
Kami pun bercanda tawa di rumah makan itu, mengobrol dengan topik yang random serta perdebatan dari mbak Syifa dan mbak Tya yang tak habis habis. Tak lama setelah itu handphoneku pun berbunyi menandakan ada telpon, lalu aku ambil handphoneku dari saku celanaku dan ternyata itu telpon dari Sandra.
Aku pun berdiri dan hendak berjalan menuju keluar rumah makan untuk mengangkat telpon dari Sandra.
"Mau kemana Syan?." tanya mbak Syifa.
"Mau angkat telpon mbak." jawabku.
"Pasti telpon dari pacarnya." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapku dengan tersenyum.
"Telpon dari siapa sayang?." tanya tante Santi.
"Sandra tante." jawabku dengan tersenyum.
"Oh Sandra." ucap tante Santi.
Aku pun langsung berjalan menuju keluar rumah makan. Sesampainya disana aku pun langsung mengangkat telpon dari Sandra.
"Arsyan." panggilnya.
"Apa Sandra?." tanyaku.
"Lo sibuk gak?." tanyanya.
"Gak nih emang kenapa?." tanyaku.
"Ke taman yuk!." ajaknya.
"Lo di mana sekarang?." tanyaku.
"Sudah di taman Arsyan." jawabku dengan tersenyum.
"Masa sih?." tanyaku dengan penasaran.
"Iya Arsyan, coba deh kamu video call gua." jawabnya.
Setelah itu aku memulai video call Sandra, terlihat di layar handphoneku, wajah Sandra yang begitu cantik dengan hijab warna hitamnya.
"Tuhkan udah di taman, tempat biasa kita duduk." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya ya." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah buruan kesini, masa lo biarin gua di sini sendirian sih." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya deh iya gua ke sana." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah, gua tungguin loh, awas aja sampai gak dateng." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra pun mematikan video call, lalu setelah itu aku memasukkan handphoneku kembali ke saku celana dan aku masuk kembali ke dalam rumah makan untuk izin kepada tante Santi dan yang lain.
"Tante, Arsyan pergi dulu ya." pamitku .
"Mau kemana sayang?." tanya tante Santi.
"Biasalah mbak mau ketemu pacarnya." saut mbak Tya dengan tersenyum.
"Mau ketemu Sandra tante, di taman." jawabku.
"Oh iya Arsyan,sama tanyakan pada Sandra, mbak Syifa mulai kerjanya kapan." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak Syifa." ucapku dengan tersenyum.
"Hati hati loh Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Hati hati loh sayang, jangan ngebut ngebut." ucap tante Santi.
"Iya tante sayang." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku pun berjalan menuju keluar rumah makan untuk berniat pergi ke taman, karena Sandra telah menunggu di sana. Setelah itu aku pun menghampiri motorku yang terparkir di halaman rumah makan dan aku langsung menaikinya.
Aku pun langsung menyalakan motorku, kemudian menjalankan motorku menuju ke taman, untuk menemui Sandra yang telah menungguku di taman. Aku mengendarai motorku dengan begitu santai, karena ini adalah hari terakhirku di Jakarta dan besok aku akan kembali ke desaku.
Beberapa saat kemudian aku pun sampai di parkiran taman, aku melihat motor hitam milik Sandra yang tak jauh dari keberadaanku. Setelah itu aku pun langsung pergi ke pusat taman, untuk menemui Sandra. Suasana taman begitu ramai, banyak sekali orang yang datang ke taman, karena hari ini hari minggu.
Aku melewati jalan taman itu dengan bahagia, karena banyak sekali orang di sekelilingku yang sedang bahagia, entah itu remaja sedang pacaran, anak anak yang sedang bermain, penjual yang banyak pembelinya, orang yang sedang joging bahkan sepasang suami istri yang sedang duduk bermesraan di taman dan masih banyak aktivitas membahagiakan yang lain.
Setelah beberapa saat akhirnya aku pun sampai di tempat Sandra duduk. Sandra sedang asik dengan handphonenya dengan tertawa tawa sendiri, sehingga aku pun berniat untuk lewat belakang kursi taman yang di duduki Sandra.
Aku pun berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara agar tidak ketahuan Sandra, perlahan aku berjalan menghampiri Sandra dari belakang. Sesampainya aku berada di tepat belakang Sandra, aku pun langsung menutup kedua matanya dengan kedua tanganku.
"Siapa sih ini, ganggu aja?. " tanyanya.
"Siapa hayo?." tanyaku.
"Siapa lagi kalau bukan Arsyan." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian aku melepas tanganku dan Sandra langsung menoleh kearahku.
"Arsyan kok lama banget sih baru nyampek?." tanyanya.
"Tadi di perjalanan gua ." ucapku.
__ADS_1
"Habis jatuh ya?." tanyanya.
"Gak anjing." ucapku dengan tersenyum.
"Terus apa?." tanyanya dengan penasaran.
"Gua di perjalanan, sangat menikmati jadi gua mengendarai motor gua sangat pelan." ucapku dengan tersenyum.
"Gua kira lo habis jatuh tadi ." ucapnya dengan tersenyum.
"Ya gak lah Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah duduk sini Syan samping gua." ucapnya.
Kemudian aku duduk di samping Sandra.
"Ini pentol buat siapa kok ada dua?." tanyaku.
"Kira kira buat siapa?." tanyanya dengan tersenyum.
"Buat gua dong." ucapku dengan tersenyum.
"Sok tau." ucapnya dengan tersenyum.
"Memang buat gua kan?." tanyaku dengan tersenyum.
"Ya iya lah, masa buat penjual pentol, kan lucu jualan pentol malah di kasih pentol." jawabnya dengan tersenyum.
"Gak apa apa dong." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku dan Sandra mengambil masing masing satu bungkus pentol yang ada di tengah tengah kami berdua dan setelah itu kami berdua pun memakannya.
"Enak kan punya teman kaya kek gua." ucapnya dengan tersenyum.
"Enak banget dong, apalagi temannya juga cantik dan baik." ucapku dengan tersenyum.
"Masa sih gua baik." ucapnya dengan tersenyum.
"Ya baik dong masa gak." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra bersandar di bahuku.
"Makasih ya Sandra udah mau temenin gua." ucapku dengan tersenyum.
"Santai aja Syan." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu dia menegakkan kepalanya dan menoleh ke arahku.
"Lo jadi pergi besok Syan?." tanyanya.
"Iya deh Syan." ucapnya dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu pentol kami berdua pun telah habis dan aku langsung membuang bungkus pentol kami berdua ke tempat sampah yang ada di dekatku..
"Gimana Syan lo jadi pergi besok gak?." tanyanya.
"Tapi tunggu dulu deh." ucapku.
"Ada apa, lo kepedasan ya?." tanyanya dengan tersenyum.
"Iya anjir, sambelnya lo banyakin nih pasti." ucapku.
"Emang, tapi punya gua gak pakai sambal." ucapnya dengan tersenyum.
"Lo ngerjain gua ya." ucapku.
"Gak Arsyan, gua kirain lo suka pedas." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra memberiku sebotol minum untukku.
"Nih minum dulu." ucapnya sembari memberikan botol minum itu kepadaku.
Setelah itu aku meminum air botol itu.
"Habisin juga gak apa apa Syan." ucapnya dengan tersenyum.
Aku meminum air itu hingga habis.
"Udah lega gak?." tanyanya.
"Lumayan sih." jawabku.
Kemudian aku membuang botol itu ke tempat sampah yang ada di dekatku.
"Jadi gua besok udah balik Sandra, ke desa." ucapku.
"Gak pengen cari kerja di sini lagi?." tanyanya.
"Gak Sandra." jawabku.
"Gua cariin kerja ya?. " tanyanya.
"Gak usah Sandra, gua sudah banyak sekali ngerepotin lo selama di Jakarta San." jawabku dengan tersenyum.
"Gua gak kerepotan kok Syan, justru gua malah senang tau ada lo di sini." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Aku pun hanya tersenyum.
"Terus Sisi gimana Syan,yakin lo mau berhenti mencari Sisi.?" tanyanya.
"Iya Sandra." jawabku dengan mengangguk.
"Lo udah gak cinta ya sama Sisi?." tanyanya lagi.
"Masih cinta Sandra, tapi gua mustahil bisa nemuin Sisi, mungkin juga Sisi gak jodoh gua dan gua juga yang terlalu berharap." jelasku.
"Tapi kan Sisi udah kirimin surat buat lo." ucapnya.
"Iya sih tapi cuman sekali." ucapku.
"Berarti dia masih pengen ketemu lo Syan." ucapnya.
"Jangan jangan lo temannya Sisi, terus sengaja nyembunyiinnya dari gua?." tanyaku dengan curiga.
"Gua gak kenal Sisi Arsyan, percaya dong sama gua." ucapnya.
"Terus kenapa lo nyegah gua pergi seperti ini?." tanyaku.
"Gua gak ingin lo pergi Arsyan." ucapnya dengan meneteskan air mata.
Seketika aku pun ikut sedih melihat Sandra yang sedih. Setelah itu Sandra bersandar di bahuku.
"Syan, andai Sisi datang kepada lo sekarang, apa lo masih ingin pergi?." tanyanya.
"Gak tau, mungkin gua ajak pulang Sandra." jawabku.
"Lo yakin jika lo gak jodohnya Sisi." ucapnya.
"Gak tau Sandra." ucapnya dengan tersenyum.
"Jika tiba tiba Sisi datang, apa yang kamu lakukan pertama kali?." tanyanya.
"Tunggu tunggu, jangan jangan lo temenya Sisi lagi." ucap ku dengan curiga.
"Gak Arsyan,masa sih lo gak percaya sama gua." ucapnya.
Kemudian Sandra menegakkan kepalanya dan menoleh ke arahku.
"Arsyan, jaga diri lo baik baik ya di sana." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Sandra, lo juga jaga diri lo baik baik ya di sini." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian air mataku menetes.
"Kok nangis?." tanyanya.
"Gak kok Sandra, cuma kemasukan debu." jawabku dengan tersenyum.
"Ah bohong." ucapnya dengan tersenyum.
"Sini gih sandaran di bahu gua lagi." ucapku dengan tersenyum.
Lalu Sandra kembali bersandar di bahuku dan aku memegang tangannya.
"Jangan lupain gua ya San." ucapku.
"Gua gak akan pernah lupain lo Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
"Gua gak nyangka bisa seakrab ini sama lo." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan." ucapnya.
"Lo ternyata baik banget orangnya, tak seperti yang gua pikirkan seperti pertama kali kita bertemu." ucapku dengan tersenyum.
" Iya Syan gua juga." ucapnya dengan mencium tanganku.
Tiba tiba setelah itu, ada dua cewek yang lewat di depan kami berdua dan dua cewek itu melihat ke arah kami berdua.
"Romantis banget sih kak." ucap salah satu cewek itu dengan tersenyum ke arah kami berdua.
"Jadi iri deh." ucap cewek yang satunya lagi dengan tersenyum ke arah kami berdua.
Seketika Sandra langsung menegakkan kepalanya.
"Apasih mbak, gak jelas deh." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya nih mbak mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Iri banget deh tadi ya kan." ucap salah satu cewek itu.
"Gak boleh iri mbak, iri dosa tau gak." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak apa apa dong." ucap cewek itu.
Kemudian dua cewek itu pun berjalan meninggalkan kami berdua yang sedang duduk di kursi taman.
"Ada ada aja ya, mbak mbak yang tadi." ucapku dengan tersenyum.
"Iya, bikin malu aja." ucapnya dengan tersenyum.
............................ BERSAMBUNG..........................
__ADS_1