
Setelah perjalanan yang lumayan panjang dari restoran,akhirnya kami pun kembali sampai di sekolahan, terlihat semua murid yang lain terlihat kecapekan. Mobil pun masuk ke dalam sekolah dan berhenti di samping parkiran sekolahan. Kami pun turun secara bergantian dari mobil, aku memutuskan turun paling belakang.
"Kamu gak turun Syan?. " tanya Vina dengan heran.
"Nanti dulu Vina." jawabku.
"Yaudah aku turun dulu ya." pamit Vina kepadaku.
"Iya." ucapku.
Kemudian setelah semua keluar,aku pun keluar dari mobil itu paling akhir, aku meregangkan badanku yang capek lalu setelah itu aku pun langsung pergi ke parkiran sekolahan. Setelah aku keluar, sopir mobil pun mengarahkan mobil itu ke tempat biasanya.
"Uh capek, kenyang campur jadi satu, tapi ini nih yang membuatku bahagia." ucapku dengan memegang medaliku emas ku.
Aku naik ke atas motorku, lalu aku nyalakan motorku dan aku mulai menjalankan motorku keluar dari sekolahan ini. Tapi ketika di gerbang aku bertemu dengan Vina yang sedang berdiri sendirian.
"Vin kamu pulang sama siapa?. " tanyaku.
"Aku mau di jemput kakakku." jawabnya.
"Udah berangkat ke sini, kakak kamu?. " tanyaku lagi.
"Tunggu aku chat dulu." ucapnya.
Kemudian Vina mengirimkan chat pada kakaknya.
"Belum Syan baru mau mandi katanya." ucapnya.
"Bilangin gak usah gitu. " ucapku.
"Lah kenapa?. " tanyanya dengan bingung.
"Kamu pulang bareng aku aja ya." jawabku.
"Bentar aku chat kakak aku dulu." ucapnya.
Kemudian Vina mengirimkan chat ke kakaknya.
"Sudah?. " tanyaku.
"Sudah kok." jawabnya dengan tersenyum.
"Yaudah ayo naik!. " ajakku.
Kemudian Vina naik ke atas motorku dan duduk di belakangmu.
"Sudah siap?. " tanyaku lagi.
"Sudah Syan." jawabnya.
Kemudian aku menjalankan motorku menuju ke rumah Vina untuk mengantarkan Vina.
"Tapi lumayan jauh loh rumahku Syan?. " tanya Vina.
"Gak apa apa Vina, kamu tunjukin aja pokoknya." jawabku.
"Oh yaudah deh. " ucapku.
"Ngomong ngomong kamu ipa atau ips?. " tanyaku.
"Ipa." jawabku.
"Kok gak ips aja." ucapku dengan tersenyum.
"Males gua. " ucapku.
"Tapi gak apa apa deh itu juga pilihan kamu." ucapku.
"Iya Syan, tapi aslinya aku malahan mau sekolah smk." ucapnya.
"Masa sih." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya.
"Kenapa gak jadi?. " tanyaku.
"Gak di bolehin ibuku." jawabnya dengan tersenyum.
"Berarti kamu dulu pengen sekolah smk aslinya?. " tanyaku lagi.
"Iya Syan." jawabnya.
"Oh." ucapku faham.
"Oh iya, mulai sekarang panggil lo gua aja ya, kalau aku kamu kan terlalu sopan gitu." ucapnya.
"Siap Vina." ucapku setuju.
Kemudian aku pun sampai di pertigaan jalan.
"Ke mana rumah kamu Vin?. " tanyaku.
"Belok yang kanan syan." jawabnya.
"Oke." ucapku.
Kemudian aku mengarahkan motorku ke arah kanan, seperti yang di arahkan Vina.
"Gua dulu malah mau masuk stm. " ucapku.
"Kenapa gak jadi?. " tanyanya.
"Gak di bolehin sama ayah dan ibu, karena anak anak di stm terkenal nakal nakal." ucapku.
"Oh, tapi stm gak ada ceweknya ya?. " tanyanya.
"Iya memang gak ada. " jawabku.
"Oh gitu ya." ucapnya.
Kemudian kami pun sampai di gapura sebuah desa.
"Ini desa lo kan Vina?." tanyaku.
"Gak, masih gapura yang selanjutnya desa aku." jawabnya.
__ADS_1
"Jauh juga ya rumah lo ternyata." ucapku dengan tersenyum.
"Memang." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi lo berani kan keluar desa lo malam malam?. " tanyaku.
"Gak berani Arsyan." jawabku.
"Kenapa gak berani?. " tanyaku.
"Pasti nanti kamu tau jawabanya sendiri." jawabnya.
Kemudian kami sampai di gapura desa Vina yang terlihat angker, karena gapuranya telah sedikit hancur dan juga tidak ada rumah di sekitar gapura itu melainkan hanya pepohonan besar dan rindang.
"Serem banget dah suasananya disini." ucapku.
"Lah emang." ucap Vina.
Kemudian tak lama setelah itu kita di sambut dengan kuburan, tanpa pembatas yang ada di kiri kanan jalan.Kemudian setelah itu aku pun lega ketika telah mulai ada rumah warga.
"Lo tau kan sekarang alasanya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya , bayangin kalau itu malam hari, pasti serem banget." ucapku.
"Maka dari itu, tapi ada jalan lain kok dari sini ke sekolah, tapi ya gitu agak jauh." ucapnya.
"Ohh gitu ya." ucapku.
"Nanti belok ke kanan dikit ya Syan." ucapnya.
"Iya Vin. " ucapku.
Kemudian kami pun sampai di rumah Vina, terdapat rumah berwarna biru yang tak terlalu besar .
"Mampir dulu gih." ucapnya sembari turun dari motorku.
"Gak ah Vin udah sore nanti kesorean lagi." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu, Terima kasih ya. " ucapnya dengan tersenyum.
"Sama sama, tapi ngomong ngomong di mana ya jalan yang lain itu?. " tanyaku.
"Lo takut ya lewat sana sendirian." ucapnya.
"Gak cuma mau jalan jalan doang, biar tau daerah sini." ucapku.
"Lo lurus aja sampai ada belokan ke kanan lo belok." jelasnya.
"Oh." ucapku dengan mengangguk faham.
"Kalau kesasar nanti bisa telpon gua ya." ucapnya.
"Oke deh, yaudah gua pergi dulu ya." pamit ku.
"Iya hati hati loh." balasnya.
Kemudian aku langsung pergi meninggalkan rumah Vina, dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aku tetap berjalan lurus seperti yang di beritahukan oleh Vina, hingga sampai di belokan, terus aku belok ke kanan. Hingga akhirnya aku telah sampai di sekolahan, setelah itu aku langsung tancap gass, dengan kecepatan tinggi karena hari telah sore. Tapi ketika ada jualan es durian aku pun langsung mampir sebentar, untuk membeli es itu empat,dengan uang yang di beri oleh wanita rambut lurus ketika di restoran tadi.Karena ibu dan ayahku sangat suka dengan durian, aku pun membelikanya,serta aku juga tak lupa membelikan sahabat terbaikku Safira, karena dia juga suka durian.
"Ini kak es duriannya." ucap penjual itu.
"Dua puluh empat ribu kak." jawabnya.
"Ini kak uangnya kak." ucapku dengan memberikan uang itu.
"Ini kembalinya kak." ucap penjual itu dengan memberikan uang kembalianku.
"Iya kak." ucapku dengan menerima uang itu.
"Makasih kakak." ucap penjual itu dengan tersenyum ramah.
"Sama sama kak." ucapku dengan tersenyum ramah.
Setelah itu aku langsung melanjutkan perjalanan pulangku dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya aku sampai di depan rumah Safira.
"Safira cantik." panggilku dari luar.
Kemudian Safira keluar dari dalam rumah,dengan memakai daster yang di pakainya semalam, serta rambut yang panjangnya yang sudah rapi, lalu dia menghampiriku.
"Apa lo seleb?. " tanyanya dengan wajah jutek.
"Jutek amat sih mbak." ledek ku dengan tersenyum.
"Kemana aja lo, di chat gak di bales sama di telpon juga gak di angkat, lo sudah lupa gua ya." ucapnya dengan wajah jutek.
"Gak gitu maksud gua." ucapku dengan tersenyum.
"Terus." ucapnya.
Kemudian aku mengeluarkan medali emas yang ada di saku celanaku.
"Gua mau nunjukin ini ke lo." ucapku sambil membawa medali itu.
Kemudian Safira langsung mengambil medali itu dari tanganku.
"Ini beneran?. " tanya Safira dengan setengah gak percaya.
"Ya iyalah, makanya gua tadi gak bales chat lo, lo telpon gua, gua gak angkat,karena gua ingin ngasih kejutan sama lo Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku turun dari motor, lalu Safira mengajakku duduk di teras rumahnya. Aku tak lupa juga membawa dua es durian yang aku beli tadi.
