Sisi

Sisi
SUNNY : Terapi 2


__ADS_3

...Ketika seorang sedang gadis jatuh cinta, biasanya mereka berekspetasi tentang hal ini dan hal itu. Padahal realitasnya tak berkata demikian. Begitu pula saat membenci....


__xxDairos, 2018


-


"OH MY GOD!! Are you still virgin?" Pekik ka Joan. Aku tersedak saat meneguk cokelat panas yang sudah tidak panas.


"What the Hell did you say?? No! I.."


"NO??!! You've got a  f*ck with a boy that you hate!!!?? At the school!!?? Holy shit! you drive me nuts." Wajahnya berbinar. Aku tak percaya dia begitu overthinking. Sekarang aku meragukan profesionalitas bekerjanya.


"Keep your Mouth!! You are a Doctor and I'm your patient,remember?" Aku mendengus kesal. Ia terkekeh.


"Ok ok pardon me, I'm so excited." Aku berdecih saat mendengarnya.


"Aaishh! You dont have interested to get a comitment with a man, but you so excited to heard dirty story from the other. Very funny,sis." Ucapku dengan nada sarkastik. Gadis didepanku membenarkan duduknya wajah berbinarnya luntur seketika.


"Ok maaf,kita lanjut." Dia menginterupsi.


"Gak terjadi apa apa diantara kita, don't exaggerate,please." Ucapku dia mengenyitkan dahinya.


...*  *  *...


Tidak! Dia masih menggunakan kaos putih ketat didalamnya. Badannya tercetak dengan indah. ****!! Aku tidak munafik saat seorang gadis yang sedang mengalami pubertas melihat tubuh yang terpahat begitu indah secara otomatis Pikirannya mulai kotor. Dan itu terjadi padaku.


"Pake ini, terserah Lo mau nganggap gua pencitraan gua ga peduli! Gua cuman mau nolong lu aja. Lagian lu juga ga mau pake seragam bau amis kaya gitu sampe pulang" Ia menyerahkan seragamnya.


Aku diam terpaku. Otaku tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini. Ia menarik tanganku dan menyerahkan seragamnya lalu pergi begitu saja.


Bip


Bip


Bip.


Jamku terus berkedip. Perlahan kesadaranku mulai kembali. Aku menepuk pipiku pelan. Sial! Betapa bodohnya aku hingga berfikir macam macam dan diam saja saat dia menyerahkan seragamnya padaku. Aku menekan tombol di jamku agar tak berisik lagi.


"Aaishhhh!! Dasar sialan!!" Makiku pada diri sendiri. Aku memegang pipiku yang panas. Bisa kutebak wajahku sudah berubah menjadi tomat sekarang.


Aku menghela nafas memasuki salah satu bilik kamar mandi. Aku tak punya pilihan lain selain memakainya. Ya mau bagaimana lagi. Seragamku bau amis dan noda kecap susah hilang di kain putih jika hanya dibasuh menggunakan air saja.


Semerbak wangi musk dari bajunya memenuhi indra penciumanku saat aku mengancingkan bajunya.


Aku menatap cermin. Seragamnya kebesaran ditubuhku. Bahkan saat Devon yang tingginya kurang lebih 179cm terlihat agak besar. Apalagi aku yang hanya 165cm.


Aku melepas pin nametag Demian dan menggantinya dengan pin nametagku. Aku menatap pin nametag itu. Ingin sekali menginjaknya dan melemparnya ke tong sampah. Namun tidak kulakukan.


"Sunny!! Sunny disana??" Suara melengking sarah memenuhi kamar mandi. Aku menoleh ia memeluku tiba tiba.


"Iiihh aku tèh kaget ta..." ucapannya terhenti ia melepaskan pelukannya dan mendengus ke seragam yang aku pakai.


"Ihh aku tahu wangi i..."


"Sarahh, aku gak papa ko ga usah khawatir." Potongku agar ia tidak curiga. Tatapannya beralih melihatku.


"Sunny ini baju siapa?" Aku gagal mengalihkan perhatiannya. Ia menatapku penuh curiga.


