Sisi

Sisi
KEPERGIAN TANTE IFA


__ADS_3

Seminggu berlalu, setelah sebulan kiranya tante Ifa tinggal di rumahku.Setelah itu tepatnya hari minggu tante Ifa memutuskan untuk kembali ke Lamongan. Tante Ifa akan berangkat sekitar jam delapan ke stasiun, kini tante Ifa telah mempersiapkan barang barangnya.


"Tante Ifa." Panggilku.


"Iya sayang." balasnya.


"Arsyan bantu ya tante." ucapku.


"Gak usah sayang, kamu duduk aja di situ." ucapnya.


Kemudian aku menuruti perintah tante Ifa, aku duduk di sampingnya, sementara tante Ifa sedang memasukkan baju bajunya ke dalam tas.


"Arsyan pasti merindukan tante." ucapku dengan tersenyum.


"Tante juga sayang." ucapnya dengan tersenyum.


Selama di rumahku, tante Ifa tidur di kamar tamu, di rumahku sendiri terdapat tiga kamar di dalamnya, yang pertama kamar ayah dan ibu, kamarku sendiri dan juga kamar tamu, yang di khususkan jika ada tamu di rumah.


"Tante Ifa, berangkat ke stasiun sendiri?. " tanyaku.


"Iya sayang." Jawabnya.


"Arsyan anterin ya tante." ucapku.


"Gak usah sayang, tante berangkat sendiri aja ya." ucapnya dengan tersenyum ke arahku.


"Yaudah tante, nanti kalau udah nyampek video call Arsyan ya tante." ucapku.


"Iya sayang, tante nanti video call." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian setelah itu tante Ifa pun telah selesai memasukkan bajunya ke dalam tasnya.Setelah itu tante Ifa duduk di sampingku.


"Nanti ke Lamongan loh Syan kalau adik kamu udah lahir." ucapnya dengan tersenyum.


"Keknya Arsyan gak ikut deh tante." ucapku dengan ragu.


"Lah kenapa?. " tanyanya.


"Kan Arsyan di Jakarta tante." jawabku.


"Main ke sana sendiri aja Syan kalau ada waktu." ucapnya.


"InsyaAllah tante, kalau Arsyan ada waktu." ucapku dengan tersenyum.


"Mungkin juga nanti kalau tante udah nikah sama mas Bejo, tinggal di sini lagi sayang." ucapnya dengan tersenyum.


"Masa sih tante?. " tanyaku.


"Iya sayang, kan tante ikut suami." ucapnya.


"Jadi nanti kakek sama nenek yang di Lamongan, tinggal sendiri dong tante?." ucapku.


"Iya sayang,tapi belum tentu juga sih tante tinggal di desa ini, bisa jadi nanti tante sama mas Bejo tinggal di Lamongan ." ucapku dengan tersenyum.


"Kalau tinggal di sini, enak dong setiap hari bisa ketemu tante." ucapku dengan tersenyum.


"Iya dong Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"Ketika tante udah balik, Arsyan pasti sangat rindu sama tante." ucapku dengan tersenyum.


"Tante juga dong Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"Aku kangen sama kakek dan nenek yang ada di Lamongan tante, rasanya pengen banget ketemu mereka." ucapku dengan tersenyum.


"Makanya nanti sering sering ke Lamongan, biar nanti gak kangen." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.


"Kamu ingat gak dulu, waktu di Lamongan tante boncengkan naik sepeda keliling desa." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya tante, ingat banget dong." ucapku dengan tersenyum.


"Gak kerasa ya sekarang kamu udah sebesar ini,padahal dulu saat terakhir kamu ke Lamongan, kamu masih kecil." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya tante, tante juga udah kelihatan tua." ucapku dengan tersenyum.


"Masa sih tante udah kelihatan tua." ucapku dengan tersenyum.


"Gak sih tante, cuma sedikit terlihat tua dari pada dulu." ucapku dengan tersenyum.


"Ya jelas dong Syan, kan umur tante udah 28 tahun, sedangkan dulu masih 17 tahun." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya tante." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi cantikan mana, tante yang dulu atau yang sekarang?." tanyanya dengan tersenyum.


"Dari dulu tante gak pernah berubah, tetap cantik aja kok." jawabku dengan tersenyum.


"Ah masa sih sayang." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya tante sayang." ucapnya.


"Yaudah, tante mau mandi dulu udah mau jam 7 soalnya." ucapnya.


"Iya tante, Arsyan keluar dulu." pamit ku.


