
"Astagfirullah, Bu. Bagaimana Ibu bisa berpikir sejauh itu?" Dirga mengela napas dalam-dalam seraya menggeleng tak mengerti. "Aku memang sangat mencintai Bea, tapi tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiranku untuk melakukan hal itu sebelum kami benar-benar halal. Selama ini, aku selalu berusaha untuk tetap menjaga kehormatannya," jelas pria dua puluh lima tahun tersebut dengan sungguh-sungguh.
"Syukurlah jika memang kamu selalu memegang teguh ajaran yang Ibu berikan," ujar Astuti lega. "Ibu percaya kamu bisa," lanjutnya lagi
"Banyak hal yang menjadi pertimbanganku, Bu. Bea gadis baik-baik, meskipun dia dari keluarga modern dan memiliki ayah yang merupakan orang luar negeri. Namun, aku tahu bahwa dia bukan seorang pemuja kehidupan bebas," terang Dirga lagi.
"Oh, iya. Ibu sudah lama ingin menanyakan ini sama kamu. Ibu tahu terlalu sensitif, tapi jika kamu ada niat serius bahkan sampai memikirkan untuk menikah, Ibu pikir ini harus kita bahas juga," Astuti berbicara dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan putranya.
"Memangnya Ibu mau bertanya tentang apa?" tanya Dirga penasaran.
Astuti terdiam sejenak. Wanita paruh baya tersebut tampak berpikir dan memasang raut yang serius. "Ibu penasaran saja, karena si Bea kan bapaknya orang bule tuh. Apa dia ...." Astuti menjeda ucapannya. Dia seperti tengah mencari kata-kata yang halus agar terdengar lebih enak dan tak menyinggung.
Namun, Dirga sepertinya sudah memahami arah pertanyaan yang hendak diajukan sang ibu. Dia pun tersenyum kalem dan tetap terlihat tenang. "Ayahnya Bea sudah menjadi mualaf sejak pertama menikah dengan ibunya. Itu menurut yang Bea katakan padaku, karena sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan dengan dia, aku juga harus berhati-hati. Takutnya menjadi masalah besar di kemudian hari," jelas Dirga.
"Masalah seperti ini memang terlalu sensitif untuk dibahas, Bu. Namun, sekarang Ibu tidak perlu mencemaskan hal itu lagi," ucap pria penyuka fotography tersebut menenangkan sang ibu.
"Syukurlah kalau begitu. Ibu menjadi sangat lega," balas Astuti memegangi dadanya sambil tersenyum lembut.
"Ya sudah. Ibu segeralah tidur. Ini sudah terlalu malam. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku sedikit lagi," tutup Dirga mengakhiri perbincangannya dengan sang ibu. Dia mengiringi kepergian wanita yang amat berharga dalam hidupnya itu dengan tatapan penuh arti.
Sebenarnya, berat bagi Dirga untuk menjalani kehidupannya setelah kepergian sang ayah. Dia juga merasa sedih ketika melihat Astuti harus berjibaku di pasar, terlebih mereka bukanlah seorang pedagang besar. Persaingan yang ketat begitu terasa, jika tak dibarengi dengan kesadaran serta rasa ikhlas yang terus dipupuk dalam diri keluarganya.
__ADS_1
......................
Beatrice duduk termenung di dekat jendela kamarnya. Tatapan gadis dua puluh dua tahun itu lurus tertuju pada halaman rumahnya yang luas, berhiaskan tanaman hias koleksi sang ibu yang berharga fantastis. Namun, suara dering ponsel telah berhasil menyadarkannya dengan segera. Beatrice pun beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke dekat tempat tidur.
Dilihatnya sebuah nomor baru yang tertera di sana. Beatrice tak berniat untuk menjawab panggilan tersebut. Dia lebih memilih meraih buku yang belum selesai dibaca. Akan tetapi, sebelum gadis itu beranjak dari tempatnya tadi, suara dering panggilan kembali berbunyi. Nomor asing tadi pun muncul lagi di layar ponselnya.
"Siapa sih?" Beatrice meraih ponsel yang sejak tadi dia biarkan di atas meja sebelah tempat tidur. Gadis itu tampak mengernyitkan kening sambil memperhatikan layar ponsel dalam genggamannya, hingga lagu berbahasa Spanyol yang mengalun itu berhenti. Tak berselang lama, sebuah pesan pun masuk masih dari nomor yang sama. Karena merasa penasaran, Beatrice membuka pesan tersebut.
Hai, Bea. Masih ingat aku?
Beatrice menautkan alisnya. Dia tak tahu siapa yang mengirimkan pesan itu padanya. Akhirnya, gadis berambut cokelat tersebut membalas pesan tersebut.
Ini siapa?
Ya ampun. Segitu mudahnya kamu lupa sama aku. Ini aku, Reyhan.
Setelah membaca pesan itu, seketika ada semacam gemuruh dalam dada gadis pecinta buku tersebut. Dia tak harus bertanya dari mana Reyhan bisa mendapatkan nomor ponselnya. Beatrice pun tak ingin membalas pesan itu lagi. Gadis cantik berambut panjang tadi melihat arloji di pergelangan kirinya. Masih terlalu lama untuk menunggu sang ibu kembali dari acara dan segala kegiatan wanita cantik empat puluh lima tahun tersebut.
Beberapa saat lamanya, Beatrice mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali dia memegagi rambutnya. Beatrice terlihat gusar. Namun, pada akhirnya dia mengambil keputusan untuk menghubungi sang ibu dan meminta penjelasannya.
Setelah dua kali panggilan dilakukan, barulah Soraya menjawabnya. Janda empat puluh lima tahun itu baru selesai melakukan pengecekan perhiasan yang akan segera diluncurkan beberapa hari mendatang.
__ADS_1
"Ada apa, Bea? Tumben kamu nelpon mama di jam kerja begini," sapa Soraya dengan tenang sambil berjalan menuju ruangannya.
"Aku ngga akan banyak basa-basi. Aku cuma mau tanya, apa maksud mama memberikan nomor ponselku kepada Reyhan?"
Soraya tersenyum kecil. Dia telah tiba di depan ruangannya. Janda cantik tersebut segera membuka pintu kemudian masuk. "Alasannya cuma satu, karena Reyhan baik," jawabnya tenang.
"Kita harus bicara!" pungkas Bea sebelum memutuskan panggilan begitu saja.
Soraya mengela napasnya setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh putri semata wayangnya. Ada rasa sakit dalam hatinya ketika mendapat perlakuan tidak sopan dari putri yang sangat dicintainya selama ini.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Bea! Kenapa susah sekali sih!" gerutu Soraya setelah termenung memikirkan Beatrice.
Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Soraya segera beranjak dari tempatnya karena harus pulang untuk mengakhiri pertengkaran tidak penting itu. Padahal janda kaya raya itu baru beberapa waktu yang lalu sampai di perusahaan.
Setelah bertolak dari perusahaan dan berada di jalan selama beberapa puluh menit, pada akhirnya Soraya sampai di halaman rumahnya. Dia segera keluar dari mobil dan mengayun langkah menuju rumah megah miliknya. Soraya segera melangkah kakinya menuju kamar Beatrice yang ada di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, Soraya membuka pintu kamar Beatrice begitu saja.
"Ada apa, Bea?" tanya Soraya setelah berada di dalam kamar Beatrice.
Beatrice memutar kursinya setelah mendengar suara Soraya di sana. Tatapan mata gadis berambut cokelat itu terlihat dingin dan membeku. Sepertinya dia benar-benar kecewa kepada wanita cantik yang duduk di tepi ranjangnya.
"Mari kita bicara," ucap Soraya setelah melihat Beatrice hanya diam saja, "katakan saja apa yang perlu kita bahas secara langsung!" Sepertinya Soraya sudah tidak tahan dengan sikap ysngc ditunjukkan oleh putrinya.
__ADS_1
Beatrice beranjak dari tempatnya saat ini. Dia berjalan menuju tempat Soraya berada saat ini dan akhirnya memilih duduk di sisi ibunya, "aku tidak suka dengan cara Mama yang memberikan nomorku kepada Reyhan tanpa izin!" ujar Beatrice tanpa basa-basi lagi.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...