
Keesokan harinya aku pun terbangun sekitar jam 5 pagi, karena alarm di handphoneku telah berbunyi. Setelah itu aku pun langsung berdiri, lalu perlahan berjalan meninggalkan kamarku. Di luar kamarku, aku pun melihat tante Santi sedang memasak di dapur, lalu aku pun menghampiri tante Santi.
"Tante." panggilku.
"Eh sayang udah bangun." ucap tante Santi dengan tersenyum kearahku.
"Mas Ricky udah pulang ya tante?." tanyaku.
"Iya sayang, tadi malam jam 12." jawab tante Santi dengan tersenyum.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Sudah kamu kemasi semua pakaian pakaian kamu Syan?." tanya tante Santi.
"Sudah tante." jawabku dengan tersenyum.
"Yaudah." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Kemudian aku pun duduk di kursi yang ada di dapur.
"Kok malah duduk,kan kamu belum sholat sayang." ucap tante Santi.
"Nanti dulu tante bentar." ucapku.
"Arsyan, gak boleh nunda nunda sholat, sekarang udah jam 5 loh sayang." ucap tante Santi.
"Iya tante." ucapku.
Kemudian aku pun langsung berdiri.
"Kakak sama adik sama aja." ucapku dengan nada yang pelan.
"Apa kamu bilang?." tanya tante Santi.
"Gak tante, gak jadi." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku pun langsung pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat akhirnya aku pun telah mandi dan juga telah melaksanakan sholat subuh. Seperti biasa aku pun langsung berbaring di kasur kamarku, sembari bermain handphoneku.
Tapi tiba tiba tante Santi mengetuk pintu kamarku dari luar, hingga aku pun berdiri dan kemudian membuka pintu kamarku.
"Ayo sarapan dulu sayang, masakannya udah matang tuh!." ajaknya.
"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.
Setelah itu aku pun keluar kamar, lalu menuju ke meja makan seperti yang tante Santi perintahkan. Aku bahagia ketika melihat di meja makan, ternyata tante Santi masak ayam goreng kesukaanku dengan sambal yang begitu merah serta tumis kangkung yang begitu hijau.
Aku dan tante Santi pun duduk berhadapan di meja makan itu.
"Tante tau aja kesukaan Arsyan." ucapku dengan tersenyum.
"Tau dong kan tante Santi." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Setelah itu tante Santi mengambilkan ku nasi ke piringku.
"Cukup kan sayang?." tanya tante Santi.
"Iya tante." jawabku dengan tersenyum.
"Ambil sendiri ya lauknya." ucap tante Santi.
"Berapa tante?." tanyaku.
"Terserah kamu." jawab tante Santi.
"Semua gak apa apa." ucapku dengan tersenyum.
"Terus tante makan sama apa kalau di ambil semua?. " tanya tante Santi dengan tersenyum.
"Makan sama nasi dan tumis kangkung dong tante." jawabku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu." ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Bercanda tante." ucapku dengan tersenyum.
Tante Santi pun mengambil nasi untuk dirinya sendiri, sementara aku mengambil sepotong lauk ayam dan juga sambel yang lumayan banyak.
"Kok cuma satu potong?." tanya tante Santi.
"Gak apa apa tante." ucapku dengan tersenyum.
"Seharusnya itu ngambil dua atau tiga sayang, sama itu tumis nya kok gak di ambil." ucap tante Santi.
"Arsyan gak suka sayur tante." ucapku.
Kemudian tiba tiba tante Santi mengambil tumis itu dengan sendok, dan di taruh di piringku.
"Tante, ini kebanyakan sayurnya, nanti kalau Arsyan gak habis gimana?." tanyaku.
__ADS_1
"Pokoknya harus habis." ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Ini namanya pemaksaan tante." ucapku dengan tersenyum.
"Coba dulu kali, siapa tau ketagihan." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Setelah itu aku perlahan mengambil tumis kangkung itu yang ada di piringku, lalu perlahan aku masukan ke dalam mulutku. Namun setelah sampai di dalam mulut, ada rasa yang berbeda dari tumis kangkung itu, rasanya begitu enak sehingga aku pun ketagihan dengan rasanya.
"Enak kan?." tanya tante Santi.
"Iya tante enak." jawabku dengan tersenyum.
"Tadi gak mau katanya." ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Kan tadi belum di coba tante." ucapku dengan tersenyum.
Beberapa saat kemudian, makanan kami berdua pun telah habis, aku begitu bahagia bisa sarapan bersama dengan tante Santi. Kemudian aku mengeluarkan rokokku dari saku celanaku.
"Kalau mau merokok keluar, jangan di sini." ucap tante Santi.
"Gak tante, cuma naruh aja di sini." ucapku dengan tersenyum.
"Oh yaudah gak apa apa." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Lalu aku pun berdiri, berniat untuk menaruh piringku ke tempat pencucian piring, namun tante Santi melarangku.
"Duduk aja sayang, biar tante yang cuci piringnya nanti." ucap tante Santi.
"Iya tante." ucapku.
Aku pun kembali duduk, seperti
yang di perintahkan tante Santi.
"Sayang." panggilnya.
"Iya tante, ada apa?." tanyaku.
"Kamu senang gak kalau tante tinggal di sini?." tanyanya.
"Senang banget dong tante, kan tante kesayangannya Arsyan." jawabku dengan tersenyum.
Tante pun tersenyum ke arahku dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Mas Ricky baik ya tante." ucapku dengan tersenyum.
"Iya dong, kan calon suami tante." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngawur aja kamu, masa tante cewek matre sih." ucapnya dengan tersenyum.
"Kan bisa aja tante." ucapku dengan tersenyum.
"Ya gak lah Arsyan, tante sayang banget sama mas Ricky." ucapnya dengan tersenyum.
"Tante ketemu sama mas Ricky gimana sih?." tanyaku dengan tersenyum.
"Kepo ya kamu sayang?." tanyanya dengan tersenyum.
"Iya dong, kepo banget tante." ucapku dengan tersenyum.
"Jadi tante ketemu sama mas Ricky itu, saat tante habis jatuh." ucapnya dengan tersenyum.
"Jatuh tante?." tanyaku dengan bingung.
"Iya sayang, jatuhnya itu karena tabrakan sama mas Ricky." jelasnya dengan tersenyum.
"Terus tante?." tanyaku dengan penasaran.
"Setelah itu tante di tolongin sama mas Ricky dan dia mengajak tante jalan jalan setelah kami berdua pulang dari kuliah, karena rasa bersalahnya waktu itu." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian tanpa mengejutkan tiba tiba mas Ricky pun datang.
"Bohong dia Syan, jangan percaya." ucap mas Ricky dengan tersenyum.
"Ih sayang, pagi pagi kok udah datang aja." ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Gak boleh ya." ucap mas Ricky dengan tersenyum.
"Ya boleh dong sayang." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Setelah itu mas Ricky menghampiri kami berdua dan duduk di samping tante Santi.
"Aku kesini kan pengen makan masakan kamu sayang." ucap mas Ricky dengan tersenyum.
"Iya sayang, tapi kenapa kamu gak bilang sih?." tanya tante Santi.
"Kan kejutan sayang." jawab mas Ricky dengan tersenyum.
"Bisa aja deh. " ucap tante Santi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Senang gak kalau aku kesini sayang?." tanya mas Ricky.
"Senang banget dong sayang." ucap tante Santi dengan tersenyum.
Aku pun hanya ikut bahagia melihat keromantisan mereka berdua.
"Aku suapin ya sayang?." tanya tante Santi.
"Boleh deh sayang." jawab mas Ricky dengan tersenyum.
Setelah itu aku berniat untuk merokok di teras rumah.
"Sayang mau kemana?." tanya tante Santi.
"Mau ke teras tante merokok." jawabku dengan tersenyum.
Kemudian aku meninggalkan tante Santi dan mas Ricky yang sedang berduaan, namun sebelum aku ke teras, aku terlebih dahulu mengeluarkan motorku ke halaman rumah. Tapi ketika tepat di depan pintu aku pun menemukan kertas terlipat kecil yang ada tepat di depan pintu.
Setelah itu aku pun menaruh motorku di halaman rumah, kemudian langsung menuju ke depan rumah untuk mengambil kertas yang terlipat itu. Aku pun duduk di teras dan perlahan membuka surat itu. Aku pun terkejut setengah bahagia,ketika ternyata itu adalah surat dari Sisi yang berisi:
Arsyan, tolong temui aku di taman ya besok hari senin jam 7,di tempat biasa kamu duduk.
ku harap kau datang Arsyan.
^^^SISi^^^
Hatiku pun begitu bahagia ketika melihat ternyata , keinginanku selama ini akan segera terwujud. Beberapa saat sekitar jam 7,aku pun pamit kepada tanteku terlebih dahulu untuk pergi ke taman karena ingin bertemu Sisi.
"Tante sayang." panggilku.
"Mau berangkat sekarang sayang?." tanya tante Santi.
"Gak tante, mau ke taman dulu." jawabku dengan tersenyum.
"Ketemu Sandra ya sayang?." tanya tante Santi.
"Ketemu Sisi tante." jawabku dengan tersenyum.
"Sisi siapa sayang?." tanya tante Santi.
"Ada deh." jawabku dengan tersenyum.
"Hati hati loh sayang, jangan ngebut ngebut." ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Siap tante." ucapku dengan tersenyum.
Aku pun berjalan perlahan menuju keluar rumah, di ruang tamu ada mas Ricky yang sedang duduk di sofa.
"Mau kemana Syan?." tanya mas Ricky.
"Mau ketemu teman mas." jawabku dengan tersenyum.
"Hati hati loh Syan." ucap mas Ricky.
"Iya mas." ucapku dengan tersenyum
Setelah itu aku pun langsung keluar rumah dan menghampiri motorku yang ada di halaman rumah, lalu aku pun langsung menaiki motorku. Aku pun menyalakan motorku dan langsung menjalankan motorku menuju ke taman dengan kecepatan yang tinggi, karena aku sudah tidak sabar bisa ketemu dengan Sisi.
Hingga beberapa saat kemudian akhirnya aku pun telah sampai di parkiran taman, lalu aku pun turun dari motorku. Setelah itu aku pun langsung berjalan menuju ke tempat biasa aku duduk, dengan perasaan begitu bahagia. Suasana di taman begitu sepi, hanya ada beberapa orang saja di sana tidak seperti pada hari minggu kemarin.
Sesampainya di tempat duduk yang biasa aku duduk, aku pun terkejut, ternyata yang duduk di kursi itu adalah Sandra yang terlihat sedang menunggu seseorang. Setelah itu aku pun langsung menghampiri Sandra yang sedang duduk.
"Sandra." panggilku.
"Arsyan." ucapnya dengan raut wajah yang bahagia.
"Bahagia banget wajahnya." ucap ku dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapnya dengan tersenyum.
Seketika dia pun berdiri menghadapku.
"Lo lihat cewek duduk di sini gak tadi?." tanyaku.
"Gak." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian dia pun tersenyum ke arahku.
"Kenapa senyum senyum gitu Sandra?." tanyaku dengan bingung.
"Masa sih lo lupa sama wajah gua Syan?." tanyanya dengan tersenyum.
"Ya gak lah, kan baru kemarin kita ketemu." jawabku dengan tersenyum.
"Gua ini Sisi Syan, cewek yang lo cari selama ini." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian dia mengeluarkan boneka putri dari dalam tasnya,yang tertulis namaku dan Sisi di baju bagian belakangnya.
"Ini bonekanya masih gua jaga dengan baik Syan dan aku selalu menjaganya dengan baik Syan." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Seketika air mataku pun menetes, aku pun sangat berbahagia karena kini aku telah menemukan Sisi, wanita yang selama ini aku cari. Setelah itu aku pun langsung memeluknya, dengan perasaan yang begitu bahagia.
............................ BERSAMBUNG..........................