" eeuuungg, sarah.. eung ke-kekelas yuk, dada Sunny sakit." Ucapku seraya mengelus dada yang sebenarnya tidak apa apa.


"Ehh, sakit? Ya udah ayo!" Ia langsung berubah saat melihatku yang mengusap dada menggandengku.


Tak lama kemudian kami kembali kekelas suasana tiba tiba hening saat aku masuk ke kelas. Aku berjalan melewati Devon yang tengah bermain handphone. Aku lihat dia sudah menggunakan seragam yang lain hanya saja dada kirinya polos tanpa nametag. Ya karena benda kecil itu ada padaku. Ia terlihat acuh saat aku datang. Terasa beda sekali.


Aku melihat daisy. Ia pun sama tak peduli kedatanganku aku menduga mungkin dia tidak sadar. Aku melihat headset terpasang ditelinganya ia sedang mendengarkan musik di hp nya. Matanya terpejam dan terlihat tenang seolah tak terjadi apa apa. Anak itu!! Pekiku dalam hati.


Tak lama kemudian bel masuk berbunyi tanda pelajaran berlanjut seperti biasa hingga istirahat ke dua dan pulang.


"Sunny." Teman sebangkuku memanggilku untuk pertama kalinya. Aku menoleh. Wajahnya menghadap padaku tapi mata hazelnya melihat kearah lain dengan kosong. Matanya seperti mata Demian namun lebih gelap dan pekat.


"Sorry gua ga sengaja." Ucapnya. Aku speechless mendengarnya dia bilang apa? Sorry? Apa aku tuli?.


Kerasukan apa dia? Lagipula meminta maaf itu harus dengan tulus dan menatap orang yang bersangkutan. Matanya malah kosong entah melihat apa.Tapi, aku tak ingin memeperpanjang masalah. Toh, sudah terjadi.


"Oke jangan diulang lagi." Ucapku.


"Thank you." Ucapnya seraya tersenyum tipis dan meninggalkan kelas. Demian menonton kami dari kejauhan.


...*  *  *...


"Jadi, cuman karena itu kamu suka sama demian?"


"Gak! Biar aku tegaskan Miss Joana! Aku gak suka sama dia. Lebih tepatnya belum." Jelasku dia menyeringai.


"Heyy, kaka ga bilang kamu suka sama dia dalam artian perempuan suka sama laki laki. Tapi seorang teman menyukai temannya. Kayak kaka suka sama kamu sebagai seorang teman dan adik." Jelasnya seraya terkekeh geli. Sial! Aku di jebak.


"Kaka mau ngejebak aku ya?" Dia tertawa melihat wajah kesalku.


"Oke maaf, kita lanjut."


Aku meneguk cokelat yang sudah tidak panas sebelum melanjutkan ceritaku.


"Semenjak kejadian itu, Devon tetap banyak bantu aku kayak biasa. Tapi, caranya berbeda."


...*   *   *...


__Beberapa hari setelah insiden cumi__

__ADS_1


Hari Olahraga.


Hari ini adalah hari kamis. Jadwal olahragaku berada di jam terakhir pelajaran. Semua siswa diwajibkan memakai baju olahraga meskipun sedang sakit. Terkecuali aku. Sekolah membebaskanku untuk memilih memakai atau tidak. Karena, pada dasarnya aku tidak akan pernah mengikuti olahraga. Jujur saja aku tidak suka dibeda bedakan.


Hold on, sekolah membebaskanku bukan? Aku memilih untuk selalu mengganti pakaianku dengan pakaian olahraga saat jam pelajaran dimulai.


Biasanya aku mengikuti olahraga sampai pemanasan saja. Dan sisanya aku mengerjakan tugas. Karena tugasnya selalu dikumpulkan di pertemuan berikutnya, maka saat temanku olahraga aku menonton disisi lapangan atau di Tribune penonton saat di Gor.


