
Aroma minuman beralkohol, berbaur menjadi satu dengan asap rokok yang dikepulkan oleh Dena. Lajang berusia empat puluh lima tahun itu sedang berada di salah satu club malam seorang diri. Dia melewatkan malam untuk mengusir rasa suntuk yang mendera akhir-akhir ini. Tentu keadaan itu membuat Dena merasa kesepian meski ditengah keramaian, meskipun suara musik dari DJ ternama begitu memekakan telinga.
"Huuuh ...." Dena mengela napas yang berat, "Teman-temanku pada ribet dengan keluarganya. Soraya sibuk memperbaiki hubungan bersama Bea. Ratu lebah sibuk ngurusin suaminya dan sekarang si Rahma malah hamil sama suami orang," gerutu Dena setelah meneguk minuman beralkohol yang ada dalam gelasnya.
"Inilah yang membuatku malas untuk menjalin sebuah hubungan lagi. Pasti aku pun sama seperti mereka, ribet mengurus keluarga dan tentunya semua itu sangat membosankan." Dena mulai meracau karena pengaruh alkohol yang ditenggaknya.
Mungkin yang dikatakan Dena ada benarnya, karena menjalin sebuah hubungan tidaklah mudah dan pastinya ribet. Meluangkan waktu dan memahami perasaan pasangan tentu akan dilakukan jika terikat dalam sebuah hubungan. Namun, Dena lupa pada dirinya saat ini yang sedang terjebak dalam rasa sepi hingga membuat hidupnya terasa hampa. Selama ini, dia belum merasakan hal ini karena ketiga temannya selalu ada kapanpun dia ingin bertemu dan membuang jauh rasa bosan dalam diri. Lalu bagaimanakah dengan hari ini ketika dia harus berada dalam keramaian seorang diri? Tetap saja wanita cantik itu kesepian meski berada di bawah gemerlap lampu disco.
Semakin lama, Dena mulai merasa pusing karena terlalu banyak menghabiskan minuman beralkohol. Dia sampai lupa batasan yang biasa dilakukan saat bersama ketiga temannya. Mungkin, karena suntuk setelah seharian mengurus pekerjaan dia sampai lupa jika sudah menghabiskan dua botol minuman mahal itu. Tubuhnya mulai tidak seimbang dan pandangannya pun mulai tidak jelas.
Sebelum kondisinya semakin parah, Dena memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Dia berusaha untuk sadar agar tidak salah memilih jalan keluar dari tempat ini. Tubuhnya sempoyongan karena tidak bisa menahan keseimbangan tubuh.
"Mobilku tadi di mana ya?" gumam Dena setelah berhasil keluar dari tempat yang menyediakan berbagai kesenangan itu.
Dena berdecak kesal karena lupa di mana dia parkir dan sialnya malam itu Dena pergi tanpa sopir. Alhasil wanita berusia empat puluh lima tahun itu harus mengelilingi tempat parkir yang luas itu agar tidak salah.
"Tunggu! Tapi aku tadi membawa mobil berwarna apa? Hitam, putih atau merah?" Dena bergumam lirih saat berusaha mengingat warna kuda besi yang dia bawa malam ini, "Ah, sepertinya aku membawa mobil hitam. Ya. Aku pasti tidak salah," gumamnya lagi.
Langkah kaki wanita itu berhenti di ujung tempat parkir hingga dia menemukan mobil Mercedez-Benz berwarna hitam. Dena sangat yakin jika itu mobil miliknya dan tanpa melihat nomor platnya, dia masuk begitu saja di kursi kemudi, "kenapa kursiku tidak seperti biasanya sih?" gerutu Dena sambil meraba sisi kanan kursi yang dia tempati untuk mengatur posisi yang tepat.
__ADS_1
Dena segera memasang seatbelt di tubuhnya sebelum menyalakan mesin mobil tersebut. Namun, sebelum seatbelt itu terpasang dengan benar, genggaman tangannya terbuka dan sabuk pengaman tersebut lepas dari tubuhnya.
"Suara apa sih ini?" gumamnya dengan suara yang lirih ketika mendengar suara lenguhan di dalam mobil tersebut. Dena hanya diam sambil memastikan di mana sumber suara tersebut dan perlahan dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa pemilik suara manjah tersebut.
