Sosialita

Sosialita
Keperdulian seorang Ibu,


__ADS_3

Sekembalinya dari makam, Beatrice segera kembali ke kamarnya. Tanpa banyak bicara, gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan Soraya dan juga Matilde yang terlihat keheranan. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Matilde.


"Biasalah. Masalah anak muda," sahut Soraya terlihat tenang, meskipun dalam hati sebenarnya dia begitu khawatir tehadap putri semata wayangnya. "Aku akan melihat keadaan Bea dulu," pamit janda cantik itu seraya berlalu dari hadapan adik iparnya.


Soraya berjalan menyusuri koridor hingga dirinya tiba di depan kamar yang ditempati Beatrice. Wanita berusia empat puluh lima tahun tersebut kemudian memberanikan diri mengetuk pintu, meski dirinya tak yakin bahwa sang putri akan membuka dan berbicara padanya. Namun, setidaknya dia sudah memperlihatkan rasa peduli dan perhatiannya kepada gadis berambut cokelat yang tengah di dalam kamar.


"Bea, sayang," panggil Soraya dari luar. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar itu. "Bea, apa kamu baik-baik saja, nak?" serunya lagi dengan tidak terlalu nyaring. "Kamu tidak ingin bicara sama mama, nak?" Soraya tak pantang menyerah. Namun, tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.


Soraya berdiri sejenak seraya mengempaskan napas panjang. Entah apa lagi yang tengah menimpa anak gadisnya saat itu. Beatrice begitu labil. Jika kemarin-kemarin kekasih dari Dirga tersebut tampak ceria dan jauh lebih rileks, lain halnya dengan saat ini. Beatrice terlihat amat murung dan tak bergairah sama sekali. "Kamu kenapa sih?" gumam Soraya pelan. Baru saja dirinya akan beranjak dari sana, terdengar suara pintu yang dibuka.


"Mama," panggil Beatrice yang seketika membuat Soraya menghentikan langkahnya. Janda cantik itu kemudian menoleh. Dia berbalik dan kembali ke depan kamar yang ditempati Beatrice.


"Kamu baik-baik saja, Bea?" tanya Soraya. "Kita bisa mengobrol kalau kamu mau," tawarnya.


Beatrice tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia mempersilakan Soraya untuk masuk ke kamar. Gadis itu kembali duduk di atas tempat tidur sambil memasang wajah yang terlihat tak bersemangat sama sekali.


"Apa kamu ada masalah lagi dengan pemuda itu?" tanya Soraya yang sudah bisa menebak arti dari sikap putrinya. "Mama tadi mendengarnya dengan jelas saat kita berada di makam papamu," ujar wanita cantik itu lagi seraya menghampiri Beatrice kemudian duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus bagaimana," sahut gadis berambut panjang itu lesu.


"Apa yang dia lakukan? Apa dia berbuat macam-macam sama kamu? Apa karena itulah kita ada di sini sekarang? Oh, Bea. Mama pikir kamu ingin agar kita benar-benar bisa menghabiskan waktu bersama. Kenapa pengaruh Dirga begitu besar buat kamu, Sayang?" Soraya memberondong putrinya dengan serentetan pertanyaan.


"Aku memang ingin berkunjung kemari, Ma. Masalahku dengan Dirga, membuat rencana itu ingin segera aku realisasikan. Sekarang kita sudah di sini. Di Madrid, kota kelahiranku." Beatrice mengempaskan napas penuh sesal.


"Baiklah, Mama akan mengabaikan hal itu," sahut Soraya, "tapi katakan ada masalah apa antara kamu dengan Dirga," pintanya.


"Sejak kapan Mama tertarik dengan masalahku dan Dirga?"


"Astaga, Sayang. Aku adalah mamamu. Sudah seharusnya aku peduli padamu. Kamu adalah putri Mama satu-satunya. Francesco menitipkanmu berkali-kali. Padahal meskipun papamu tidak berpesan apapun, Mama pasti akan menjaga dan selalu memerhatikanmu dengan baik," tutur Soraya.


