Sosialita

Sosialita
Rekaman di kala senja,


__ADS_3

Siluet jingga terlukis indah di cakrawala. Bola raksasa berwarna orange hampir tenggelam di ujung barat. Dirga baru saja sampai di tempat parkir angkringan mas Jambul. Angkringan tersebut masih sepi dan sepertinya baru saja dibuka karena Ranti terlihat masih sibuk menata dagangan di meja.


"Eh, ada mas Dirga." Ranti terkejut setelah melihat sosok pria yang menjadi pelanggan setia di tempat ini, "tumben Mas datang ke sini lebih awal? Gak kerja, Mas?" tanya Ranti penasaran.


Bukan tanpa sebab Ranti bertanya seperti itu, karena biasanya Dirga selalu datang di malam hari. Gadis berambut hitam itu mengenal Dirga dengan baik dan mengetahui apa saja pekerjaan pria yang menjadi kekasih Beatrice itu.


"Iya, lagi libur," jawab Dirga tanpa menatap Ranti, "mas Jam kemana? Kok tumben bener jam segini belom muncul?" tanya Dirga setelah mengedarkan pandangan dan tidak menemukan Jambul di sana.


"Oalah. Mas Jam masih di kontrakan. Kalau datang ya nanti setelah solat isyak biasanya. Angkringan masih sepi Mas kalau sore begini," ucap Ranti tanpa menatap Dirga. Dia sibuk menata berbagai menu di atas gerobak tersebut.


"Nih piringnya!" Ranti memberikan piring kecil yang biasa diminta Dirga untuk mengambil makanan yang sudah tertata rapi itu.


Sate telur puyuh, sate jamur dan sate kulit ayam telah memenuhi piring Dirga. Pria tampan itu sepertinya ingin melupakan sejenak masalahnya bersama Beatrice. Dia memutuskan untuk nongkrong di sini sambil melihat pemandangan kota yang begitu padat di kala senja, "buatkan aku wedang uwuh saja, Ran." Dirga memesan minuman tersebut kepada Ranti, "nanti antarkan sekalian di meja itu!" ucap Dirga seraya menunjuk tempat yang dekat dengan trotoar.


Dirga segera beranjak dari tempatnya sambil membawa sepiring sate angkringan. Duduk di salah satu bangku panjang yang dekat dengan jalan raya telah dipilih oleh pria manis tersebut. Tatapannya tak lepas dari keramaian ibu kota yang semakin menjadi di sore hari. Tatapan Dirga menerawang jauh entah kemana. Saat ini dia sedang memikirkan jalan terbaik untuk hubungannya bersama Beatrice. Entah, harus kemana Dirga melangkah setelah ini. Sejak melihat respon Soraya saat bertemu dengannya kala itu membuat Dirga berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan.


"Wedang uwuh sepesial untuk Mas Dirga!" ucap Ranti seraya meletakkan minuman Dirga di atas meja.


"Terima kasih," ucap Dirga dengan senyum yang manis, "eh Ran, kamu ada kerjaan apa setelah ini?" tanya Dirga saat Ranti bersiap kembali ke tempat asalnya.


"Gak ada, Mas. Semua pekerjaan sudah selesai. Tinggal duduk manis nunggu pembeli," jawab Ranti dengan diiringi senyum yang manis.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu duduk sini saja. Ngobrol sama aku, daripada sendirian di sana," ujar Dirga seraya memberi kode kepada Ranti agar duduk di sampingnya.


Tentu dengan senang hati, Ranti menerima permintaan dari Dirga. Dia duduk di samping Dirga dengan jarak yang cukup dekat. Gadis berparas manis itu tersenyum bahagia karena bisa duduk di samping Dirga meski hanya menemani ngobrol hal-hal yang tidak penting. Hanya dengan begitu saja, hati Ranti sudah berbunga-bunga karena selama ini dia memendam perasaan lain untuk kekasih Beatrice itu. Selain ramah dan murah senyum, sikap Dirga sangatlah sopan di mata Ranti.


"Ran, kenapa kamu gak kuliah?" tanya Dirga seraya mengambil satu tusuk sate telur puyuh dari piringnya.


