
Setelah menghabiskan beberapa hari di negeri matador, Soraya dan Beatrice akhirnya kembali ke tanah air. Harapan untuk menghilangkan rasa suntuk karena hubungan percintaan yang tengah mengalami pasang surut bersama Dirga, ternyata tak sepenuhnya berhasil. Kembai ke Indonesia, Beatrice tetap saja membawa wajah cemberutnya.
"Kamu bilang mau nikah dengan segera. Baru mengurusi masalah sepele saja sudah manyun begitu. Bagaimana kalau menghadapi masalah pelik rumah tangga? Bisa-bisa pingsan berkali-kali kamu," tegur Soraya yang merasa tidak nyaman, karena sepanjang perjalanan pulang tadi Beatrice terus memperlihatkan wajah murung.
"Aku kesal, Ma," sahut Beatrice pelan.
"Kesal ya kesal. Akan tetapi, jika sudah berumah tangga, kamu nggak bisa bersikap seperti ini, Sayang," ucap Soraya kembali menasihati putrinya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Beatrice masih dengan wajah lusuh, lesu, dan sama sekali tak bersemangat.
"Belajarlah untuk berpikir dengan lebih dewasa. Kenapa Mama tidak langsung mengizinkanmu menikah dengan Dirga, karena Mama juga belum mengenal pria itu dengan baik. Mama belum tahu apakah dia bisa jadi pembimbing buat kamu atau tidak. Lain halnya dengan Reyhan. Mama sudah tahu dia sejak lama. Reyhan itu sopan dan terpelajar. Dia juga putra jeng Yayuk yang merupakan langganan di toko perhiasan Mama," jelas Soraya dengan tutur kata yang masih terkendali dan lembut.
"Bisa nggak sih agar jangan bahas dia? Gara-gara Reyhan, Dirga marah padaku. Dia berpikir bahwa aku main belakang sama anak teman Mama itu," protes Beatrice dengan jengkel.
"Lah, jadi dia sudah bertemu langsung sama Reyhan?" tanya Soraya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
"Entahlah. Aku nggak mau membahas hal itu sama dia," sahut gadis berambut cokelat tadi.
"Kamu pergi tanpa menjelaskan pada Dirga?" Soraya mengernyitkan keningnya.
"Ya. Beberapa hari setelah itu, aku lihat Dirga sedang berduaan dengan gadis lain," tutur Beatrice lagi.
__ADS_1
"Siapa gadis itu? Apa kamu meminta penjelasan kepada Dirga?" cecar Soraya. Beatrice pun menanggapinya dengan sebuah gelengan pelan. "Astaga." Janda empat puluh lima tahun tersebut menggelengkan kepala seraya berdecak pelan.
"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Beatrice polos. "Aku kesal, jadi aku pergi saja. Aku diamkan dia biar tahu rasa."
"Itu jelas-jelas sesuatu yang salah, Sayang. Kalau kamu merasa sudah dewasa, maka jangan bersikap seperti gaya pacaran anak remaja. Apalagi jika kalian ada niat mau ke pelaminan," tegur Soraya. Namun, Beatrice tak menanggapi teguran dari Soraya. Gadis dua puluh dua tahun tersebut hanya terdiam dengan wajah yang terlihat semakin ditekuk.
Sementara Soraya hanya mengela napas pendek, saat melihat wajah masam putrinya. Dia tidak habis pikir dengan sikap kekanak-kanakan gadis itu. Bagaimana bisa Beatrice ingin menikah muda, sedangkan jika ada masalah kecil saja sikapnya seperti itu. Tentu saja Soraya semakin khawatir setelah mendengar cerita putrinya, jika mereka sedang dalam masalah.
"Mama mau ke kamar dulu. Sepertinya Mama harus istirahat karena kepala ini terasa berdenyut-denyut setelah mendengar ceritamu, Bea." Soraya pamit kepada Beatrice sebelum berlalu dari ruang keluarga. Wanita itu melangkah dengan sedikit tergesa-gesa, hingga dirinya tiba di kamar mewah yang ada di lantai dua. Pintu kamar pun tertutup rapat. Sementara Soraya mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Hembusan napas berat terdengar di sana, karena beban pikiran yang memenuhi kepala. Untuk kali ini, permasalahan yang dipikirkan Soraya bukan urusan uang atau pun perusahaan, melainkan masa depan putrinya. Banyak pertimbangan yang harus janda cantik itu pikirkan, sebelum memutuskan untuk merestui hubungan Beatrice dengan Dirga.
