
Gemerlap bintang menghiasi gelapnya malam karena sang rembulan memilih bersembunyi di balik awan. Semilir angin malam menerpa sosok wanita yang sedang berdiri di pinggiran pagar pembatas balkon kamar. Seorang wanita cantik yang sedang menutup kelopak mata untuk menikmati kehampaan yang terasa.
"Hidupku rasanya membosankan sekali akhir-akhir ini," keluh Dena setelah mengepulkan asap tipis ke udara, "si janda masih di Madrid, ratu lebah anaknya datang terus si bungsu malah lagi hamil. Kacau!" gerutu Dena sambil menghempaskan napas.
Semenjak kejadian yang berakhir memalukan kala itu, Dena memutuskan untuk tidak pergi ke club malam seorang diri. Dia tidak mau mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya. Apalagi jika sampai kembali bangun tidur di rumah seorang pria. Sungguh, lajang berusia empat puluh lima tahun itu tidak sanggup membayangkan hal itu lagi.
"Hmmm ... lebih baik aku pergi ke apartment si bungsu aja kali ya, dari pada di rumah gak ada teman." Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
Setelah membuang putung rokok di tong sampah yang ada di sudut balkon, Dena masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap menemui Rahma. Mungkin, wanita berbadan dua itu sedang mengalami hal yang sama dengannya—bosan—dalam kesendirian karena tidak mungkin sugar daddy milik Rahma itu berada di sana saat malam hari.
"Kamu minta dibawakan apa, Su? Aku mau meluncur kesana setelah ini." Dena menelfon Rahma sambil menyisir rambutnya.
"Aku gak ingin apa-apa, Mbak Dena. Tetapi jika Mbak Dena mau membawa sesuatu mending bawa nasi bento deh. Terus jangan lupa beli Burger, hotdog, kentang dan spaghetti ya."
Dena menjauhkan ponsel itu dari telinganya setelah mendengar permintaan dari Rahma. Dia heran saja kenapa selera makan Rahma mendadak berubah rakus seperti itu, "catat saja lah. Aku bisa lupa nanti," pungkas Dena sebelum memutuskan sambungan telfon itu.
"Katanya gak mau makan apa-apa tapi kok pesannya banyak amat ya. Heran aku tuh! Apa memang seperti itu ya kalau sedang hamil?" Dena meletakkan sisirnya dan meraih parfum mahal koleksinya sambil menggerutu.
Hampir tiga puluh menit lamanya lajang berusia empat puluh lima tahun itu bersiap sebelum pergi. Malam ini Dena tetap saja terlihat cantik meski hanya memakai midi dress tanpa lengan. Dia memutuskan untuk memakai dress keluaran dari designer lokal itu karena hanya akan berkunjung ke tempat si bungsu saja. Malam ini Dena memutuskan pergi tanpa sopir karena ingin lebih santai menemani Rahma di Apartmentnya.
Honda Accord Platinum White Pearl, dipilih Dena untuk kendaraannya malam ini. Salah satu koleksi mobil yang ada dalam garasi rumahnya. Pada akhirnya mobil tersebut keluar dari gerbang yang menjulang tinggi itu setelah Dena menginjak pedal gasnya.
__ADS_1
"Berarti aku harus mampir dulu ke restoran nih buat beli makanan si Rahma," gumam Dena setelah memasuki pusat kota. Dia memperhatikan setiap bangunan yang menjulang tinggi untuk menemukan tempat yang menyediakan semua pesanan dari Rahma.
****
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih enam puluh menit, pada akhirnya Dena sampai di kawasan tempat tinggal simpanan pejabat itu. Suara derap langkah heels yang melekat di kakinya terdengar menggema di lobby apartment tersebut. Dia segera masuk ke dalam lift yang biasa membawanya ke unit tempat Rahma tinggal selama ini.
"Welcome, Mbak Dena," sambut Rahma ketika pintu lift terbuka dan tampaklah Dena di sana dengan menenteng beberapa kantong di tangannya.
