
Dirga melangkah ke dekat mobil sedan milik pria paruh baya tadi. Dia lalu membuka kap mesinnya dan mulai mengamati. Sementara si pria meneranginya dengan menggunakan senter dari ponsel. "Bagaimana, Dek? Apa kira-kira yang bermasalah?" tanyanya.
Dirga tak segera menjawab. Dia mengamati mesin mobil itu dengan saksama, sebelum menjelaskannya kepada pria tadi. "Saya coba bantu ya, Pak," ucap kekasih Beatrice tersebut.
"Boleh. Sambil menunggu layanan mobil derek," sahut si pria. Dia terus mengarahkan cahaya dari ponselnya ke arah mesin mobil yang sedang diutak-atik oleh Dirga. Butuh waktu hampir tiga puluh menit, bagi pria dua puluh lima tahun itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya mobil yang mogok tadi dapat kembali hidup.
"Wah, syukurlah," ucap pria paruh baya itu lega. "Beruntungnya kediaman saya tidak jauh lagi dari sini. Semoga bisa kuat sampai rumah." Senyum lebar tampak jelas di bibirnya.
"Mudah-mudahan tidak mogok lagi, Pak. Namun, alangkah lebih baik jika dibawa langsung saja ke bengkel untuk dicek keseluruhannya," saran Dirga.
"Iya, Dek. Kebetulan akhir-akhir ini sangat sibuk. Sopir pribadi saya pun baru sembuh dari sakit. Oh ya, tunggu sebentar." Pria paruh baya tadi mengeluarkan dompet dari saku belakang celana panjangnya. Dia tampak mengambil beberapa lembar uang pecahan sebesar lima puluh ribu. Disodorkannya uang tersebut kepada Dirga. "Ini terimalah. Anggap saja sebagai tanda terima kasih saya," ucapnya.
Sementara Dirga hanya berdiri terpaku. Dia melihat ada sekitar empat lembar uang berwarna biru yang disodorkan oleh si pria. Setidaknya, Dirga harus empat kali datang ke toko ikan hias milik Asisudin. Dia juga harus menjual delapan lembar foto hasil jepretannya, untuk bisa mendapatkan nominal sebanyak itu.
Dirga tersenyum kalem. Dia lalu mengangguk pelan. "Tidak usah, Pak. Saya tidak menjual jasa untuk itu," tolak Dirga dengan halus.
"Tak apa, Dek. Terima saja. Saya ikhlas memberikan ini untuk Adek. Anggap ini sebagai tanda terima kasih," ucap pria itu memaksa.
"Saya juga ikhlas membantu Bapak," balas Dirga sopan.
"Tidak apa-apa, Dek. Saya tidak enak karena sudah merepotkan." Pria paruh baya tadi tetap memaksa.
"Tidak, Pak. Tidak usah." Dirga pun tetap menolak, membuat si pria tampak kecewa. Namun, tak lama kemudian dia kembali mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu nama pun pria itu sodorkan kepada Dirga.
__ADS_1
"Kalau begitu, terimalah ini. Adek bisa menghubungi saya bila butuh bantuan. Kebetulan, saya baru membuka perusahaan cabang baru. Barangkali ada saudara atau siapa saja kenalan Adek yang mau bergabung, boleh sekali."
Dirga terdiam sejenak. Dia lalu membaca kartu bertuliskan nama Sudiro Hadiwinata. Di bawahnya terdapat nama perusahaan yang sudah cukup terkenal. Setahu Dirga, itu merupakan sebuah pabrik tekstil dengan karyawan yang berjumlah ribuan orang.
"Lowongannya untuk posisi apa saja, Pak? Kebetulan saya juga belum punya pekerjaan tetap," tanya Dirga setengah berharap.
"Bagian akuntan keuangan dan bagian pemasaran kebetulan belum ada yang menempati. Banyak yang sudah mengirim surat lamaran tapi waktu wawancara belum ada yang sesuai dengan ketentuan perusahaan," ujar Sudiro seraya menatap Dirga.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu seperti mendapat angin segar di tengah malam. Pasalnya perusahaan milik Sudiro membuka lowongan pekerjaan sesuai dengan apa yang dia pelajari selama duduk di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu. Dirga adalah seorang akuntan yang cukup mumpuni. Tetapi karena persaingan ketat di tengah sulitnya ekonomi membuat dia tersisih. Alhasil dia harus berakhir menjadi seorang barista dan mengambil beberapa pekerjaan sampingan.
"Wah kebetulan saya dulu kuliah jurusan ekonomi, Pak. Apakah saya boleh melamar di perusahaan Bapak?" tanya Dirga dengan antusias. Dia sangat berharap jika kali ini keberuntungan berpihak padanya.
"Tentu. Silahkan Adek mengirim lamaran ke perusahaan saya. Jika datang ke sana, tunjukkan saja kartu nama ini kepada petugas yang ada di depan. Saya akan menilai bagaimana kualitas Adek secara langsung." Sudiro menepuk bahu Dirga dengan senyum yang manis.
"Baik, Pak. Terima kasih atas kemudahan yang Bapak berikan." Ada harapan besar yang terpancar dari sorot mata Dirga setelah mendengar penjelasan Sudiro.
"Oh ya, nama Adek siapa?" tanya Sudiro setelah menyelesaikan urusan bersama pihak mobil derek yang dia pesan.
"Dirga, Pak. Nama lengkap saya Dirga Aditya," jawab Dirga tanpa melepaskan pandangan dari wajah pria paruh baya tersebut.
"Baiklah, kalau bisa besok siang datanglah ke perusahaan saya, karena wawancara akan dilaksanakan di perusahaan utama. Saya harap kamu datang tepat waktu."
Begitulah pesan dari dari Sudiro sebelum pamit pergi dari hadapan Dirga. Pria paruh baya itu segera masuk ke dalam mobil dan tak lama setelah itu, mobil yang dikendarainya mulai meninggalkan Dirga yang mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku harus mempersiapkan semuanya malam ini juga," gumam Dirga setelah duduk di atas motornya.
Pemuda dua puluh lima tahun itu akhirnya pulang menuju rumah tercinta dengan membawa segenggam harapan untuk masa depannya. Tentu Dirga berharap diterima di perusahaan tersebut demi untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Beberapa puluh menit kemudian, motor butut yang dikendarai Dirga pada akhirnya sampai di halaman rumahnya. Pintu rumah pun terbuka setelah Dirga sampai di teras.
"Dari mana saja kok baru sampai di rumah jam segini?" Kedatangan Dirga disambut oleh Astuti. Wanita paruh baya itu tidak bisa tidur nyenyak jika Dirga belum pulang.
"Iya, Bu. Tadi habis membantu orang di jalan," jawab Dirga sambil berjalan melewati Astuti. Dia memutuskan duduk di ruang tamu terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar dan mempersiapkan segala keperluan wawancara di perusahaan milik Sudiro.
"Apa ada kecelakaan?" tanya Astuti setelah menutup pintu rumahnya. Dia pun ikut duduk di ruang tamu bersama Dirga.
"Tidak, Bu. Tadi ada mobil mogok," jawab Dirga seraya menatap Astuti sekilas. Setelah itu, dia menceritakan kejadian yang sudah dia alami hingga membuat Astuti tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah ... semoga saja kamu diterima ya, Nak. Ibu ikut senang mendengar kabar baik ini." Tidak bisa dipungkiri jika janda dua anak itu sangat berharap Dirga diterima di perusahaan tersebut.
Astuti memberikan beberapa nasihat kepada Dirga agar selalu menjaga sikap meski dia memiliki jalur dalam dari pemilik perusahaannya. Senyum Astuti pun terus mengembang karena kabar baik ini.
"Aku ke kamar dulu, Bu. Ada banyak dokumen yang harus aku persiapkan untuk besok," pamit Dirga sebelum berlalu dari ruang tamu.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Ada rekomendasi karya untuk kalian nih😍Kuy baca karya dari author Deche dengan judul Istri Pilihan Alika. Kuy Gercep biar gak ketinggalan ceritanya😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...