
"Moms. Obatku di mana?" teriak Handoko di dalam kamar. Pria paruh baya itu sibuk mencari obat dari dokter urologi tempo hari untuk mengobati kencing batu yang kambuh.
Sementara Astrid hanya mendengus kesal mendengar teriakan suaminya itu. Dia sengaja pura-pura tidak mendengar teriakan Handoko yang kesekian kalinya. Wanita yang dianggap senior oleh ketiga teman sosialitanya itu sedang menikmati air hangat di dalam bathup.
"Nyari obat saja gak becus!" gerutu Astrid tanpa membuka kelopak matanya.
Pagi ini Astrid sengaja berendam lama setelah memakai lulur di sekujur tubuhnya. Hal ini dilakukan karena nanti siang dia akan menyambut kedatangan putri angkatnya yang sekarang tinggal di Kanada—Agnes—keluarga yang memiliki anak kembar itu akan menginap beberapa hari ke depan untuk menghabiskan masa liburan.
"Moms. Di mana obatku?" Pintu kamar mandi terbuka lebar dan Handoko masuk ke dalam untuk mendengar jawaban dari Astrid.
"Sepertinya ada di laci nakas paling bawah. Tadi malam Mas Han sendiri kan yang menyimpannya di sana!" jawab Astrid seraya menatap Handoko.
"Masa sih aku yang menyimpannya di sana? Kok aku lupa ya, Moms?" Handoko menggaruk kepalanya sambil mengingat apa yang sudah diucapkan oleh Astrid.
"Ya, ya, ya! Ternyata kamu sudah mulai pikun, Mas!" ejek Astrid seraya menatap Handoko dengan senyum smirk yang mengembang dari bibirnya, "tapi aku heran deh, kalau untuk masalah wanita kamu sepertinya tidak pernah lupa," cibir Astrid dengan tatapan mata yang tertuju pada Handoko.
Sementara sosok yang dicibir itu hanya tersenyum simpul setelah mendengar celotehan istri pertamanya. Lantas, Handoko berlalu begitu saja dari kamar mandi dan melanjutkan untuk mencari obat yang ada di laci. Dia ingin segera sembuh karena sudah merindukan istri keempatnya—Cherry—sosok daun muda yang menggemaskan di matanya.
"Nah ini obatnya. Ternyata si Moms benar juga kalau obatnya ada di sini," gumam Handoko setelah menarik laci yang dimaksud oleh Astrid.
Pria paruh baya itu segera membuka satu persatu bungkus obat dari dokter urologi terbaik di kota ini. Dia harus lekas sembuh karena tidak mau merasakan rasa sakit yang menyiksa senjata pamungkas miliknya. Lagi pula penyakit ini pun bisa menghambat kesenangannya bersama para dayang-dayang yang lain.
__ADS_1
"Oh, dek Cherry tunggu Mas Han sembuh sebentar lagi. Kita pasti akan bertemu sebentar lagi," gumam Handoko setelah minum beberapa macam obat tersebut.
"Hei! Belum sembuh udah punya rencana bersenang-senang ya Anda, wahai Tuan Handoko! Ingat ya, Anda sudah tidak muda lagi! Kalau tahu bakal seperti ini, mending kemarin dipasang kateter saja itunya!" Tiba-tiba terdengar suara Astrid di sana. Rupanya wanita yang terlihat masih segar itu telah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi.
"Aduh Moms! Jangan marah dong! Aku hanya bercanda saja. Moms pokoknya yang terbaik sedunia," bujuk Handoko saat melihat wajah cemberut Astrid.
Tanpa menjawab gombalan receh dari sang suami, Astrid pun berlalu menuju walk in closet. Dia harus mempersiapkan diri dengan baik saat menyambut kepulangan Agnez beserta anak dan suaminya. Dia tidak mau sampai penampilannya terlihat buruk.
"Mas Han! Cepat mandi dan bersiap! Agnes tidak lama lagi akan sampai di Jakarta," teriak Astrid dari dalam walk in closet.
...💠💠💠💠💠...
