Sosialita

Sosialita
Kuasa sang ratu lebah,


__ADS_3

Dengan lihai, Astrid memarkirkan sedan hitam yang dia kendarai di halaman rumah bertipe 36 milik Santi. Si Ratu Lebah tersebut lalu keluar dari kendaraan mewahnya. Tanpa melepas kaca mata hitam yang dia kenakan, Astrid berjalan penuh kharisma sambil menenteng tas branded di tangan kiri. Setelah itu, dia lalu mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Sebenarnya Astrid begitu malas harus datang ke sana. Namun, apa daya karena Handoko ngotot ingin agar dirinyalah yang menjemput. Dengan terpaksa, Astrid pun menuruti suami yang kini hanya dia anggap sebagai ladang uangnya saja.


"Eh, Mbak Astrid. Apa kabar, Mbak?" sapa Santi dengan sopan. Sebagai istri ketiga, dia harus selalu hormat kepada seniornya atau dirinya akan mendapatkan masalah. Sesuai perjanjian, Astrid mengizinkan sang suami untuk menambah koleksi dayang-dayangnya, dengan catatan tak ada yang berani melangkahi wanita itu sebagai istri pertama. Jika di antara ketiga istri muda Handoko ada yang berani berulah macam-macam, maka Astrid tak segan untuk bertindak tegas.


"Di mana mas Han?" tanya Astrid tanpa menanggapi sapaan dari Santi.


"Masuk dulu, Mbak," jawab Santi seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar, ketika Astrid menaikkan kaca mata hitam yang dia kenakan. Benda bermerk terkenal itu menghiasi bagian atas kepala sang ketua lebah.


Dengan langkah penuh keangkuhan, Astrid memasuki kediaman yang sengaja disediakan oleh Handoko untuk Santi. Santi pun segera mengajaknya menuju kamar, di mana Handoko tengah beristirahat. Pria itu tampak sedang asyik menonton siaran televisi.


"Mommy," sapa Handoko saat melihat kedatangan Astrid di sana. Dia merentangkan tangan, berharap agar istri pertamanya itu segera memeluk dan memberi kecupan hangat. Dengan terpaksa, Astrid merangkul pria paruh baya tersebut, kemudian mencium pipi kiri dan kanannya.


"Gimana keadaan Mas sekarang?" tanya Astrid yang kemudian duduk di tepian ranjang, sambil menghadap kepada Handoko.


"Tidak separah kemarin, Mom," jawab Handoko. "Untunglah Santi merawatku dengan baik dan telaten," lanjutnya seraya menoleh pada istri ketiganya yang berdiri di sebelah tempat tidur.


"Ya, itu sudah kewajiban dia. Berapa uang bulanan yang Mas berikan untuk Santi? Semua harus sepadan dengan apa yang Mas dapatkan," sahut Astrid dengan gaya bicaranya yang terkesan sedikit ketus. "Lagian ya, Mas. Kalau Santi bisa ngurusin Mas dengan baik, kenapa harus minta pulang ke rumahku?"

__ADS_1


"Aku sebenarnya ngga ada masalah Mbak jika harus merawat mas Han di sini, tapi dia mungkin kurang nyaman karena aku kan kerja. Selagi aku kerja mas Han aku titip ke si mbok," jelas Santi.


"Ya kamu juga sih, San. Sudah tahu suami lagi sakit, masih saja maksain kerja. Apa susahnya diam dulu di rumah. Lagian, apa uang bulanan dari mas Han kurang sampai-sampai kamu ngga bisa sehari apa dua hari saja nggak ke salon," protes Astrid mengingatkan. Sebagai ketua dari para istri suaminya, dia harus selalu memastikan agar mereka melakukan tugas dan kewajiban terhadap Handoko tetap dilaksanakan dengan baik. Astrid tentu tak akan terima jika ketiga dayang Handoko hanya makan gaji buta saja.


"Maaf, Mbak. Habisnya kalau ngga ke salon sehari saja rasanya ada sesuatu yang kurang gitu," kilah Santi.


