Sosialita

Sosialita
Permintaan Astuti


__ADS_3

"Jadi, selama ini kamu tidak pernah mengatakan kepada putra kita bahwa aku ...."


"Untuk apa?" potong Astuti. "Kalaupun kuberitahukan yang sebenarnya kepada Dirga, dia hanya akan merasa kecewa dan semakin rendah diri," ucap janda dua anak itu. "Selama ini, kami masih bisa hidup meski tidak dalam kondisi yang bergelimang harta benda," tuturnya lagi.


Istri Sudiro terkejut setelah tahu jika tamu yang ada di hadapannya itu adalah mantan istri suaminya. Sepertinya pergi dari ruang tamu adalah pilihan yang baik, karena dia hanya ingin memberi ruang untuk keduanya berbicara.


"Pa, aku masuk dulu ya, aku harus bersiap-siap sebelum kita pergi nanti." Istri Sudiro mengembangkan senyum penuh arti saat berpamitan kepada Sudiro, "Bu, saya tinggal sebentar, ya. Permisi," pamit wanita tersebut sambil menatap Astuti. Berpikir positif untuk situasi ini sangat diperlukan demi ketenangan hati dan pikiran.


"Tetap saja tak seharusnya kamu bersikap seperti itu, Tut. Bagaimanapun juga, aku adalah ayah kandung Dirga. Pria yang seharusnya bertanggung jawab untuk segala kebutuhan dia secara materil," ujar Sudiro memprotes sikap Astuti yang telah merahasiakan keberadaan dirinya selama ini. Tentu protes ini diucapkan setelah Sudiro memastikan istrinya benar-benar pergi dari sana.


"Secara materil? Luar biasa," sindir wanita dengan kerudung instan berwarna kuning gading itu. Dia tersenyum getir saat mendengar perkataan sang mantan suami beberapa puluh tahun silam.


"Ya, secara materil." Sudiro kembali menegaskan. "Aku tidak bisa berbuat banyak untuk hal lainnya. Meskipun saat ini kedua orang tuaku telah tiada, tapi tetap saja aku tidak bisa membawa kalian ke rumah ini. Kamu tahu sendiri bukan jika aku sudah memiliki istri," ujar Sudiro seraya menatap Astuti dengan lekat.


Sedangkan Astuti pun dapat melihat hal itu. Puluhan tahun telah berlalu, bukan salahnya ataupun salah Sudiro jika mereka memang harus kembali membina rumah tangga dengan orang lain. Lagi pula, Astuti merasa tak ada harapan bagi dirinya untuk bisa menginjakkan kaki ke dalam bangunan megah itu.


Dalam hati Astuti terlalu sakit untuk dapat menerima perlakuan tak semestinya, dari seseorang yang dia panggil sebagai mertua. Terkadang, Astuti merasa jika pernikahan yang terjadi antara dirinya dengan Sudiro memanglah suatu kekeliruan. Akan tetapi, satu sisi hatinya yang lain mengatakan bahwa dia harus menyingkirkan pemikiran seperti itu, karena segala apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta.


"Ya sudah. Lagi pula, aku datang menemuimu bukan untuk meminta sebuah hak ataupun jatah seberapa banyak materi yang harus kami terima darimu. Aku hanya ingin meminta sedikit bantuan," ujar Astuti setelah beberapa saat terdiam dan berpikir.


"Bantuan apa? Katakan saja. Jangan sungkan," sahut Sudiro tampak antusias.


"Ini tentang Dirga," jawab Astuti.

__ADS_1


"Ada apa dengan Dirga? Aku berjanji akan menaikkan jabatannya. Dia putraku, pasti akan dapat keistimewaan. Apalagi kinerjanya selama ini juga bagus," tutur Sudiro.


"Tidak, tidak. Ini bukan tentang pekerjaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih pribadi. Namun, aku tidak tahu apakah tepat atau tidak untuk meminta bantuan darimu. Sejujurnya aku merasa serba salah," jelas Astuti pelan. Sesekali, dia melihat ke dalam bangunan megah milik Sudiro, "bisakah kita bicara diluar saja? Sejujurnya aku merasa sungkan dengan istrimu," pinta Astuti.


"Tentu. Mari kita bahas ini di luar rumah," ajak Sudiro seraya berdiri dari tempatnya. Mereka kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumah untuk melanjutkan pembahasan tentang Dirga.


"Katakan apa yang bisa kulakukan untuk Dirga? Kenapa kamu belum memberi tahu dia bahwa aku adalah ayahnya?" Sudiro masih penasaran dengan alasan Astuti.