"Gila! Demi semua ini, aku harus mengantre lama, Su." Dena mengeluh saat berjalan menuju ruang keluarga bersama Rahma.
"Mbak Dena nanti pasti dapat pahala karena mewujudkan keinginan ibu hamil," jawab Rahma dengan suara yang terdengar lembut. Dia menerima kantong tersebut dan membawanya ke dapur untuk dipindahkan ke piring yang sudah dia siapkan sejak tadi.
"Fasilitas di sini makin lengkap aja, Su," ujar Dena sambil menatap ke sekeliling ruangan tersebut.
"Tapi dia tidak menghilang begitu saja kan?" selidik Dena tanpa melepaskan pandangan dari sosok wanita yang baru saja duduk di sampingnya. Dena merasa iba saja melihat kondisi Rahma saat ini.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dibilang menghilang tapi masih mengirim barang dan mengisi rekeningku, tapi jika dibilang tidak menghilang, dia tidak pernah kesini lagi. Hanya satu kali dia menemaniku setelah tahu aku hamil." Rahma berusaha untuk terlihat tegar di hadapan Dena.
"Terus sesi konselingmu kemarin bagaimana?" tanya Dena lagi.
"Dokter Richard menyarankan aku untuk tetap mempertahankan kandungan ini karena resikonya terlalu tinggi jika aku menggugurkan kandungan ini," jawab Rahma dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Setelah konsultasi dengan dokter Richard kala itu, Rahma memutuskan untuk mengikuti saran dari dokter tampan tersebut. Semua saran yang diucapkan dokter Richard berhasil merasuk ke dalam relung hatinya. Apalagi setelah merenung sendiri di Apartment mewahnya, Rahma pun mendadak menyayangi janin yang ada di dalam kandungannya. Dia ingin mempertahankan anak tak berdosa ini meskipun dia sendiri tidak tahu bagaimana masa depannya nanti.
"Aku selalu mendukung keputusanmu, Su. Jangan sungkan bila kamu membutuhkan bantuanku. Aku, Aya dan juga Astrid pasti tidak akan membiarkanmu sendiri." Hanya ini yang bisa Dena ucapkan sebagai seorang sahabat untuk menguatkan Rahma. "Ya ... meski sekarang mereka berdua sedang sibuk dengan keluarga masing-masing sih," imbuh Dena dengan malas.
"Mereka masih enak ya. Meskipun sering tidak akur dengan keluarganya tapi mereka masih bisa merasakan kehangatan keluarga. Tidak seperti kita yang sendiri melawan sepi." Rahma bergumam dengan tatapan kosong. Dia sampai lupa jika ada nasi bento, spaghetti dan beberapa makanan lainnya yang sedang menunggu untuk dinikmati.
Dena hanya bergumam pelan saat menanggapi ucapan Rahma. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya pun merasa kesepian akhir-akhir ini. Dia merasa bosan dengan aktivitas monoton yang dia jalani beberapa hari terakhir. Minum pun dia lakukan di rumah karena tidak berani lagi bersenang-seneng sendirian di club malam.
"Kenapa Mbak Dena tidak pergi ke club langganan kita saja? Di sini sangat membosankan loh karena tidak ada alkohol untuk menemani kita malam ini," tanya Rahma karena penasaran dengan alasan yang membuat Dena berakhir di tempatnya.
Dena menatap Rahma sekilas sambil menimbang apakah perlu menceritakan kejadian memalukan kala itu. Jujur saja Dena merasa malu karena harus berakhir di rumah seorang pria.
"Aku kapok mabok sendiri di club malam. Asal kamu tahu, beberapa hari yang lalu ada kejadian yang membuatku bangun di rumah seorang pria. Astaga!" Dena menutup wajah dengan kedua telapak tangannya setelah mengungkapkan kejadian itu kepada Rahma. Tentu hal ini berhasil membuat simpanan pejabat itu terkejut bukan main.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
...Uhuy😍Othor punya rekomendasi karya lagi nih😀Karya dari author Senja_90 dengan judul Painfull Love, wajib kalian baca nih 😁 Pasti bakal suka dengan ceritanya❤️...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...