Sosialita

Sosialita
Menjenguk Rahma,


__ADS_3

Tiga hari sejak kedatangan Soraya ke rumah Dirga telah berlalu. Namun, hubungan kedua sejoli itu masih tetap sama, dingin dan tanpa kejelasan sama sekali. Tidak ada yang berniat untuk menyelesaikan masalah dan membiarkan kesalahpahaman berada di antara mereka semakin berlarut-larut.


Sebagai seorang ibu yang sudah berubah lebih baik dari sebelumnya (ya ... meski hanya beberapa persen saja),Soraya pusing bukan main ketika setiap hari disuguhi wajah murung putrinya. Setiap pulang dari pekerjaannya, Soraya selalu menyempatkan diri untuk menemani Beatrice di rumah. Tidak ada acara clubbing ataupun berkumpul dengan ketiga temannya. Tentu hal ini sedikut banyak telah membuat janda satu anak itu menjadi bosan.


"Aku tidak bisa seperti ini terus. Bisa gila sendiri jika aku setiap hari melihat Bea seperti itu." Soraya bergumam sambil menyisir rambutnya.


Wanita cantik berusia empat puluh lima tahun itu sedang bersiap karena akan mengunjungi Rahma di Apartmentnya. Sejak tahu kabar jika si bungsu yang sedang menjalani bed rest, Soraya belum menjenguk ke sana. Rencananya, sore ini dia dan ketiga temannya akan datang ke tempat Rahma. Setelah selesai bersiap, Soraya meraih hand bag yang ada di atas tempat tidur, barulah setelah itu keluar dari kamar. Namun, sebelum benar-benar pergi, Soraya menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar Beatrice. Dia hanya ingin mamastikan bagaimana kondisi putrinya dan pamit jika akan pergi ke tempat Rahma.


"Sayang, Mama mau pergi ke tempat tante Rahma," pamit Soraya setelah masuk ke dalam kamar putrinya.


"Memangnya ada perlu apa Mama pergi ke tempat tante Rahma?" tanya Beatrice setelah menutup buku yang sedang dia baca. "Biasanya kan Mama dan tante yang lain hang out malam hari, kayak burung hantu," imbuhnya gadis itu dengan seenaknya.


"Ya, kami akan berkumpul di sana untuk menemani tante Rahma. Dia sedang sakit dan harus bed rest." Soraya mengamati wajah putrinya yang masih tampak murung itu.


"Oh, tante Rahma ternyata sakit. Titip salam untuk dia, semoga lekas sembuh," ujar Beatrice seraya menatap ibunya.


Soraya mengangguk pelan dengan diiringi senyuman lembut. Dia tidak akan memberitahu Beatrice tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Rahma. Soraya tidak mau putrinya mengetahui bagaimana sepak terjang dan masalah teman-temannya, karena belum saatnya Beatrice memahami hal seperti ini.


"Mama berangkat dulu," pamit Soraya seraya mengecup rambut cokelat Beatrice, "Mama harap kamu tidak murung lagi setelah ini. Oh, ya jika kamu ingin pergi jalan-jalan ada pak Alpianto yang siap mengantarmu. Mama pergi sendiri kok," ucap Soraya sebelum pergi dari kamar putrinya.


***


Langit mulai gelap setelah sang mentari bergerak turun. Warna hitam terlukis dengan jelas, menyelimuti kota. Tepat saat itu, mobil mewah yang dikendarai Soraya berhenti di depan gedung raksasa yang ada di pusat kota. Wanita cantik itu pun keluar dari mobil. Tangannya membawa hand bag dan kantong berwarna cokelat berisi makanan untuk Rahma.


Soraya melangkah dengan anggun saat memasuki lobby apartment. Dia segera masuk salah satu lift yang menjadi akses ke unit yang ditempati oleh Rahma dan tidak sampai dua menit, akhirnya Soraya sampai di tempat tinggal Rahma.


"Hallo semua," sapa Soraya kepada Dena dan Astrid yang sudah sampai terlebih dahulu. Mereka duduk di ruang tamu, karena asisten rumah tangga yang bekerja di sana masih menemui Rahma di kamar.


"Hay."


"Hmmm."


