
Keesokan harinya aku pun terbangun sekitar jam setengah lima,lalu aku pun langsung berdiri, lalu berniat untuk pergi ke kamar mandi, tapi ketika sampai di dapur, aku melihat ibu, tante Santi dan tante Ifa sedang memasak.
"Cie ada asistennya sekarang." ucapku dengan tersenyum.
"Iya dong, chef lagi asistennya." ucap ibu dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong ayah sudah berangkat ya bu?. " tanyaku.
"Iya dong sayang." jawab ibuku.
"Kalau tante Ifa, nanti jadi gak jalan sama mas Bejo?. " tanyaku.
"Jadi dong." jawab tante Ifa.
"Oh yaudah. " ucapku.
Kemudian aku pun pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah beberapa menit akhirnya aku pun selesai mandi, lalu aku pergi menuju kamarku untuk memakai baju dan sholat. Tak lama setelah itu aku pun sudah selesai sholat dan aku langsung berbaring di kasurku lalu membuka handphoneku. Aku mencoba mengecek instagramku dan ternyata Sandra mengonfirmasi permintaan mengikuti dariku sekaligus dia mulai mengikuti akun instagramku. Aku coba mengecek postingan Sandra, hanya ada dua postingan Sandra di akun instagramnya. Satu foto dirinya sendiri memakai jas osis, dan yang kedua, foto dirinya bersama teman temannya di kelas sekolahnya.
Tiba tiba setelah itu, saat asik asiknya aku kepo tentang Sandra, Safira pun menelponku,dan aku pun mengangkatnya.
"Woi." ucap Safira.
"Apa Safira?. " tanyaku.
"Lo hari ini free gak." jawabku.
"Free dong, emang napa sih?. " tanyaku.
"Bisa anterin gua gak?. " tanyanya.
"Kemana?. " tanyaku.
"Ke rumah Risa." jawabnya.
"Ngapain?." tanyaku dengan bingung.
"Pinjam buku novelnya." jawabnya.
"Pakai motor lo, atau motor gua?. " tanyaku.
"Motor gua aja ya, pokoknya nanti gua jemput." jawabnya.
"Iya." ucapku.
Kemudian Safira mematikan telponya, lalu aku menonton Highlight pertandingan semalam dan ternyata tim kesayanganku pun menang, seketika aku pun begitu bahagia.
"Yeah menang. " ucapku dengan bahagia.
Aku pun begitu bahagia dan loncat loncat di kasurku, hingga ibu menghampiriku dan melarang ku melakukan itu.
"Jangan loncat loncat di kasur Arsyan,kek anak kecil aja deh." ucapnya.
"Iya bu iya." ucapku dengan tersenyum.
"Anterin tante Santi ke pasar ya habis ini." perintah ibuku.
"Siap bu." ucapku.
Kemudian aku bersiap siap untuk mengantarkan tante Santi ke pasar. Setelah itu aku pun menghampiri tante Santi yang ada di dapur.
"Sekarang tante Santi?. " tanyaku.
"Iya sayang." jawabnya.
Kemudian aku langsung pergi ke teras rumah dan mempersiapkan motorku. Aku menyalakan motorku dan memanasi motorku. Tak lama setelah itu tante Santi pun menghampiriku yang sedang memanasi motorku.
"Udah Syan?. " tanyanya.
"Sudah tante." jawabku.
Kemudian aku naik ke atas motorku, lalu di ikuti tante Santi yang duduk di belakangku, setelah itu kami pun langsung berangkat menuju ke pasar untuk berbelanja.
"Tante pulang ke Bogor kapan?. " tanyaku.
"Hari Senin Arsyan." jawabnya.
"Kok cepet banget sih tante?." tanyaku.
"Kan tante kerja Syan, jadi gak bisa lama lama di sini." jawabnya.
"Pulangnya naik apa?. " tanyaku.
"Di jemput calon suami tante, pakai mobil. " jawabnya.
"Oh, orang mana sih calon suami tante?. " tanyaku lagi.
"Orang Jakarta, teman kuliah tante dulu." jawabnya.
"Oh, chef juga tante?. " tanyaku lagi.
