sejak kapan si cokelat tukang pamer itu memanggil dirinya dengan 'Aku'?.
^^^Me:^^^
^^^Apaan tuh?^^^
Devon:
Rahasiiaaaaaaa~
"Eeekkreemm!!" Tiba tiba papa berdeham.
"Eh iya, rotinya enak ko." Ucapku Asbun.
Orang tuaku saling tatap. Lantas mereka tertawa lepas.
"Eehh, ada apa sih?" Tanyaku kikuk.
"Chatting-an sama cowo ya?" Papa seolah olah tahu apa yang baru saja aku lakukan.
"Siapa?" Tanya Mama dengan raut wajah yang kurasa tidak setuju.
Aku dan Papa saling menatap Mama yang tiba tiba memasang wajah tidak bersahabat.
"Mungkin classmate-nya,ma." Ucap papa mencoba mencairkan suasana.
"Yang namanya Demian itu?" Aku hampir saja tersedak saat mama menyebut nama 'Demian'. Bagaimana mama tahu?
"Jangan lebih dari temen." Lanjutnya seraya beranjak berdiri dari kursinya.
Aku menatap Papa dengan penuh tanya. Papa hanya mengangkat bahu. Ia pun tidak tahu mengapa mama tiba tiba bereaksi seperti itu. Padahal sebelumnya Pak Ivon Soedarno sudah memberitahu kalau Demian akan banyak membantuku yang secara otomatis akan membuatku dan Demian menjadi dekat. Lantas mengapa mama terlihat seperti tidak suka kalau aku dekat dengan Demian?.
Aku menyelesaikan sarapanku lantas berangkat kesekolah bersama Papa.
...* * *...
Aku membuka pintu mobil dan secara tiba tiba Demian sudah berdiri dibalik pintu mobil. Mengagetkan saja!
"Morning Om!" Sapa Devon pada papa.
"Morning." Balasnya. Papa menatapku seraya memasang smirk menyebalkan seolah olah berkata 'oh jadi ini cowonya'. Ck! Whatever.
"Sunny berangkat ya pa, Bye-bye." Ucapku sesegera keluar dari mobil.
Aku bisa mendengar tawa papa yang pecah saat melihat tingkahku. Tak lama setelag itu papa menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kawasan sekolah.
"Morning." Sapa Demian.
"Selamat pagi." Balasku Demian terkekeh mendengar jawabanku.
"Mana? Katanya mau ngasih sesuatu." Ucapku.
"Nanti ya kalau dikelas."
Aku berjalan berdampingan bersama Devon. Yeaaahh, sudah pasti menjadi pusat perhatian. Desas-desus terdengar setiap aku dan Demian berjalan melewati kerumunan. Hell! I hate this situation.
"Jangan didenger." Demian berkata lirih seolah tahu apa yang aku pikirkan.
Kami sudah sampai didepan tangga. Aku menghembuskan nafas mengambil ancang ancang. Demian menoleh kearahku, dengan inisiatif ia membawakan tasku. Seraya memegang tanganku.
Mata Hazel cerahnya menyemangatiku. Baiklah ayo kita naik tangga! Batinku ikut menyemangatiku.
Tangga lantai 1. Selesai aku lewati. Keringat bercucuran dari keningku. Aku mengatur nafas seraya mengibas ngibaskan tangan.
"Sarah!" Panggilku. Ia tak menoleh padahal aku memanggilnya cukup keras. Loh?
"Sarah!!" Panggilku ia masih saja tidak menoleh. What's wrong with her?.
"Sarah Anindiya!!" Kini Devon yang memanggilnya.
Kali ini ia menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak kemudian menolah ke arah kami.
"Eh, Sunny sama Devon!" Serunya. Ia melangkah menuju kami.
"Daritadi sunny manggil ko lo gak nyaut?" Devon bertanya wajahnya sedikit kaku.
"Oh ya?? Maaf ya Gua kira bukan manggil gua." Ia berkata seraya menggaruk tengkuknya yang ku yakin tidak gatal sama sekali.
Bohong.
__ADS_1
"Sarah udah baikan? Kemarin kamu Terapi ya? Aku khawatir tau, kamu gak apa apa kan?"
Bohong.
"Kamu gak sekolah Devon galau loh."
Bo-. Dia sudah berbohong sejak awal. Apakah tentang Devon dia berbohong juga?.
"Makasih ya udah khawatir." Ucapku seraya memasang wajah palsu.
Sarah pamit untuk masuk kekelas duluan. Demian memintaku untuk tidak menghiraukannya.
Kami berjalan sampai aku duduk di bangkuku. Aku melihat tidak ada tanda tanda dari gadis dingin teman sebangkuku.
Demian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyembunyikan sesuatu itu dibelakang tubuhnya. Lantas, ia duduk disebelahku dan tangannya meletakan sebuah amplop indah berwarna putih, namun bukan seperti amplop biasa.
"Lo mau ngasih gau duit?" Tanyaku spontan.
"Hahahahaha ******! Ya enggalah. Coba buka." Ucapnya aku baru pertama kali melihat seseorang tertawa lepas saat didekatku.
Aku membuka amplop itu perlahan. Membuka surat berwarna hitam dengan tinta emas yang bertuliskan:
[Dear Sunny C. Elmurat
I would like to invite you to my Dinner party.
This party is held for my 20th birthday celebration.
The party will be on Saturday 08.00am, on August 18,2018 at my house.
I hope you can join me, I'll be very glad and happy to celebrate my 20th birthday with y'all.
Ps: don't forget to wear a pretty nice dress;)
See you there,
Franklin.]
"Who's Franklin dev?" Ucapku seraya mengerutkan kening sesaat setelah membaca surat itu.
"Lo masih inget cowo bule yang lo intip di Ruang musik waktu itu?"
Aku mengingat-ngingat, oh laki laki yang mirip David garret muda itu.
"Ahh iya, ko dia bisa tau sama gue?"
"Dia temen + pacarnya Daisy. Temennya gue juga. Daisy mau ngundang lo ke birthday party pacarnya." Aku membelalakan mata. Ternyata gadis dingin itu memiliki kekasih juga.
"Lo mau datang kan?" Tanyanya drngan wajah penuh harapan.
"Euuummm." Aku menimang nimang apa yang dikatakan orang tuaku kalau aku memina izin untuk pergi party.
"Nanti gua yang izin sama ortu lo, deh." Demian lagi lagi bisa membaca apa yang aku pikirkan. Aku tersenyum seraya mengangguk. meng-iya-kan.
"Hhhyuuuuunggg!!" Aku sedikit terkejut saat tiba tiba seseorang berteriak.
Romi bersama tiga orang lelaki yang tidak kukenal memasuki berjalan menghampiri kami.
"Oh ini pacar lu yang disini ya." Ucap salah seorang yang tidak mengancingkan seragamnya. Maksudnya?.
"Jangan mau sama si ******** itu pacarnya banyak." Ucap yang lain yang menggunakan topi sekolah yang diputar kebelakang. What the hell! are they talking about?.
"Oh mau jadi pembelot ya?" Devon buka suara.
"Punten Hyung-nim. Atas mulut lancang mereka yang minta ditampar." Ucap salah seorang dengan potongan rambut undercut dan Poni yang urakan.
Nunna matahari?.
"Kenalin mereka temen temen gue. Yang gak dikancingin bajunya itu zayn, yang pake topi itu Ben, yang manggil lu Nunna itu Raffa. Kita satu band." Ia memperkenalkan teman temannya.
"Oh iya satu lagi, lo udah kenal sama si Romi sebelumnya."
"Kalian, ini Sunny. Macem macem sama dia kalian semua habis sama gua." Ia memperkenalkanku dengan penuh ancaman pada temannya (?).
"Sensi amat sih, Lu von." Romi menggerutu.
"Oh iya, Daisy kemana?" Romi bertanya saat baru menyadari ketidakhadiran kembaran Devon.
