
Beatrice mengempaskan tubuhnya ke atas kasur, bersamaan dengan suara dering ponsel yang berbunyi dengan nada khusus. Nada yang sengaja dia gunakan untuk kontak atas nama Dirga. Semangat Beatrice yang tadinya sempat menurun, tiba-tiba muncul kembali saat menjawab panggilan tersebut. "Hai, Ga. Ada apa?" sapa gadis itu hangat.
"Sore ini kamu ada acara ngga? Kira-kira kita bisa ketemu ngga, ya?" tanya Dirga tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Memangnya ada apa?" tanya Beatrice penasaran. Gadis itu segera bangkit dan terduduk.
"Ngga apa-apa. Aku hanya ingin ngobrol sama kamu. Lagian kan kita jarang ketemu," sahut Dirga dari seberang sana.
"Oke, deh. Mau ketemu jam berapa?" tanya Beatrice lagi.
"Nanti ya kuhubungi lagi. Sekarang aku mau berangkat kerja dulu," tutup Dirga. Dia mengakhiri perbincangan dengan begitu saja, membuat Beatrice merasa heran. Tak biasanya pria itu bersikap demikian terhadapnya. Beatrice pun berpikir untuk beberapa saat.
Namun, tak berselang lama gadis itu kembali meraih buku yang belum dia selesaikan. Beatrice melanjutkan membaca lembar demi lembar, hingga tanpa terasa waktu terus berjalan. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul empat belas. Seharusnya, Dirga sudah kembali dari cafe tempat dia bekerja.
Beatrice lalu menutup buku yang sedang dia baca. Gadis cantik itu kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar lima belas menit kemudian, dia sudah keluar dengan tubuh yang terlihat jauh lebih segar. Putri tunggal Soraya itu pun segera berpakaian dan merapikan diri. Dia berdandan secantik mungkin, karena setiap pertemuannya dengan Dirga adalah sesuatu yang istimewa. Sekitar dua puluh menit kemudian, Beatrice telah bersiap untuk pergi. Namun, sebelumnya dia memastikan posisi Dirga terlebih dahulu.
Aku tunggu di taman kota.
Itulah isi pesan yang Dirga kirimkan untuk Beatrice. Gadis itu pun segera meluncur ke sana, dengan menaiki sebuah taksi online.
Suasana kota saat itu cukup padat. Namun, mobil yang ditumpangi Beatrice masih dapat melaju meskipun kadang tersendat. Beberapa saat di perjalanan, akhirnya gadis itu tiba di tempat tujuan. Tak seperti biasa, karena Dirga sudah tiba terlebih dahulu. Sepertinya pria itu langsung ke taman sepulang dari cafè.
__ADS_1
"Hai," sapa Beatrice. Tanpa banyak bicara, dia segera duduk di sebelah Dirga yang hanya tersenyum saat menyambut kehadirannya. "Sudah lama?" tanya gadis itu setengah menghadap kepada sang kekasih.
"Tidak juga. Aku baru sampai beberapa menit yang lalu," jawab Dirga tenang. Dia melirik Beatrice untuk sesaat. "Kamu ngga sedang sibuk, kan?" tanyanya.
Beatrice menggeleng dengan segera. "Kamu tahu bukan, setelah lulus kuliah aku ngga punya kerjaan yang nentu selain menghabiskan waktu di kamar sambil baca buku," tutur gadis itu seraya terkikik geli. Setelah itu, dia meraih tangan Dirga, kemudian memainkan jemari sang kekasih. "Aku kemarin-kemarin ke toko buku, nyari buku resep masakan," ucap Beatrice kemudian.
Seketika Dirga mengalihkan pandangannya kepada gadis itu. Inilah yang dia tunggu sejak tadi. "Oh, ya? Lalu?" tanyanya.
"Aku sengaja nyari resep masakan yang gampang-gampang saja dan anti ribet. Kamu tahu 'kan aku bahkan belum bisa bedain antara jahe sama lengkuas, ketumbar dan lada, atau seledri dan parsley," tutur Beatrice kembali terkikik geli.
"Ngga apa-apa. Namanya juga belajar," sahut Dirga menanggapi penuturan sang kekasih. "Apa kamu nemu buku resepnya?" tanya Dirga lagi.
Beatrice menggeleng pelan. "Aku akan nyari di toko buku lain," jawabnya, "tapi lain kali saja," lanjutnya.
"Apa maksudmu? Siapa yang kamu maksud nemenin aku?" Beatrice yang memiliki otak encer, dapat menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Dirga. Akan tetapi, pria itu tak segera menjawab ataupun memberikan sebuah penjelasan. Hal itu membuat Beatrice harus berpikir keras, kira-kira ke mana arah perkataan kekasihnya. Sesaat kemudian, gadis itu pun teringat dengan pertemuannya dengan Reyhan yang terjadi secara tak sengaja.
"Apa kamu ...." Beatrice belum sempat melanjutkan kata-katanya, karena Dirga lebih dulu menyela.
"Apa itu Reyhan yang kamu ceritakan kemarin-kemarin sama aku?" tanya Dirga penuh selidik.
"Dari mana kamu tahu bahwa itu Reyhan?" Beatrice balik bertanya.
__ADS_1
"Ada yang melihatmu di sana. Ngga perlu aku kasih tahu siapa orangnya, karena kamu ngga akan kenal," jawab Dirga menjelaskan.
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih?" Beatrice heran setelah melihat sikap Dirga saat ini.
Sepanjang perjalanan hubungannya bersama pria manis itu, baru kali ini Beatrice menghadapi situasi seperti ini. Dia sendiri tidak tahu apa penyebab sang kekasih berubah sikap karena hal yang tidak pasti kebenarannya. Apalagi, yang dipermasalahkan kali ini adalah Reyhan. Seorang pria yang tidak sengaja dia jumpai di toko buku. Seharusnya Dirga tidak mempermasalahkan hal ini karena yang Beatrice tahu, sang kekasih cukup dewasa dalam menyikapi hal-hal seperti ini.
"Kamu itu yang kenapa?" Bukannya menjawab, justru Dirga bertanya balik kepada Beatrice.
"Apa aku tidak boleh cemburu dan marah jika kamu bersama pria lain? Apalagi aku tahu jika ibumu suka dengan pria itu karena dia lebih segalanya dariku," ujar Dirga dengan penuh penekanan. Tidak ada lagi tutur kata lembut dan santun seperti biasanya.
"Ga! Cukup ya! Aku tidak mau bertengkar hanya karena masalah gak penting seperti ini. Aku tidak sengaja bertemu dengan Reyhan dan itu pun kami hanya saling menyapa. Gak lebih!" Beatrice mencoba untuk menjelaskan bagaimana kenyataannya.
Dirga memalingkan wajah ke arah lain setelah mendengar penjelasan itu. Bahkan, senyum manis yang biasa dia persembahkan untuk sang kekasih, sudah tidak ada lagi. Wajahnya murung karena perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
"Lebih baik aku pulang saja! Percuma bertemu jika kita bertengkar seperti ini!" ujar Beatrice saat beranjak dari sisi Dirga. Dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih.
Rasa kesal yang ada dalam diri semakin besar setelah Dirga melihat Beatrice masuk ke dalam taksi tanpa melihat ke arahnya. Dirga mengusap wajahnya dengan kasar karena situasi yang dia sendiri tidak tahu cara menghadapinya. Permasalahan dengan Soraya, Reyhan serta nasihat-nasihat dari mas Jambul sedang menari-nari dalam pikiran. Semuanya berhasil membuat mood Dirga semakin berantakan. Tidak ada lagi semangat mencari cuan yang menggebu dalam diri seperti sebelumnya.
Pria manis itu beranjak dari tempatnya setelah cukup lama berdiam diri di sana. Dia memutuskan pergi dari taman kota meski pengunjung di tempat ini cukup ramai dari biasanya. Akan tetapi Dirga tidak memiliki semangat lagi untuk mencari rupiah di tempat ini dengan kamera miliknya. Rasa kecewa terlanjur memenuhi isi hatinya.
"Lebih baik aku pergi ke angkringan saja lah!" gumamnya setelah berada di atas motor kesayangan yang menemaninya selama ini.
__ADS_1
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷 ...