
Setelah selesai makan kami pun langsung berniat pergi ke rumah, karena tante Indri ingin ke rumah bertemu dengan ibu yang sedang hamil. Aku sudah naik motor terlebih dahulu sembari memanasi motorku, aku menunggu tante Indri, Prisila dan Sania yang masih ada di dalam.
Tak lama setelah itu tante Indri, Prisila dan Sania pun keluar dari rumah. Prisila dan Sania langsung menghampiriku, sementara tante Indri terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya.
"Kamu naik di depan seperti tadi ya Prisila." ucapku.
"Siap mas." ucap Prisila dengan tersenyum.
"Kalau Sania duduk di belakang ya sama ibu nanti." ucapku.
"Siap mas." ucap Sania dengan tersenyum.
Mereka berdua pun langsung naik ke motorku seperti yang aku perintahkan. Lalu tante Indri yang sudah selesai mengunci pintu pun langsung menghampiriku, kemudian tante Indri naik di motorku. Aku pun langsung menjalankan motorku menuju ke rumah.
"Ibu kamu periksa kapan?. " tanya tante Indri.
"Kemarin malam tante, aku anterin." jawabku.
"Oh." ucap tante Indri.
Kami pun menikmati perjalanan menuju ke rumah, dengan Prisila yang sedang menyanyi lagu anak anak di ikuti dengan Sania yang juga ikut menyanyi, hingga tak terasa akhirnya kami pun sampai di rumah. Terlihat ada ibu dan juga tante Rani yang sedang duduk di teras rumah.
"Rani, Indah." panggil tante Indri.
Seketika ibu dan tante Rani menghampiri kami.lalu tante Indri turun dari motorku.
"Kamu ngapain kesini ndri, jadi ngerepotin kamu aja." ucap ibuku dengan tersenyum.
"Gak apa apa Indah aku gak kerepotan kok." ucap tante Indri.
"Prisila ikut mas Arsyan gak bilang mama." ucap tante Rani.
"Maaf ma tadi aku lupa." ucap Prisila.
"Alasanya lupa terus." ucap tante Rani.
"Gak usah di marahin Rani, namanya juga anak kecil." ucap Tante Indri dengan tersenyum.
"Iya Indri, kamu kok makin gemuk aja deh perasaan." ucap tante Rani dengan tersenyum.
"Masa sih, perasaan dari dulu aku segini mulu deh,iya kan Indah." ucap tante Indri.
"Tapi bener deh kata Rani, kamu makin gemuk Indri." ucap Ibu dengan tersenyum.
"Ah kalian kok gitu sih." ucap tante Indri dengan merengek.
"Kok kalian di motor terus, gak turun ya?. " tanya ibuku.
"Lagi nyimak obrolan." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Prisila dan Sania pun turun dari motorku.
"Ayo main ke rumahku!. " ajak Prisila.
"Ayo." ucap Sania setuju.
Kemudian mereka berdua berlari menuju ke rumah tante Rani.
"Yaudah ayo masuk ke rumah!. " ajak ibu.
"Ayo." ucap tante Indri setuju.
Kemudian ibu, tante Indri dan tante Rani pun masuk ke dalam rumah. Sementara aku berniat untuk pergi ke toko yang di jaga Safira.
"Mau kemana Syan?. " tanya tante Indri.
"Mau pergi ke temen, tante." ucapku dengan tersenyum.
"Biasa mau ke rumahnya Safira ndri." ucap ibuku dengan tersenyum.
Karena sebentar lagi adzan maghrib, akupun mengurungkan niatku untuk pergi ke tempat kerja Safira, dan memilih untuk pulang. Hingga akhirnya aku pun sampai di rumah, aku parkirkan motorku di depan rumah, kemudian aku masuk ke dalam rumah, di dalam rumah sudah ada tante Indri dan ibu yang ada di dalam, sedang duduk di depan televisi.
"Cepat banget udah pulang?. " tanya ibu.
"Gak jadi bu." jawabku.
"Lah kenapa sayang?. " tanya Ibuku lagi.
"Sudah maghrib ibu, gak baik keluar maghrib maghrib." jawabku.
"Yaudah, tapi jadi kan?." tanya ibu.
"Iya ibu setelah sholat isya. " jawabku.
Kemudian aku duduk di samping mereka berdua.
"Ayah belum pulang ya bu?. " tanyaku dengan penasaran.
__ADS_1
"Udah dari tadi saat kamu ke rumah tante Indri." jawab ibu.
"Terus sekarang?. " tanyaku lagi.
"Oh iya, ayah tadi minta bangunin ibu tapi ibu lupa." ucap ibuku dengan mengelus dahinya.
"Kebiasaan deh kamu." ucap tante Indri dengan tersenyum.
Kemudian ibu pergi ke kamar untuk membangunkan ayah yang sedang tertidur.
"Btw, tante Indri tidur sini ya?. " tanyaku.
"Iya Syan, soalnya om Ahmad belum pulang." ucap tante Indri dengan tersenyum.
"tante biasanya di rumah sama Sania doang ya?." tanyaku.
"Iya,kalau om Ahmad lagi lembur dan pulangnya mungkin jam dua pagi." jawab tante Indri.
"Oh, tapi nanti kalau om Ahmad datang tante, kan rumahnya tadi tante kunci?." tanyaku.
"Sudah tante bilangin kalau tante ada di sini." jawab tante Indri.
Kemudian ibu pun menghampiriku, setelah membangunkan ayah, sementara ayah langsung pergi ke kamar mandi.
"Ayo sholat ndri!. " ajak ibu.
"Ayo ndah." ucap tante Indri setuju.
"Yaudah ayo. " ucap ibu.
"Arsyan gak ikut sholat?. " tanya tante Indri.
"Tante sama ibu duluan aja, Arsyan nunggu ayah,terus nanti sholat sama ayah." ucapku.
"Oh yaudah. " ucap tante Indri.
Kemudian ibu dan tante Indri pergi ke ruang musholah, rumahku.
Setelah beberapa saat, setelah aku melakukan sholat isya, aku langsung berniat untuk pergi ke tempat kerja Safira. Sebelum berangkat tiba tiba Safira menelpon ku, lalu aku mengangkatnya.
"Syan." ucapnya.
"Kenapa lo nelpon gua, ada masalah ya?. " tanyaku.
"Iya Syan, lo bisa ke tempat kerja gua gak." jawabnya.
"Kangen gak tuh." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya gua kangen sama lo." ucapku.
"Perasaan baru aja tadi sore berpisah." ucapnya.
"Ngapain lo minta gua ke sana?. " tanyaku dengan penasaran.
"Temen jaga gua gak masuk Syan, dan sekaligus gua sendirian Syan." jawabnya.
"Minta temenin gitu." ucapku.
"Iya Syan." ucapnya.
"Bilang aja kalau lo itu kangen sama gua." ucapku dengan tersenyum.
"Lebay banget sih." ucapnya.
"Yaudah gua gak jadi ke sana. " ucapku dengan tersenyum.
"Iya deh, gua kangen sama Arsyan." ucapnya.
"Nah gitu dong, tapi." ucapku.
"Tapi apa lagi?. " tanyanya.
"Gua gak tau jalanya anjing,lo bisa share loc gak." jawabku.
"Yaelah, yaudah gua share loc nih." ucapnya.
"Awas kalau kesasar." ucapku.
"Gak akan anjing." ucapnya.
"Yaudah gua otw nih." ucapku.
"Awas aja lo gak dateng." ucapnya.
Kemudian aku mematikan telponnya, aku naik ke motorku dan langsung menjalankan motorku menuju ke tempat kerja Safira. Sembari ku melihat share loc yang di berikan oleh Safira, aku terus melewati jalanan yang di penuhi rumah penduduk. Hingga akhirnya aku sampai di gapura berwarna putih, bertuliskan desa Melati, yang bersebelahan pas dengan desaku. karena merasa bingung, aku kembali menelpon Safira, dan Safira mengangkatnya.
"Fir beneran lo kerja di desa melati?. " tanyaku.
__ADS_1
"Iya Arsyan, cepetan ke sini gua takut nih di sini sendirian." ucapnya.
"Oh yaudah gua otw." ucapku.
"Lo sudah sampai mana sih?. " tanyanya.
"Udah sampai gapura desa melati. " ucapku.
"Lo langsung masuk aja itu, ikutin share locan gua aja, gak usah pakai nelpon." ucapnya.
"Oke siap." ucapku.
Kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju ke tempat kerja Safira, karena sudah sering ke desa melati aku pun terlihat santai walaupun tidak ada rumah penduduk, di sebelah kanan dan kiriku, melainkan hanya persawahan, aku melewatinya dengan begitu santai hingga akhirnya aku sudah sampai di kawasan rumah penduduk, di sekelilingku masih terlihat begitu ramai warga yang beraktivitas. Ada yang berkumpul dengan keluarga di teras rumah, ada anak anak kecil sedang bermain kejar kejaran, kumpulan ibu ibu yang sedang merumpi, dan yang lain. Karena ini juga baru sekitar jam delapan, belum terlalu malam wajar jika masih banyak warga yang beraktivitas. Sehingga tak terasa, aku pun hampir sampai di tempat yang di share loc oleh Safira. Tapi aku terkejut ketika mengetahui, jika share loc yang di kirimkan oleh Safira adalah tepat berada di area pemakaman, lalu aku pun memutuskan menelpon Safira, dan untungnya Safira menjawab telponnya.
"Apa lagi Arsyan?. " tanyanya.
"Lo jaga pemakaman apa jaga toko sih anjing." jawabku.
"Ya jelas jelas jaga toko lah, masa gua jaga pemakaman." ucap Safira dengan bingung.
"Atau sebenarnya lo hantu yang jualan di pemakaman, bukan Safira kan? . " tanyaku.
"Anjing lo ngomong apaan deh, jelas jelas gua Safira aprilia putri cewek tercantik yang ada di sekolahan." ucapnya dengan di ikuti ketawa kecil darinya.
"Anjing lo ngerjain gua ya." ucapku.
"Memang." ucapnya dengan tertawa.
"Awas loh di belakang lo ada kuntilanak." ucapku mencoba menakutinya.
"Bodoh amat gua gak takut." ucapnya.
"Yaudah gua balik nih." ucapku.
"Jangan dong Arsyan, gua kan cuma bercanda." ucapnya dengan memohon.
"Iya deh gua kasihan sama lo, tapi di mana tokomu anjing." ucapku.
"Lo jalan aja nanti ada toko, itu tokonya syan." ucapnya.
"Oke siap." ucapku.
Kemudian aku mematikan telponnya, kemudian aku melanjutkan perjalananku, hingga akhirnya aku sampai di sebuah toko yang di depannya terdapat motor Safira yang terparkir, aku pun langsung membelokan motorku ke toko itu, kemudian aku parkirkan motorku di samping motor Safira yang terparkir. Lalu aku turun dari motorku, setelah itu langsung masuk ke toko tempat Safira berjaga.
"Mbak beli. " ucapku.
"Iya mas mau beli apa?." tanyanya.
"Rokok satu. " jawabnya.
"Iya mas bentar." ucapnya.
Kemudian Safira yang duduk pun berdiri dan menghadap ke arahku.
"Arsyan kirain siapa?." ucapnya dengan tersenyum.
"Masa suara temanya sendiri lupa." ucapku.
"Gua gak fokus lagi asik nonton drakor." ucapnya dengan tersenyum.
"Drakor mulu, yaudah rokok satu ya." ucapku.
"Yang mana?." tanyanya.
"Yang hitam kecil itu aja deh." jawabku.
Kemudian Safira mengambilkan rokok itu padaku.
"Ini uangnya." ucapku sembari memberikan uang pada Safira.
"Gak usah Arsyan, gua yang bayarin." ucapnya dengan tersenyum.
"Beneran nih?. " tanyaku.
"Iya Arsyan." jawabnya.
"Yaudah, makasih ya Safira cantik." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sama sama. " ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku mengambil satu batang rokok dari kemasannya, lalu aku masukkan rokoknya ke mulut dan aku menyalakan rokok itu dengan korek api, setelah itu aku hisab rokoknya kemudian aku keluarkan asapnya.
"Sini Arsyan masuk sini duduk di samping gua." perintahnya.
"Oke Safira." ucapku.
Kemudian aku masuk di tempat penjaga toko, dan duduk di kursi yang ada di samping Safira dengan terus menghisap rokok.
__ADS_1
.........................BERSAMBUNG.......................