
Suara gelak tawa memenuhi boarding lounge bandara Soekarno-Hatta, di mana ada empat wanita lintas usia sedang berkumpul bersama. Tak jauh dari tempat para wanita itu, ada dua pria yang sedang berbicara serius. Entah apa yang sedang dibicarakan kedua pria tampan itu.
"Setelah ini aku pasti kesepian. Bea masih betah di Itali," keluh Soraya seraya menatap ketiga temannya.
"Aiih! Jangan seperti itu, aku jadi merasa bersalah, Ay," jawab Astrid sambil mengangkat cangkir mochaccino late miliknya.
"Kamu tuh macam hidup sendiri aja, Ay! Masih ada aku sama si bungsu tuh!" Dena berdecak dengan tatapan yang tertuju kepada Soraya.
"Hmmm ... benar itu! Masih ada kita yang siap menemani Mbak Aya kalau kesepian," timpal Rahma sambil mengunyah roti cokelatnya.
Semua anggota sosialita itu sedang mengantar keberangkatan Astrid ke Kanada. Mereka ingin berkumpul bersama sebelum Astrid pergi jauh dari negara ini. Wanita yang sudah resmi menyandang status janda itu, lebih memilih untuk mencari kebahagiaan bersama putri angkatnya.
"Jangan lupa, aku titip beberapa aset yang ada di sini," ucap Astrid seraya menatap Soraya. Janda baru itu menitipkan beberapa aset yang sengaja tidak dijual.
"Semoga aku tetap seperti ini agar bisa menjaga titipan Mbak As. Ya ... aku takutnya khilaf terus aku jual semuanya," seloroh Soraya hingga membuat Astrid menatap sinis ke arahnya.
"Jangan berubah menjadi wanita menyebalkan!" cibir Astrid.
__ADS_1
Janda baru itu sebenarnya merasa sedih karena harus berpisah dari teman-temannya. Persahabatan yang terjalin cukup lama membuatnya merasa haru ketika menatap satu persatu anggota geng sosialitanya. Mungkin saja, setelah ini dirinya tidak akan menemukan sahabat seperti mereka di Kanada.
"Kenapa melamun sih Mbak As? Jangan sedih dong! Nanti di sana Mbak As gak akan kesepian. Ada Agnes dan anak-anaknya yang akan menemani Mbak As," ujar Rahma ketika tak sengaja melihat kesedihan yang terpancar dari wajah sahabatnya itu.
Astrid hanya mengembangkan senyum tipis ketika kesedihan yang dia sembunyikan diketahui Rahma. Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Astrid sangat berat meninggalkan negara ini. Banyak kenangan yang tertinggal di sini, entah itu kenangan di masa kecilnya ataupun kenangan bersama Handoko. Sekuat apapun mencoba melupakan, tetapi semua tentang Handoko masih terpatri di dalam hati.
"Aku harap kamu dan Dena bisa memiliki pernikahan utuh tanpa ada orang ketiga ataupun perpisahan. Lihatlah, pasangan kalian itu! Bukankah mereka sosok yang sempurna. Jaga pasangan kalian dengan baik," tutur Astrid seraya menatap Richard dan Alexandre yang ada di meja lain. Kedua pria tampan itu nampak akrab dan serius, entah apa yang sedang mereka bahas.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Astrid harus segera pergi karena pesawat yang akan membawanya ke Kanada tak lama lagi akan berangkat. Mereka berempat saling berpelukan sebelum Astrid benar-benar pergi.
"Jaga diri kalian baik-baik. Semoga kita masih bisa bertemu lagi. Jangan lupa liburan ke Kanada," ucap Astrid seraya mengembangkan senyum tipis, "aku berangkat sekarang," pamitnya sebelum membalikkan badan dan berjalan meninggalkan ketiga temannya.
"Aku doakan Bea segera hamil, biar kamu gak kesepian, Ay. Kamu pasti lebih sibuk kalau udah punya cucu," ucap Dena ketika melihat Soraya yang sedang termenung, "ayo kita pulang," ajaknya.
"Bener tuh kata Mbak Dena. Kalau Mbak Aya punya cucu, pasti gak sempat tuh nongkrong bareng kita," sahut Rahma dengan diiringi senyum yang manis.
Ketiga wanita cantik itu berjalan menuju pintu keluar bandara dengan diikuti Alexandre dan Richard. Mereka saling memberikan semangat satu sama lain agar tetap bahagia menjalani hari-hari dengan rasa sepi. Satu persatu masalah yang mereka hadapi telah selesai dan mengantar mereka pada kebahagiaan masing-masing.
__ADS_1
"Sebelumnya aku tidak pernah menyangka jika hidup kita akan seperti ini. Bahkan, aku sempat tidak percaya jika Rahma memutuskan pergi dari pria tua itu dan menikah dengan Richard. Apalagi, kamu, Den! Aku benar-benar tidak percaya jika kamu pada akhirnya mau menikah. Sementara aku dan Astrid memilih sendiri sebagai jalan menuju kebahagian," ucap Astrid seraya menatap sekilas kedua temannya itu.
"Hidupku terlalu rumit deh. Terkadang aku takut sendiri dengan yang namanya karma. Aku tidak siap jika sampai Richard menduakan aku," gumam Rahma dengan suara yang lirih.
"Ah sudahlah! Kita tidak perlu takut menjalani hidup karena akan ada kejutan di setiap harinya. Nikmati saja hari-harimu tanpa memikirkan sesuatu yang masih ada di dalam angan. Jalani saja apa yang ada. Dulu kita ini kaum sosialita yang hanya tahu cara bersenang-senang, lalu untuk apa sekarang kita takut dengan kesedihan atau rasa sakit? Kenapa kita tidak menjadi pribadi seperti dulu saja? Menjalani hari dengan tawa bahagia," cerocos Dena sambil merengkuh pundak kedua temannya karena dia berada di tengah.
Rahma dan Soraya tertawa bersama setelah mendengar penuturan Dena. Mereka tertawa lepas seperti dulu saat sedang bersenang-senang di club malam. Tidak peduli meski ada beberapa pasang mata yang menatap meraka.
Kehidupan sosial keempat wanita lintas usia yang dulu hanya berisi bersenang-senang, kini telah berubah drastis. Mereka telah menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup masing-masing dengan cara yang tak terduga sebelumnya.
...🌹TAMAT🌹...
...🌼🌼🌼🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌼🌼🌼...
...Hallo Assalamualaikum semua😍 Akhirnya karya ini selesai juga😆mohon maaf bila author jarang update di sini sampai tamat🙏 Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan memberikan dukungan selama ini🌹 semoga kalian selalu bahagia seperti anggota sosialita warung remang-remang 😍...
...Cukup sekian dari othor😍sekali lagi mohon maaf bila othor banyak salah di sini. Papay👋👋👋...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...