"Ya gak ada biaya, Mas! Mangkane pas lulus sekolah aku disuruh emak ke Jakarta bantu-bantu Mas Jam di angkringan," jawab Ranti dengan logat bahasa jawa timur.


"Maaf nih ya, kalau boleh tahu orang tuamu kerja di mana?" tanya Dirga lagi. Dia penasaran saja dengan keluarga mas Jambul ini.


"Emak sama bapak petani cabai, Mas." jawab Ranti tanpa ada yang ditutupi kebenarannya, "biasanya kalau di sawah gak ada kerjaan, emak buruh umbah-umbah, Mas," ucap Ranti seraya menatap Dirga sekilas.


"Buruh umbah-umbah?" tanya Dirga karena tidak mengerti maksud Ranti.


"Oh, buruh cuci freelance gitu maksudmu?" Dirga meyakinkan hal itu sekali lagi.


"Ya seperti itulah bahasa kerennya." Ranti tersenyum tipis setelah mendengar istilah tersebut.


Obrolan berlangsung di sana hingga langit berubah menjadi gelap. Lalu lintas yang padat pun mulai terurai meski terkadang kembali padat di kala tiba saatnya lampu merah. Dirga dan Ranti tertawa lepas di sana saat membahas hal-hal lucu yang pernah terjadi di angkringan ini. Dirga merasa terhibur saat berbicara dengan Ranti karena gadis itu sangat humble.


Sementara itu di dalam mobil mewah yang terjebak macet karena lampu merah, ada seorang wanita cantik yang sedang tersulut emosinya. Ya, wanita itu tidak lain adalah Soraya. Ada rasa kesal yang hadir dalam hati ketika pandanganya melihat sosok pria yang selama ini diselidikinya itu. Soraya mengamati gerak-gerik Dirga dan Ranti dari dalam mobil.

__ADS_1


"Lebih baik aku merekam mereka berdua. Mungkin saja Beatrice akan berpikir dua kali setelah tahu kekasihnya bersama gadis lain," gumam Soraya seraya merogoh ponsel yang tersimpan di dalam tasnya.


"Pak, menepi! Saya ingin mengawasi pria itu!" titah Soraya kepada Alpianto sambil menunjuk angkringan mas Jambul.


"Baik, Nyonya," ucap Alpianto.


Soraya terus mengawasi gerak-gerik Dirga karena penasaran saja bagaimana sikap kekasih putrinya itu. Soraya mendadak geram ketika melihat Dirga menyentuh tangan gadis yang ada di sampingnya itu. Tentu pemandangan itu tak luput dari rekaman ponsel Soraya.


"Oh, ternyata begini sikapnya jika dia bersama seorang gadis di belakang putriku!" gumam Soraya setelah selesai merekam Dirga dan Ranti.


"Kita pulang sekarang!" ujar Soraya kepada Alpianto setelah melihat Ranti beranjak dari sisi Dirga.


Mobil mewah itu kembali melaju di tengah kepadatan lalu lintas kota. Soraya kembali melihat hasil rekaman yang tersimpan di dalam ponselnya. Sebagai seorang ibu, tentu Soraya marah setelah tahu bagaimana sikap Dirga kepada gadis lain. Dia merasa jika Dirga seorang pria muda yang mudah jatuh cinta kepada gadis lain. Kesimpulan ini tentunya hanya didapatkan Soraya dari apa yang baru saja dia lihat beberapa menit yang lalu.


"Dasar pria gak tahu diuntung! Udah bagus Bea mau sama dia, eh malah nongkrong sama gadis lain. Mesra lagi!" gerutu Soraya setelah selesai melihat rekaman tersebut.


Helaan napas berat terdengar di sana. Soraya masih memikirkan jalan keluar atas permasalahannya dengan Beatrice. Mungkin rekamannya tentang Dirga sore ini bisa membuat hubungannya dengan Beatrice menjadi lebih baik, karena dia berhasil menunjukkan siapa Dirga yang sesungguhnya.


"Aku akan menyerahkan rekaman ini kepada Bea dan aku pastikan Bea akan marah. Bisa jadi mereka putus dan mungkin Bea akan berpaling kepada Reyhan yang baik," gumam Soraya dengan senyum smirk yang menghiasi wajah cantiknya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2