"Gak Arsyan, calon suami tante itu bos. " jawabnya.
"Wow jadi ibu bos dong habis ini." ucapku dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kok tante bisa dapet calon suami bos gitu sih?. " tanyaku.
"Sebenarnya tante juga gak terlalu mikirin itu sih Syan, yang penting itu tante cinta sama calon suami tante." ucapnya.
"Udah berapa tahun tante pacaran?. " tanyaku.
"Sejak awal kuliah sih, sampai sekarang." jawabnya.
"Wow lama banget. " ucapku dengan kaget.
"Iya dong." ucapnya dengan di ikuti tertawa kecil.
"Kenapa gak nikah dari dulu aja tante?. " tanyaku.
"Tante yang belum siap Arsyan. " jawabnya.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
Tak terasa karena keasikan aku ngobrol dengan tante Santi, kami berdua pun tiba di pasar. Aku mengarahkan motorku di halaman pasar.
"Udah sampai tante." ucapku.
Kemudian tante Santi turun dari motorku, sementara aku masih tetap berada di atas motor.
"Di sini aja atau ikut tante masuk?." tanya tante Santi.
"Ya di sini lah tante masa Arsyan, ikut ke dalam sih." jawabku dengan tersenyum.
"Barang kali mau ikut tante. " ucap tante Santi dengan tersenyum.
"Gak ah tante ngapain juga." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah tante masuk dulu ya." pamit tante Santi.
"Iya tante." ucapku.
Aku pun tetap duduk di atas motor dengan memainkan handphoneku. Namun tiba tiba, tak sengaja aku melihat teman sd ku dulu yaitu Ravi yang berada tak jauh dari tempatku saat ini. Ravi setelah sd memutuskan melanjutkan sekolahnya di pesantren. Aku sering sekali dulu, bolos sekolah di rental ps bareng dia, dan temanku satunya lagi yaitu Ilham, yang pindah ke Kalimantan bersama keluarganya. Sekarang dia sudah beda, gak nakal lagi seperti dulu saat sd. Karena hampir sudah enam tahun lamanya dia berada di lingkungan pesantren,saat dia libur saja kami berdua bermain.Setelah itu aku pun menghampirinya.
"Tad." panggilku.
Seketika dia pun menoleh ke arahku.
"Arsyan, rental ps gak kita." ucapnya dengan tersenyum.
"Rental ps mulu." ucapku dengan tersenyum.
"Barang kali ngajak ke rental ps." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak, btw lo pulang kapan ya?. " tanyaku.
"Kok lo gak ngabarin gua sih." ucapku.
"Lupa gua. " ucapnya.
"Tapi balik lo ke pesantren kapan?. " tanyaku.
"Nanti sore." jawabnya.
"Cepat banget." ucapku.
"Kan emang gua cuma izin pulang dua hari Syan." ucapnya.
Kemudian tak sengaja aku melihat Safira, yang baru keluar dari dalam pasar. Dia hanya memakai daster dengan rambut lurusnya yang tidak diikat, sembari membawa tas yang terbuat dari anyaman. Lalu aku pun memanggilnya.
"Safira." panggilku.
Safira pun menoleh ke arahku, kemudian dia pun langsung menghampiri kami berdua.
"Lo udah pulang aja Rav, perasaan belum waktunya liburan deh. " ucap Safira.
"Aku izin dua hari doang Ra." ucap Ravi.
"Oh gitu ya. " ucap Safira dengan mengangguk.
"Btw, Ilham gimana kabarnya gimana?. " tanyaku.
"Gak tau Syan gua gak punya kontak dia. " ucap Ravi.
"Kita sekelas dulu berapa orang ya?." tanya Safira.
"Dua belas orang dulu, tiga belas ketambahan Sisi, btw Sisi gimana kabarnya?. " tanya Ravi.
"Gak tau, aku gak punya kontaknya. " ucapku.
"Coba lo masih ingat gak nama nama teman sekelas waktu kita sd." tanya Safira.
"Ingat dong gua." jawabku.
"Coba sebutin!." perintah Safira.
"Aku, Ravi, Ilham, Shinta,Adit, Audi, Avika, Cindy, Reno, Alvin, Sisi, Alif sama satunya siapa ya gua lupa." ucapku dengan tersenyum.
"Safira cantik dong." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya dong wajib itu." ucap Ravi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mereka semua pada pindah kota, tinggal kita berdua yang masih tinggal di sini, ya kan Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan. " ucap Safira dengan tersenyum.
"Lo pikir gua tinggal dimana, gua juga masih tinggal di sini tau." ucapku.
"Kan lo di pesantren." ucapku dengan tersenyum.
"Yang di pesantren gak ,di hitung." ucap Safira dengan tersenyum.
"Kan gua masih tinggal di sini. " ucapnya dengan tersenyum.
"Kan yang di pesantren gak di hitung." ucap Safira dengan tersenyum.
"Bodoh amat, yang penting lo kek ibu ibu. " ledek Ravi dengan tersenyum.
"Iya, ibu ibu hamil gak sih Rav. " ucapku dengan tersenyum.
"Bodoh amat, gua kan emang calon ibu ibu." ucap Safira dengan tersenyum.
"Ibu ibu dari anak gua gak sih." ucap Ravi dengan tersenyum.
"Emang gua mau sama lo." ucap Safira dengan tersenyum.
"Ya mau dong masa enggak sih." ucap Ravi dengan tersenyum.
"Ogah banget, lo dulu ngeselin anjing, pinjam polpen gua gak di kembaliin, mana suka goda goda gua lagi." ucap Safira dengan tersenyum.
"Bawa bawa sejarah lo. " ucap Ravi dengan tersenyum.
"Harus dong. " ucap Safira dengan tersenyum.
"Btw nanti jadi ke rumah Risa gak?." tanyaku.
"Oh iya, gak jadi Syan gua pinjam novel Risa saat di sekolah aja." jawabnya.
"Oh yaudah." ucapku.
"Tapi lo gak mau ke mana mana kan?." tanyanya.
"Gak." jawabku.
"Gua main ke rumah lo ya?." tanyanya.
"Main aja Safira. " jawabku.
"Gua ikutan dong." saut Ravi.
"Ayo kali, sekaligus nostalgia mandi di sungai belakang rumahku. " ucapku dengan tersenyum.
"Kok lo gak pernah ngajak gua ke belakang rumah lo sih. " ucap Safira.
"Nanti gua ajak deh." ucapku.
"Masih ingat gua di pohonnya ada namanya Arsyan dan Sisi." ucap Ravi dengan tersenyum.
"Diam kali Rav." ucapku dengan tersenyum.
"Sisi dan Arsyan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Tapi lo suka sama Sisi kan ya." ucap Ravi dengan tersenyum.
"Masa sih lo gak tau, dia setelah lulus sekolah nanti aja mau ke Jakarta cari Sisi tau." ucapku Safira dengan tersenyum.
"Gua juga kerja anjing, gak cuma cari Sisi doang. " ucapku dengan tersenyum.
"Emang saat gua di pesantren, Sisi belum pernah ke sini lagi ya?." tanya Ravi.
"Belum sampai sekarang." jawabku.
Safira pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Gua pulang dulu ya, nanti di marahin mama gua lagi." pamitnya.
"Iya Safira, pokoknya nanti langsung ke rumah aja ya." ucapku dengan tersenyum.
"Oke." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Safira pun pergi meninggal kan kami berdua, untuk kembali ke rumahnya. Dan tak lama setelah itu aku lihat tante Santi yang sudah keluar dari pasar.
"Tante gua udah keluar tuh, gua balik dulu ya." pamitku.
"Iya Syan, nanti gua ke sana agak siangan dikit ya." ucap Ravi.
"Iya Rav." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku kembali ke motor aku, setelah itu aku naik ke motor, sembari menunggu tante Santi yang masih berjalan ke arahku.
"Udah tante?. " tanyaku.
"Udah dong sayang. " jawabnya.
"Yaudah naik tante." suruh ku.
Kemudian tante Santi naik ke motor ku dan duduk di belakangku.Lalu aku pun menjalankan motorku kembali menuju rumah, karena tante Santi sudah selesai berbelanja di pasar.
__ADS_1
................... BERSAMBUNG................