Soraya termenung untuk mencari jalan keluar atas semua permasalahan yang sedang terjadi. Untuk kali ini, Soraya tidak mau hanya sekadar diam di tempat melihat putrinya yang murung. Dia berusaha bersikap dewasa dan menurunkan ego demi masa depan putri semata wayangnya itu. Mengandalkan para sahabat, sepertinya tidak mungkin mengingat ketiganya sedang disibukkan dengan urusan masing-masing.
"Aku harus bertemu dengan pemuda itu. Ya, aku harus bicara dengannya," pikir Soraya setelah ide cemerlang muncul dalam kepalanya, "tapi di mana aku harus menemuinya? Sepertinya sangat tidak etis jika aku menemuinya di cafe ataupun di tempat umum," gumam Soraya seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas tempat tidur.
"Aku harus pergi ke rumahnya. Ya ... ini jauh lebih tepat karena dengan begitu aku bisa melihat langsung bagaimana kondisi keluarganya." Soraya menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah yakin dengan keputusannya itu.
"Tapi di mana rumahnya? Tidak mungkin 'kan jika aku bertanya kepada Bea. Pasti dia akan ikut bersamaku dan bisa jadi dia melarangku pergi kesana," gumamnya dengan bola mata yang digerakkan ke kiri dan ke kanan sambil mencari inspirasi.
Tatapan mata Soraya terpaku pada ponsel yang ada di atas nakas. Dia mencoba mengingat siapakah yang mengetahui alamat rumah Dirga, karena samar-samar teringat jika pernah membahas masalah ini di group chat warung remang-remang.
__ADS_1
"Astrid!" Nama ratu lebah lah yang diingat Soraya, karena hanya dia yang menjalankan misi pengintaian dengan sempurna, "aku harus bertanya kepada ratu lebah di mana alamat rumah Dirga," gumam Soraya sambil meraih gadget canggih miliknya.
Sudah dua kali Soraya melakukan panggilan, tetapi tidak diangkat oleh Astrid. Lantas, janda cantik itu tak kehabisan akal, dia mengetik pesan untuk dikirim kepada Astrid karena mungkin saja sahabatnya itu sedang menghabiskan waktu bersama anak dan cucunya.
Soraya kembali termenung setelah mengirim pesan kepada Astrid. Dia sedang merangkai kata-kata untuk disampaikan kepada Dirga sebelum bertemu nanti. Kali ini Soraya harus bisa mengontrol diri dan tetap terlihat elegan di hadapan kekasih putrinya itu.
"Kira-kira apa saja ya yang perlu aku bahas saat berhadapan dengan dia?" Soraya mulai ragu dengan rangkaian pertanyaan yang sempat dia susun itu.
"Ah sudahlah aku gak mau memikirkan hal itu sekarang. Besok setelah aku sampai di sana saja baru ku pikirkan. Lagi pula aku juga belum tahu pasti di mana rumahnya." Pada akhirnya Soraya memilih untuk melupakan hal itu karena tidak mau terlalu banyak beban pikiran.
Janda cantik itu kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Dia membuka aplikasi chat di gadget canggih yang ada dalam genggaman tangannya dan setelah itu dia membuka group chat untuk membaca pesan-pesan tidak penting yang seharian ini dibahas di sana. Foto-foto pria tampan bertebaran di sana dan tentunya bukan Dena pengirimnya. Notifikasi pesan masuk membuat Soraya kembali dari group tersebut. Ternyata ada balasan pesan dari Astrid. Alamat lengkap Dirga pun tertulis di sana beserta nama ibunya.
Dia tinggal di kampung Eropa gang buntu. Ada di kawasan ujung Jakarta selatan. Nama ibunya Astuti, tukang pijat urut.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
...Hallo semua❤️ Happy weekend😘 Mumpung liburan nih, kuy baca karya keren dari author Trias Wardani dengan judul Belenggu Hasrat Tuan Muda😍Waw judulnya aja udah bikin penasaran kan? Kuy gercep kepoin karyanya😘...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1