
"Apa Mama menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Beatrice. Dia merasa ada sesuatu yang lain dari sang ibu. Wanita itu tak terlihat menunjukkan sikap angkuh atau semacamnya. Soraya justru tampak tengah menutupi sesuatu.
"Apa yang bisa Mama sembunyikan dari kamu, Bea?" Soraya seakan hendak menunjukkan bahwa tak ada apapun yang tengah mengganggu pikirannya.
"Entahlah, tapi aku merasa lain. Rasanya Mama ...." Beatrice tak melanjutkan kata-katanya. Dia memperhatikan sang ibu dengan lekat. "Apa Mama merindukan papa?" tanya gadis itu kemudian.
"Ah, Bea ...." Soraya berlalu dari hadapan putrinya. Dia mengambil piring keramik yang sudah diisi oleh masakan buatannya. Soraya sepertinya ingin menghindari pertanyaan dari Beatrice tadi. Namun, nyatanya Beatrice masih tetap merasa penasaran.
"Aku juga sangat merindukan papa. Aku harap kapan-kapan Mama mengajakku pergi ke Madrid untuk mengunjungi makam papa. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya," ucap Beatrice seraya menyandarkan sebagian tubuh pada meja berlapis marmer tadi.
"Ya, tentu. Kita memang harus pergi bersama ke sana untuk menghabiskan beberapa hari dengan bersenang-senang. Mama juga sangat merindukan keluarga di Spanyol. Terakhir kemarin bibi Matilde mengirim salam untukmu. Dia bertanya apakah akun sosial mediamu masih aktif atau tidak. Katanya kamu jarang sekali muncul. Tak seperti anak muda lainnya," tutur Soraya.
"Aku sudah lama tidak membuka akun sosial mediaku. Mama tahu sendiri, buku jauh lebih menyenangkan dan juga Dir ...." Beatrice segera mengulum bibirnya. "Sudahlah," tutup gadis itu malas. Dia lalu beranjak membawa minuman buatannya ke ruang makan. Sedangkan Soraya segera mengikuti dari belakang. Mereka berdua pun menata meja makan bersama. Setelah selesai, barulah keduanya memulai untuk makan malam
"Andai kita bisa seperti ini setiap hari," ucap Beatrice terdengar penuh harap. "Apa aku terlalu membosankan, Ma?" tanya gadis itu tiba-tiba.
"Apanya yang membosankan?" Soraya balik bertanya.
"Hidupku sangat monoton. Apa karena itu Mama lebih senang menghabiskan waktu di luar?" tanya Beatrice lagi.
"Sejak kapan kamu punya pikiran seperti itu?" protes Soraya. "Mama menghabiskan waktu di luar bukan karena kamu membosankan, Sayang. Justru karena hidup Mama yang memang terasa amat monoton," ujar janda cantik tersebut.
"Kamu tahu sendiri, setelah papamu tiada lalu kita pindah kemari. Rasanya sangat aneh. Jika kamu bertanya apakah Mama merindukan papamu, ya tentu saja. Mama sangat merindukannya. Terkadang Mama ingin agar dia kembali. Perasaan seperti itu kerap hadir, setiap kali Mama berada dalam kebimbangan dan tak sanggup menghadapimu seorang diri. Papamu selalu tahu harus bagaimana. Dia penuh dengan solusi dan ide brilian," ungkap Soraya apa adanya.
Beatrice tidak menjawab. Dia hanya memperhatikan sang ibu dengan lekat, sambil memegangi sendok di tangan kanannya. Setidaknya dia tahu bahwa Soraya ternyata tak sejahat ibu tiri dalam cerita sinetron. Itu memberikan satu harapan baik bagi dirinya, dalam kelangsungan hubungan yang dia jalani bersama Dirga .
__ADS_1
Setelah obrolan dari hati ke hati itu selesai, makan malam pun dimulai. Wajah cantik gadis berambut cokelat itu nampak berseri karena bisa merasakan masakan sederhana ibunya. Rasa rindu yang selama ini membelenggu, malam ini telah terobati.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin memberitahu jika nona Rahma sudah datang," ucap Munaroh saat menghampiri Soraya di ruang makan.
Beatrice menatap ibunya karena merasa heran dengan kedatangan Rahma ke rumah ini. Selama ini yang dia tahu, teman-teman sosialita ibunya itu jarang sekali datang ke rumah ini kecuali ada pesta. Akan tetapi kali ini Rahma datang secara tiba-tiba.