"Safira ini apa?. " tanyaku sembari membawa dua es durian di tanganku.
"Es durian." jawabnya dengan tersenyum.
"Eits, tapi kan lo demam." ucapku dengan tersenyum.
"Bodoh amat Syan, mana es duriannya." ucapnya.
"Ini." ucapku sembari memberikan satu es durian itu pada Safira.
Lalu Safira mengalungkan medali emas itu padaku.
"Ini medali emas untuk sahabatku tercinta." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua duduk di teras rumah Safira, sambil meminum es durian bersama.
__ADS_1
"Lo gak kerja lagi?. " tanyaku dengan heran.
"Kan gua sakit anjing, masa sih gua kerja." ucapnya.
"Ah masa." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian memegang tangan Safira.
"Gak panas anjing." ucapku dengan tersenyum.
"Ya emang udah gak panas anjing." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi besok sekolah kan?. " tanyaku.
"Iya dong, besok pakai motor gua ya." jawabnya.
"Oke gua tunggu di depan rumah ya." ucapku.
"Iya" ucapnya.
"Tapi ngomong ngomong, lo cantik banget pakai daster gini." ucapku dengan tersenyum.
"Ngeledek." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak, beneran lo cantik banget." ucapku.
"Kan memang gua cantik dari dulu." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi rambut lo kenapa sih warnanya bisa gini." ucapku.
"Gak tau, emang rambut gua sudah gini dari dulu." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak lo warnain kan?. " tanyaku.
"Gak, lo perasaan temenan sama gua udah sejak sd deh, tapi kenapa lo nanya baru sekarang?." tanyanya dengan tersenyum.
"Gak tau, gua pengen nanya aja." ucapku dengan tersenyum.
"Oh gitu ya." ucapnya.
"Btw es duriannya enak gak?. " tanyaku.
"Enak dong, apalagi yang beliin lo, makasih ya Arsyan." jawabnya dengan tersenyum.
"Santai aja kali, kek baru kenal gua aja." ucapku dengan tersenyum.
"He he iya." ucapnya dengan tersenyum.
"Lo belum mandi ya?. " tanyaku.
"Kenapa bau ya." jawabnya.
"Gak cuma lo kelihatan aja kalau belum mandi." ucapku dengan tersenyum.
"Kelihatan apanya anjir." ucapnya dengan bingung.
"Ya kelihatan Safiranya, masa kelihatan Arsyannya." ucapku dengan tersenyum.
"Gak gitu maksudnya Arsyan, lo kok tolol banget sih." ucapnya.
"Kelihatan dari wajahnya, biasanya make upanya aja lumayan tebal." ucapku dengan tersenyum.
"Oh gitu ya, biasanya gua juga jarang pakai make up." ucapnya.
"Sekali pakai make up tebal banget." ucapku dengan tersenyum.
"Gua itu pakai make up atau gak, tetap aja cantik kan." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya deh percaya. " ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku pun tertawa melihat Safira, hingga Safira pun bingung melihatku.
"Lo ngapain ketawa anjir." ucapnya dengan bingung.
"Gua masih keinget lo berantem kemarin anjing." ucapku yang tidak bisa menahan tertawa.
"Malah di inget inget lagi, sebel deh." ucapnya.
"Tapi lo lucu banget anjir." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira mencubit pipiku.
"Aww sakit Safira." ucapku dengan kesakitan.
"Biarin gua gak peduli." ucapnya dengan tersenyum.
Safira melepaskan cubitanya.
"Mama sama papa lo mana gak kelihatan?. " tanyaku.
"Ke rumah paman aku tadi pagi." jawabnya.
"Oh, kapan pulang?. " tanyaku.
"Mungkin nanti malam deh." jawabnya.
"Berarti lo di rumah sendirian?. " tanyaku.
"Iya." jawabnya.
"Hati hati loh ada hantu. " ucapku sambil menakuti Safira.
"Jangan nakutin nakutin gua ah." ucapnya dengan wajah ketakutan.
"Gak gak, yaudah gua balik dulu udah mau maghrib nih." pamitku.
"Iya hati hati loh." ucapnya.
"Siap." ucapku.
"Besok jangan lupa loh, gua jemput." ucapku.
"Iya gua tungguin depan rumah." ucapku.
Kemudian aku langsung naik ke motorku, dan berangkat menuju ke rumah, karena sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang, dan aku juga gak sabar nunjukin ini pada ibu.
__ADS_1
.......................BERSAMBUNG.........................