"Mulai hari ini sampai 3 bulan kedepan dia izin Tour Concert-nya yang sebentar lagi mau mulai."
"HAAHH!!!" Aku,Zayn dan Ben terkejut serempak. Berbanding terbalik dengan Rafa dan Romi. Dari raut wajahnya terlihat mereka sudah tahu sebelumnya.
"Bukannya party pacarnya itu sabtu depan ya?" Tanyaku.
"PACAR???!!!" Ke empat teman Devon terkejut serempak. Seluruh orang yang ada di kelas melihat ke arah kami.
Loh, apa mereka tidak tahu? Batinku bertanya. Bagaimana bisa teman dekat Demian tidak tahu kalau saudara kembarnya punya pacar.
"Se..." ucapan Raffa terpotong.
"Dia nyampetin datang ko." Demian menyelanya.
"Franklin buat party di rumahnya. Kalian datangkan?" Ucap devon dengan nada penuh penekanan dia akhir kalimatnya dan tatapan tajam ke empat temannya. Dia seperti mengintimidasi ke empatnya.
-
Hening sejenak
-
Hingga bel masuk berbunyi memecahkan keheningan.
"Ya kita datang." Ucap zayn dengan wajah malas seraya melangkah pergi.
"Udah masuk nih. Hyung, kita balik kekelas ya." Ucap Raffa ia terlihat kikuk.
Mereka pun melangkah pergi.
Aku menatap Demian yang beranjak berdiri lantas ia melangkah menuju bangkunya yang didepan tanpa ekspresi atau sepatah katapun.
Ada apa dengannya?
...* * *...
Saat ini aku tengah menatap cermin. Aku melihat pantulan diriku yang menggunakan Gaun berwarna salem selutut dengan motif samar dari bunga lavender. Aku memakai bandana perak untuk menghiasi rambut sepinggangku yang terurai.
Lantas memakai sedikit riasan diwajah agar menambah kesan berwarna pada wajahku yang kuakui memang 'agak' pucat.
Tok Tok Tok!.
"Ka, udah selesai? Udah ada yang nunggu dibawah." Mama berbicara dari balik pintu.
"Iya ini udah selesai." Balasku.
Aku membuka pintu kamar dan mendapati Mama yang terkejut melihatku.
"Ayo jangan buat orang lain nunggu." Mama menggandeng tanganku.
Aku dan Mama berjalan menuju Pintu Utama dan mendapati Papa yang tengah mengobrol dengan Demian di Beranda. Obrolan mereka terhenti seketika saat melihatku.
__ADS_1
"Masyaallah. Perempuan cantik dari mana ini?" Ucap papa terkagum kagum saat melihatku.
Demian tak bergeming dia terpaku melihatku.
"Anak Om ini Istimewa, agak boleh kamu apa apain. Inget!" Papa memperingatkan namun, Demian tidak menghiraukannya. Mata hazel cerahnya semakin bersinar di malam hari.
"Demian?" Papa memanggilnya.
"Demian?"
"Oyy londo!!" Ia tersadar saat aku memanggilnya sama seperti Daisy memanggilnya.
"Iya om? Tenang om saya akan bertanggung jawab atas keselamatan Putri Om." Ia berkata meyakinkan.
Aku, Mama dan Papa saling tatap. Kemudian terukir sebuah senyum dari wajah Papa saat mendengarnya. Akhirnya, aku dan Demian pamit.
Demian menjemputku dengan sebuah mobil VW antik berwarna hitam, dengan seorang sopir yang mengendarainya. Ditengah perjalanan aku memujinya karena dia menjemputku dengan sesuatu yang unik. Namun, dia menyanggahnya. Dia menjelaskan bahwa ini semua bukan miliknya. Keluarganya tidak terlalu kaya untuk memiliki koleksi mobil antik apalagi mobil yang sudah tidak di produksi lagi. Ditambah dengan membayar seorang sopir untuk mengendarainya. Ini semua milik Franklin temannya yang mengundangku. Franklin menginginkam sesuatu yang spesial untuk tamu spesialnya. Me?
Mobil melaju melewati jalanan kota yang sedang senggang hingga memasuki sebuah kawasan rumah mewah. Rumahnya besar dengan gaya Arsitektur kontemporer khas rumah rumah di daratan Eropa sana. Terdapat beberapa patung patung yang begitu Artistik menghiasi Halaman rumah yang cukup luas. Lampu lampu taman dan rumput sintetis yang mendukung betapa indahnya hunian ini.
Demian menjelaskan ada tiga kediaman utama. Satu, kediaman khusus Orang tua Franklin, kedua Kediaman khusus untuk Franklin dan yang terakhir khusus Tamu.
Franklin adalah anak tunggal dari Orang tua yang merupakan seorang konglomerat Negara Asing yang sudah menetap dan menjadi warga negara Indonesia.
Mobil berhenti. Demian menggandeng tanganku. Kami berjalan kearah kediaman khusus franklin. Demian berkata, Dinner party sengaja dia adakan dikediaman khusus Franklin sekalian memamerkan koleksi barang antik franklin kepada teman temannya. Sekarang aku paham kenapa Demian senang sekali pamer pada orang lain. Karena terpengaruh oleh teman dekatnya yang Hobby Flexing.
Aku memasuki kawasan Dinner Party diadakan, langkahku terhenti tepat disebelah security yang berjaga di sisi pintu masuk. Aku terkejut dengan apa yang kulihat dihadapanku.
Gawn, Suit, alunan piano dan biola menghiasi pesta memainkan melodi dari musik klasik, meja yang tertata rapih, Pelayan yang hilir mudik seraya membawa nampan berisi makanan dan minuman, yang bisa ku tebak harganya puluhan kali lipat dari makanan yang biasa kumakan.
Benarkah ini perayaan ulang tahun seorang remaja yang baru menginjak usia 20 tahun? Ini lebih terlihat seperti pesta pesta perayaan kaum kaum borju yang dipenuhi dengan pembicaraan kelas atas yang penuh etika. What the f*ck!
Harusnya aku tidak datang saja. Batinku berkata.
"Kenapa?" Demian bertanya.
"Gua pengen pulang." Ucapku lirih.
"Pulang? Belum juga masuk." Ucap Demian seraya menarik tubuhku mundur perlahan lahan.
"Hallo Darling! Akhirnya you datang juga." Seorang lelaki dengan wajah ceria menghampiri kami. Dia Franklin.
Aku menatap franklin yang terlihat santai dipestanya. Ia memakai kemeja batik dan celana putih dengan aksesoris serba putih. Aku bisa menebaknya bahwa dia suka sekali dengan warna putih. Hal ini mengingatkanku pada Bu Hera yang selalu memakai pakaian dengan tema Block Darked.
"I'm Franklin, welcome to my party's. I harap you menikmatinya. Kamu tamu spesial malam ini." Ucapnya seraya menarik badanku untuk cipika cipiki.
Aku sedikit gugup dengan perilakunya yang ramah padaku.
"Thank you franklin. Buat undangannya but, tamu spesial?"
"You are Demian's special friend, So, special for me too." Ia tersenyum ramah. Demian tak bereaksi apa apa saat kami tengah mengobrol.
"Cek! Cek! Kepada Tuan muda Franklin dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa patah kata sebagai pembuka acara" MC berbicara meminta franklin untuk membuka acaranya.
"Would you?" Ia menjulurkan tangannya mengajaku bersamanya. Aku menatap Demian yang dibalas sebuah anggukan kepala darinya.
Aku melepas lengan Demian dan menggenggam lengan franklin.
"Ah iya!" Serunya. Langkahnya tiba tiba terhenti. Ia menatapku.
"Don't call me Franklin. Just Franky for you." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Aku cukup terkejut. Kami kembali berjalan melewati kerumunan orang dengan gawn dan suite mewah. Ininbenar benar membuatku tidak nyaman.