Saat ini aku sedang duduk di Tribune penonton. Menonton pertandingan basket kelasku. Sehubung materi sudah selesai dan masih ada sisa waktu pangjang maka dengan inisiatif Devon mengajukan permainan bola basket yang tentu saja diindahkan oleh guru olahraga kami. Anak laki laki dibagi menjadi 2 tim sedangkan anak perempuan hanya duduk manis menonton saja. Untuk itu, saat ini Sarah yang duduk disampingku Tidak!! Bukan hanya sarah namun semua siswi dikelasku terus berteriak menyemangati Idola mereka. Siapa lagi kalau bukan si cokelat tukang pamer itu.


Si cokelat itu seolah dengan sengaja berdiri didepan kami lantas mengelap keringat dipelipisnya dengan baju yang ia kenakan. Hal tersebut sudah jelas menampakan perut ramping dan terukirnya dihadapan gadis gadis. Dan kamu pasti sudah bisa menebak reaksi gadis gadis di sebelahku(?).


"KKYAAAA!!!" Oh lord! Telingaku sakit.


"DEVON!!!" Sepertinya Gendang telingaku rusak.


"Dasar Iblis nakal!!!" Seseorang meneriaki itu sontak semua orang didalam Gor tertawa. Termasuk aku.


Di tengah tawa yang menyeruak di permukaan. Mataku menangkap sosok Daisy sedang duduk disebelah Romi dikursi pemain cadangan. Lengannya sedang memegang Handycam. Ia merekam berlangsungnya permainan. Untuk apa?.


Guru olahraga meniup peluitnya.


Permainan babak 1 berakhir semua anggota tim istirahat sejenak. Daisy menutup handycamnya saat Devon menghampirinya.


Daisy membisikan sesuatu saat devon meneguk air minumnya. Devon mengangguk seakan akan dia paham apa yang dibicarakan gadis dingin itu. Daisy melangkah menuju Guru olahraga dan mengatakan sesuatu, Guru olahraga tersenyum lantas ia mengangguk. Tak lama kemudian Daisy melangkah meninggalkan Gor seraya membawa handycam-nya. Aku penasaran apa yang dikatakan gadis dingin itu.


Salah seorang siswi disebelahku membicarakan mereka.


"Oyy, Si es batu itu pacarnya Devon bukan sih?" Ucapnya.


"Ah gak mungkin Devon mau sama gunung es kayak dia." Sanggah yang lain


"Tapi kan kalian lihat sendiri sedeket apa mereka." Timpal yang lain.


"Huusss mau Devon pacaran sama siapa juga, bukan urusan kita. Kalau kalian suka ya suka aja jangan 'mengganggu' kehidupan pribadinya." Ucap sarah menengahi dengan penuh penekanan dikata 'mengganggu' agar mereka semua paham. Dasar fans sejati! Cibirku dalam hati.


"Ehh itu kaliah lihat!! Devon jalan kearah sini!" Seseorang berkata. Sontak kami semua melihat kearah yang ditunjuk.


Benar saja Devon berjalan kearah kami. Seraya membawa handuk kecil dan sebotol air mineral. Semua orang terlihat antusias. Tapi tidak denganku.


"Woyy nitip ya!" Ucap Devon mengalihkan perhatianku. Seraya menyimpan kedua barang itu dipangkuanku.


What the Fvck is these???!!!!!


Aku menatapnya jengah.


"Kenapa lo titip handuk bau lo sama gua?"tanyaku sarkas seraya menyingkirkan dua benda itu dipangkuanku. Ia menyeringai menampakan gigi rapihnya lantas memungut kembali barangnya dan menyimpannya dipangkuanku,lagi.


Ia mendekatkan wajahnya lantas berbisik. "Baju seragam Gua dicucikan?"  Aroma Musk dari tubuhnya tercampur dengan keringat menyeruak memenuhi hidungku. Sekilas aku kehilangan kesadaranku saat suaranya yang berat dan nafas hangatnya berbisik ditelingaku.


Ia tersenyum puas melihat wajahku yang tertekuk.


"Girls,nanti semangatin lagi ya." Ucapnya seraya memberikan wink menjijikan pada anak perempuan yang reflek berteriak kegirangan. Dasar tukang pamer!! Bastard!.


