
Ini masih lanjutan part sebelumnya ya⚘🌼
__Akhir Agustus 2018__
-
-
-
Aku menatap semua alat yang terpasang ditubuhku, menyebalkan sekali!. Ditambah akibat pertengkaran kecil tadi kepalaku seperti ingin meledak.
Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke ruang rawat inap sejak aku mulai sekolah. Aku teringat ucapan Daisy semalam tentang aku seharusnya menolak tawaran untuk datang ke birthday party franklyn. Kali ini gadis dingin itu benar, mungkin jika aku tidak datang ke pesta itu aku tidak akan berakhir disini.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Aku tidak memperdulikannya paling juga suster yang datang untuk menCheck atau petugas rumah sakit yang akan memberikan baju pasien untuku. Namun mengapa harus mengetuk? Biasanya mereka langsung masuk. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Have a good day, Matahari." Ucap seorang lelaki yang suaranya begitu familier di telingaku.
Aku terdiam saat sedang memeperhatikan infusan ditanganku. Aku mendongakan kepala menatap lelaki itu dan benar saja. Lelaki itu adalah Devon.
Aku menatap dingin kearahnya. Apakah dia berniat meledeku dengan menyatakan 'Have a good day?. Aku pun belum bisa melupakan kejadian semalam dimana dia meninggalkanku begitu saja.
"Gimana perasaan kamu hari ini?" Ia bertanya seraya melangkah mendekatiku. Ia duduk di kursi sebelah bangsalku. Aku memalingkan wajah, malas meladeninya. Lagipula dia tahu dari siapa aku ada disini?.
"Semalem pulangnya aman kan?" Ia bertanya lagi.
'Iya aman, dan paginya gua udah di rumah sakit' ucapku dalam hati.
"Gimana pesta semalem, menyenangkan?."
'Ya menyenangkan, sebelum lo ninggalin gua sendirian di balkon lantai 2 rumah si franklyn' jawabku dalam hati.
"Gua harap lo ga marah karena gua-" aku memotong perkataannya.
"Lo tau gua ada disini dari siapa?" Tanyaku ketus.
"Papa lo tadi pagi nelpon gua, dia bilang lo masuk rumah sakit. Jadi gua langsung kesini." Ucapnya. Papa? Menlepon Devon? Untuk apa?
"Lebih baik lo pulang. Lo tau pintu keluarkan?" Ucapku tanpa menatap wajahnya.
"Sunny, Gua tau lo marah tapi, tolong ngertiin gua, ketika itu ada hal darurat makannya gua ninggalin lo."
"Gua paham ko Darurat banget, sampai sampai Seorang Demian yang baik hati dan suka menolong, meninggalkan teman cacatnya sendirian duduk di balkon selama 1 jam kedinginan." Ucapku dengan nada sarkastik.
"Maaf Sunny gua ga bermaksud kaya gitu."
"Gua maafin ko, sekarang lo pulang! Gua butuh istirahat."
"Sun-" ucapan Devon terpotong saat tiba tiba seseorang memasuki ruanganku. Dia seorang suster yang usianya selita 30 tahunan yang baru kulihat. Sepertinya dia baru di Rumah sakit ini.
Ia berjalan kearahku seraya membawa baju pasien.
"Mas Devon ya?"
"Mohon maaf tolong keluar. Nona Sunny harus ganti baju, dan tolong menjenguknya bisa lain kali, Nona Sunny harus banyak istirahat, untuk sekarang dia ga boleh diganggu." Ucapnya sopan.
Aku menyunggingkan sebelah bibirku. Suster ini membantuku yang saat ini tidak ingin melihat wajahnya.
"Tapi Sus, sebentar aja." Devon memohon.
Lelaki ini tangguh juga. Ucapku didalam hati.
"Mohon maaf mas, tapi memang harus seperti itu. Mas Devon, bisa menjenguknya lagi besok atau lusa."
"What!? Emang Sunny berapa lama dirumah sakit?" Devon cukup terkejut atas apa yang suster itu katakan. Sejujurnya akupun sama terkejutnya.
"Kalau kondisinya membaik paling cuman sampai 7 hari. Kalau tidak ada progress bisa sampai 10 atau bahkan 2 minggu."
Devon terlihat tak percaya. Wajahnya masih terkejut. Ia menatapku dengan penuh tatapan bersalah.
"Sunny gua minta maaf, gua ga tau kalo lo sampai kaya gini." Ucapnya penuh penyesalan padaku.
Aku hanya terdiam tidak membalasnya. Aku masih memikirkan apa yang diucapkan oleh suster itu.
"Sunny, Please Forgive me."
"Sunny, Maafin gua."
"Sunny, sumpah gua ga bermaksud buat li jadi kaya gini."ucapnya penuh penyesalan.
