
Beberapa bulan kemudian.
"Ga, sarapannya sudah siap," ucap Astuti dari luar kamar putranya dan setelah itu dia kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.
Semenjak Dirga diterima bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang tekstil milik Sudiro Hadiwinata, Astuti pulang dari pasar lebih awal. Dia harus menyiapkan sarapan untuk putra sulungnya sebelum berangkat bekerja. Sebenarnya Dirga sudah melarang Astuti berjualan di pasar, karena gaji sebagai seorang akuntan di perusahaan tersebut cukup besar. Bukan tanpa sebab Astuti menolak permintaan Dirga, dia tidak mau jika Dirga menanggung semua beban keluarga seorang diri. Lagi pula Astuti sendiri masih mampu untuk berjualan meski tanpa ditemani Dirga. Keadaan di pasar pun tak seberapa ramai seperti dulu.
Pria manis yang sedang bersiap di kamarnya itu segera menyelesaikan aktivitasnya. Kini, penampilannya sudah terlihat rapi setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit lamanya untuk bersiap. Kemeja berwarna navi yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, menjadi seragam Dirga hari ini.
"Bu, nanti kamarku tolong dibersihkan ya, Bu, karena nanti aku harus lembur. Biasa akhir bulan, Bu," ucap Dirga setelah menemui Astuti di dapur.
"Kalau untuk urusan itu mah beres. Tanpa disuruh Ibu pasti akan membersihkan kamarmu. Tenang saja," ucap Astuti seraya menatap Dirga dengan senyum yang manis, "lebih baik kamu sarapan dulu. Adikmu hari ini libur sekolah, jadi dia masih tidur. Jangan menunggunya," lanjut Astuti sambil meletakkan mangkuk berisi sayur sop di atas meja.
Wanita yang memakai jilbab instan itu pun duduk di kursi kayu yang ada di sisi kiri Dirga. Sudah menjadi kebiasaan bagi Astuti menemani Dirga di saat sarapan. Wanita berwajah manis itu tersenyum bahagia ketika melihat Dirga makan dengan lahap.
"Oh ya Ga, bagaimana motornya? Apa tidak ada kendala?" tanya Astuti setelah teringat jika kemarin Dirga baru saja membeli motor bekas yang masih layak daripada motor bututnya.
"Masih, Bu. Mesinnya masih bagus dan ori," jawab Dirga setelah menelan makanannya.
"Syukurlah kalau begitu." Astuti tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Dirga.
Kemarin Dirga membeli motor bekas di salah satu dealer motor bekas yang dekat dengan tempat tinggalnya. Motor butut yang selama ini menemani kemana pun dia pergi, sedang sakit dan sepertinya terkena penyakit kronis hingga berakhir di rumah sakit otomotif. Pada akhirnya dengan tabungan yang dia miliki ditambah dengan tabungan ibunya, Dirga bisa membeli motor yang lebih layak.
__ADS_1
"Motornya udah dibuat bonceng Bea belum?" tanya Astuti dengan tatapan yang tak lepas dari Dirga.
"Belum, Bu. Motornya kan baru beli kemarin, Bu," jawab Dirga.
Obrolan ringan terdengar di sana seusai Dirga sarapan. Tidak lama setelah itu, Dirga pamit berangkat menuju perusahaan milik Sudiro itu. Dia menjabat tangan Astuti dengan takdzim sebelum keluar dari rumah.
"Bu, jangan lupa yang tadi ya," ucap Dirga seraya menatap Astuti dengan senyum yang manis.
"Iya. Beres. Jangan khawatir." Astuti menepuk bahu putranya.
Setelah Dirga berangkat bekerja, Astuti kembali berkutat di dapur. Dia harus menyiapkan sarapan untuk putra bungsunya, sebelum melakukan tugas yang lain. Sebagai seorang ibu, tentunya Astuti mengalami kerumitan di kala pagi seperti ibu-ibu yang lain. Hingga beberapa puluh menit lamanya akhirnya Astuti menyelesaikan segala kerumitan di belakang.
"Sekarang waktunya membersihkan kamarnya Dirga," gumam Astuti saat berjalan menuju bagian depan rumahnya karena kamar Dirga bersebelahan dengan ruang tamu.
Selang beberapa menit, tempat tidur itu pun berubah menjadi rapi dan tentunya bersih. Kini tinggal membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja yang dulu dipakai Dirga untuk mengedit foto. Satu persatu buku dan beberapa barang lainnya mulai tertata rapi di sana.
"Apa ini?" Astuti bergumam setelah menemukan kartu berwarna putih yang terselip di antara buku-buku Dirga, "kartu nama atas Sudiro Hadiwinata." Astuti membaca nama yang tercetak tebal dalam kartu tersebut.
"Sudiro Hadiwinata." Sekali lagi Astuti membaca nama tersebut dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya.
Astuti tertegun setelah membaca nama itu berulang kali. Degup jantungnya mendadak berubah tak beraturan ketika teringat sosok yang sudah lama terkubur dalam memorinya. Astuti duduk di atas tempat tidur Dirga dengan tangan yang bergetar karena kartu nama yang ada dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
"Apa mungkin dia adalah ...." Astuti menghentikan ucapannya. Pikirannya mendadak kacau hanya karena nama yang tertulis itu.
"Tidak. Nama ini pasti bukan dia. Ada orang lain yang namanya sama." Astuti mencoba memupus praduganya.
Namun, sekuat apapun wanita paruh baya itu melawan apa yang ada dalam pikirannya. Bayang-bayang pemilik nama itu terus hadir dalam pikirannya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Dirga mengetahui fakta yang sudah lama terkubur ini.
Astuti termenung di sana ketika memori di masa lalu terputar kembali. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana kisah asmaranya di masa lalu. Bayang-bayang mertua jahat masih teringat dengan jelas dalam pikiran Astuti meski sudah puluhan tahun dia mengubur kenangan itu.
Masih teringat dengan jelas ketika Astuti harus keluar dari rumah suaminya dengan membawa bayi tak berdosa yang berusia belum genap satu bulan. Pernikahan seumur jagung harus kandas di tengah jalan karena kuasa ibu mertua. Bahkan, hingga saat ini Astuti tidak pernah memberitahu Dirga jika sosok ayah yang selama ini membesarkannya bukanlah ayah kandungnya. Astuti tergugu karena hal ini. Dia merasa berdosa karena sudah menyembunyikan fakta ini dari Dirga. Dia sakit hati karena ayah kandung putranya itu tidak pernah mencari keberadaannya sejak diusir dari rumah kala itu.
"Andai kamu mencariku dan Dirga, mungkin anak kita bisa hidup bahagia tanpa harus bersusah payah. Sayangnya semua itu hanya mimpi karena kamu lebih patuh kepada ibumu daripada mencari darah dagingmu sendiri." Astuti bergumam ketika teringat wajah tampan yang dulu pernah hadir dalam hidupnya.
Pernikahan itu harus kandas di tengah jalan karena perbedaan status ekonomi. Ayah kandung Dirga dulu adalah pewaris dari grosir kain terbesar di Jakarta. Sosok yang memiliki nama Sudiro Hadiwinata itu adalah anak tunggal dari keluarga tersebut. Semua diatur oleh ibunya dan Sudiro tidak bisa bertindak apapun, meski rumah tangganya berakhir di tengah jalan.
"Tidak. Ini pasti orang yang berbeda. Atasan Dirga pasti bukan Sudiro yang aku kenal." Astuti berusaha menepis pikirannya yang semakin jauh menembus masa lalu.
...🌹To Be Continue🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Rekomendasi karya untuk kalian nih😍Yuk baca karya author Pipihpermatasari dengan judul Bertahan Terluka. Kuy Gercep biar gak ketinggalan ceritanya😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...