
Selang beberapa hari setelah terkuaknya kenyataan atas jati diri Dirga yang sebenarnya, pria dua puluh enam tahun itu masih melakukan segala aktivitasnya dengan normal. Tak ada yang berubah dari sikap ataupun penampilan kekasih dari Beatrice tersebut.
Sore itu pada hari Minggu yang cerah, Dirga telah membuat janji untuk bertemu dengan sang kekasih. Dalam satu bulan ini, kedua sejoli tersebut memang hanya berkomunikasi via telepon saja. Kesibukan Dirga menjadi penyebab utama sulitnya waktu untuk bertemu.
"Apa kabar, Ga? Kamu nggak kangen sama aku?" Beatrice bersikap manja kepada sang kekasih. Dia duduk berdekatan dengan Dirga. Gadis itu bahkan berani menyandarkan kepalanya di pundak pria dua puluh enam tahun tersebut. Beatrice seperti tak sungkan lagi untuk menunjukkan kemesraan di depan umum.
"Kamu tahu sendiri aku sibuk sekali. Dalam beberapa hari terakhir juga ada banyak kejutan yang benar-benar tidak terduga. Salah satunya adalah ...." Dirga menjeda kata-katanya. Dia seakan ragu untuk mengungkapkannya kepada sang kekasih.
"Adalah apa?" tanya Beatrice penasaran.
"Adalah tentang ayah kandungku, Bea," sahut Dirga pelan.
"Kenapa dengan ayah kandungmu? Bukankah ayahmu sudah meninggal ...."
"Ternyata ayahku yang selama ini bukanlah ayah kandungku," jelas Dirga membuat Beatrice seketika menegakkan tubuhnya. Dia menatap lekat kepada Dirga dengan sorot penuh rasa tak mengerti.
"Kamu bukan anak kandung dari ayahmu?" pikirnya seraya mengernyitkan kening tak. "Lalu, kalau begitu siapa ayah kandungmu yang sebenarnya?"
"Itulah, Bea. Ibu telah merahasiakan ini dariku selama puluhan tahun. Beliau pikir aku tidak akan bertemu lagi dengan ayah kandungku. Ternyata takdir mengatakan hal lain. Kami justru dipertemukan dalam suatu momen yang tak terduga," tutur Dirga. Dia lalu menceritakan awal-mula pertemuan serta perkenalannya dengan Sudiro, hingga dirinya diberikan pekerjaan serta menduduki jabatan. Terakhir adalah tentang pengakuan Sudiro yang sangat mengejutkan.
"Lalu, apa kata ibu kamu?" tanya Beatrice lagi. Dia tak dapat membayangkan andai dirinya ada dalam posisi seperti yang Dirga alami.
__ADS_1
"Ibu mengakui semuanya. Ada alasan tersendiri mengapa ibu merahasiakan ini semua dariku," sahut pria berusia dua puluh enam tahun itu sambil mengarahkan tatapan pada deretan paving block yang mereka pijak. "Terus terang saja bahwa saat ini aku masih sangat bingung dengan semuanya. Entahlah, tapi seperti ada sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan dengan begitu saja. Rasanya ... rasanya seperti ...." Lagi-lagi, Dirga tak mampu berkata-kata dengan jelas.
"Ya, aku bisa memahaminya. Kamu pasti merasa aneh, kan," Gadis cantik berdarah Spanyol-Indonesia itu kembali menyandarkan kepala di bahu sang kekasih. "Aku juga sekarang merasa aneh dengan sikap mama. Entah dia sudah benar-benar merestui hubungan kita atau belum. Tadinya aku mau bertanya langsung, tapi ... rasanya malas sekali, Ga," keluh Beatrice.
"Tidak apa-apa, Bea. Dengan tidak membatasimu untuk bertemu denganku juga itu sudah jauh lebih dari cukup. Namun, aku tetap akan melamarmu," ucap Dirga membuat Beatrice kembali menegakkan tubuh. Dia menatap tak percaya kepada sang kekasih yang telah dipacarinya selama beberapa tahun terakhir. "Kenapa? Kamu tidak percaya?" Dirga menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu yakin mau melamarku?" Beatrice tersenyum lebar.
"Ya, itu kan tujuan dari hubungan kita? Pelaminan," sahut Dirga tenang tapi terdengar sangat meyakinkan.
Tak terkira betapa bahagianya perasaan Beatrice saat mendengar hal itu. Dia bahkan tak sungkan untuk memeluk Dirga. Putri semata wayang Soraya tersebut tak peduli meskipun mereka berdua menjadi tontonan dari orang-orang yang berlalu-lalang di sana.
Perbincangan demi perbincangan terus berlangsung di antara kedua sejoli itu, hingga waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Jalanan ibukota pun tampak sangat ramai saat itu. Dirga memutuskan untuk mengantar kekasihnya pulang. Setelah dari kediaman Beatrice, pria manis dan baik hati tadi melanjutkan perjalanan menuju kediaman Sudiro.
Akan tetapi, Dirga tidak memutuskan untuk masuk dan bertandang ke rumah sang ayah. Dia hanya duduk di atas motor sambil memandangi bangunan megah yang entah berapa kali lipat besarnya, jika dibandingkan dengan rumah sederhana tempat dia dan ibunya bernaung selama ini.
Dirga tak pernah tahu apa yang disembunyikan takdir darinya. Entah kenyataan apa lagi yang akan dia terima untuk ke depannya. Satu yang pasti, dia hanya akan berserah diri dan melakukan yang terbaik.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" sapa seorang satpam yang menjaga rumah besar itu. Dia patut merasa curiga atas sikap Dirga yang sejak tadi mengawasi kediaman mewah majikannya.
"Tidak ada, Pak," sahut Dirga ramah. "Ini benar kediaman pak Sudiro, kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, betul. Ada keperluan apa, ya?" tanya si satpam lagi penuh selidik.
"Saya kebetulan lewat saja. Saya salah satu karyawan di perusahaan beliau," jelas Dirga. Namun, dia tahu bahwa penjelasannya tak bisa diterima mentah-mentah oleh petugas keamanan tadi. Dia pun mengangguk sopan seraya kembali menyalakan motornya. "Saya permisi dulu, Pak," pamit pria muda itu. Dia berlalu dari depan rumah megah tadi dengan diiringi tatapan penuh rasa curiga dari satpam itu.
Tak berselang lama, sebuah mobil sedan mewah datang dan berhenti di depan pintu gerbang. Dengan segera si petugas keamanan tadi membukaman pintu yang berdiri kokoh dan menjulang itu. Dia mempersilakan mobil milik sang majikan untuk masuk.
Akan tetapi, sebelum terus masuk ke halaman yang luas itu, mobil sedan tadi berhenti sejenak di hadapan si satpam yang masih tampak keheranan. Perlahan, kaca sebelah kanannya terbuka. Seorang sopir menyodorkan nasi kotak untuk si penjaga keamanan.
"Terima kasih, Pak," ucap satpam tadi. Dia merunduk dan melihat ke dalam. "Baru saja ada pria muda yang datang kemari. Dia mengaku sebagai salah satu karyawan di perusahaan Bapak," lapornya.
"Ke mana dia sekarang?" tanya Sudiro yang duduk di jok belakang.
"Dia pergi setelah saya menegurnya, Pak. Gelagatnya terlihat mencurigakan. Dia terus-menerus mengawasi rumah ini," tutur pria dengan perawakan tegap itu.
Pikiran Sudiro langsung saja tertuju kepad Dirga. Dia mengangguk pada si satpam tadi, kemudian menyuruh sopir pribadinya untuk kembali melajukan kendaraan hingga tiba di dekat teras masuk. "Itu pasti Dirga. Ada apa dia kemari?" pikir pria paruh baya tersebut. Setelah sang sopir membukakan pintu untuknya, dia pun segera keluar.
Sambil berjalan masuk, Sudiro merogoh ponsel dari saku kemejanya. Dia bermaksud untuk menghubungi putra yang baru dirinya temukan.
...🌹To Be Continue 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1