
Waktu membawa semua insan pada tujuan masing-masing. Entah itu suka ataupun duka karena hidup harus memilih salah satunya. Begitupun dalam suatu hubungan, harus mempertahankan satu dan meninggalkan yang lainnya. Akan tetapi semua tidak berlaku untuk Handoko, karena dia begitu serakah ingin memiliki semuanya. Dia mencintai dan tidak ingin melepaskan Astrid, tetapi dia pun tidak mau melepaskan para madu yang menanti uang darinya. Apalagi setelah ini Handoko akan menambah koleksinya yang lebih fresh. Tentu hal ini telah melukai Astrid.
"Haah, sudahlah. Aku sudah lelah," gumam Astrid dengan helaan napas yang berat, "mungkin melepaskan adalah jalan yang terbaik. Sekuat apapun aku menutupi luka dengan kemewahan ini, tetap saja rasanya sakit. Sudah cukup aku mengikuti kegilaan Handoko," lanjutnya.
Wanita berusia empat puluh tujuh tahun itu tengah menimbang isi hatinya, mengingat besok adalah sidang putusan. Dia meyakinkan hati jika perpisahan adalah jalan yang terbaik untuknya karena tidak bisa lagi mengikuti setiap langkah Handoko.
"Selamat malam, Moms," sapa Handoko tiba-tiba saat menghampiri Astrid di ruang keluarga. Dia menghempaskan diri di sisi Astrid. Dia menempel di lengan yang terbuka itu seperti perangko yang menempel di amplop surat.
"Ada apa kamu datang menemuiku?" tanya Astrid tanpa basa-basi.
"Aku sengaja ingin menghabiskan waktu bersamamu, Mom." Handoko menatap istri pertamanya sekilas, "apa kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Handoko setelah menyandarkan tubuh di sandaran sofa.
"Tentu. Tekadku sudah bulat karena aku lelah mengikuti langkahmu yang semakin kehilangan arah," jawab Astrid seraya menatap suaminya, "aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu, tetapi jika kamu tidak mau melepaskan semuanya, maka perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk kita." Astrid menatap Handoko dengan lekat.
Handoko hanya diam saja sambil menatap wanita yang sudah menemaninya selama beberapa puluh tahun lamanya. Dia tidak menyangka jika rumah tangga yang dibangun bersama Astrid harus kandas di tengah jalan. Handoko merapatkan badan dengan istrinya itu. Tangannya menyentuh dagu lancip sang istri, sementara tatapan wajahnya tak lepas dari kedua bola mata indah milik Astrid.
"Jika memang jalan ini yang bisa membuatmu bahagia, aku akan mengabulkan karena jalan kebahagiaanku bukan hanya pada satu wanita. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu inginkan, Moms. Aku minta maaf karena mungkin selama menjadi suamimu aku hanya bisa membahagiakanmu dengan materi. Aku membagi semua yang ada pada diriku untuk orang lain, meski aku tahu di dalam lubuk hatimu yang paling dalam ada luka akibat semua yang aku lakukan." Handoko mengungkapkan isi hati yang selama ini tak pernah diungkapkan kepada Astrid.
"Aku mencintaimu, Moms. Akan tetapi aku pun tidak bisa hanya bertahan denganmu," lanjut Handoko.
__ADS_1
"Ya. Tidak masalah. Setidaknya kita sudah pernah merajut kasih dengan indah. Terima kasih atas semua kenangan indah yang dulu pernah kamu berikan untukku. Mungkin takdir kita hanya sampai di sini. Aku sudah lelah dan menyerah menghadapi kegilaanmu. Aku tidak akan menyesal dengan keputusan ini," ucap Astrid dengan senyum yang sangat manis.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Moms?" tanya Handoko ketika teringat bagaimana kelangsungan hidup wanita yang menjadi istri pertamanya itu.
"Entahlah. Aku belum ada rencana. Mungkin aku akan tinggal bersama Agnez atau menetap di Indonesia." jawab Astrid sambil menuang red wine ke dalam gelasnya.
"Jangan tinggal bersama Agnez. Menetaplah di rumah ini saja karena aku tidak akan memintanya. Rumah ini dan beberapa aset yang sudah kamu pakai adalah hakmu. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini. Anggap saja semua ini hadiah dariku," jelas Handoko seraya menatap Astrid dengan senyum tipis, "kamu bisa membuka usaha dengan uang tabungan kita berdua yang ada di rekening BNA. Pakailah semuanya untuk keperluanmu," lanjut Handoko sambil menerima gelas berisi red wine pemberian Astrid.