"Apa kamu ingin terus menyalahkan Mama?" Suara janda satu anak itu sedikit bergetar saat menyadari segala kealpaannya dalam merawat Beatrice.


"Tidak. Tak ada gunanya. Aku bahkan tak tahu lagi apa yang aku inginkan saat ini," jawab gadis berusia dua puluh dua tahun itu.


"Lalu?" tanya Soraya. Namun, Beatrice tampak enggan untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Dengarkan Mama, Sayang," ucap Soraya lagi. "Ketahuilah bahwa Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Segalanya Mama lakukan untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Terus terang saja bahwa Mama begitu terkejut saat kamu meminta untuk segera menikah. Terlebih, Mama tidak mengenal dengan baik pemuda yang menjadi pacar kamu itu," jelas Soraya dengan lembut.


"Sekarang Mama sudah mengenalnya. Lalu, bagaimana sikap Mama terhadap Dirga? Mama menolak dia secara terang-terangan," balas Beartice.


"Mama ingin kamu menikah dengan seseorang yang bisa memberikan jaminan hidup layak untukmu. Ingat, Sayang. Setelah menikah nanti, kamu mesti belajar menata rumah tanggamu sendiri. Kamu harus memasak dan mengurus suamimu dengan baik. Hal sekecil apapun harus kamu pikirkan, bahkan saat dirimu kehabisan garam dan gula," tutur Soraya lagi.


"Dirga adalah pekerja keras, Ma," bantah Beatrice.


"Ya, dan ibunya seorang janda. Dia punya tanggung jawab besar sebagai pengganti kepala keluarga. Apa kamu siap jika harus berbagi dalam segala hal? Penghasilannya tidak besar. Memangnya berapa gaji seorang bartender paruh waktu? Semua itu tidak akan bisa membuatmu merasa cukup meskipun dia menambah penghasilan sebagai fotographer lepas, berjualan sayuran di pasar, atau membersihkan aquarium di sebuah toko ikan hias kecil di pasar. Berapa uang yang akan diberikannya padamu, lalu berapa yang harus dia berikan kepada ibunya?" Soraya berkata dengan sangat menggebu-gebu. Dia bahkan sampai lupa dan hilang kontrol atas ucapannya sendiri. Soraya telah membuka semua hal yang seharusnya menjadi rahasia dan tidak boleh diketahui oleh Beatrice.


"Bagaimana Mama bisa mengetahui apa yang biasa Dirga kerjakan? Dari mana Mama mendapatkan semua informasi tentangnya?" selidik Beatrice dengan sorot tajam kepada sang ibu. "Astaga, jangan katakan jika Mama memata-matai Dirga!" tukas gadis itu lagi dengan nada tak suka.


Soraya mendadak bungkam setelah mendengar cecaran dari putrinya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk mencari jawaban yang tepat atas semua yang sudah terlanjur dia katakan di hadapan Beatrice. Berkilah pun rasanya tidak mungkin setelah semua pengakuan panjang yang lolos dari bibirnya.


"Mama hanya mencari informasi saja," gumam Soraya tanpa menatap wajah Beatrice. Pandangan matanya beralih ke arah yang lain.


Wajah Beatrice seketika berubah semakin murung. Dia tidak habis pikir kenapa ibunya melakukan semua itu. Ini adalah hal yang tidak disukai oleh Beatrice karena menurutnya Soraya terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Kenapa Mama memata-matai Dirga? Seharusnya Mama tidak melakukan semua ini 'kan? Bukankah Mama bisa memintaku untuk membawa Dirga pulang dan Mama bisa bertanya langsung dengannya!" Beatrice pun tidak bisa mengontrol ucapannya setelah mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh wanita yang duduk di sisinya saat ini.


__ADS_2