"Aku ngga masalah kalau kamu cinta sama pekerjaan, tapi ingat juga kewajiban kamu sebagai istri ketiga mas Han. Toh, aku juga kalau lagi dapat giliran, sama kayak kamu," balas Astrid lagi. "Jadi, bagaimana? Mas Han masih tetap ingin pulang ke rumahku atau menghabiskan jatah sama Santi?" Astrid mengalihkan perhatiannya kepada sang suami yang sejak tadi hanya menyimak perbincangannya bersama Santi.


"Ingat ya, San. Jika mas Han ikut pulang denganku, maka itu artinya uang bulanan kamu mesti dikorting dari biasanya. Itu sih terserah kamu," ucap Astrid memberikan penawaran yang membuat Santi menjadi galau. Bagaimana tidak, jumlah uang bulanan yang diberikan oleh Handoko sangat fantastis, meskipun dia hanya mendapat jatah satu minggu untuk menemani pengusaha batu bara tersebut.


"Aduh, Mbak. Mas Han baru tiga hari di sini. Itu artinya masih ada sisa empat hari lagi. Wah, dikorting banyak dong?" Santi terlihat ragu.


"Ya, sudah. Aku akan bawa Mas Handoko pulang. Lagi pula, Agnez akan pulang dari Kanada. Kemarin dia nanyain apa Mas ada di rumah atau tidak," ucap Astrid pada akhirnya. Agnez adalah anak yang mereka adopsi sejak bayi. Saat ini, dia sudah berumah tangga bersama pria asal Vancouver, Kanada. Agnez pun telah dikaruniai sepasang anak kembar berjenis kelamin perempuan.


"Kapan Agnez akan pulang?" tanya Handoko ketika mereka telah berada di perjalanan menuju rumah yang dihuni oleh Astrid.


"Katanya sih akhir bulan ini. Tadinya dia agak kecewa, karena akhir bulan kan jatah Mas di rumah Cherry," jawab Astrid menyebutkan nama istri keempat Handoko.

__ADS_1


"Sepertinya aku akan di tempat kamu saja sampai akhir bulan ini, Mom," sahut Handoko seraya melirik sang istri yang tengah fokus di belakang kemudi.


"Ya, dan nanti saat sudah sembuh maka kamu akan kembali bergerilya ke rumah istri-istrimu yang lain. Luar biasa sekali, Mas," sindir Astrid. Dia membelokan mobil yang dikendarainya memasuki gerbang sebuah rumah mewah. Sedan hitam tadi kemudian memasuki halaman luasnya. Setelah berada di dalam, Astrid pun menghentikan laju kendaraan tersebut. Dia lalu melepas sabuk pengamannya. Namun, saat wanita itu akan keluar dari mobilnya, terdengar sebuah dering panggilan masuk. Astrid mengurungkan niatnya sejenak. Dia memeriksa panggilan masuk tersebut yang ternyata berasal dari Dena. Astrid pun menjawabnya. "Ya, Den. Ada apa?" sapanya.


"Hai, Mbak. Nanti malam kumpul yuk. Suntuk banget rasanya," ajak Dena.


"Aduh, sepertinya aku ngga bisa gabung Den," tolak Astrid dengan segera.


"Lah, kenapa? Tumben mbak ngga bisa gabung nongkrong? Si bungsu juga katanya ngga bisa. Malahan sekarang dia lagi ada di rumah sakit untuk jadwal konseling sama dokter kandungan," terang Dena.


"Hah? Si bungsu beneran hamil?" tanya Astrid tidak percaya.


"Ya. Aku denger dari Soraya. Katanya si bungsu datang buat curhat kemarin-kemarin sama dia," sahut Dena lagi.


"Oh, syukur deh. Aku ikut senang, Den. Aku ngga bisa gabung, soalnya aku mesti ngurusin mas Han. Dia lagi sakit," jelas Astrid kemudian.


Sementara Handoko hanya diam saja sambil mencuri dengar pembicaraan sang istri. Ya, meski dia tahu siapa yang menghubungi sang istri, tetapi tidak ada salahnya bukan tetap waspada barangkali seorang pria yang berani menelfon istri yang menjadi prioritasnya.

__ADS_1


...🌹To be continue 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2