
Menangani pasien dengan keluhan yang beragam adalah makanan sehari-hari bagi seorang dokter. Entah itu keadaan ringan ataupun keadaan berat. Darah adalah bagian dari dunia kedokteran, apalagi untuk seorang seperti profesi dokter Richard. Sudah hal biasa melihat pasien melahirkan ataupun keguguran. Akan tetapi, untuk kali ini dokter yang menyandang status duda tanpa anak itu terlihat panik saat mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Sesekali dia menoleh ke samping saat mendengar suara rintih kesakitan dari seorang wanita. Ya, dia adalah Rahma.
"Dok, rasanya sakit sekali," keluh Rahma di sela-sela rintihannya.
"Sabar. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Hanya itu saja yang mampu diucapkan oleh dokter Richard untuk menjawab keluh-kesah Rahma.
Tentu Richard semakin khawatir setelah melihat kondisi Rahma saat ini. Wajah tanpa polesan make up itu terlihat pucat saat menahan rasa sakit yang sedang menderanya. Kondisi seperti itu semestinya adalah hal yang biasa disaksikan oleh dokter tampan tersebut. Akan tetapi, kali ini dia merasakan rasa yang berbeda. Antara takut, khawatir, dan prihatin.
Setelah menempuh perjalanan panjang, pada akhirnya mobil yang dikendarai dokter Richard tiba di depan lobby IGD. Dia segera keluar dan berjalan mengitari mobilnya hingga sampai di sisi kiri, tempat Rahma berada. Setelah membuka pintu mobil, dokter Richard membungkukkan tubuh untuk membantu Rahma keluar dari sana. Untuk sekilas dokter tampan itu melihat darah di jok mobilnya setelah berhasil mengangkat tubuh Rahma. Dia tidak menghiraukan hal itu lagi karena ada keadaan darurat yang harus dia tangani saat ini.
"Pegangan yang erat," ucap dokter Richard saat membopong tubuh Rahma menuju IGD.
Kedatangan dokter Richard tentu saja membuat beberapa perawat jaga IGD terkejut. Namun, keadaan itu tidak berlangsung lama saat dokter Richard masuk ke dalam bilik perawatan yang masih kosong. Dia membaringkan Rahma di atas brankar dengan pelan dan sangat hati-hati.
"Tolong tangani nyonya Rahma terlebih dahulu. Saya mau mempersiapkan diri sebentar," ujar dokter Richard saat dua orang perawat masuk ke dalam bilik yang ditempati oleh Rahma.
Dokter Richard keluar dari IGD dan memindahkan mobilnya ke tempat parkir. Dia pun harus mengambil ID yang selalu ada di dalam tas berisi perlengkapan dinasnya, karena sudah menjadi peraturan rumah sakit, semua tenaga medis yang bertugas wajib memakai ID card. Dalam mobil itu sudah tersimpan jas putih cadangan yang menjadi seragam dinasnya. Semua barang-barang tersebut ada di dalam mobil karena untuk berjaga-jaga apabila ada keadaan genting seperti tadi.
"Maaf saya tidak bisa ikut bergabung. Ada keadaan darurat yang membuat saya harus datang ke rumah sakit."
Dokter Richard mengirim pesan suara kepada rekannya yang sudah sampai di lapangan tembak untuk melakukan latihan bersama. Ya, ini bukanlah yang pertama bagi dokter tampan tersebut membatalkan kegiatan demi pasien yang membutuhkannya.
Kini, penampilan dokter Richard telah berubah seperti sebelumnya. Kaos polo berwarna hitam yang dipakainya telah tertutup jas putih yang baru saja dia kenakan. Sarung tangan medis pun telah terpasang di kedua tangannya. Dokter tampan itu pun kembali menuju IGD untuk melakukan pemeriksaan terhadap Rahma.
"Pasien mengalami pendarahan cukup banyak, Dok," lapor salah satu perawat. Dia juga menyodorkan sesuatu yang didapatnya dari pakaian dalam Rahma.
__ADS_1
Dokter Richard terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria tampan itu menoleh kepada Rahma yang terbaring lemah. Dia lalu mendekat. "Nyonya, Anda sudah mengalami keguguran. Kami akan segera melakukan tindakan kuret," ucapnya. Tanpa banyak basa-basi lagi terhadap Rahma, dokter Richard beralih kepada perawat yang ada di dalam ruangan. "Kita akan melakukan tindakan kuret. Persiapkan pasiennya," titah sang dokter. Dia berlalu untuk mempersiapkan diri.
