Sosialita

Sosialita
Berpikir dua kali,


__ADS_3

Soraya melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri menuju kamarnya. Setelah meletakkan hand bag di atas meja, dia pun melepas ankle strap heels yang dikenakan. Janda satu anak itu kemudian naik ke atas tempat tidur, lalu duduk sambil meluruskan kakinya di sana. Tak lupa, dia mengambil gadget dan mulai memainkan benda paling penting dalam hidupnya tersebut. Dia merebahkan tubuhnya setelah membuka aplikasi pesan untuk mengirim pesan kepada Beatrice.


Soraya tersenyum simpul, ketika dirinya berhasil mengirimkan rekaman video tadi kepada sang putri. Dia sama sekali tidak berpikir atas dampak buruk yang akan terjadi nantinya terhadap diri Beatrice. Bagi Soraya, memisahkan antara putri semata wayangnya dengan Dirga adalah sesuatu yang harus dilakukan secepatnya.


Selesai mengirimkan rekaman video tadi, wanita berusia empat puluh lima tahun itu lalu turun dari tempat tidur. Dia bermaksud hendak ke kamar mandi, sebelum akhirnya harus mengurungkan niat karena suara ketukan di pintu. Sambil menggulung rambut panjangnya dengan menggunakan jedai, Soraya berjalan ke arah pintu. Tanpa ragu dia membukanya.


Tampaklah wajah masam Beatrice di sana. Gadis dua puluh dua tahun tersebut menatap sang ibu dengan sorot penuh kemarahan. "Apa maksud Mama ngirim video ngga penting itu ke nomorku?" tanya Beatrice tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Sama sekali ngga ada maksud apa-apa, Sayang. Mama hanya ingin kamu tahu seperti apa sebenarnya pria yang selama ini kamu puja-puja itu," jawab Soraya menjelaskan dengan penuh percaya diri.


"Lalu? Mama pikir aku akan percaya begitu saja?" tantang Beatrice. Dia seolah tak ingin menghiraukan, apapun usaha yang dilakukan oleh Soraya terhadap hubungannya dengan Dirga. "Aku jauh lebih mengenal Dirga ketimbang Mama. Video murahan seperti yang Mama kirimkan tadi ngga akan berpengaruh apapun bagi hubungan kami berdua!" tegas gadis itu kemudian membalikkan badan. Beatrice pun berlalu dari hadapan sang ibu dengan begitu saja.


Sementara itu, Soraya hanya terpaku di ambang pintu sembari menatap kepergian sang anak. Dia mengela napas pelan, kemudian kembali masuk. "Astaga, Francesco. Putrimu ternyata keras kepala juga," keluh Soraya. Dia kembali duduk di tepian tempat tidur dengan tangan yang diletakkan di sisi kiri dan kanannya.


"Apa yang kau lakukan, Mi Amor?" suara berat seorang pria tiba-tiba mengejutkan Soraya, membuatnya segera menoleh.


"Francesco?" Soraya menautkan alis, melihat sosok pria tampan berjanggut tipis di sebelahnya. "Cómo puedes estar aquí? (Bagaimana bisa kau ada di sini?)" tanya wanita cantik itu heran.


"Aku ada di manapun kau berada, Mi Amor. Aku harus selalu memastikan agar kau menjaga putri kita dengan baik," jawab pria asal Spanyol tersebut lembut. Dia lalu meraih jemari lentik Soraya, kemudian mengecupnya dengan dalam. "Oh, iya. Apakah dulu aku pernah bertanya padamu?" Dia menatap lekat sang istri.


"Bertanya tentang apa?" Soraya tampak sangat penasaran.


"Apakah sebelum bertemu dan jatuh cinta padaku, kau pernah tertarik kepada pria lain?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya padamu dulu. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Buktinya, hingga saat ini aku tidak menikah lagi dengan pria manapun," tegas Soraya.


"Kau pikir ada cinta seperti itu?" tanya Francesco lagi.


"Cinta kita, Sayang," tegas Soraya.


"Ya. Cinta kita. Lalu bagaimana dengan orang lain? Mungkinkah mereka juga merasakan cinta seperti itu?" tanya Francesco lagi.


"Entahlah. Mungkin saja. Aku bukan seseorang yang bisa mendalami hati orang lain. Aku bahkan tak tahu dengan ...."


"Perasaan Beatrice?"


Soraya terdiam. Dia tak segera menjawab. Wanita empat puluh lima tahun itu tampak enggan menanggapi pancingan dari sang suami. "Jangan bahas itu, Sayang. Beatrice berbeda. Dia putriku," tolaknya.


"Dia juga putriku," timpal Francesco.


"Apalagi, Mi Amor?" tanya Francesco seraya membenarkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik yang ada di hadapannya.


"Aku tidak rela jika ...." Soraya menghentikan ucapannya.


Getaran ponsel terasa mengejutkan karena ponsel tersebut berada tepat di atas wajah cantik Soraya. Setelah membuka mata dengan lebar, dia memindahkan ponsel itu dari wajahnya. Janda cantik itu mengusap hidung mancung hasil operasi itu beberapa kali sebelum memutuskan untuk mengangkat telfon.


"Rahma? Kenapa dia?" gumam Soraya setelah membaca kontak dengan nama 'Bungsu' di layar ponselnya.

__ADS_1


Semua mimpi tentang pria yang mengisi relung hatinya sampai saat ini harus berakhir begitu saja karena panggilan dari Rahma. Segera janda cantik itu menekan icon hijau di layar ponselnya, "ada apa?" tanya Soraya tanpa basa-basi setelah panggilan terhubung.


"Ya, aku di rumah. Datang saja ke sini," ucap Soraya lagi setelah mendengar keluh kesah Rahma dengan isak tangis yang terdengar di sana. Soraya sendiri sampai heran karena selama ini Rahma jarang sekali menangis. Dia bukanlah wanita cengeng yang suka mengeluarkan air mata, apalagi hanya karena masalah bersama seorang pria.


Panggilan pun berakhir setelah Rahma menyampaikan keinginannya untuk menemui Soraya di rumahnya. Wanita cantik itu tidak tahu alasan apa yang membuat Rahma ingin menemuinya di rumah ini.


"Frans. Kamu datang di mimpiku lagi," gumam Soraya setelah teringat mimpi indah bersama sang suami beberapa menit yang lalu, "kenapa hanya sebentar sih!" Soraya tidak terima akan hal itu.


Soraya meraih ponselnya lagi untuk melihat video yang tersimpan dalam galerinya. Sekali lagi dia melihat video rekaman pria yang dicintai putrinya itu. Soraya berpikir dua kali saat berniat mengirimkan video tersebut kepada Beatrice.


Melihat kemarahan Beatrice dalam mimpi saja, membuat hatinya sakit dan perih, apalagi saat Beatrice mengetahui video itu secara langsung. Membayangkan betapa murkanya Beatrice nanti rasanya Soraya tidak sanggup.


"Gak. Aku gak boleh melakukan semua ini. Aku gak mau Bea sakit hati karena pria itu!" Soraya menggeleng pelan saat membayangkan dampak yang akan dirasakan putrinya nanti.


"Lebih baik aku menyimpan video ini saja," gumam Soraya lagi, "biar Bea mencari tahu sendiri bagaimana pria itu jika di belakangnya." Begitu pikir Soraya setelah berpikir ulang tentang rencananya.


Sepertinya janda dari pengusaha asal Spanyol itu harus mencari cara lain untuk memperbaiki hubungannya bersama Beatrice. Cara yang lebih baik dan tentunya tidak ada hubungannya dengan Dirga. Dia hanya ingin kebekuan di antara Beatrice segera mencair karena masalah yang dia sendiri tidak tahu pastinya.


"Ah, mungkin aku harus menyiapkan makan malam spesial untuk Bea. Aku harus menyiapkan sendiri makan itu. Mungkin dengan begitu, dia akan luluh dan bersedia berdamai lagi denganku." Sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja muncul dalam pikiran Soraya.


Janda cantik itu segera turun dari ranjang dan dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Berendam di bathup dengan gelembung busa serta aromaterapi yang selalu ada di sana, sepertinya bisa membuat pikiran Soraya jauh lebih tenang dan damai.


"Tunggu Mama nanti malam, Bea ku Sayang," gumam Soraya saat menuang sabun cair ke dalam bathup.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2