Sosialita

Sosialita
Sikap dingin Beatrice,


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Sepulang dari angkringan milik mas Jambul, Dirga menjadi galau. Sedikit banyak, saran yang diberikan pria itu merasuk ke dalam pikirannya. Tak salah memang jika mas Jambul mengatakan agar Dirga lebih bisa mengukur kondisi dirinya.


Hingga pagi menjelang, Dirga harus bergegas ke pasar membantu sang ibu. Seperti biasa, pria berusia dua puluh lima tahun tersebut kembali berjibaku dengan sayur-sayuran. Dia juga harus menghadapi keusilan ibu-ibu hebring yang kerap menggoda dirinya. Namun, Dirga tak merasa terganggu sama sekali. Dia menganggap itu sebagai sebuah hiburan semata.


Sekitar pukul delapan, Dirga mengakhiri aktivitasnya di pasar. Dia sudah berniat untuk pulang, karena jam sembilan dirinya harus ke cafe. Namun, kekasih dari Beatrice tersebut tak langsung pulang ke rumah. Dia mampir terlebih dulu ke toko yang berada di depan gang menuju rumahnya.


Toko Mpok Ida. Sebuah toko kelontong yang dikelola oleh seorang ibu-ibu bernama Rosidah, tapi kerap disapa Ida. Rosidah wanita yang baik dan juga ramah, meskipun dirinya adalah termasuk orang kaya di daerah sana.


"Ga, tolong benerin lampu kamar si Mary. Sudah dua malam dia gelap-gelapan di dalam kamarnya," ucap Ida saat Dirga datang ke sana.


"Saya lihat dulu ya, Mpok. Kalau kira-kira ngga memakan banyak waktu, langsung saya kerjain. Namun, jika kira-kira rusaknya agak parah, saya tunda sampai nanti pulang dari cafe," jawab Dirga.


"Iya, ngga apa-apa. Terserah kamu deh, Ga. Buat Mpok sih yang penting dikerjain. Kasian si Mary kalau mau ngerjain tugas mesti keluar kamar," sahut Rosidah. Mary adalah nama anak gadisnya yang sudah menginjak kelas tiga SMA. Nama lengkap gadis itu adalah Maryati. Dia juga gadis yang baik dan ramah, sama seperti ibunya.


"Hai, Bang," sapa Maryati dengan hangat.


"Hai, Mar. Ngga sekolah?" balas Dirga.


"Ngga, Bang. Nanggung kemarin izin dua hari. Aku genapin jadi tiga hari, itu juga berantem dulu sama mami," jawab gadis berambut panjang itu. Dia lalu mendekati Dirga yang sedang memeriksa sambungan listrik di kamarnya. "Bang, yang kemarin itu siapa? Pacarnya Abang ya?" tanya Maryati lagi setengah menggoda.


"Ya, begitulah. Memangnya kenapa, Mar?" Dirga balik bertanya.


"Ngga apa-apa. Aku cuma ngerasa pernah lihat dia, tapi di mana ya?" Maryati tampak berpikir dan berlagak sedang mengingat-ingat.


Dirga yang tengah fokus pada pekerjaannya, berhenti sejenak kemudian menoleh kepada Maryati. "Di mana, Mar?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Di mana ya? Lupa aku, Bang. Entar deh aku ingat-ingat dulu," jawab Maryati. Tak berselang lama, gadis itu membuka ponsel kemudian tampak membalas sebuah pesan yang masuk padanya. "Ah, iya sekarang aku ingat. Aku lihat dia kemarin di toko buku," ucap Maryati terdengar begitu yakin.


"Oh, iya. Dia memang suka membaca, jadi wajar kalau kamu lihat dia di toko buku," sahut Dirga tenang. Dia kembali fokus pada pekerjaannya.


"Iya, kemarin dia di sana sama kakak temen sekelas aku, Bang," ucap Maryati lagi, membuat Dirga kembali menghentikan pekerjaannya. Dirga lalu mengalihkan perhatian kepada gadis remaja di sebelahnya.


"Siapa, Mar?" tanyanya.


"Teman Deket aku namanya Hanna. Hanna punya kakak cowok, namanya Reyhan. Kak Reyhan itu, selain cakep dia juga baik banget, Bang," jelas Maryati membuat Dirga benar-benar menghentikan pekerjaannya.


****


Sementara itu, keheningan terasa di dalam ruang makan mewah milik Soraya. Sudah tiga hari ini, janda kaya raya itu sarapan dengan ditemani rasa sepi dan tiga hari pula dia tidak melihat batang hidung putrinya.


"Bea kenapa gak pernah sarapan ya? Apa dia sakit?" gumam Soraya setelah selesai sarapan.


Tidak sampai satu menit, asisten rumah tangga yang bekerja sejak pertama kali Soraya menempati rumah ini pun datang menghampiri sang nyonya. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat meja makan sambil menunjukkan senyum manis kepada Soraya.


"Apa Bea sakit?" tanya Soraya tanpa basa-basi.


"Tidak, Nyonya. Nona Bea sehat seperti biasanya," jawab pemilik nama lengkap Munaroh itu.


"Apa selama tiga hari ini dia tidak makan?" selidik Soraya seraya menatap wanita paruh baya itu.


"Non Bea selalu makan tepat waktu, Nyonya. Tetapi selama tiga hari ini memang non Bea sarapan setelah Nyonya berangkat bekerja," jelas Munaroh kepada Soraya.


"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu silahkan kembali ke dapur," ucap Soraya tanpa menatap ART tersebut.

__ADS_1


Soraya mendadak bingung ketika melihat sikap Beatrice akhir-akhir ini. Dia mulai menerka apa kiranya yang membuat putri semata wayangnya itu berubah. Soraya mulai mengingat kapan terakhir kali berbicara dengan Beatrice.


"Apa mungkin Bea menjaga jarak dariku setelah kejadian malam itu?" gumam Soraya setelah teringat malam di mana dirinya bertemu dengan Dirga di halaman rumah.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, wanita berambut cokelat itu segera beranjak dari tempatnya. Kali ini dia harus memastikan langsung agar mengetahui penyebab putrinya menjaga jarak. Satu persatu anak tangga pun telah dilaluinya hingga sampai di depan kamar Beatrice. Tanpa mengetuk pintu, dia membuka lebar pintu berwarna putih itu.


"Bea!" sebut Soraya ketika melihat sosok yang dicarinya sedang sibuk membaca buku sambil duduk bersandar di atas ranjang.


Sementara sang pemilik nama hanya menoleh sebentar dan setelah itu fokus kembali ke buku yang ada di atas pangkuannya. Dia seakan tidak mau diganggu oleh siapapun saat ini.


"Ada apa?" tanya Soraya pada intinya.


Beatrice menggeleng pelan sambil menatap Soraya hanya beberapa detik saja dan setelah itu dia fokus kembali dengan buku yang baru sempat dibaca. Sikap Beatrice terlihat dingin hingga membuat Soraya semakin heran dibuatnya.


"Apa kamu sedang sakit?" Soraya memastikan kondisi putrinya yang mendadak aneh itu.


"Tidak." Hanya itu saja jawaban yang lolos dari bibir beatrice.


Soraya hanya bisa menghela napas setelah mendengar jawaban singkat, padat dan jelas dari putrinya. Sikap yang ditunjukkan Beatrice seperti bongkahan es yang tidak bisa dipecahkan. Kalau sudah seperti ini bicara pun rasanya percuma.


"Apa kamu ada masalah dengan Mama, Be?" Soraya masih penasaran dengan penyebab perubahan sikap Beatrice.


"Aku sedang tidak ingin diganggu," pungkas Beatrice tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang terbuka itu. Entah dia benar-benar membaca atau buku itu hanya dipakai untuk pelindung saja agar tidak perlu menatap mata sang ibu.


Rasa sakit tentu dirasakan Soraya saat ini. Sikap yang ditunjukkan Beatrice berhasil melukai hatinya. Seorang ibu pasti akan merasakan hal yang sama ketika anaknya bersikap seperti itu. Kecewa dan sakit hati. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Soraya akhirnya pergi dari kamar itu dengan membawa rasa kecewa yang begitu besar.


Brak! Suara pintu kamar tertutup kembali dengan keras setelah Soraya pergi. Sementara Beatrice hanya bisa menghela napas panjang setelah kepergian ibunya.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


__ADS_2