Mereka menatap kami. Dengan tatapan yang sulit aku artikan. Franklin dengan bangga menggandengku menuju panggung sedangkan, aku merasa seorang putra konglomerat sedang membawa sekantung besar kentang meunju panggung untuk menyampaikan beberapa patah kata sebagau pembukaaan di acara ulang tahun mewahnya.
"Good night everyone!" Franky menyapa seluruh tamu undangannya. Mereka semua menatap kearah kami yang membuatku merasa semakin terintimidasi.
"This is my special Birthday party's So, seseorang spesial yang akan membukanya. My Dearest Sunny Clarinda Elmurat."
Me? Benaku berkata. Franky mengangguk ramah mempersilahkanku untuk mengambil alih Mic.
Aku mengambil Mic dari angan Franky dengan penuh keraguan. Jantungku berdegup tidak karuan.
Bip
Bip
Bip.
Oh come on! Suara jam ditanganku sukses membuat orang terfokus padaku. Ini party pertamaku dan aku benar benar terlihat kikuk. Aku menekan salah satu tombol di jamku agar tidak berisik lantas menarik nafas dalam dalam. Mencoba untuk tenang.
Aku berdeham sejenak seraya menyesuaikan tone suaraku.
"Hallo saya Sunny! Temannya Demian dan Franky." Kalimatku terhenti saat aku menyadari menyebut nama Franklin dengan panggilan santainya didepan tamu undangannya. Sudah jelas itu tidak sopan.
"I mean Franklin." Koreksiku.
"Pesta ini adalah pesta pertama yang saya lakukan seumur hidup saya jadi mohon maaf kalau saya terlihat kiku." Mereka tersenyum ramah mendengar ucapanku dan hal itu sukses membuatku sedikit lebih santai.
"Tapi, saya harap kalian menikmati perayaan ulang tahun ke-20 Franklin. Terimakasih." Aku mengakhiri kalimatku dengan anggukan kecil.
Semua orang bertepuk tangan.
"Not bad." Franklin memujiku seraya kembali menggandeng tanganku. Melangkah menuruni panggung.
"You look so cool, dear." Ucapnya aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya.
Aku melihat dari kejauhan sepasang saudara kembar menatap tak suka kearah kami. Apa aku dan franky terlalu dekat?.
Kami menghampiri sepasang saudara kembar itu. Aku melihat wajah Daisy yang sedikit kelelahan namun terbalut dengan make up natural. Ia begitu cantik dengan balutan Jamsuit putih yang menampakan tubuh tingginya bak seorang model. Rambut sepundaknya terurai indah She looks perfect tonight but, tidak ada ekspresi sama sekali dari wajah cantiknya. Kesan dingin dari tubuhnya begitu melekat.
"My Baby D." Ucap Franklin seraya memeluk kekasihnya begitu erat. Namun, tidak ada respon sama sekali dari Daisy. What's wrong with her? Apakah Dia marah padaku karena aku terlalu dekat dengan Franky.
"Gua harus bawain apa malam ini?" Ucap Daisy seraya melepaskan pelukan franklin.
"Anything you want D. Apapun yang you mainkan selalu terdengar indah for me." Ucap franklin dengan kedipan matanya.
Daisy mendelik mendengar itu. Ia melangkah menuju para pemusik dan mengambil sebuah biola. Ia membisikan pada seorang pemain piano setelah aba aba Daisy mulai menggesek biolanya.
Fritz kreisler__Liebeslied (Love Sorrow).
Ia memainkan melodi itu terdengar seperti penuh dengan kemarahan. Sepertinya dia benar benar marah kali ini. Dan aku harus meminta maaf.
-
-
-
Daisy pov
Aku memainkan biolaku namun pikiranku dipenuhi dengan kemarahan padanya. Mataku menangkap sosoknya yang berderi dengan penuh senyum cerah yang memuakan. I'll kill you after this!!
-
To be Continue~~~~
^^^Dairos⚘🌼^^^
__ADS_1