"Buatkan dia minuman terlebih dahulu, lima menit lagi akan saya temui," ucap Soraya setelah mengusap ujung bibirnya dengan tissu. Setelah itu Munaroh pun segera pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah dari Soraya.
"Tumben tante Rahma datang menemui Mama di rumah?" tanya Beatrice penasaran.
"Mungkin ada sesuatu yang penting. Mama sendiri tidak tahu ada keperluan apa dia datang kemari," jawab Soraya dengan suara yang terdengar lembut.
Beatrice meneguk minuman yang masih tersisa dan setelah itu dia mengusap bibirnya dengan tissu, "kalau begitu lebih baik aku ke kamar dulu. Sepertinya ada perihal penting yang akan disampaikan tante Rahma," ucap Beatrice seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah. Kita lanjutkan pembicaraan di lain waktu saja. Maaf karena Mama harus menemui tante Rahma terlebih dahulu," ucap Soraya dengan helaan napas yang berat.
Soraya beranjak dari tempatnya dan mengayun langkah menuju ruang tamu untuk menemui si bungsu. Langkah kakinya terdengar menggema di sepanjang jalan menuju ruang tamu. Senyum yang manis mengembang dari bibirnya ketika melihat kehadiran wanita cantik itu di sana.
"Selamat malam, Su," sapa Soraya setelah duduk di samping Rahma, "maaf karena kamu harus menunggu. Aku baru selesai makan malam bersama Bea," ucap Soraya tanpa melepaskan pandangan dari Rahma.
"Aku yang minta maaf karena sudah menganggu waktumu bersama Bea," ucap Rahma dengan suara yang lirih.
Soraya merasa heran dengan sikap Rahma hari ini. Sorot matanya sendu seperti sedang menghadapi masalah yang begitu besar. Simpanan pejabat itu tidak biasanya terlihat sedih seperti ini, "ada apa?" Pada akhirnya Soraya bertanya tentang tujuan Rahma menemuinya di sini.
Bulir air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata setelah mendengar pertanyaan itu. Rahma mendadak melow karena tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Soraya. Dia sendiri bingung harus dari mana menjelaskan semuanya kepada janda kaya raya itu.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu ini, Su? Apa yang membuatmu sesedih ini? Kamu gak punya uang? Atau kamu diputusin mpap mu?" cecar Soraya seraya meraih tubuh Rahma ke dalam dekapan hangatnya. Jiwa keibuannya mendadak muncul ketika melihat sahabatnya menangis seperti itu.
"Kalau kamu tidak mau cerita ya sudah, gak masalah. Menangislah sampai puas agar rasa sesak itu menghilang dari hatimu." Soraya mencoba menenangkan Rahma agar tangisannya segera berhenti.
Cukup lama Rahma menumpahkan semua perasaan dalam dekapan hangat seseorang yang dianggapnya sebagai seorang kakak itu. Setelah lelah dan merasa lega, dia mengurai tubuhnya dan mengambil tissu yang ada di kotak berwarna gold yang ada di meja.
"Aku tuh bingung, Mbak Ay. Aku gak tahu harus bagaimana lagi," ucap Rahma dengan tangan yang tak henti mengusap sisa air mata di pipi mulusnya.
"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Soraya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Rahma yang sembab.
"Aku hamil, Mbak Ay!" ujar Rahma dengan suara yang bergetar.
"Hamil?" Soraya meyakinkan pengakuan yang baru saja diucapkan oleh Rahma.
"Iya. Aku hamil empat minggu." Sorot mata penuh kesedihan terlihat jelas dari mata indah wanita yang menjadi simpanan pejabat itu.
"Kalau begitu bagus, dong! Kamu bisa mengikat mpapmu dalam ikatan pernikahan." Bukannya khawatir akan masa depan sahabatnya itu, Soraya malah setuju dengan kehamilan Rahma.
"Masalahnya tidak semudah itu, Mbak Ay!" Rahma terlihat gusar.
Pada akhirnya Rahma menceritakan bagaimana respon Abraham setelah mengetahui dirinya hamil. Sudah beberapa hari ini Abraham menghilang tanpa kabar. Terakhir bertemu, pria paruh baya itu mengatakan jika tidak bisa menikahi Rahma meski ada bibitnya sedang tumbuh di dalam rahim persinggahan itu. Tetapi pria paruh baya itu menambah nominal uang bulanan untuk Rahma meski menghilang begitu saja.
"Gawat ini, Su. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua ini," gumam Soraya setelah mendengar cerita tersebut.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷...