
Rasa kesal mulai datang menghampiri ketiga wanita cantik yang sedang menatap ke arah Dena. Hampir dua puluh menit mereka menunggu Dena yang hanya diam sambil memutar gelas yang ada dalam genggaman tangannya.
"Ah sudahlah! Kita macam orang bodoh saja jika menunggu dia bicara!" sungut Astrid sambil mengubah posisi duduknya.
"Aiih! Gak sabaran amat sih, Mbak Astrid!" cibir Dena seraya menatap Astrid, "tapi aku benar-benar lupa, ide apa yang sempat muncul di kepala ku," ucap Dena penuh sesal.
"Begini saja, Aya. Coba cari tahu akun sosial media pria itu! Mungkin saja di akun Bea ada postingan yang menandai kekasihnya," usul Astrid seraya menatap Soraya.
"Cie ... yang udah pengalaman mengintai suami!" Tiba-tiba saja Dena meledek Astrid.
"Hei! Diam kau Perawan tua!" sarkas Astrid seraya menatap tajam ke arah Dena.
Bukannya marah, Dena malah terkekeh meski Astrid memanggilnya dengan sebutan perawan tua. Dia tahu jika Astrid hanya bercanda saat mengucapkan itu. Sementara Soraya, tanpa banyak bicara, dia segera membuka sosial media nya dan mencari akun Beatrice. Dia dengan telaten mencari akun pria manis itu seperti yang disarankan oleh Astrid.
"Yes! Ketemu!" ujar Soraya saat menemukan akun milik Dirga.
Soraya memberikan ponselnya kepada Astrid, karena dia lebih percaya kepada senior itu dalam hal mengintai. Tentu pengalaman wanita peternak madu itu jauh lebih banyak saat dulu mengintai semua wanita simpanan suaminya. Astrid terlihat serius saat mengobrak-abrik akun Dirga dan juga Beatrice.
"Bagaimana? Apa ada hal menarik di sana, Mbak Astrid?" tanya Soraya.
"Ya. Aku menemukan banyak hal di sana. Kita harus membagi tugas untuk mengetahui siapa sebenarnya calon menantumu," ucap Astrid dengan santainya.
Tentu, ucapan tersebut membuat Dena dan Rahma saling pandang karena mereka berdua pasti tahu, jika setelah ini Astrid akan memberikan tugas kepada mereka. Terkadang wanita senior itu tidak masuk akal jika meminta bantuan.
"Dari hasil penyelidikanku, ternyata Dirga memiliki banyak pekerjaan sampai aku sendiri bingung, sebenarnya dia ini bagaimana," ucap Astrid seraya menatap ketiga temannya.
__ADS_1
"Terus?" Rahma menatap Astrid dengan rasa penasaran yang begitu besar.
"Ah, aku menemukan ide!" Astrid tersenyum penuh arti, "ada tugas untukmu, Su!" Astrid menatap Rahma penuh arti.
"Katakan saja!"
"Di beranda Dirga, tertulis jika dia adalah potografer, ada kontak yang bisa dihubungi. Terkadang dia bekerja di salah satu taman yang ada di daerah sini. Tugasmu adalah menjadi modelnya. Ya, tidak ada salahnya jika kamu sering bertemu dia untuk melakukan pemotretan. Cari tahu bagaimana Dirga yang sebenarnya," ucap Astrid sambil menatap Rahma penuh arti.
"Oke, aku terima. Tugas yang sangat mudah!" Rahma tersenyum penuh arti.
Astrid pun merencanakan langkah selanjutnya. Dia mengatakan jika Dirga terkadang memposting lapak sayuran di pasar. Kemungkinan besar Dirga adalah penjual terong dan jenis sayuran yang lain. Kali ini Astrid sendiri yang akan mengambil tugas tersebut. Dia bisa melakukannya sepulang dari tempat ini, karena Dirga memposting dagangannya di waktu pagi buta, kemungkinan besar dia berjualan menjelang subuh.
"Aku punya tugas satu lagi untukmu, Dek Dena," Astrid tersenyum manis saat beradu pandang dengan gadis bukan perawan itu.
Dena memutar bola matanya setelah melihat senyum yang mengembang dari bibir sahabatnya itu, "katakan apa tugasku?" tanya Dena dengan malas.
"Berhubung di jaman sekarang banyak pria yang suka memanfaatkan kekayaan pasangannya, kita harus mencari tahu, apakah Dirga tulus mencintai Bea atau hanya sekadar ingin hidup enak dengan menumpang hidup di rumah Soraya. Nah, untuk kali ini aku membutuhkan bantuan, Dek Dena," ucap Astrid seraya menatap Dena.
"Dekati dia. Kamu harus berpura-pura menyukai dia dan tawari pria manis itu untuk menjadi simpananmu. Iming-iming saja dengan semua harta kekayaanmu." Astrid tersenyum penuh arti.
"Hei! Kenapa harus aku yang menerima tugas itu!" sungut Dena setelah mendengar tausiyah panjang yang diucapkan Astrid kepadanya, "Kenapa bukan Rahma atau Soraya sendiri sih! Mbak Astrid kan bisa menghandle itu." protes Dena.
"Eh, jangan gila! Dia itu pacar anakku! Masa iya aku ngegodain dia! Mau ditaruh mana harga diriku nanti jika ketahuan! Bisa-bisa ada judul sinetron 'ternyata calon mertuaku adalah kekasihku'. Dih, ogah!" tolak Soraya dengan tegas.
"Aku juga sangat beresiko loh! Nanti kalau si Bapak tahu aku suka sama berondong. Habislah riwayatku. Auto miskin aku, Mbak Dena!" keluh Rahma dengan raut wajah yang memelas.
__ADS_1
"Apalagi aku. Meskipun suamiku punya banyak wanita, aku juga gak mau kali ketahuan ngegodain berondong. Bisa-bisa dia menceraikan aku! Miskin juga dong aku nanti!" Astrid pun ikut menghindar dari tugas gila yang diaturnya.
Dena hanya bisa memijat pangkal hidungnya setelah mendengar semua alasan yang dikatakan oleh ketiga temannya. Dia tak habis pikir kenapa harus ada gila yang tercetus dari bibir peternak madu itu.
"Bagaimana, Dek Dena? Apa kamu bersedia menerima tugas dari mbak Astrid?" Soraya menatap Dena dengan sorot penuh harap.
Dena hanya bisa membuang napas setelah melihat ekspresi wajah Soraya. Tentu, dia tidak tega ketika melihat Soraya. Sangat tidak mungkin jika dia menolak permintaan itu, apalagi semua ini demi kebaikan Beatrice—gadis kesayangan—mereka semua. Dena pun tidak mau jika Beatrice salah memilih pasangan.
"Oke, baiklah. Demi Soraya dan Beatrice, aku rela menjadi tante-tante pencari berondong! Aiih!" Dena berdecak kesal setelah mengatakan hal itu.
"Lalu tugasku apa?" Soraya menatap Astrid penasaran.
"Tugasmu cukup mudah. Cukup awasi putrimu saja. Kalau sempat datanglah ke cafe tempat pria itu bekerja menjadi seorang Barista. Awasi gerak-geriknya, bila perlu cari tahu di mana rumahnya," ucap Astrid.
Wanita yang menjadi peternak madu itu cukup pandai dalam merangkai rencana seperti ini. Pengalaman pribadi membuatnya sangat profesional dalam hal mengintai mangsa. Apalagi, mengintai pria seperti Dirga, tentu lebih mudah daripada mengintai simpanan suaminya.
Malam itu, anggota sosialita group warung remang-remang, telah menyusun misi untuk mengintai sosok Dirga Aditya—kekasih Beatrice —sebelum pernikahan itu berlangsung. Mereka rela melakukan semua ini demi masa depan Beatrice.
"Sekarang mari kita bersulang untuk misi pengintaian pria manis." Astrid mengangkat gelas setelah menuang minuman beralkohol ke dalam gelasnya.
"Cheers!" sahut Soraya, Dena dan Rahma sambil mengangkat gelas masing-masing.
Suara gelak tawa mereka terdengar di sana.Saling bersahutan dengan suara musik yang memekik di telinga. Kalau sudah seperti ini mereka semua seakan lupa usia. Tidak mau kalah dengan yang masih muda. Sungguh, kaum sosialita yang meresahkan.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini semoga suka 😍🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷...