
Bersenang-senang hingga larut malam, bukanlah hal yang mengherankan bagi Soraya. Bertemu dengan ketiga temannya sambil bersenda gurau serta ditemani minuman beralkohol adalah rutinitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka selalu kompak dalam segala hal yang berhubungan dengan kesenangan dunia.
Sama halnya dengan Rahma yang tengah mengalami kegalauan dan gangguan emosi naik-turun, sebenarnya Soraya pun sedang pusing memikirkan putri semata wayangnya yang keras kepala. Namun, semua perasaan itu perlahan hilang setelah berada dalam keramaian club malam. Akan tetapi, dirinya masih tetap memiliki batasan. Bagaimanapun juga, Soraya masih ingat pulang dan juga mengkhawatirkan keadaan Beatrice yang berada di rumah dengan beberapa pelayan saja.
"Aku harus pulang sekarang. Entah kenapa, perasaanku mendadak gak enak," ucap Soraya setelah teringat semua perdebatannya tentang Reyhan bersama Beatrice. Dia hanya takut saja jika putrinya nekat kabur dari rumah.
"Hmmm ... macam orang bener aja pakai perasaan gak enak segala," sahut Dena sambil meniup asap rokoknya. Dalam satu malam itu, entah sudah habis berapa batang rokok yang telah dia sulut dalam menemani obrolan santai bersama rekan-rekannya.
"Tau nih! Biasanya saja kita pulang dini hari. Sekarang masih jam sepuluh malam loh, Dek Aya," timpal Astrid yang sedang menuang minuman beralkohol ke dalam gelasnya. Setelah itu, dia meneguknya.
Soraya tak menghiraukan bujuk rayu dari kedua anggota senior geng sosialitanya. Dia tetap pulang mengikuti jejak pelakor yang pulang lebih cepat karena merasa mual. Setelah pamit kepada Dena dan Astrid, janda kaya raya itu pun segera berjalan keluar dari club tersebut.
"Terima kasih," ucap Soraya setelah Alpianto membukakan pintu mobil untuknya.
Perjalanan panjang akhirnya dimulai. Mobil mewah milik Soraya melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota yang masih ramai. Alunan musik yang menenangkan terdengar di dalam mobil tersebut hingga membuat Soraya melepas penat untuk sesaat. Tidur. Ya, seperti itulah caranya melepas lelah. Tidur di jalan menjadi cara ampuh untuk menghilangkan sedikit penat dalam dirinya.
Selang beberapa saat, mobil mewah milik Soraya, akhirnya tiba di depan gerbang utama kawasan perumahan elit tempat tinggalnya. Janda satu anak itu pun segera membuka mata setelah mendengar suara Alpianto yang membangunkan dengan memanggil namanya pelan dan sopan.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanya Soraya sambil mengerjap pelan.
"Maaf Nyonya karena saya lancang membangunkan Anda. Saya hanya ingin memberitahu jika di depan mobil kita sepertinya nona muda," ucap Alpianto seraya menunjuk motor yang melaju dengan lambat di depan mobil yang kendarai. Motor itu memang melaju ke arah kediaman milik Soraya. "Saya masih ingat dengan flat nomor sepeda motornya," jelas Alpianto lagi.
Soraya membuka kelopak matanya dengan lebar untuk memastikan jika gadis yang ada di atas motor butut itu bukanlah putrinya. Lampu sorot dari mobilnya pun mengarah langsung pada flat nomor sepeda motor tadi. Soraya harus benar-benar memastikan terlebih dahulu. Akan tetapi jika dilihat dari rambut, tas, serta jaket yang dipakai gadis itu jelas menunjukkan bahwa itu memanglah Beatrice, putri semata wayangnya.
Soraya hanya bisa mengusap dadanya setelah memastikan jika memang itu Beatrice. Apalagi setelah motor itu belok kiri dan sudah jelas jika itu adalah arah ke rumahnya. "Hah, Bea baru pulang di jam seperti ini? Mana diantar pria kere itu," gumam Soraya pelan. Dia merasa terkejut setelah melihat waktu yang ada di ponselnya. Tak biasanya putrinya keluar rumah dan pulang selarut itu.
Sesaat kemudian, Soraya juga membuka aplikasi berwarna hijau untuk membuka pesan yang belum sempat dia buka. Ternyata salah satunya adalah pesan dari ART di rumahnya. Orang yang dia percaya itu, melaporkan bahwa Beatrice belum pulang sejak pergi tadi pagi.
"Apa-apaan ini?" Soraya menggeleng pelan setelah motor yang dikendarai Dirga berhenti di depan gerbang rumah megahnya.
"Bea!" panggil Soraya yang baru keluar dari dalam mobil. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan. Kemarahan dan rona tidak suka jelas mewarnai wajah cantik janda satu anak tersebut.
"Mama." Beatrice menoleh setelah melihat sang ibu yang telah berdiri dengan memasang wajah sangarnya.
"Sayang, itu ada Mama," tunjuk Beatrice mengalihkan pandangan ke arah Dirga. Dia tersenyum manis saat beradu pandang dengan sang kekasih yang membuatnya bahagia selama seharian ini.
__ADS_1
Dirga yang sejak tadi sudah melihat kehadiran Soraya, tak langsung menyapa. Pria dua puluh lima tahun tersebut terdiam sejenak. Tampaknya, dia sedang memikirkan sesuatu. Samar dalam bayangan lajang manis itu tentang beberapa pengunjung setia cafè tempat dia bekerja. Walaupun setiap harinya ada banyak orang yang datang dan pergi ke cafè itu, tapi Dirga bisa menghapal wajah-wajah dari pelanggaan setianya.
"Bu," sapanya dengan sopan. Dia mengangguk hormat kepada calon ibu mertuanya.
"Ba-bu! Saya bukan ibu kamu!" balas Soraya dengan ketus saat menanggapi sapaan dari Dirga. Sesaat kemudian, janda kaya itu kembali mengalihkan perhatiannya kepada Beatrice yang terlihat hendak melakukan protes. "Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?" selidiknya dengan mimik serius.
"Aku pikir Mama ngga akan pulang secepat ini," jawab Beatrice. Bukannya menanggapi pertanyaan sang ibu, dia justru melontarkan kata-kata yang terkesan menantang Soraya.
"Mama bertanya sama kamu, Bea. Dari mana saja kamu seharian ini sampai-sampai harus pulang selarut ini?" Soraya mengulangi pertanyaannya.
Bukannya merasa takut, Beatrice malah menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. "Seperti halnya Mama yang ngga betah di rumah, wajar dong jika sekali-kali aku merasakan seperti apa angin ibu kota di malam hari," jawabnya enteng.
"Bea! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Masuk!" Telunjuk Soraya terulur lurus ke arah bagian dalam bangunan megah miliknya. Dia tak harus menyuruh hingga dua kali agar gadis itu mengatakan iya. Bagaimanapun, Soraya mengenal baik karakter putrinya.
"Aku masuk dulu, ya. Kamu langsung pulang, jangan keluyuran terus kayak abege tua," sindir Beatrice seraya melirik sang ibu. Setelah itu, dia pun berlalu dari hadapan Soraya dan juga Dirga yang telah kembali menaiki motornya.
"Hey, kamu!" panggil Soraya. "Ini terakhir kalinya kamu bawa-anak orang tanpa izin. Lain kali, bisa saya laporkan ke polisi jika sampai terulang lagi!" ancam Soraya seraya berlalu meninggalkan Dirga yang duduk terdiam di atas motor untuk beberapa saat. Diperhatikannya langkah Soraya yang tengah menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
Dirga hanya mampu mengela napas dalam-dalam. Dia mulai menyadari satu hal, bahwa untuk menikahi Beatrice tak hanya dibutuhkan bekal yang cukup, tapi juga mental yang kuat. Setidaknya, dia wajib memiliki keberanian lebih, untuk dapat meluluhkan kesombongan dari calon ibu mertuanya itu. Dirga tahu apa yang harus pertama kali dia lakukan. Satu hal yang penting adalah mengisi perut di angkringan mas Jambul langganannya untuk menguatkan mental yang sempat down karena cercaan calon ibu mertua.
...🌹TBC🌹...