"Aaaakh!" teriak Dena tatkala melihat sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di jok kursi belakang, "Siapa kalian?" tanya Dena dengan mata yang melebar sempurna. "Kenapa kalian ada di mobilku?" cecar Dena dengan suara yang lantang.
"Hei! Anda jangan ngawur, Nyonya! Ini mobil saya dan Anda sudah mengganggu kegiatan kami!" jawab seorang pria yang sedang merasakan betapa hebatnya goyangan wanita yang ada di atas tubuhnya. Mereka berdua tidak perduli meskipun ada orang lain di sana. Rasa nikmat terlanjur dirasakan oleh keduanya.
"Ish, ish, ish! Siapa bilang ini mobil kamu? Seenaknya saja mesum di mobil orang!" Dena bergegas keluar dari mobil, kemudian beranjak ke pintu belakang. Dengan segera, lajang itu membukanya. Dia menarik wanita yang tengah asyik berada di atas pangkuan pria tadi. Dengan sekuat tenaga, pemilik perusahaan travel tersebut menjambak rambut panjang wanita dalam mobil dan menyeretnya keluar.
Wanita itu memekik kesakitan. Dia juga sibuk menurunkan bagian bawah rok mininya yang tersingkap. "Hey, Mbak! Apa-apaan ini!" sergah si wanita. Dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dena dari rambutnya.
"Masih saja bertanya! Kalian berdua mesum di mobil orang!" sentak Dena. Dia baru melepaskan tangannya dari rambut wanita tadi, setelah seorang pria keluar dari dalam mobil. Pria dengan postur tegap, dan berwajah campuran luar negeri.
"Yakin ngga apa-apa? Kita belum selesai loh." Si Wanita meyakinkan pria itu.
"Ngga apa-apa," jawab pria tampan itu.
"Oke deh. Terima kasih, ya," balas si wanita dengan sumringah. Dia menerima uang yang disodorkan, kemudian segera pergi dari sana meninggalkan Dena dengan pria tadi.
__ADS_1
"Kamu mabuk berat," ucap si pria setelah mengendus ke dekat Dena. "Pantas saja pikiranmu ngaco."
"Hey! Jaga bicaramu!" sergah Dena.
"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba masuk ke mobilku? Mengganggu kesenangan orang saja!" protesnya.
"Ya ampun. Kamu bilang aku mabuk dan salah masuk mobil?" cibir Dena. Wanita itu kemudian tertawa mengejek. "Coba kamu lihat dengan jelas. Lain kali, kalau mau berbuat mesum sebaiknya pastikan dulu itu mobil siapa. Huh, aku harus memandikan mobilku untuk buang sial!" Dena mendengus kesal.
Sementara si pria hanya menggeleng pelan. "Sekarang aku tanya, mobil kamu merk dan tipe apa?" tantangnya.
"Mobilku ... mobilku ... mobilku ya ... rodanya empat ...." Dena menjawab dengan tak karuan. Sesaat kemudian, wanita itu tampak memainkan kedua bola matanya. Dia sendiri merasa tak yakin. Dena kemudian menggaruk kepalanya.
"Coba pastikan lagi dengan baik. Apakah ini mobilmu?" tantang si pria. Dia menarik tangan Dena untuk mendekati kendaraan mewah yang diperdebatkan tadi. Pria itu menyuruh Dena agar mengamati mobil tersebut dengan teliti.
Dena berpikir sejenak. "Sebentar. Aku harus mengubungi seseorang." Dena memberi isyarat kepada pria itu. Dia lalu merogoh ponsel dari dalam tas, kemudian menghubungi seseorang. "Hallo, Ridwan. Saya mau tanya sama kamu, sebenarnya mobil saya itu warna apa ya?" tanya Dena sambil berusaha untuk tetap menyeimbangkan badannya.
"Mobil mbak Dena Honda Accord Platinum White Pearl," jawab Ridwan yang merupakan sopir pribadi Dena.
Jawaban Ridwan berhasil membuat mata sayu itu terbuka lebar. Mengamati dengan jelas kuda besi yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷...