
Rencana dinner romantis telah disusun Soraya dan ketiga temannya saat menjenguk Rahma. Mereka bersepakat memilih cafe di salah satu pusat kota sebagai tempatnya. Mereka bertiga sudah membagi tugas dalam rencana ini. Astrid bertugas untuk menyiapkan tempatnya, Soraya bertugas membawa Beatrice datang ke cafe tersebut sedangkan Dena memiliki tugas untuk menghubungi teman kerja Dirga di cafe. Sementara Rahma hanya bisa memberikan ide-idenya tanpa bisa melakukan apapun. Dia harus beristirahat sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Dena meminta bantuan rekan kerja Dirga yang bertugas sebagai kasir di tempat pemuda itu bekerja. Tentu dengan kekuatan uang perawan tua itu berhasil menyusun rencana dengan sempurna. Sudah bisa dipastikan jika Dirga akan datang dan bertemu dengan Beatrice di tempat yang sudah ditentukan.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Soraya setelah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Sudah, Ma." Beatrice beranjak dari tempatnya karena kebetulan baru selesai merapikan rambut saat Soraya masuk ke dalam kamarnya, "tumben Mama mengajak aku makan malam di luar?" tanya Beatrice penasaran.
"Kita kan sudah lama tidak melakukannya, Sayang," ucap Soraya dengan senyum yang sangat manis. Tatapan matanya memancarkan perasaan cinta dan kasih yang begitu besar.
Mendengar jawaban itu, berhasil membuat Beatrice tersenyum simpul. Ada perasaan bahagia yang menjalar dalam hati ketika mendengar jawaban ibunya. Memang mereka berdua jarang sekali melakukan makan malam di luar.
"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang," ajak Soraya sebelum membalikkan tubuh dan berjalan di depan putrinya.
Langkah demi langkah telah mereka lalui hingga sampai di teras rumah. Satu persatu undakan anak tangga telah mereka lalui hingga sampai halaman rumah. Terlihat Alpianto telah membukakan pintu untuk kedua majikannya itu.
"Kita langsung berangkat ke tempat tujuan kah, Nyonya?" tanya Alpianto setelah memasang seatbelt di tubuhnya.
"Ya. Seperti yang sudah aku katakan tadi," ucap Soraya dengan suara yang terdengar lembut.
Mobil mewah yang dikendarai Alpianto pun keluar dari gerbang yang menjulang tinggi itu dan melaju ke arah pusat kota. Kedua wanita berbeda generasi itu tidak ada yang memulai pembicaraan karena sibuk dengan gadget masing-masing. Soraya berbalas pesan dengan Dena untuk memastikan jika malam ini Dirga akan datang.
Detik demi detik telah berlalu. Setelah menghabiskan waktu selama hampir empat puluh lima menit karena sempat terjebak macet, pada akhirnya mobil mewah itu sampai di halaman luas cafe tersebut. Soraya dan Beatrice segera keluar dari mobil setelah Alpianto membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Cukup nyaman." Itulah komentar dari Beatrice setelah memasuki cafe tersebut. Dia mengikuti langkah Soraya hingga sampai di meja yang ada di ujung ruangan.
"Kamu suka, Be?" tanya Soraya setelah duduk di tempatnya. Tidak lama setelah itu seorang waiter datang menghampiri dan menyerahkan buku menu.
"Pilih saja makanan yang kamu suka, Be," ujar. Soraya tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu yang ada di tangannya.
Soraya sendiri bingung harus memilihkan makanan apa untuk Dirga, karena tidak mungkin pemuda itu akan memilih sendiri makanannya jika sudah berhadapan dengan Beatrice. Sepertinya memenuhi meja dengan menu makanan adalah yang terbaik untuk saat ini.
__ADS_1
"Pemuda itu suka minum apa ya? Dia suka minuman bersoda gak sih?" batin Soraya sambil membolak-balik buku menu itu, "sepertinya aku pilihkan air putih sajalah yang paling aman," pikir Soraya. Akhirnya, wanita itu hanya memilih sebotol air mineral.
"Mama kenapa? Kok cuma pesan air mineral?" tanya Beatrice heran.
"Tidak apa-apa. Mama sedang memperbanyak minum air putih," jawab Soraya asal. Tak lama, ponsel mahal yang dia letakkan di atas meja kemudian bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dena yang memberitahukan bahwa Dirga telah tiba di TKP. Soraya pun meraih tasnya. "Sayang, sebentar ya. Mama mau ke toilet dulu, mau benerin make up," pamitnya kepada Beatrice.
"Make up Mama masih bagus kok," pikir Beatrice. Gadis berambut cokelat itu menatap sang ibu dengan sorot penuh keheranan.
"Tidak apa-apa. Namanya juga perempuan," jawab Soraya dengan santai. Tanpa banyak bicara lagi, wanita empat puluh lima tahun tersebut segera berlalu dari hadapan putrinya. Beatrice pun duduk sendiri sambil memainkan gadget. Dia begitu serius menatap layar ponselnya, sampai-sampai tak menyadari bahwa ada seorang pria yang sudah berdiri di dekat mejanya.
"Bea? Apa-apaan ini?" tanya suara yang teramat Beatrice kenal.
Gadis itu segera mengangkat wajah, menatap pada si pemilik suara tadi. "Dirga? Sedang apa kamu di sini?" tanya Beatrice yang merasa terkejut dengan kehadiran kekasihnya di sana.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu duduk di sini? Meja ini sudah dipesan sama Sodikin teman kerja aku," ujar Dirga.
"Sodikin apa? Orang meja ini dari tadi aku sama mama yang nempatin. Jangan ngaco kamu. Jangan cari ...." Beatrice terdiam dan berpikir. Dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Tidak mungkin," pikir gadis cantik itu.
"Ya sudah, kamu duduk dulu deh," suruh Beatrice.
Dirga pun menurut tanpa protes sama sekali. Dia duduk di atas kursi yang berhadapan langsung dengan Beatrice. "Apa kamu berpikir tentang apa yang aku pikirkan?" tanyanya.
"Aku rasa iya," jawab gadis cantik berambut cokelat itu, "tapi mamaku ...."
"Dia datang ke rumahku kemarin-kemarin," potong Dirga yang sontak membuat Beatrice terkejut.
"Mau apa mama ke rumahmu?" tanya gadis itu penasaran.
"Bicara," jawab Dirga singkat.
"Bicara apa? Jangan katakan jika mamaku mengacau di rumahmu." Beatrice terlihat was-was.
__ADS_1
"Tidak. Dia hanya membahas masalah tentang hubungan kita. Aku juga sebenarnya kurang paham dengan apa yang mamamu mau, kenapa dia tiba-tiba datang dan membahas tentang hal itu," tutur Dirga.
"Apa mamaku menyuruhmu untuk memutuskan hubungan kita?" tanya Beatrice lagi.
"Hubungan kita? Kamu masih menganggap ikatan itu?" tanya Dirga setengah menyindir.
"Apa maksudmu? Jadi, kamu sudah menganggap bahwa hubungan kita telah berakhir?" protes Beatrice.
"Bukankah kamu yang sudah menganggap demikian? Pergi ke Spanyol saja kamu nggak bilang-bilang sama aku."
"Bagaimana aku mau bilang dulu sama kamu? Orang kamu sibuk dengan gadis lain," cibir Beatrice jengkel.
"Gadis yang mana? Bukannya kamu yang sibuk pergi-pergi sama si Reyhan yang terkenal baik itu?" Dirga tak mau kalah.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Reyhan!" tegas Beatrice. "Kami bertemu tanpa sengaja. Lagi pula, waktu itu Reyhan pergi dengan adik bungsunya," jelas gadis itu lagi.
"Oh, begitu ya? Lalu, kenapa tiba-tiba kamu menuduhku asyik-asyikan dengan gadis lain?" tanya Dirga.
"Karena aku melihatnya sendiri. Kalian duduk berdua sambil tertawa dan saling berdekatan," jawab Beatrice jengkel.
"Di mana?" tanya pria dua puluh lima tahun itu lagi.
"Di warung depan gang rumahmu," jawab Beatrice masih terlihat kesal.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Rekomendasi karya untuk kalian nih😍Kalian wajib baca karya dari author Nita.P dengan judul Daddy Is My Husband❤️ Yakin gak penasaran sama isinya setelah baca judul yang menarik ini? Kuy kepoin😎...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...