................
Hari sudah beranjak sore, ketika Rahma telah benar-benar sadar dari pengaruh obat bius setelah tindakan kuret tadi. Wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun itu termenung dengan tatapan mengarah pada jendela kaca yang tirainya belum ditutup. Tak ada seorang pun yang menemaninya di kamar perawatan itu.
Sesaat kemudian, Rahma menyentuh perutnya. Tak ada lagi sesuatu di dalam sana yang akan dia harapkan untuk menjadi teman rasa sepinya. Semua telah lenyap, dengan diiringi menetesnya air mata di atas bantal. Namun, dengan segera dia menyekanya, ketika terdengar suara ketukan di pintu.
Tak lama, terdengar derap langkah memasuki ruangan. Rahma pun membalikkan wajahnya ke arah di mana berdirinya seorang pria tampan yang pagi tadi dia lihat dan telah membawanya ke sana. "Dokter," sapa Rahma parau dan juga terdengar begitu lesu.
"Bagaimana keadaan Anda sekarang?" tanya dokter Richard yang terlihat sangat kalem.
"Lemas," jawab Rahma.
"Tidak apa-apa. Itu normal," balas sang dokter tampan. "Minum dulu teh manisnya selagi masih hangat," ucapnya lagi lembut.
Melihat hal itu, dokter Richard segera berpindah posisi. Dia mengambilkan gelas tadi, kemudian memasukkan sedotan yang masih terbungkus ke dalamnya. Setelah itu, dokter Richard mendekatkan ujung sedotan pada mulut Rahma yang segera menyambutnya.
"Terima kasih, Dok. Aku sudah sangat merepotkan Anda," ucap Rahma tak enak hati.
"Tak apa-apa, Nyonya Rahma. Lagi pula, saya sedang tidak ada kegiatan apapun saat ini," ujar sang dokter.
"Panggil Rahma saja, Dok. Tidak perlu terlalu formal," ucap wanita yang saat itu mencoba untuk tersenyum.
Dokter Richard pun tersenyum. Dia masih berdiri di dekat ranjang, dengan tatapan yang masih tertuju kepada Rahma. "Apakah ayah dari calon bayi Anda sudah tahu tentang hal ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, Dok. Tak ada siapa pun yang tahu," jawab Rahma pelan. "Kapan saya bisa pulang?" tanya Rahma kemudian.
"Besok pun Anda bisa langsung pulang. Namun, siapa yang akan menjemput kemari?" tanya dokter Richard lagi.
"Sepertinya saya pulang sendiri saja, Dok," jawab Rahma lesu. "Saya tidak memiliki siapa pun selain tiga orang teman di sini, tapi saya juga tidak ingin merepotkan mereka," ucapnya lagi.
"Bagaimana dengan orang tua, saudara atau ... apa Anda tak ingin menghubungi ayah dari ...."
"Tidak, Dok. Setelah ini, saya ingin memulai hidup baru. Saya sudah bertekad untuk melepaskan diri dari semuanya. Saya ingin memperbaiki kesalahan dan ...." Rahma kembali menitikkan air mata. Sementara dokter Richard hanya memperhatikannya.
Dari sesi konseling dulu, pria tampan tersebut sudah mengetahui seperti apa status dan kehidupan yang dijalani Rahma selama ini. Karena itulah, dia tak lagi banyak bertanya.
"itu jauh lebih baik," ucapnya. "Anda masih muda, cantik, dan juga sehat. Peluang akan selalu ada. Gunakan semua itu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih positif dan bermanfaat. Saya yakin, jika kita sudah melakukan yang terbaik, maka hasil baik pun akan mengikuti."
"Iya. Dokter benar. Saya akan menata ulang hidup yang saya jalani. Tuhan mengetahui yang terbaik. Apa yang saya alami kali ini, mungkin sebagai teguran agar saya memikirkan segala sesuatunya dengan jauh lebih bijaksana dan terarah," tutur Rahma. Dia mencoba untuk menumbuhkan sisi positif dan semangat baru dalam hidupnya.
Dokter Richard tersenyum kalem. "Saya senang Anda memiliki pikiran seperti itu," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Ada rekomendasi karya super keren nih untuk kalian😍Yuk intip dan baca karya dari author Lady Mermad dengan judul One Night Stand In Dubai. Wah dari judulnya aja udah bikin penasaran kan?? kuy buruan kepoin😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...