Sosialita

Sosialita
Alexandre Tobìas Forsberg,


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Mbak? Apa ini mobil kamu?" tanya pria tadi sambil berkacak pinggang di samping Dena. Sebuah pertanyaan yang tentu saja membuat lajang bukan perawan itu semakin bingung, setelah melihat nomor plat mobil mewah tersebut. Dena tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan pria yang sedang menatapnya itu. Dia pun tidak bisa berpikir dengan jernih karena untuk berdiri tegak saja rasanya tidak sanggup.


"Hati-hati! Jangan sampai kap mobilku tergores!" Pria itu memperingatkan Dena yang sedang bersandar di sana. "Jadi bagaimana, Mbak? Apakah ini mobil kamu?" tanya pria tersebut sekali lagi.


Mengaku bersalah dan minta maaf kepada pria tersebut, tentu tidak akan dilakukan oleh Dena, meski saat itu dirinya dalam keadaan mabuk sekalipun. Namun, dia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi, karena kenyataannya Dena tidak menemukan di mana keberadaan Honda Accord Platinum White Pearl miliknya. Dia benar-benar kehilangan konsentrasi.


"Ah iya, ternyata mobil ini bukan milikku," jawab Dena tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lajang empat puluh lima tahun itu tertawa dengan begitu enteng, seakan tak terjadi apapun tadi.


Sementara si pria hanya bisa mendengus kesal saat mengahadapi wanita yang sedang mabuk berat, dan bersandar di depan kap mobilnya. Pria bertubuh tegap itu semakin mumet setelah mendengar celotehan Dena yang tidak dia mengerti. Rasa pusing karena belum tuntas bermain bersama seorang wanita bayaran, kini semakin bertambah setelah menghadapi Dena.


"Jadi kamu membawa mobil apa, Mbak? Biar aku bantu mencari keberadaan mobil. Aku sudah muak berhadapan dengan wanita tidak jelas sepertimu," keluh pria tampan itu sambil membuang napasnya kasar.


"Hei! Jaga bicaramu! Apa kamu bilang? Aku wanita nggak jelas? Sembarangan kamu kalau bicara, Kang Dayat!" sentak Dena sambil menunjuk pria tersebut dengan jari telunjuknya. Dia tidak terima jika pria itu menilai dirinya sebagai seorang wanita tidak jelas.


"Ah, sudahlah! Di mana mobilmu?" Pria tadi semakin jengkel karena Dena tak kunjung menunjukkan mobilnya.

__ADS_1


"Kalau aku ingat di mana mobilku, pasti aku sudah pergi dari hadapanmu sejak tadi wahai pria menyebalkan!" gerutu Dena dengan rancauan yang tidak jelas. "Oh, bagaiamana bisa lapar dan ngantuk datang secara bersamaan? Coba kalau kamu di posisiku saat ini. Perutku keroncongan, tapi mataku rasanya sudah tidak tahan. Ya amplop, kenapa hidup harus selalu dihadapkan pada dua pilihan?" Jawaban Dena semakin membuat pria itu frustasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak tahu harus bagaimana lagi.


Alexandre Tobìas Forsberg, begitulah nama pria yang sedang berhadapan dengan Dena saat itu. Alexandre adalah seorang pengusaha dalam bidang otomotif. Dia merupakan pria keturunan Swedia yang memiliki beberapa showroom mobil mewah dan tersebar di beberapa kota besar yang ada di Indonesia. Alexandre belum pernah menikah meski sudah berumur empat puluh enam tahun alias masih lajang.


"Sudah begini saja! Lebih baik Mbak aku antar pulang, daripada aku harus terus berhadapan dengan Anda lebih lama lagi," ucap Alexandre setelah menemukan solusi tepat untuk permasalahannya kali ini.


"Nah, begitu dong! Itu ide bagus!" Dena mengembangkan senyumnya sebelum berlalu dari hadapan pria tersebut. Dia membuka pintu mobil sebelah kiri dan masuk begitu saja ke dalam mobil milik Alexandre.


"Astaga, benar-benar pengacau," gumam pria tampan berambut cokelat tembaga itu. Tak ingin terlalu ambil pusing dengan kelakuan Dena, Alexandre pun segera masuk. "Malam ini kamu sudah membuatku rugi besar, Mbak. Aku harus membayar jasa PSK dengan tarif lumayan tapi ngga sampai selesai. Kalau sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab. Apa aku harus bersolo karier lagi," cerocos Alexndre sambil menghidupkan mesin mobilnya. Dia mulai melajukan mobil mewah itu dengan perlahan, keluar dari halaman parkir night club elite tadi.


"Kamu ini cerewet sekali. Aku rasa mungkin dulu emak kamu terobsesi sama anak perempuan, ya?" sahut Dena sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Sesekali, dia menguap panjang, kemudian memejamkan mata. Namun, tak berselang lama lajang itu kembali terjaga. Sedikit dari kesadaran yang masih tersisa, mengingatkan agar dirinya jangan lengah. "Tidak! Aku tidak boleh tidur!" Dena bicara sendiri saat itu. Dia membelalakan matanya lebar-lebar.


"Aku tidak boleh tidur. Jika aku tidur, maka bisa saja aku menjadi sasaran perkosaan pria aneh ini," ucap Dena lagi dengan cukup pelan, tapi masih dapat didengar jelas oleh Alexandre.


"Hey, Mbak! Jangan sembarangan. Aku bukan pemerkosa!" protes Alexandre dengan tegas. "Enak saja. Sudah ganggu kesenangan orang, ngaku-ngaku mobil orang, sekarang nuduh orang sembarangan. Sudah begitu boro-boro minta maaf, malah ...." Alexandre menoleh kepada Dena. Wanita itu ternyata sudah tertidur lelap. "Astaga," gumamnya seraya berdecak kesal.

__ADS_1


"Mbak, jangan tidur di sini," ucap pria blasteran Swedia itu sambil terus mengemudikan mobil. "Hey, Mbak! Bangun!" suruhnya lagi dengan suara cukup nyaring. Namun, pada kenyataamnya itu tak berpengaruh apapun. Jangankan bangun, karena Dena bahkan tak bergerak sama sekali selain karena goncangan kecil dari laju kendaraan yang mereka tumpangi.


Tak berselang lama, Alexandre memutuskan untuk menepi. Dia lalu mendekatkan dirinya kepada Dena. Pria berperawakan tegap tersebut memberanikan diri untuk menepuk lengan wanita mabuk itu. Akan tetapi, Dena tidur dengan sangat nyenyak dan tak terganggu sama sekali. Dia bahkan bermimpi jika dirinya saat itu tengah berlibur di sebuah resort mewah dengan pemandangan alam yang sangat indah.


"Ya, Tuhan. Apalagi ini?" keluh Alexandre. Pria itu berpikir sejenak, sebelum kembali menjalankan kendaraannya untuk melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya, mobil sedan mewah yang dia kendarai memasuki halaman sebuah rumah megah tiga lantai.


Alexandre menghentika laju mobilnya di depan teras dengan beberapa undakan anak tangga. Setelah melepas sabuk pengaman, pria itu kemudian turun dari kendaraan. Dia berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu sebelah. Tampaklah Dena yang masih tertidur lelap.


Untuk sejenak, pria berambut cokelat tembaga tadi berdiri sambil memperhatikan Dena. Tak berselang lama, dia pun melepas sabuk pengaman yang melintang di dada lajang empat puluh lima tahun itu. Alexandre kemudian mengeluarkan Dena dari dalam mobil dengan membopongnya. Dia membawa wanita mabuk tersebut masuk ke dalam rumah megah bercat putih itu.


Sesampainya di dalam, Alexandre segera membawa Dena ke dalam kamar. Dia menidurkannya di kamar tamu yang berada di lantai pertama. "Menyusahkan sekali," keluh pria tampan itu setelah menyelimuti tubuh Dena. Sesaat kemudian, Alexndre pun keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju kamarnya sendiri.


"Baru pulang, Nak?" sapa seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari ruangan lain.


Alexandre tertegun. Dia segera menoleh dan tentu saja terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. "Mama? Sejak kapan Mama ada di sini? Um, maksudku ... maksudku kapan Mama datang dari Bandung?" tanya Alexandre yang tampak kelabakan.

__ADS_1


"Mama tiba di sini sekitar tiga jam yang lalu, tadinya mau bkin kejutan. Eh, ternyata kamu lagi ngga di rumah," keluh wanita yang tiada lain adalah Syafridawati, ibunda Alexandre yang bermukim di Bandung. "Kamu tahu 'kan Mama akan berangkat ke Stockholm untuk menemui papa kamu di sana. Tadinya Mama ingin kami ikut juga," ujarnya.


...🌹To Be Continue 🌹...


__ADS_2