Sisi

Sisi
TEMENIN SAFIRA


__ADS_3

Keesokan harinya aku terbangun sekitar jam empat lebih. Aku pun langsung menuju ke dapur untuk mencari ibu, tapi ibu belum juga muncul,sehingga aku memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Tak lama setelah itu aku sampai di depan kamarnya, pintu kamarnya terbuka sedikit. Aku pun membuka pintu kamar ibu dan masuk ke dalam kamar ibu. Aku melihat ibu sedang berdoa, karena selesai sholat dengan menangis menyesal.


Aku yang tak ingin mengganggunya pun memutuskan untuk keluar kamarnya, tapi aku kaget ketika ibu tiba tiba memanggilku.


"Sayang." panggil ibuku.


Seketika aku menoleh ke arah ibu.


"Iya ibu." balasku.


"Sini nak duduk di samping ibu." perintahnya.


Kemudian aku pun menghampiri ibu yang sedang memakai mukena putihnya itu, dan aku duduk di sampingnya. Aku tatap wajah penyesalan ibu.


"Sayang, beneran jangan jadi seperti ibu ya sayang." ucap ibu sembari mengelus mukaku dengan wajah yang sedih.


Seketika air mataku menetes, tidak kuat melihat wajah ibu yang sedih.


"Iya ibu." ucapku sembari meneteskan air mata.


"Ibu menyesal Arsyan telah melakukan hal itu." ucap ibuku sembari menangis.


Ibu bersandar di bahuku, kemudian aku hanya mengelus air mata ibu yang terus keluar.


"Jangan sedih terus ya bu,Arsyan jadi ikutan sedih ini." ucapku mencoba menenangkan ibu.


"Makasih ya sayang,telah mau memaafkan ibu. " ucap ibuku dengan menangis.


"Aku seharusnya yang berterima kasih sama ibu, ibu selalu menyayangi Arsyan, menyemangati Arsyan jika Arsyan sedih dan berkat doa dari ibu juga Arsyan bisa juara lomba lari kemarin." ucapku dengan tersenyum.


Setelah itu aku memeluk ibuku dengan penuh kasih sayang.


"Ibu sayang Arsyan." ucap ibuku yang ada di pelukanku.


"Arsyan juga sayang ibu, ibu adalah ibu terbaik yang ada di dunia ini." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian aku melepaskan pelukanku.


"Ibu Arsyan belum sholat." ucapku dengan kaget.


"Sholat dulu sayang, nanti bantu Ibu masak ya. " ucap ibuku dengan tersenyum.


Setelah beberapa saat akhirnya aku pun selesai sholat dan setelah itu aku pergi ke dapur. Terlihat ibuku yang sedang memasak makanan di dapur.


"Ibu sayang. " panggilku dengan tersenyum.


Tiba tiba ada suara dari luar rumah, terdengar itu adalah suara tante Rani, Safira dan juga Prisila.


"Indah." panggil tante Rani dari luar.


"Sayang itu tante Rani, bukain pintunya ya!. " perintah ibuku.


"Siap ibu. " ucapku.


Kemudian perlahan aku berjalan menuju ke arah pintu, untuk membukakan pintu. Setelah itu aku buka pintunya dengan perlahan.


"Ibumu mana Syan?. " tanya tante Rani.


"Di dalam tante." jawabku.


"Tante masuk ya Arsyan." ucap tante Rani.


"Iya tante silahkan masuk. " ucapku dengan tersenyum.


Kemudian tante Rani dan Prisila pun masuk ke dalam rumahku, tapi beda dengan Safira, Safira masih berdiri di depan pintu.


"Lo nggak masuk?. " tanyaku.


"Nggak." jawabnya.


"Kenapa?. " tanyaku dengan heran.


"Gak tau." jawabnya.


"Kok gak tau sih." ucapku dengan tersenyum.


"Banyak nanya ih. " ucap Safira dengan tersenyum.


"Udah mau berdiri gini aja." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian Safira duduk di kursi yang ada di teras rumahku, lalu aku pun ikut duduk di sampingnya.


"Tumben lo gak pakai daster lagi?. " tanyaku.


"Males gua." jawabnya.


"Oh yaudah." ucapku dengan tersenyum.


"Syan." panggilnya.


"Iya." ucapku.


"Temenin gua pulang ya, gua gak berani di rumah sendirian." ucapku.


"Yaelah gitu doang gak berani." ucapku dengan tersenyum.


"Temenin gua ya." ucapnya dengan memohon.


"Iya iya, sekarang atau nanti." ucapku.


"Nanti aja jam lima." ucapnya dengan tersenyum.


"Lo cantik banget sih." ucapku dengan tersenyum.

__ADS_1


"Gombal ya. " ucapnya dengan tersenyum.


"Lo cantik banget Safira." ucapku dengan tersenyum.


"Gak usah gombal deh, jijik tau gak." ucap Safira dengan tersenyum.


"Nama panjang lo siapa sih kok lupa gua?. " tanyaku.


"Nama panjang temanya sendiri kok lupa sih, mana teman dekat lagi." jawabnya dengan tersenyum.


"Nama lo siapa sih?. " tanyaku.


"Safira aprilia putri." jawabnya.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


"Lo random banget sih. " ucapnya dengan tersenyum.


"Random gimana anjir?. " tanyaku dengan bingung.


"Ya random aja." ucapnya.


"Terserah lo aja deh Safira." ucapku.


Kemudian aku berniat mengajak Safira untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuk yuk." ajakku.


"Ayo." ucapnya setuju.


Kemudian kami berdua pun masuk ke dalam rumah untuk menemui ibu dan juga tante Rani. Mereka berdua sedang ngobrol dan duduk di ruang keluarga,sementara Prisila berbaring di pangkuan mamanya dengan menonton televisi.


"Ibu tante. " panggilku.


"Apa sayang?. " tanya ibuku.


Kemudian kami berdua duduk di samping ibu dan tante Rani, sambil ikut menonton televisi yang di tonton Prisila.


"Kalian berdua gak sekolah?. " tanya  ibuku.


"Sekolah dong bu." jawabku.


"Kok tumben belum mandi?. " tanya ibuku.


"Nanti aja bu, dingin soalnya." jawabku.


"Oh yaudah sayang." ucapku.


"Indri udah tau gak kalau kamu hamil?." tanya tante Rani kepada ibuku.


"Belum." jawab ibuku dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau ibu sama bapak kamu?. " tanya tante Rani lagi.


"Belum tau juga, bahkan suamiku aja belum tau." jawab ibuku.


"Nunggu dia pulang aja Rani." ucap ibuku dengan tersenyum.


"Biar surprise gitu kan." ucap Rani dengan tersenyum.


"Iya, kalau aku kasih tau langsung kan gak seru." ucap ibuku.


"Iya juga ya." ucap tante Rani.


Kemudian aku bilang kepada ibu jika sepulang sekolah nanti aku akan pergi ke rumah tante Indri untuk memberitahu jika ibu hamil.


"Ibu nanti Arsyan mau ke rumah tante Indri ya sepulang sekolah." izinku.


"Mau apa sayang?. " tanya ibuku.


"Mau bilangin kalau ibu hamil,boleh kan." jawabku.


"Oh yaudah kalau begitu, boleh." ucap ibuku.


Kemudian aku menoleh ke Safira.


"Nanti temenin gua ya Safira?. " tanyaku.


"Gua kan kerja Arsyan." jawabnya.


"Oh iya deh gua lupa." ucapku dengan mengelus keningku.


"Kamu kerja Safira?. " tanya ibuku dengan kaget.


"Iya tante, jaga toko." jawab Safira.


"Hebat kamu, masih sekolah udah kerja juga." ucap ibuku dengan tersenyum.


"Iya tante, biar gak nyusahin orang tua juga." ucap Safira dengan tersenyum.


"Kak kapan kapan tidur di rumah lagi ya. " ucap Prisila.


"Iya Prisila kalau kak Safira ada waktu." ucap Safira dengan tersenyum.


"Ada lowongan gak buat tante, Safira?." tanya tante Rani.


"Untuk saat ini belum ada tante." jawab Safira.


"Kamu mau cari kerjaan ran?. " tanya ibuku.


"Iya sih buat penghasilan tambahan." jawab tante Rani.


Kemudian jam telah menunjukkan pukul lima pagi, aku berniat pergi ke rumah Safira untuk menemani Safira di rumahnya.


"Bu Arsyan mau ke rumah Safira sebentar ya,nemenin Safira." izinku.

__ADS_1


"Iya sayang,jangan buat yang aneh aneh loh."  ucap Ibuku.


"Masa sih, Arsyan dan Safira berbuat yang aneh aneh." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian kami berdua hendak pergi ke rumah Safira. Sesampainya di luar Safira langsung naik motornya, di ikuti denganku yang duduk di belakangnya.


"Udah Arsyan." ucap Safira.


"Iya sayang." ucapku.


"Kok sayang sih." ucap Safira dengan bingung.


"Eh keceplosan anjir." ucapku mencoba mengelak.


"Gak ada ceritanya gitu keceplosan." ucap Safira dengan tersenyum.


"Gak sayang." ucapku.


"Oh iya sekarang gua punya ide." ucap Safira dengan tersenyum.


"Ide apa anjir?. " tanyaku dengan bingung.


"Kita pura pura pacaran aja, biar nanti semua pada kaget." ucapnya dengan  tersenyum.


"Ide lo kok aneh aneh aja sih." ucapku.


"Lo mau gak Arsyan?. " tanyanya.


"Tapi pura puranya gimana, perasaan kita kemana mana sering bersama deh,dan juga kalau cuma pegangan kita juga sudah sering lakuin." ucapku.


"Gua sama lo sama sama manggil sayang, terus di kelas kita harus bucin dan mesra hingga membuat semua iri sama kita." jelasnya.


"Aneh aneh aja deh." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi lo mau gak?. " tanyanya.


"Iya sayang gua mau." jawabku.


"Ya gak sekarang juga manggilnya sayang, Arsyan." ucap Safira.


Kemudian Safira menjalankan motornya menuju ke rumahnya.


"Sayang, aku sayang deh sama kamu." ucapku.


"Ya gak sekarang juga anjing, nanti ketika di sekolah. " ucapnya.


"Kan gua cuma latihan anjing." ucapku.


"Iya deh iya." ucapnya.


"Tapi alay banget anjing, jijik gua." ucapku.


"Gak apa apa, itu juga buat latihan kalau lo udah ketemu Sisi nanti." ucap Safira dengan tersenyum.


"Tapi gak segitunya anjing." ucapku.


Kemudian kami berdua pun sampai di rumah Safira. Safira langsung memarkirkan motornya di depan rumahnya, lalu kami berdua turun dari motor dan kami berdua masuk ke dalam rumah.


"Syan lo lihat televisi aja dulu ya, gua mau mandi." ucap Safira.


"Iya Safira." ucapku.


Kemudian aku menonton televisi di rumah Safira.Hingga setelah beberapa saat Safira pun telah memakai baju sekolah yang di tutupi dengan memakai hoodie warna pink, serta tasnya yang ada di bahu kananya.


"Udah cantik aja sayang. " ucapku.


"Lo kok manggil gua sayang sayang mulu sih." ucap Safira.


"Katanya pura pura pacaran. " ucapku.


"Di sekolah doang Arsyan." ucap Safira.


"Sudah semua kan Safira?. " tanyaku.


"Udah Arsyan. " jawab Safira.


"Nanti makan di rumah gua aja ya." ajakku.


"Gak usah syan, gua makan di kantin aja nanti." ucap Safira.


"Gak apa apa Safira, makan di rumahku aja." ucapku.


"Di kantin aja Arsyan. " ucap Safira.


"Yaudah gua gak mau pura pura." ucapku dengan tangan  sedekap.


"Iya deh iya Arsyan. " ucap Safira dengan tersenyum.


"Gitu dong sayang." ucapku.


"Di bilangin jangan panggil sayang kok." ucap Safira.


"Iya deh iya gua lupa." ucapku.


Kemudian kami berdua pun keluar dari rumah Safira, tiba tiba secara mengejutkan aku melihat pak Jono yang kembali jualan pentol.


"Udah jualan pentol lagi pak?. " tanyaku.


"Iya Syan." ucap pak Jono.


"Makin ganteng aja pak." ucapku dengan tersenyum.


"Bisa aja deh kamu, yaudah aku jualan dulu ya." pamit pak Jono.


"Iya pak." ucapku.

__ADS_1


Kemudian pak Jono pun pergi meninggalkan kami berdua, untuk berjualan. Sementara kami berdua langsung naik ke motor untuk kembali lagi ke rumahku.


.........................BERSAMBUNG.......................


__ADS_2