Dena dan Astrid menatap kehadiran Soraya dengan senyum yang manis,."Bawa oleh-oleh apa nih dari Spanyol?" celetuk Dena dengan tatapan penuh arti.


"Oleh-olehnya belum sampai di sini. Masih dalam proses pengiriman," ucap Soraya setelah duduk di sofa tunggal yang ada di sana.


Tidak lama setelah itu, seorang wanita yang seumuran dengan Rahma menemui mereka di ruang tamu, dia menundukkan kepala dengan hormat kepada ketiga wanita cantik yang ada di ruang tamu, "Nyonya Rahma menyuruh Anda semua masuk ke dalam kamarnya," ucap wanita yang menjadi asisten rumah tangga di rumah ini.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, ketiga wanita cantik itu beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan menuju kamar yang ditempati Rahma yang ada di dekat ruang keluarga.


"Hay, Su. Apa kabar?" sapa Astrid setelah berada di dalam kamar Rahma.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Su? Perasaan terakhir kita ketemu kamu baik-baik saja deh. Malah kamu makannya banyak banget malam itu." Dena pun ikut bertanya tentang keadaan Rahma.


"Ini ada makanan favoritmu." Soraya meletakkan kantong berwarna cokelat yang dia bawa di atas nakas dan setelah itu dia berjalan mengitari tempat tidur dan naik ke atas bed empuk itu.


"Aku juga enggak tahu kenapa, karena tiba-tiba keadaanku seperti ini. Kata dokter Richard, kandunganku bermasalah dan aku tidak boleh melakukan apapun selain rebahan," keluh Rahma dengan hembusan napas yang berat, "Aku turun dari tempat tidur jika ingin pergi ke kamar mandi saja," lanjutnya.


Tentu keadaan yang dialami Rahma saat ini berhasil membuat ketiga temannya prihatin. Terlebih Soraya, janda satu anak itu menatap iba simpanan pejabat itu. Hanya dia yang tahu bagaimana rasanya hamil. Perasaan pasti akan hancur setelah mendengar dokter mengatakan jika kandungan bermasalah. Sementara Dena dan Astrid hanya diam saja karena mereka berdua belum tahu bagaimana rasanya hamil ataupun melahirkan.


"Kamu yang sabar ya, Su. Tetap ikuti semua saran dari dokter. Jangan membantah karena semua ini demi kesehatanmu dan juga benih yang sedang tumbuh di rahimmu," saran Soraya tanpa mengalihkan pandangan dari Rahma.


"Ya, benar kata Soraya. Kamu harus nurut sama dokter, Su," timpal Dena.


"Si Abraham tahu gak kalau kamu seperti ini?" tanya Astrid setelah teringat pria paruh baya yang menjadi pasangan Rahma itu.


"Tahu lah, Mbak. Beberapa hari yang lalu dia menginap di sini dan memanggilkan ART untuk menemaniku di sini," jawab Rahma seraya menatap senior dalam gengnya itu.


"Syukurlah kalau begitu. Setidaknya si tua itu masih bertanggung jawab kepadamu, Su," sahut Dena dengan asal.


Obrolan pun terdengar di dalam kamar tersebut. Mereka mengalihkan pembahasan ke hal-hal yang menyenangkan agar Rahma tidak memikirkan kondisinya. Suara gelak tawa para wanita itupun akhirnya menggema di sana ketika Dena menghibur mereka dengan celetukan konyolnya.


"Eh, Aya! Kamu ini kenapa sih? Dari tadi wajahmu terlihat kusut banget!" ujar Astrid setelah mengamati wajah sahabatnya itu.


"Aku lagi mumet mikirin percintaan anak muda," keluh Soraya tanpa menatap Astrid.


Soraya berdecak kesal setelah diberondong pertanyaan dari Dena. Dia menatap jengah ke arah perawan tua itu, "siapa juga yang dapat berondong Spanyol! ngaco!" sanggah Soraya.


"Ini tentang Bea," lanjutnya lagi.


"Kenapa lagi si Bea?" Rahma menatap Soraya dengan inten karena penasaran dengan alasan yang membuat ibu satu anak itu resah.


"Dia lagi manyun karena hubungannya dengan si Dirga sedang bermasalah," jawab Soraya menjelaskan.


"Namanya orang pacaran kan emang kayak gitu," sahut Dena. "Jangankan yang masih muda dan dalam status pacaran, yang sudah tua bangka bau tanah dan teringat pernikahan saja masih pada banyak tingkah," lanjut Dena yang seketika membuat Astrid merasa tersindir. Si Ratu Lebah segera melemparnya dengan bantal.


Dena tergelak. "Ada yang kesindir rupanya."


"Itu kerjaan kamu, Perawan Tua," sungut Astrid.


"Eh, Mbak As salah. Mbak Den sekarang sudah bertemu calon jodohnya. Mana cowok bule lagi," goda Rahma seraya melirik Dena yang seketika meotot terhadapnya.


"Wah, apa iya? Kenapa kamu nggak bilang-bilang, Den?" protes Soraya.

__ADS_1


"Ah, nggak penting," bantah Dena tak acuh.


"Sok penting," cibir Astrid. "Aku selidiki baru tahu rasa kamu," ancam wanita itu yang langsung dibalas tawa oleh Dena. "Jadi, bagaimana si Bea?" tanyanya kemudian.


"Bea masih terlalu polos dan kekanak-kanakan. Aku sudah berkali-kali menasihatinya, tapi anak zaman sekarang memang sesuatu sekali," keluh Soraya.


"Lalu?" tanya Astrid lagi.


"Sebenarnya masalah dia dengan si Dirga ini amat sederhana. Mereka hanya salah paham dan kurang komunikasi saja. Keduanya mengedepankan ego masing-masing. Namun, aku kok ya lama-lama jadi jenuh liat muka si Bea yang terus manyun kaya ikan mujair," tutur janda cantik itu.


"Anak muda memang seringnya galau didulukan. Entah mereka berpikir dengan logis atau tidak. Hari ini bilang bebeb sayang kaulah segalanya, hidup dan matiku hanya untukmu. Eh, besoknya lain lagi," ujar Dena.


"Acie ... yang lagi curhat," ledek Astrid seraya menowel dagu si pemilik perusahaan jasa travel itu.


"Cih!" dengus Dena segera memalingkan muka. Sementara Astrid hanya tertawa puas.


"Terus maunya bagaimana itu, Mbak Aya?" tanya Rahma.


"Aku ada rencana mau menyiapkan satu momen yang membuat mereka berdua bisa ketemuan bareng gitu. Kira-kira apa ya?" pikir Soraya.


"Romantic dinner?" cetus Astrid.


"Aduh, Mbak. Jangan deh. Apa itu nggak terlalu dewasa kesannya?" tolak Soraya was-was.


"Apanya yang terlalu dewasa? Si Bea itu usianya sudah dua puluh dua tahun, ajari dia untuk jadi gadis yang menuju pada kedewasaan. Sebaiknya kamu tuh berhenti nganggap dia sebagai anak remaja," saran Astrid. "Aku juga dulu begitu sama si Agnez. Pertama dia bilang ingin kuliah ke luar negeri, astaga ... pikiranku sudah nggak karuan. Namun, lama-kelamaan aku malah terbiasa. Si Agnez juga jadi semakin dewasa, karena dia harus bertanggung jawab dengan dirinya. Jadi, sebaiknya mulai sekarang kamu ajari si Bea sedikit demi sedikit agar melepaskan sifat serta pemikiran polosnya," saran Astrid panjang lebar.


"Jadi gimana, Mbak As?"


"Ya sudah, kamu siapin tempat yang bagus dan dengan suasana mendukung," saran Astrid lagi.


"Astaga, astaga." Dena berdecak tak percaya, membuat ketiga rekannya segera menoleh dan menatap dia dengan heran. "Rupanya bukan hanya si Bea yang galau, tapi emaknya juga. Dulu mau misahin, sekarang justru sebaliknya."


...๐ŸŒนTo Be Continue ๐ŸŒน...


...โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–...


...Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih ๐Ÿ˜ Kuy baca juga karya dari author Goresan Pena dengan judul Dikejar Duda. Serius dah karya ini wajib kalian baca๐Ÿ˜...


...


__ADS_1


...


__ADS_2