"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


kemudian aku keluar dari kamar tante Ifa dan menuju ke dapur menghampiri ibu yang sedang memasak.


"Ibu sayang." panggilku.


"Eh Arsyan,sini bantuin ibu bawa makananya ke meja makan sayang." ucap ibu.


"Iya ibu." ucapku.


Kemudian aku membawa makanan makanan yang sudah di masak ibu ke meja makan. Setelah itu aku pun duduk di meja makan itu, lalu di ikuti ibu yang duduk di hadapanku.


"Ayah belum pulang ya bu?. " tanyaku.


"Belum sayang." jawab ibu.


"Kemana sih bu ayah?. " tanyaku lagi.


"Ketemu temen katanya sayang." jawab ibuku.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


"Yaudah, ayo makan dulu sayang." ucap ibu.


"Nungguin tante Ifa dulu ibu." ucapku dengan tersenyum.


"Iya sayang. " ucap ibu dengan tersenyum.


Kemudian tak lama setelah itu tante Ifa keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuhnya.Setelah itu tante Ifa menghampiri kami berdua yang duduk di meja makan.


"Kok di lihatin aja makananya, gak di makan." tanya tante Ifa dengan bingung.


"Kan nungguin tante sih." ucapku.


"Iya kan nungguin kamu Ifa." ucap ibu dengan tersenyum ke arah tante Ifa.


"Kok nungguin aku sih." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


"Kan lebih seru makan kalau ada tante." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah tante tak cepat cepat ganti aja,gak enak juga di tungguin gini." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


Kemudian tante Ifa pergi ke kamarnya untuk berganti baju.


"Jangan lama lama tante." ucapku.


"Iya sayang." ucapnya dari dalam kamar.


Setelah beberapa saat akhirnya tante Ifa sudah keluar dari kamarnya. Tante Ifa memakai pakaian serba hitam, seperti yang tante Ifa pakai, saat hari pertama dia kesini, tapi tante Ifa belum memakai kerudung dan rambutnya juga tidak di ikat seperti biasanya, bahkan dia terlihat tidak menyisir rambutnya. Setelah itu tante Ifa duduk di sampingku.


"Mbak, daster mbak gimana?. " tanya tante Ifa ke ibuku.


"Oh, yaudah kalau begitu." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


"Rambut kamu gak kamu sisir Ifa?. " tanya ibu.


"Gak mbak, nanti aja kali." jawab tante Ifa dengan tersenyum.


"Yaudah kalau gitu." ucap ibu dengan tersenyum.


"Maaf ya mbak, gak bisa bantuin mbak masak tadi." ucap tante Ifa.


"Gak apa apa Ifa, kan selama sebulan ini kamu juga selalu bantuin mbak Indah masak kan." ucap ibu dengan tersenyum.


"Iya mbak." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


"Barangnya udah siap semua Ifa?. " tanya ibu.


"Udah dong mbak Indah." jawab tante Ifa dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu terdengar suara motor ayah dari luar, menandakan jika ayah udah pulang.Setelah itu ayah pun masuk ke dalam rumah dan menghampiri kami yang ada di meja makan.


"Kok di lihatin aja makananya. " ucap ayah dengan tersenyum.


"Kan nungguin ayah." ucapku dengan tersenyum.


"Tadi itu aslinya udah mau makan mas, tapi kamu udah datang, jadi nungguin kamu aja sekalian." ucap Ibu dengan tersenyum.


Kemudian ayah duduk di samping ibu.


"Yaudah ayo makan sekarang!. " ajak ayahku dengan tersenyum.


"Ambil dulu kalian berdua makananya." ucap ibu dengan tersenyum.


"Siap ibu." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian Kami pun memakan makanan, yang ada di meja itu dengan begitu bahagia.


"Enak banget mbak." ucap tante Ifa dengan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Iya ibu enak banget." ucapku dengan menikmati makananya.


"Istri siapa dulu dong yang masak?. " tanya ayahku dengan tersenyum.


"Istrinya mas Toni lah." jawab ibu dengan tersenyum.


Setelah itu, tepatnya jam 8 pagi, aku, ayah,ibu, tante Ifa,tante Rani, Prisila dan bu Yanti pun berada di teras rumah.Tante Ifa pun mengendong tasnya di punggungnya, Tante Ifa berpamitan dengan kami semua.


"Mbak aku pamit dulu ya mbak." ucap tante Ifa.

__ADS_1


kemudian ibu memeluk tante Ifa.


"Kapan kapan ke sini lagi ya Fa." ucap ibu yang sedang memeluk tante Ifa.


"Iya mbak kalau ada waktu." ucap tante Ifa.


Kemudian ibu melepaskan pelukanya, lalu tante Ifa menghampiri ayah dan langsung memeluknya.


"Mas, Ifa mbalek sek nggeh." ucap tante Ifa(ꋬ).


"꒐yo dek, ati ati loh." ucap ayah(ꃳ).


"Nggeh mas, pan ono waktu nah muleh nek Lamongan yo mas ibu karo bapak wes kangen sampean." ucap tante Ifa(ꉔ).


"Iyo Fa, pan anakku wes lahir, aku tak muleh nek Lamongan." ucap ayah(꒯).


"Iyo tak enteni mas." ucap tante Ifa. (ꏂ).


Tante Ifa melepaskan pelukanya, setelah itu tante Ifa menghampiriku dan aku langsung memeluk tante Ifa.


"Tante." ucapku yang memeluk tante Ifa.


"Tante, pamit dulu ya sayang." ucap tante Ifa.


"Iya tante, hati hati." ucapku dengan tersenyum.


"Nanti kalau ada waktu tante kesini lagi." ucap tante Ifa.


"Iya tante, aku tunggu." ucapku.


Kemudian aku melepaskan pelukanku, lalu tante Ifa menghampiri tante Rani, Prisila dan bu Yanti yang ada di sampingku.


"Mbak Rani, bu Yanti, aku pamit dulu ya." ucap tante Ifa.


"Iya Ifa, hati hati loh." ucap tante Rani.


"Iya, hati hati loh Ifa." ucap bu Yanti.


"Prisila, tante Ifa pulang dulu ya sayang." pamit tante Ifa kepada Prisila.


"iya tante." ucap Prisila dengan tersenyum.


"Saliman gih sama tante Ifa." ucap tante Rani.


"Iya ma. " ucap Prisila.


Kemudian Prisila pun bersaliman dan mencium tangan tante Ifa.


"Sekolah yang pintar ya sayang." ucap tante Ifa.


"Iya tante." ucap Prisila.


Lalu setelah itu tante Ifa perlahan berjalan meninggalkan kami dengan melambaikan tanganya, seketika air mataku pun menetes tapi aku mencoba untuk menahannya. Setelah itu secara mengejutkan mas Bejo pun datang ke rumahku dengan tas yang di gendong di punggungnya, dan menghampiri tante Ifa yang ada di halaman rumahku.


"Sayang,mau kemana kok bawa tas?. " tanya tante Ifa.


"Ikut kamu dong sayang." jawab mas Bejo dengan tersenyum.


"Ke Lamongan?." tanya tante Ifa lagi.


"Iya sayang, sekaligus mau kenalan sama orang tua kamu." jawab mas Bejo dengan tersenyum.


"Tapi,beneran sayang?. " tanya tante Ifa lagi.


"Iya, sayang masa sih aku bohongan." ucap mas Bejo.


Seketika tante Ifa pun memeluk mas Bejo.


"Sayang, makasih." ucap tante Ifa yang memeluk mas Bejo.


"Jangan peluk gini ah sayang, kita kan belum muhrim." ucap mas Bejo.


Kemudian tante Ifa langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf sayang aku reflek tadi, soalnya seneng banget." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


Kami yang ada di teras pun bahagia melihat kemesraan mereka berdua.


"Jagain adik aku Bejo, awas aja kalau kamu sakitin, aku hajar kamu." ucap ayah yang ada di teras dengan tersenyum.


"Siap mas Toni." ucap mas Bejo.


"Yaudah semuanya, kami berdua pamit dulu ya." pamit tante Ifa.


Kemudian mereka berdua pun perlahan berjalan menjauh dari rumahku, untuk pergi ke stasiun, dengan saling bergandengan tangan dengan perasaan yang begitu bahagia.Aku pun ikut bahagia melihat mereka berdua.


...........................BERSAMBUNG.............................


ꋬ. Mas, Ifa pulang dulu ya.


ꃳ. Iya dek, hati hati loh


ꉔ. Iya mas, kalau ada waktu pulang ke Lamongan ya mas, ibu sama bapak udah kangen sama kamu.


꒯.Iya Fa, kalau anak aku sudah lahir,aku akan pulang ke Lamongan.


ꏂ. Iya saya tunggu mas.

__ADS_1


__ADS_2