Guru olahraga kembali meniup peluit. Babak kedua dimulai. Kedua tim itu kembali dalam permainan kali ini mereka bermain santai.


Devon sesekali melihat kearah kami.


He smiled like an idiot. Scream.


He winked so disgusting. Scream.


He rubbed his sweat with his jersey. Scream.


He gasped with his sweaty dirty fvcking face. SCREAM SO LOUD!!.


**** OFF!!! I can't do this!!. Batinku menjerit mengutuknya.


Setelah ini aku akan ke klinik THT untuk antisipasi kalau kalau gendang telingaku pecah atau mungkin saja syaraf pendengaranku terganggu. Dan sepertinya mataku akan rabun(?).


Aku beranjak berdiri akan meninggalkan kerumunan yang menggila itu namun, tidak jadi teringat kalau si cokelat sialan itu memberitahu mereka tentang seragamnya. Sial! Aku harus kembali duduk manis.


"Sunn, kayanya Devon suka sama kamu deh." Sarah membuka topik yang sama sekali tak masuk akal.


"Excuse me, what your fucking talking about? Am i missheard?"


"Baby look! Dia itu mulai tertarik sama kamu dari awal kalian ketemu. Inget siapa yang datang pertama buat nolong kamu? Kamu teriakin dia Munafik juga dia ga marah. Ini lihat barangnya dititipin kesiapa?. Y'know ini artinya apa?"aku mendngus kesal Sarah tidak tahu yang sebenarnya.


"Apa?" Tanyaku malas.


"He is fall in love with you!" Pekik sarah antusias. Anak perempuan disekitar kami menatap tak suka.


Oh I hate this fucking situation!! Aku beranjak berdiri meninggalkan mereka.


"Sunny where are you goin'? Ini barang Devon gimana?." Tanya sarah meninggalkanku.


"Shit! I don't give a fvck with that Bastard!" Pekiku. Sarah agak terkejut melihat reaksiku. Aku menghela nafas mengatur nada suaraku.


"Kamu bisa jagain barangnya kalau mau." Ucapku lirih seraya melangkah keluar dari Gor.


-


Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku seketika teringat sesuatu. Bukannya Daisy juga keluar?.


Aku berjalan disekitaran sekolah. Sekolah masih sepi karena para siswa masih belajar di ruangan kelas masing masing.


03.46 PM. 16 menit lagi bel pulang berbunyi.

__ADS_1


Samar aku mendengar melodi yang familiar ditelingaku. Aku mengikuti arah melodi itu seraya mengingat ngingat.


Suaranya semakin nyaring saat aku berdiri didepan Ruang musik.


Ini La Campanella milik Paganini. Aku penasaran siapa yang memainkannya, lantas membuka sedikit pintu ruang musik dan melihat dua orang didalam sana. Aku terkejut saat melihat siapa yang duduk bermain grand piano. Daisy?.


Seorang pria berdiri disebelahnya mengenakan pakaian serba putih sedang memainkan violin. Dia tampan dan wajahnya jelas bukan wajah Indonesia rambut blonde-nya dicepol acak. Sekilas mengingatkanku pada David Garret salah satu pemain biola terbaik dunia favoriteku.


Tiba tiba sebuah tangan menghalangi padanganku. Orang itu berdiri dihadapanku dengan kaus basah bau keringat. Aku menatap jengkel orang itu yang tak lain adalah Demian si cokelat tukang pamer.


"Ngintip orang itu Dosa loh."


"Terus?" Ucapku tak peduli. Mataku tertuju pada lelaki didalam sana.


"Sunny, lo gua titipin barang malah ditinggal gitu aja. Tidak Amanah juga dosa loh." Aku menatapnya jengkel. Ingin sekali ku meninju wajah Good looking-nya.


"Mohon maaf saya bukan babu. Lagian nyuruh orang dengan ancaman itu dosa juga loh." Ucapku dengan nada ejekan membalikan ucapannya.


"Gua ga nganggap lo babu ya! Cuman nitip barang ko!" Pekiknya


"Dengan paksa? Terimakasih Tuan." Ucapku sarkastik.


"Siapa diluar sana??" Tanya seseorang didalam sana mengalihkan perhatian kami.


"Devon?" Kepala lelaki itu mengintip keluar. Wajah ceria Devon luntur seketika saat melihatnya.


Dia tampan sekali kalau dilihat secara dekat. Batinku berkata.


"Kenapa ga masuk aja? Malah berisik ganggu orang." Ucapnya fasih menggunakan bahasa indonesia seraya membuka lebar pintu itu.


"Uh? Siapa ini? Yang baru ya?" Tanyanya saat melihatku. Demian langsung menariku kebelakangnya.


"Bukan urusan lo." Demian ketus. Laki laki itu tidak marah ia terkekeh geli melihat Demian.


"Ya udah." Ucapnya santai.


Demian menariku menjauh dari ruang musik. Aku tidak mengerti. Ada apa dengannya? Saat bicara padaku dia santai saja.


...*  *  *...


__Keesokan harinya. Kantin sekolah__


Sebenarnya aku agak trauma untuk makan di kantin lagi takut akut insiden cumi terjadi lagi. namun sarah berhasil meyakinkanku untuk melupakannya saja.


Aku menatap sekitar sebelum menyuapkan makan siangku kedalam mulut. Memastikan tidak ada tanda tanda dari si cokelat dan antek anteknya.


Syukurlah aku bisa makan denan tenang.


"Gimana kamu sama Devon? Udah ada perkembangan?" Tanyanya namun mata dan tangannya tak beralih dari Handphone. Sarah memang suka mengupload setiap kegiatan baik kegiatan kecil atau event besar ke media sosialnya.


"Sarah please. Gak ada apa apa ko diantara kita."


Tuk! Tiba tiba Devon meletakan kotak susu soya tepat disebelah nampan makanku. Lagi lagi ia duduk di meja yang bersebrangan dengan mejaku. Aku menghela nafas panjang tak ingin ribut lalu melanjutkan makan siangku. Whatever.


"Gak ada apa apa?" Sarah membalikan ucapanku.


"Shut up!"


...*  *  *...


__Pulang Sekolah__


Aku tak pernah tahu apa isi kepala si cokelat tukang pamer itu. Seharusmya aku menghentikan kelakuan anehnya saat aku memakinya didepan ketika itu. Aku tidak ingin terikat dengan siapapun. Hanya ingin sekolah saja. Namun Devon melakukan yang sebaliknya. Apa dia menyukaiku? Apakah dugaan sarah benar? Aku harus bertanya padanya dan mengakhiri ini semua.


Aku berniat mengembalikan seragam dan nametag-nya. Namun, batang hidungnya tidak terlihat sejak ia diminta guru B.Indonesia untuk menyimpan KBBI di perpustakaan. Daisy dan Romi juga tidak ada.


Aku mencarinya di perpustakaan namun dia tidak ada. Perpustakaan begitu sepi dan aku melihat KBBI sudah tersimpan rapih di tempatnya. Aku mencarinya keluar dan hanya bertemu dengan Romi.


"Rom, Devon dimana?"


"Napè? Kangen yak amè diè?" Romi sama saja dengan Sarah, aku mendelik kesal.


"Yè maaf. Devon lagi di Ruang musik. Diè ja..." aku tak mendengar kalimat selanjutnya.


Sesegera aku menuju ruang musik. Pintunya tertutup. Tidak terdengar satupun melodi dari dalam. Namun, aku tak peduli. Aku membuka pintunya dan


Devon memang didalam sana bersama dengan...


Daisy(?).


Melihat mereka berdua seperti itu dan mendengarkan penjelasan Devon tentang mereka. Membuatku paham mengapa mereka sedekat itu.


...*   *   *...


Ka Joan diam sejenak lantas ia menghela nafas panjang.


"You have to believe that everything will gonna be ok." Iya meyakinkanku.


-


-


-


To be Continue....


Thank you so much for coming and read my weird story. See you....🌼⚘

__ADS_1


__ADS_2