"Gapapa, tolong Lo lebih baik pulang aja." Ucapku lirih, tubuhku semakin lemas seiring banyaknya aku berbicara.
"Ok kalau lo maunya kaya gitu but, Sunny Gua janji bakal kesini lagi. Cepet sembuh ya." Ucapnya seraya membungkuk kecil pada suster dan melangkah keluar.
Aku menghela nafas. 'Janji bakal kesini lagi katanya, Cih! Dasar pembual besar!' Cibirku dalam hati.
"Makasih Sus." Ucapku. Suster baru itu tersenyum ramah.
"Sama sama. Saya suster linda saya diminta Dokter Hary buat bantu nona Sunny disini. Saya juga diminta buat mastiin nona Sunny jangan sampai tertekan atau bahkan stress" Ucapnya seraya membantuku melepas infusan karena aku harus berganti pakaian. Terasa nyilu saat jarum infusan itu ditarik keluar dari nadiku.
"Panggil Sunny aja Sus." Ucapku yang risih mendengar kata 'Nona' didepan namaku. Ia hanya mengangguk saat aku meminta itu.
__ADS_1
"Jadi suster yang bakal khusus bantuin aku selama disini?" Tanyaku.
"Iya, soalnya kata Dokrer Harry Sunny ga suka dibantuin sama banyak tangan."(maksudnya berganti ganti orang). Ucapnya seraya membantuku memakai baju pasien.
Aku tersenyum. Suster Linda kembali memasangkan infusan dan alat lainnya.
Setelah selesai ia membantuku untuk berbaring.
"Tapi sus, kenapa aku harus lama disini?" Tanyaku. Tangan suster Linda tiba tiba berhenti saat akan menyelimutiku.
"Eumm, kalo itu selebihnya Sunny tanyakan saja pada Dokter Harry biar lebih jelas." Ucapnya. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.
"Well, yeah It's Ok." Ucapku. Suster Linda tersenyum hangat. Ia pamit lantas pergi melangkah keluar.
Tak lama setelah itu. Perlahan tubuhku semakin lemas. Aku mengantuk sepertinya aku diberikan obat penenang agar banyak istirahat. Baiklah kalau itu keharusannya. Aku memejamkan mataku.
-
-
-
Aku membuka mataku melihat jam didinding 11.00 Am. Ternyata aku hanya tertidur sekitar 2 sampai 3 jam.
Samar aku mendengar suara orang yang sedang berbicara dibalik pintu ruanganku yang tertutup.
"Terjadi penyumbatan kecil di Jantungnya Sunny Bu, Saya harap Ibu dan Bapak mengurangi beberapa kegiatannya Sunny. Karena, Jika Sunny terlalu kelelahan jantungnya akan bekerja secara abnormal, hal itu akan berdampak buruk sekali" Itu terdengar seperti suara Dokter Hary.
"Tapi dia masih bisa kembali kesekolah kan? Dia bahagia banget waktu berangkat sekolah." Ucap seorang Wanita, suaranya seperti suara Mama.
"Saya akan usahakan yang terbaik buat Sunny. Tapi Ibu dan Bapak juga harus memastikan agar Sunny tidak merasa tertekan atau stress, itu hanya akan memperburuk keadaanya."
"Baik akan saya lakukan yang terbaik untuk putri saya. Sekali lagi Terimakasih Dok." Kali ini suara Papa yang berbicara.
Aku mendengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh. Tak lama setelah itu pintu ruangan kamarku terbuka. Aku kembali memejamkan mata dan pura pura masih tidur.
Aku bisa merasakan kedua orang tuaku sedang duduk disampingku. Mama mulai terisak dan menangis seraya berkata puluhan kata maaf. Aku tidak suka suasana seperti ini.
Please! Don't cry in front of me. Itu membuat semangat hidupku menjadi menciut.
...* * *...
ku terbangun entah kesekian kalinya. Dengan wallpaper, Aroma, dan Alat alat yang sangat kubenci. Untungnya hanya tersisa infusan yang terpasang ditubuhku sehingga membuatku sedikit lebih leluasa bergerak. Entah 4 atau 5 hari aku sudah berada di ruang inap ini. Sesekali aku memang keluar dengan membawa infusanku berjalan jalan kecil di sekitar taman rumah sakit. Kemudian kembali lagi ke ruanganku. Lagi lagi membosankan, Oh Tuhan aku ingin sekolah.
