Sosialita

Sosialita
Pelakor Galau,


__ADS_3

Gemerlap lampu warna-warni yang disertai suara dentuman musik keras, begitu memekakan telinga. Suasana penuh hingar-bingar keceriaan, menemani seorang wanita cantik yang sedang meliuk-liukkan tubuh mengikuti alunan musik yang menggema di sana. Rahma memutuskan pergi ke salah satu club malam untuk melepas beban pikiran yang sukar dihilangkan sejak beberapa hari terakhir. Dia juga datang lebih awal dari ketiga seniornya.


Sejak pertemuan dengan Abraham tadi siang, Rahma mendadak galau hanya karena status. Berkali-kali, wanita itu menepis semua angan tentang pernikahan resmi bersama sang pejabat yang tidak akan muncul hilalnya sampai kapan pun. Ya, mungkin saat ini Rahma sedang menggunakan hati nuraninya dalam hubungan gelap bersama pria paruh baya tersebut.


"Su!" Rahma membalikkan badan, setelah mendengar panggilan sayang dari geng sosialitanya.


"Eh, Mbak Astrid. Joget dulu yuk, Mbak," ajak Rahma sambil menarik tangan Astrid agar ikut menari bersamanya.


"Eh, gak! Mending kita duduk sambil minum daripada di sini," tolak Astrid seraya melepaskan tangannya. "Ayolah. Kita duduk saja, yuk," Wanita peternak madu itu menatap Rahma penuh arti.


Pada akhirnya Rahma pun mengikuti langkah Astrid menuju tempat yang sudah dipesan. Mereka menghempaskan diri di sofa empuk yang ada di sana. Astrid mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Dena dan Soraya jika dirinya sudah sampai di tempat yang telah disepakati.


"Mbak Astrid enggak nemenin bapak tawon?" tanya Rahma sambil menatap wajah cantik seniornya itu.


"Dia lagi berkunjung ke rumah istri paling muda," ucap Astrid dengan santai, seperti sudah tidak ada beban lagi dalam menghadapi konflik rumah tangganya.


"Ya, kasian banget. Terus Mbak gimana kalau lagi on fire, pas si bapak ngga ada?" pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting dari Rahma.


"Alah, banyak cara ko. Kenapa harus bingung-bingung," sahut Astrid dengan enteng.


"Kalo aku ko mumet ya, Mbak," celoteh wanita muda itu.


"Ya, wajar. Kamu masih muda. Semangat masih menggebu-gebu. Libido lagi tinggi-tingginya," jelas Astrid dengan tak acuh. Membahas masalah ranjang, sudah bukan hal yang tabu lagi bagi dia dan ketiga rekannya.


Obrolan santai di antara kedua wanita cantik itu pun harus berakhir, setelah Dena dan Soraya hadir bersamaan di sana. Mereka saling menyapa dengan berpelukan dan cipika-cipiki satu sama lain seperti sudah lama tidak bertemu.


"Tumben Su ngajak kita kumpul?" tanya Soraya sambil meletakkan tas branded miliknya di atas meja.


"Lagi suntuk aja, Mbak. Gak tahu kenapa aku mendadak kangen banget sama kalian," ucap Rahma dengan diiringi senyum yang sangat manis.

__ADS_1


"Modus!" sahut Dena tanpa menatap Rahma. Gadis cantik itu masih sibuk dengan ponselnya. Mungkin masih ada pekerjaan yang belum selesai.


"Jangan-jangan kamu lagi galau karena kurang transferan dari si mpap-mu itu ya?" tebak Astrid seraya melirik Rahma. "Jangan bilang kalau mpap kamu ngga kasih jatah nganu, makanya kamu sampai mumet," celoteh si Ratu Lebah lagi.


"Ih! Bukan itu, Mbak!" kilah Rahma sambil menegakkan tubuhnya. "Kami malah baru ketemu dan melepas rindu tadi siang, meskipun ya seperti biasanya. Dia harus pergi tiba-tiba karena urusan pekerjaan," tutur Rahma yang diakhiri dengan sebuah keluhan.


"Lalu. Kenapa kamu sampai mumet, Dik?" Soraya pun ikut penasaran apa penyebab si bungsu menjadi seperti ini.


"Aku minta status pernikahan yang jelas sama si bapak, tapi dianya gak mau," jawab Rahma dengan diiringi helaan napas yang berat. Ada rona kecewa dalam sorot mata wanita tiga puluh lima tahun tersebut, yang berusaha untuk dia tepiskan.


Ketiga wanita yang dianggap senior oleh Rahma itu tercengang setelah mendengar penuturannya. Mereka tidak habis pikir, kenapa Rahma mendadak terbawa perasaan dalam hubungan gelap yang sudah berlangsung lama itu.


"Hah? Serius?" Astrid seperti tidak percaya dengan pengakuan Rahma, "Why?" tanya wanita peternak madu itu.


"Kamu lagi sehat kan, Su?" Soraya meyakinkan Rahma yang terlihat lusuh dan tidak bersemangat.


"Terus alasan bapakmu apa sehingga dia menolak menikah denganmu?" Dena pun ikut mencecar wanita simpanan itu.


"Ya udah itu mah perkara gampang!" jawab Dena tanpa berpikir panjang hingga membuat ketiga temannya mengalihkan pandangan ke arahnya, "bunuh saja istri sahnya," celetuk Dena dengan seenak udelnya.


Rahma hanya bisa menggeleng tak percaya setelah mendengar saran yang sangat ekstrim dari Dena. Ide gila yang tercetus dari gadis bukan perawan itu sama sekali tidak pernah ada dalam pikirannya.


"Gak! Aku gak segila itu!" tolak Rahma dengan segera.


"Lagian kamu ngga harus ngikutin saran dari orang yang ngga pernah punya pasangan," timpal Astrid.


"Eh, Mbak. Jangan gegabah ya! Biar gagal berkali-kali, tapi setidaknya aku pernah ...." Dena tidak melanjutkan kata-katanya. Dia berpikir beberapa saat.


"Pernah apa?" tantang Astrid.

__ADS_1


"Ya, aku pernah pacaran tapi gagal," jawab Dena dengan tak acuh. Dia lalu mengeluarkan kotak rokoknya, kemudian mengambil sebatang. Setelah itu, Dena menyulut rokok tadi dan mulai mengisapnya dalam-dalam. Asap tipis mengepul dari dalam mulut wanita cantik tersebut.


"Eh, Den. Kamu tuh kapan sih mau berhenti merokok? Baca tuh peringatannya, merokok tidak baik untuk kesehatan janin," tegur Soraya.


"Janinnya udah aku keluarin tadi pagi, Ya. Duh, aku kebanyakan makan pedes, makanya moncrot," balas Dena disertai tawa geli.


"Dasar jorok!" sergah Astrid.


"Iya, ih. Mbak Dena bikin aku tambah mual dan mumet saja," timpal Rahma, membuat ketiga rekannya serentak menoleh.


"Kamu ngga lagi hamidun, kan?" tanya mereka dengan serempak.


Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu, raut wajah Rahma seketika menegang. Dia sama sekali tidak memikirkan hal itu, terlebih karena pada bulan ini dia belum mendapatkan menstruasi.


"Apa iya?" pikirnya.


"Kamu kalo maen pake pengaman ngga?" tanya Astrid.


"Si mpap ngga mau, Mbak. Katanya ngga enak," jawab Rahma polos.


"Beuh, alamat!" timpal Dena dengan yakin.


"Kamu udah cek belum, Su?" tanya Soraya memastikan.


"Belum sih, Mbak. Cuma bulan ini aku memang belum 'dapet'. Apa iya hamil? Jangan dulu deh," Rahma terlihat khawatir.


"Eh, eh, bukannya malah bagus. Kalau kamu hamil, itu artinya kamu bisa mengikat si mpap dengan semakin erat. Bener ngga, Mbak Ratu?" Dena melirik Astrid.


"Iya, juga sih. Itu juga kalo si mpap bersedia nikahin kamu. Kalau ngga, kasihan nasib anak kamu nantinya, Su," jawab Astrid membuat kepala Rahma semakin mumet.

__ADS_1


Bukannya mendapat hiburan untuk menghilangkan rasa pusing yang menghantam kepala, Rahma semakin setres karena takut hamil.


...🌹TBC🌹...


__ADS_2