Sosialita

Sosialita
Pesta Kecil,


__ADS_3

Pemuda tampan bernama Reyhan tadi mengangguk sopan kepada Astuti. "Permisi, Bu. Saya mau masukin mobil dulu," ucapnya. Selain tampilannya yang rapi, dia juga terlihat begitu rendah hati.


"Oh silakan, Nak," sahut Astuti ramah. Ibunda Dirga tersebut tersenyum manis sebelum Dirga berjalan menuju mobilnya. Setelah sedan mewah tadi berada di halaman, Reyhan kembali turun. Dia langsung saja masuk ke dalam rumah. Kelihatannya pemuda itu sedang terburu-buru.


"Putramu sangat tampan, Mas," sanjung Astuti setelah Reyhan tak terlihat lagi.


"Dia anak sulungku, Tut," sahut Sudiro diiringi senyuman khasnya. Namun, sesaat kemudian pria paruh baya itu tertegun. "Ah, maksudku ... anak kedua, karena anak sulungku ternyata adalah Dirga," ralatnya tertawa pelan. Sedangkan Astuti hanya menyunggingkan senyuman kecil.


"Pacar Dirga kemarin-kemarin meminta untuk segera dilamar. Dia harus bekerja keras mengumpulkan kepingan rupiah, tapi tetap saja itu tak membuatnya bisa segera mewujudkan keinginan gadis itu," tutur Astuti.


"Memangnya kenapa?" tanya Sudiro.


"Sudah aku katakan, gadis itu berasal dari keluarga terpandang." Astuti mengempaskan napas pelan. Ada beban yang cukup berat dalam sorot mata wanita berhijab tersebut. Dia pun tak tahu kenapa harus datang ke hadapan Sudiro dan menceritakan semua itu.


Namun, Sudiro adalah pria yang cerdas. Dia sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran mantan istrinya. "Aku paham, Tut," sahutnya sesaat kemudian.


Astuti pun sudah hendak menanggapi ucapan Sudiro, tapi segera dia urungkan saat melihat istri sah ayah kandung Dirga tersebut muncul dari dalam rumah. Wanita yang tak lain adalah Yayuk, pelanggan setia dari aneka perhiasan yang diluncurkan oleh Soraya.


"Istrimu sepertinya sudah siap untuk pergi. Sebaiknya aku pamit saja, Mas," ujar Astuti. Dia tersenyum ramah ketika Yayuk menghampiri mereka berdua.


"Mama sudah siap, Pa," ucap Yayuk seraya berdiri di sebelah Sudiro. Dia membalas senyuman yang dilayangkan Astuti terhadapnya. "Kenapa malah bicara di luar, Mbak?" tanyanya basa-basi.


"Saya sudah mau pamit," sahu Astuti. "Terima kasih atas waktunya." Janda beranak dua itu kemudian mengangguk sopan, sebelum akhirnya membalikkan badan. Dia melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri tadi, yang masih berdiri di depan pintu gerbang.


"Untuk apa mantan istrimu datang kemari, Pa?" tanya Yayuk. Terbersit sedikit rasa cemburu yang sejak tadi dia tutupi.

__ADS_1


"Dia hanya memberitahuku tentang Dirga," jawab Sudiro.


"Siapa Dirga?" tanya Yayuk lagi seraya menautkan alisnya.


Sudiro mengempaskan napas berat sebelum memutuskan untuk memberikan penjelasa kepada sang istri. Dia menatap wanita yang penampilannya jauh berbeda, jika dibandingkan dengan Astuti. "Astuti pergi dari rumah, dengan membawa anak laki-laki kami yang baru lahir, umurnya belum genap satu bulan. Pada awalnya aku masih bisa berkomunikasi dengannya. Diam-diam aku juga sering mengirim uang untuk biaya hidup mereka berdua. Namun, beberapa tahun kemudian Astuti tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Aku kehilangan jejak dia," tutur Sudiro dengan tatapan menerwang pada jalanan komplek perumahan elit tempat tinggalnya.


"Papa tidak berusaha mencari mereka?" tanya Yayuk.


"Jujur saja bahkan setelah menikah dengan Mama pun, Papa masih mencari keberadaan mereka. Bukan dengan maksud apa-apa, hanya saja ... hanya saja ada tanggung jawab yang harus Papa penuhi untuk Dirga. Maaf, Ma. Maaf karena Papa tidak bercerita apapun kepada Mama," sesal Sudiro.


"Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba dia muncul lagi?" Yayuk masih saja merasa penasaran.


"Inilah takdir, Ma. Kadang kita dibawa pada sesuatu yang sama sekali tak dapat diduga," sahut pria dengan batik lengan panjang tersebut. "Jadi, pada malam itu mobil Papa mogok. Tiba-tiba ada anak muda yang membantu dengan sukarela. Setelah itu. Papa memberinya kartu nama dan membawa dia bekerja di perusahaan. Siapa sangka karena ternyata anak muda itu adalah Dirga."


"Iya, Ma. Sebenarnya Astuti datang kemari bukan untuk meminta hak secara materi. Dia meminta bantuan untuk yang lain," ucap Sudiro lagi menjelaskan.


"Yang lain apa?" tanya Yayuk lagi.


"Dirga ingin segera menikah, tapi pacarnya berasal dari keluarga kaya," terang Sudiro lagi.


Yayuk pun akhirnya paham kemana arah pembicaraan itu. Akan tetapi, acara yang akan dia hadiri bersama Sudiro sebentar lagi akan dimulai, terpaksa Yayuk harus mengakhiri pembicaraan ini, "Pa, sebaiknya kita berbicara masalah ini nanti saja. Sekarang mari kita berangkat, gak enak kalau sampai terlambat datang," ucap Astuti setelah melihat penunjuk waktu yang ada di pergelangan tangannya.


...💠💠💠💠💠💠💠💠...


Malam telah hilang seiring dengan berubahnya warna langit. Hari ini aktifitas produksi di perusahaan milik Sudiro sengaja diliburkan. Hanya staf dan pegawai tetap yang diperbolehkan untuk mengikuti acara kecil yang diselenggarakan Sudiro, karena ada beberapa pencapaian perusahaan yang begitu besar akhir-akhir ini.

__ADS_1


Dirga pun turut menghadiri acara tersebut. Dia datang ke perusahaan lebih awal, karena dia tidak mau terlambat meskipun ini bukanlah termasuk dari pekerjaan. Pemuda manis itu memasuki aula tempat acara diselenggarakan. Dia mencari tempat yang nyaman untuknya. Tentu pemuda itu memilih tempat yang ada di belakang, mengingat di sini dia adalah staf baru.


Waktu telah berlalu begitu saja. Satu persatu pegawai perusahaan mulai datang memenuhi aula tersebut. Terlihat pemilik perusahaan ini pun sudah hadir di sana—Sudiro—pria paruh baya itu mengedarkan pandangan untuk mencari sosok pemuda yang sejak tadi malam memenuhi pikirannya.


"Ternyata dia ada di sana," gumam Sudiro setelah menemukan Dirga di sudut aula bersama para staf yang lain. Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya ke tempat tersebut untuk menemui Dirga.


"Selamat pagi, Pak Sudiro," sapa beberapa pegawai yang ada di sana, termasuk Dirga.


"Selamat pagi." Sudiro mengulas senyum tipis saat menjawab sapaan para karyawan. Namun, tatapan matanya fokus kepada Dirga.


"Ini adalah acara perusahaan yang pertama kamu hadiri ya, Ga." Sudiro mencoba basa-basi kepada Dirga.


"Iya, Pak. Ini acara perusahaan yang pertama kali saya hadiri. Saya sangat bahagia karena diperkenankan untuk mengikuti acara ini." jawab Dirga dengan sikap yang sopan. Mereka berdua berbicara beberapa hal yang tidak penting. Sikap Sudiro tetaplah seperti biasanya, penuh wibawa.


Padahal yang sebenarnya, Sudiro ingin sekali memeluk pemuda manis itu. Hatinya bergemuruh saat menahan rasa haru ketika menatap wajah pemuda yang merupakan darah dagingnya. Rasa bersalah dan rasa bahagia membaur menjadi satu hingga pria bayuh baya itu tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


"Maaf Pak, acara akan segera dimulai. Nanti Bapak harus memberi sambutan." Asisten Sudiro datang menghampiri dan memberitahu jika acara tersebut akan dimulai.


Seorang Master of Ceremony telah membuka acara tersebut. Beberapa rangkaian acara telah dijelaskan di sana, hingga beberapa detik kemudian tibalah saatnya Sudiro naik ke atas panggung untuk memberi sambutan dalam acara ini.


Rangkaian kata-kata pembukaan telah disampaikan oleh Sudiro dalam acara ini. Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pegawai yang sudah berkontribusi dalam kemajuan perusahaan ini. Sampai pada akhirnya Sudiro mengucapkan sesuatu hal yang membuat semua orang tercengang.


"Dalam kesempatan yang membahagiakan ini. Saya ingin memberitahukan kepada semua orang yang hadir di sini. Saya ingin memperkenalkan staf akuntan kita yang bernama Dirga Aditya. Dia adalah putra saya." Sudiro menunjuk Dirga yang sedang ada di sudut ruangan. Tentu pemuda itu pun terkejut dengan pengakuan Sudiro.


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2