Tepat pukul satu siang, mobil Alphard yang menjemput Agnez di Bandara sampai di halaman rumah megah Astrid. Wanita berambut kuning jagung itu segera keluar dari mobil bersama putri kembarnya yang sudah berusia dua tahun. Di belakangnya diikuti oleh suaminya yang bernama Robert sambil membawa beberapa papar bag berisi oleh-oleh untuk Astrid dan Handoko.
"Mommy, Pappy!" seru Agnez saat melihat kedua orang tuanya yang sudah berdiri di teras rumah. Dia memeluk mereka dengan hangat. Begitu juga Robert yang melakukan hal sama.
"Hey, kalian. Ayo sapa grandma dan grandpa," suruhnya pada si kembar yang berada dalam gendongan para pengasuh mereka.
Kedua pengasuh itu segera mendekat agar Astrid dan Handoko bisa menyentuh cucu mereka yang bernama Ashley dan Aileen. Astrid dan Handoko pun segera mencium kedua cucunya meskipun mereka menolak, terutama oleh Handoko. Anak kembar Agnez langsung saja menangis.
Tak ingin membuat cucu kembarnya semakin ketakutan, Astrid dan Handoko segera masuk dengan diikuti oleh Agnez serta Robert. Sementara kedua pengasuh tadi, membawa si kembar ke tempat lain yang terlihat menarik agar mereka diam.
__ADS_1
"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Astrid. Rasa bahagia tak dapat dia lukiskan karena bisa bertemu dengan putri angkatnya. Ya, Agnez memang hanya anak angkat, karena dia ditakdirkan hidup tanpa rahim, setelah salah satu insiden yang membuatnya seperti itu. Itu pulalah yang membuat Handoko berkelana ke mana-mana, dengan alasan dirinya ingin merasakan menjadi ayah secara biologis. Namun, nyatanya dari keempat istri yang telah dia nikahi, tak satu pun yang bisa memberinya keturunan. Entah apa alasannya, hanya Tuhan yang tahu.
"Sangat melelahkan, Mom. Jika sudah berada di sini, biasanya aku malas harus kembali lagi ke Kanada," ujar Agnez seraya melirik sang suami bertubuh tinggi besar dengan rambut pirang. Roberts hanya tersenyum saat menanggapi ucapan sang istri.
"Kalau begitu, kamu yang lama di sini. Lagian, kalau kamu di sini nanti Mommy jadi ada teman," balas Astrid setengah membujuk.
"Astaga, Mom. Bukannya aku tidak mau, tapi Robert memiliki segudang kesibukan di sana. Untuk kepulangan kali ini saja, dia harus melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Lagi pula, kan ada pappy. Mommy seharusnya tidak kesepian lagi," tutur Agnez dengan nada setengah menyindie kepada sang ayah.
"Kamu tahu sendiri kalau pappy kamu juga punya segudang kesibukan. Mommy lebih sering menghabiskan waktu sendiri di rumah. Untung saja ada si Christian yang selalu setia menemani Mommy," jawab Astrid memasang raut kecewa. Sedangkan Christian adalah kucing dengan ras Persia yang dia pelihara sejak lama.
"Astaga, jadi selama ini Pappy masih saja berkelana ke sana kemari? Aku pikir Pappy sudah menghentikan kebiasaan itu," ujar Angez yang juga terlihat kecewa kepada sang ayah. Sedangkan Handoko hanya menggumam pelan. Mereka leluasa membahas hal seperti tadi di hadapan Roberts, karena pria itu tidak mengerti bahasa Indonesia.
"Malah nambah satu, Nez. Usianya hampir sama kayak kamu," sahut Astrid. Ini adalah kesempatannya untuk mengeluarkan unek-unek, karena Handoko telah menikahi wanita yang Astrid nilai terlalu muda dan juga tidak becus mengurus suami.
Mendengar hal itu berhasil membuat mata Handoko terbelalak sempurna. Dia memberikan isyarat agar Astrid tidak memberitahu Agnez mengenai hal itu.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
...Selamat malam😍Aku ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍Kuy baca gratis karya dari author Moms Al dengan judul Jerat Cinta Si Kembar. Jangan sampai ketinggalan yak🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...