Astuti segera menggeleng saat menanggapi pertanyaan dari pria yang pernah dia cintai. "Aku belum mengatakan apapun padanya. Entah harus memulai dari mana, aku merasa bingung," ujar Astuti ragu.


"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk Dirga? Aku ingin dia tahu bahwa aku adalah ayah kandungnya, tapi itu juga jika kamu mengizinkan. Aku merasa seperti tak memiliki hak untuk memberitahu dia secara langsung."


"Aku takut Dirga belum merasa siap untuk hal ini," ujar Astuti.


"Ya, tapi aku kemari bukan untuk membahas hal itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa saat ini Dirga tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pacarnya berasal dari keluarga berada. Aku bingung harus bagaimana," tutur Astuti tampak gusar.


Sudiro terdiam sejenak. Tak dijelaskan secara detail pun, dia sudah dapat memahami ke mana arah pembicaraan wanita yang dulu pernah dirinya cintai. Sudiro tampak manggut-manggut pelan. "Aku mengerti. Kamu tidak perlu khawatir," ujarnya meyakinkan.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Astuti.


"Kamu percayakan saja semuanya padaku," sahut Sudiro tetap terlihat tenang. "Bagaimanapun juga aku harus menebus waktu yang telah terlewat di antara kami. Bisa menerima atau tidak, Dirga harus mengetahui bahwa ayahnya masih hidup." Sudiro terdiam sejenak. Pria itu menunduk. "Aku mencari kamu ke mana-mana, tapi semua yang kulakukan hanya berbuah kegagalan. Hingga beberapa tahun sejak kamu pergi, aku terus melakukan itu," tutur Sudiro pelan.


"Andai kamu menemukanku juga itu tak akan mengubah apapun. Suratan takdir membawa kita pada jalan masing-masing," balas Astuti menanggapi.

__ADS_1


"Ya. Aku mencoba untuk meneruskan hidup. Sekarang aku telah memiliki dua orang anak. Mereka sudah beranjak dewasa," terang Sudiro dengan seutas senyuman di sudut bibirnya.


"Aku ikut senang mendengarnya," sahut Astuti menanggapi. Namun, wanita paruh baya tersebut sepertinya sedikit tak nyaman.


"Jika kamu mau, masuklah lagi. Kamu bisa berkenalan lebih jauh dengan istriku. Dia wanita yang baik," tawar Sudiro tanpa ada beban sedikit pun.


"Tidak. Tidak usah. Kedatanganku kemari tanpa direncanakan sama sekali. Mungkin lain kali saja, dalam kesempatan yang jauh lebih baik," tolak Astuti dengan halus.


Sebelum percakapan mereka berlanjut, saat itu muncul sebuah mobil sedan hitam yang hendak melewati gerbang dan masuk ke halaman rumah megah Sudiro. Astuti dan Sudiro pun sama-sama menoleh pada mobil mewah tersebut.


Sudiro tampak terdiam untuk beberapa saat. Dia menatap seseorang di dalam mobil tadi. Setelah itu, pria paruh baya dengan rambut yang sudah mulai bercampur uban tersebut kemudian mengalihkan perhatian kepada Astuti yang terlihat risih.


Tak berselang lama, seorang pria muda dengan tampilan rapi berkemeja lengan tiga per empat keluar dari dalam mobil sedan hitam itu. Wajahnya tampan dengan dihiasi kaca mata hitam yang membuat penampilan pria muda tadi semakin terlihat necis. Dia lalu berjalan ke arah di mana Sudiro dan Astuti berada.


"Papa," sapa pemuda itu sopan. "Kenapa bicara di luar seperti ini? Bukannya Papa mau pergi dengan mama?" tanyanya tanpa melepas kaca mata hitam yang dia kenakan.


"Iya. Mamamu sedang bersiap-siap di dalam. Papa harus menerima tamu dulu," jawab Sudiro sambil mengarahkan pandangannya kepada Astuti yang saat itu tersenyum lembut kepada si pemuda.


"Iya, tapi kenapa tamunya tidak diajak masuk?" tanya pemuda itu lagi heran. Dia menoleh kepada Astuti, kemudian mengangguk sopan. "Lagi pula, aku mau masuk," ucapnya kemudian.


"Iya, tidak apa-apa. Saya juga akan segera pergi," sahut Astuti menanggapi. Dia bermaksud untuk beranjak dari hadapan Sudiro dan putranya yang tampan.


Namun, sebelum Astuti benar-benar berlalu dari sana, Sudiro lebih dulu mencegah. "Tut, kenalkan dulu. Dia putra sulungku. Namanya Reyhan."

__ADS_1


...🌹To Be Continue 🌹...


__ADS_2