"Terima kasih karena kamu masih peduli denganku. Aku pikir kamu akan mengusirku dan mengambil semua yang sudah aku kumpulkan," ucap Astrid.
"Aku tidak sejahat itu, Moms," jawab Handoko sebelum meneguk red wine untuk yang kedua kalinya, "malam ini aku ingin menginap di sini untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin memberikan waktuku meski hanya sebentar saja karena aku ingin perpisahan ini menjadi perpisahan yang manis." Handoko menatap Astrid penuh arti.
Malam panjang telah berlalu begitu saja. Kegelapan malam telah sirna setelah sang raja sinar kembali menunjukkan kuasanya. Sejak pagi Astrid sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan spesial untuk Handoko. Beberapa menu yang dulu menjadi favorit Handoko telah tersaji di atas meja makan.
"Good morning, Moms," sapa Handoko setelah sampai di ruang makan mewah yang sunyi sepi itu.
"Morning. Lebih baik kamu cepat sarapan agar kita tidak terlambat datang ke Pengadilan," ucap Astrid setelah duduk di kursi berhadapan dengan handoko. Pagi ini mereka bangun terlambat karena begadang.
Sarapan berlangsung tanpa ada pembicaraan apapun. Mereka berdua sedang menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Sesekali Handoko menatap wajah wanita yang sudah menemaninya selama beberapa puluh tahun itu.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Astrid setelah selesai sarapan.
Mereka pergi ke pengadilan dengan mengendarai mobil yang berbeda karena nanti mereka tidak akan satu rumah lagi. Astrid diantar sopir pribadinya menuju pengadilan agama untuk melaksanakan sidang keputusan. Jujur saja saat ini wanita yang tak lama akan menyandang status janda itu merasa gugup. Akan tetapi semua rasa itu ditepisnya ketika teringat dengan tujuan hidupnya selama ini.
"Aku berhak bahagia. Aku sudah lelah menjalani semua ini. Aku pasti bisa hidup bahagia tanpa Handoko." Astrid mencoba untuk menguatkan hati selama dalam perjalanan menuju pengadilan agama.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, sepasang suami istri itu akhirnya duduk bersanding di ruang sidang. Majlis hakim membacakan tuntutan perceraian yang diajukan oleh Astrid.
"Setelah membaca dan menimbang serta melakukan mediasi, kami selaku majlis hakim dengan ini menyatakan bahwa gugatan perceraian yang diajukan oleh saudari Astrid Mananta kepada saudara Handoko Pramuja dikabulkan. Saudari Astrid Mananta dengan saudara Handoko Pramuja kami nyatakan bukan suami istri lagi dalam agama ataupun negara."
Putusan sidang telah dinyatakan sah oleh hakim setelah terdengar ketukan palu sebanyak tiga kali. Tak lama setelah itu sidang perceraian ini pun selesai digelar. Semua orang segara beranjak dari tempatnya, termasuk Handoko dan Astrid. Mereka berdiri di depan ruang sidang sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih atas semua waktu yang sudah kamu berikan selama ini. Aku harap kita tetap bisa menjadi seorang teman meski kita bukan lagi suami istri. Tetaplah menjadi ayahnya Agnez," ucap Astrid sambil menepuk bahu Handoko.
"Selamat tinggal, Mas Han," pamit Astrid sebelum pergi meninggalkan Handoko yang termangu di sana.
Wanita paruh baya itu bergegas masuk ke dalam mobil setelah keluar dari pengadilan agama. Dia menghempaskan diri di kursi dengan diiringi helaan napas yang berat. Bersamaan dengan itu, bulir air mata mulai membasahi pipi.
"Sekuat apapun aku menahan air mata, nyatanya tetap saja luruh. Ternyata aku tidak sekuat itu saat melepaskan Handoko. Setelah ini aku hanya ingin hidup bahagia tanpa rasa sakit hati karena melihat Handoko bersama para dayang-dayangnya. Aku berhak bahagia meskipun tanpa kehadiran dia di sampingku. Terima kasih Bea, karena kamu sudah menunjukkan kepada Tante jika kebahagiaan bukan hanya sekadar tentang materi," batin Astrid sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
...🌹To Be Continued 🌹...