Disini terasa sangat sepi. Papaku bekerja dan aku meminta mama cukup diam dirumah. Aku tak mau dia menungguiku, yang hanya akan membuatnya menangis lagi dan lagi. Aku tidak suka. Pertama, Mama sedang hamil dengan ia terus menangis meratapi penyakitku sudah jelas tidak baik untuk janinnya. Kedua, aku benci saat seseorang menangis meratapiku air mata mereka hanya membuatku semakin insecure, aku merasa menyusahkan banyak orang dan semangat hidupku semakin menciut. Aku hanya ingin mereka bersikap normal saja seolah tidak terrjadi apa apa padaku. Meskipun itu sangat sulit.
Aku teringat ucapan Devon beberapa hari yang lalu yang berjanji akan datang kembali. Namun, dugaanku benar nyatanya semua itu hanya bualan belaka. Wait! Aku mengharapkannya datang untuk menemaniku?. Hell no!
Aku mendengar rintik air hujan perlahan turun dengan pasti menyentuh bumi. Aku beranjak dari kasurku dan berjalan perlahan menuju jendela seraya 'menyeret' infusan yang tidak boleh lepas dari tanganku.
Aku menarik nafas menutup mataku. Dan memulai mengucapkan apa keinginanku.
"Nunaaa~~" aku sedikit terkejut saat sebuah suara melengking yang tiba tiba memenuhi ruangan.
Aku menoleh dan mendapati Raffa, Devon, Ben dan Zayn memasuki kamarku.
"Nunna apeuni?" Ucap raffa seraya menghampiriku lantas memegang tanganku.
"Huh?" Ucapku ta mengerti bahasanya.
"Artinya lu sakit? Itu bahasa korea" Ben menerjemahkan. Aku mengangguk paham.
"Ani nan Gwen-cha-na." Balasku dengan terbata bata dan seingat yang aku tahu. Terlihat wajah ceria dari Raffa saat mendengarku mengucapkannya.
"Wooahhhh Nunna, Saranghaeyo." Ucapnya seraya malu malu. Dia terlihat menggemaskan sekali.
"Nado Saranghaeyo." Balasku seraya mengedipkan sebelah mataku.
"Kyaaaaaaaa!!!" Teriaknya kegirangan.
PLAK!!! Zayn memukul bahu Raffa seraya menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Ssssssttt. Berisik *******!! Ini Rumah Sakit!" Ucap zayn mengingatkan. Raffa baru tersadar ia menepuk nepuk mulutnya pelan.
Aku melangkah perlahan menuju bangsalku, aku merangkak perlahan menaikinya. Tanganku tiba tiba bergetar hebat tidak kuat menahan beban badanku. Seketika aku tergelincir jatuh ke lantai.
"Sunny!"
"Nunna!" Mereka terkejut saat melihatku yang terjatuh ke lantai.
Bokongku terasa sakit dan untung saja infusan tidak terlepas dari tanganku namun tetap saja terasa sakit.
"Ouch! Damn!" Aku mengumpat.
Tiba tiba aku merasakan tangan menyentuh punggungku lantas menyelinap diantara paha dan betisku. Aku menoleh dan mendapati Devon yang sudah siap membopongku.
Ia membopong tubuhku seraya berkata. " kalau butuh bantuan, gausah gengsi buat bilang." Ucapnya seraya mengangkat tubuhku dan menidurkannya diatas bangsal.
"Ekkkrremm." Seseorang berdeham
"Well,Gimana keadaan lo?" Zayn bertanya kepadaku.
__ADS_1
"Sejauh ini baik, ko." Ucapku. Aku berbohong.
"Btw,Ko kalian bisa ada disini? tau dari siapa?" Tanyaku.
"Ohh itu, si devon tadi pagi bilang sama kita pulang sekolah mau minta anter ngejenguk pacarnya yang lagi dirumah sakit. Sekalian mau nyampaein sesuatu." Ben menjelaskan.
Aku menatap sinis pada Devon, 'pacar?' Pacar dari hongkong. Cibirku dalam hati. Devon yang mendatap tatapan sinis dariku hanya terdiam seraya mengedikan bahu tidak peduli.
"Sorry, gua tegaskan kita engga pacaran ya." Ucapku.
"Pacar katanya, cih! sekarang dia ngaku pacar ke gua setelah waktu itu dia ninggalin gua gitu aja di party." Ucapku menyindir Devon.
"What!!!??" Mereka terkejut saat mendengar ucapanku tapi tidak dengan raffa ia hanya menatapku dalam diam.
"Bener von? Lo kaya gitu?" Zayn memastikan ia terlihat paling tidak percaya. Seriously? Mereka juga tidak tahu?.
"Ya maaf." Ucap Devon.
"Woahh, lu keterlaluan *******!! Jadi ******** ga gitu juga kali." Ucap Ben.
"Ninggalin yang satu datang ke yang lain, Cih! Hebat." Raffa bergumam sesuatu.
"Huh?" Ucapku kurang jelas mendengarnya. Raffa tidak menjawab ia hanya menatap layar monitor yang sedari tadi berkedip.
Hening sejenak diantara kami.
"Oh iya kalian mau ngomong sesuatu tadi, mau ngomong apa?" tanyaku membuka kembali pembicaraan.
"Sekarang udah mau masuk bulan september kan?, bulan depan kita bakal UTS."
"Really?" Ucapku sedikit terkejut.
"Yup! Selesai UTS nanti kan UAS. Nah sebelum liburan akhir semester, sekolah kita biasanya ngadain PORSENI. Kaya lomba olahraga sama Karya Seni gitu, setelah Final sekolah ngadain perayaan tapi bukan prom night." Jelasnya
"So?"
"Ya kaya panggung biasa, anak anak dari berbagai kelas sama ekskul diminta partisipasi. Termasuk Band Gua. Berhubung Gua gak bisa bawa banyak lagu. Gua mau lu yang gantiin." Devon menjelaskan.
"What!? Sebagai Drummer? Hell no!" Ucapku langsung menolaknya.
"Dengerin dulu. Lo jadi vokalis biar Raffa yang ngDrum. Tenang aja dia bisa ko. Lo bisa nyanyi kan?" Tanya Devon.
"**** you!! Lu liat kondisi gua sekarang! Lo minta gua buat nyanyi? You are sick!"
Ucapku ketus.
"Darling, lu bukan mau nyanyi besok." Ucapnya seraya menghitung sesuatu di jarinya."ada waktu 4 bulan lagi. 4 bulan." Tambahnya seraya menunjukan ke empat jarinya di wajahku.
"Darling? Pppfftt." Celetuk ben. Aku menoleh dan mendapati ke 3 teman devon sedang menutup wajah menahan Tawa.
Aku bisa merasakan wajahku memerah menahan malu saat menyadari apa yang mereka tertawakan.
"Von! Lu kuno banget sihh! Ini abad berapa woyy! Masih manggil pacar dengan kata. Dirling." Ucapnya seraya meledek Devon.
Devon yang salah tingkah hanya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. " Sorry sorry, keceplosan." Ucapnya.
Tawa ketiga teman Devon pecah melihat Boss menyebalkannya salah tingkah.
Aku bahagia melihat tingkah mereka. Namun tiba tiba aku teringat ucapan dokter Hary bahwa aku tidak boleh terlalu kelelahan dan mengurangi semua kegiatanku termasuk sekolah. Seketika senyumku luntur saat mengingat itu.
"Gimana mau ga?" Tanya zayn seraya menyeka air matanya karena puas tertawa.
"Euuumm gimana yaa..." ucapku dengan nada bercanda. Menyembunyikan kekhawatiranku.
"Mau dong, mau ya." Bujuk Raffa wajahnya begitu antusias.
"Eumm, Gua pikir pikir lagi deh nanti gua buat keputusannya setelah keluar dari rumah sakit"
"Oke gapapa." Ucap raffa
"Makasih Nunna." Tambahnya seraya memeluku. Sontak membuat mereka terkejut.
Raffa yang menyadari kekeliruannya sesegera melepas pelukannya dan meminta maaf.
"Ngomong ngomng Romi kemana?" Tanyaku baru menyadari ketidak hadiran Romi.
Mereka beretiga saling tatap. Lagi lagi seperti menyembunyikan sesuatu.
"Dia nemenin Daisy di konsernya." Celetuk devon.
Aku terkejut termasuk ke tiga temannya. Devon yang baru menyadari kata katanya juga sama terkejut. Mereka bertingkah aneh.
"Eh, eum, itu, anu, maksudnya gantiin gua datang ke konsernya Daisy." Ucapnya.
"Ohh gitu." Ucapku paham akan maksudnya.
Namun, tetap terasa ada yang mengganjal dihatiku. Entahlah, aku tidak mau menghiraukannya.
Mereka kembali bercerita tentang sekolah, tentang bu Hera yang semakin menyeramkan, tentang pemilihan ketua MPK yang akan diadakan minggu depan dan Devon adalah kandidat kuat yang akan menjadi ketua selanjutnya dan hal hal lain termasuk kekhawtiran Zayn dan Ben terhadap pacar mereka yang merupakan adik kelas X, dan merupakan penggemar Devon garis keras, Hobby baru Raffa yang mengoleksi Action Figure dari film Avengers dan hal lainnya. Ruang rawat inapku terasa begitu hangat karena kedatangan mereka. Dari semua cerita mereka aku masih tidak tahu kemana perginya Devon malam itu, dan cerita Franklyn yang tidur dengan kawan sejenisnya salah satu diantara mereka tidak ada yang menyinggung akan dua hal itu.
To be continue...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Mohon maaf kalo banyak typo.
^^^Dairos⚘🌼^^^