Sosialita

Sosialita
Senja Di Kampung Eropa.


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah tahu di mana Kampung Eropa?" tanya Soraya setelah Alpianto masuk ke dalam mobil. Sopir pribadi yang selama ini bekerja di tempat Soraya itu baru saja membukakan pintu agar dirinya bisa segera masuk.


"Sudah, Nyonya," jawab Alpianto menatap sekilas kepada sang majikan. Tak lama setelah itu, dia segera masuk lalu menyalakan mesin mobil. Sedan mewah tersebut akhirnya melaju dengan anggun meninggalkan halaman rumah megah milik Soraya. Alpianto mengarahkan kendaraan itu ke jalan yang sudah ditunjukkan oleh salah satu rekannya sesama sopir. Namun, rekan Alpianto itu bukan merupakan sopir pribadi, melainkan sopir angkot.


Siluet jingga yang terbentang di cakrawala barat, pertanda sang raja sinar sebentar lagi akan kembali ke peraduan. Setelah kemarin malam memikirkan dengan matang tentang rencana menemui Dirga. Pada akhirnya, Soraya pergi ke alamat yang diberikan oleh Astrid dengan diantar sopir pribadinya. Janda cantik itu terlihat gugup karena tidak tahu harus bagaimana saat bertemu dengan pria yang digadang-gadang akan menjadi calon menantunya nanti. Segala pertanyaan yang sudah disusun sejak tadi malam sepertinya hanya menjadi angan saja. Akan tetapi, Soraya adalah wanita yang berpendidikan tinggi. Dia tahu bagaimana harus membawa dirinya.


"Kamu yakin ini kampung Eropa?" tanya Soraya ragu. Dia harus memastikan bahwa teman Alpianto tidak memberikan alamat palsu padanya. Jika itu terjadi, bisa-bisa Soraya ke sana-kemari mencari alamat Dirga.


"Yakin, Nyonya. Ini adalah kampung Eropa yang Nyonya maksud. Sesuai dengan petunjuk dari teman saya si Rozi. Dia anak pesantren dulunya. Tidak mungkin berbohong. Dia tahu kalau bohong itu dosa. Kalau dosa nanti masuk neraka," celoteh Alpianto panjang lebar.


"Saya tahu itu," sahut Soraya mengempaskan napas pelan. "Lalu, yang mana Gang Buntu? Sepertinya di sana ada tiga buah gang," pikir Soraya.


"Gang Buntu di ujung itu yang ada toko kelontongnya, Nyonya," jelas Alpianto sambil menunjuk ke arah depan. Dia melajukan kendaraan tadi dengan pelan, apalagi jalanan di sana tidak terlalu bagus. Ada banyak sekali lubang di mana-mana.


"Astaga, jalannya kok gini amat," keluh Soraya yang merasa tak nyaman dengan jalur yang sedang mereka lalui.


"Sepertinya di sini rawan banjir, Nyonya. Makanya jalanannya jelek begini," pikir Alpianto lagi yang masih fokus pada laju mobil. Apalagi perjalanan mereka harus terganggu dengan adanya anak-anak yang bermain bulutangkis dengan menggunakan piring plastik sebagai pengganti raket. "Hey, Dek! Jangan main di jalan," tegur Alpianto dari dalam mobil. Namun, tegurannya tadi tak ditanggapi oleh kedua abege putri yang sedang bermain tadi.


Sementara Soraya mulai terlihat semakin tak nyaman. Bukan hanya karena kondisi jalanan, tapi juga karena lewat satu gang lagi dia akan tiba di tempat tujuan. Perasaan janda satu anak itu kian tak karuan, setelah mobil yang dikemudikan Alpianto sudah melewati gang kedua. Dari dalam kendaraan, Soraya mengamati setiap rumah yang ada dalam area tersebut. "Kenapa berhenti?" tanya Soraya.


"Kita sudah sampai, Nyonya," sahut Alpianto seraya menoleh ke belakang, di mana Soraya berada. Wanita cantik berusia empat puluh lima tahun itu tengah merapikan riasan serta rambutnya yang terawat indah.


Mobil sedan milik Soraya berhenti di depan gang masuk menuju rumah Dirga. Setelah sang sopir membukakan pintu untuknya, barulah janda cantik itu turun. Sebelum melengkahkan kaki jenjang berbalut ankle strap heels itu, Soraya terlebih dulu mengamati keadaan sekitar. Dia pun berdecak pelan sambil menyibakkan sebagian rambut yang jatuh di kening. "Mas Al, tolong tanyakan di mana rumah Dirga putranya bu Astuti," perintahnya kepada sang sopir.


"Baik, Nyonya," sahut pria asal Jawa Tengah tersebut. Dia lalu melihat sekeliling, berharap ada seseorang muncul. Tak berselang lama, dari dalam gang muncul seorang wanita dengan rambut panjang tergerai berwarna ombre. Dia mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan atasan kaos press body berwarna merah muda. Wanita itu juga memakai selop hak lima senti. "Bu," sapa Alpianto sopan.


Wanita yang tiada lain adalah mak Ijem, segera menoleh. Melihat tampilan Alpianto yang rapi dan necis meskipun hanya seorang sopir pribadi, seketika jiwa muda mak Ijem segera terbangkitkan. Wanita dengan lipstik pink rose tersebut segera tersenyum. Sementara Alpianto segera menjaga jarak. Dia malah sempat berpikir bahwa mak Ijem adalah seorang waria. "Ada apa ya, Mas?" sahut wanita berusia setengah abad itu.

__ADS_1


"Saya ingin menanyakan kediaman Dirga putranya bu Astuti. Apa Ibu tahu?" tanya Alpianto yang mulai merasakan getar-getar horor dalam hatinya.


"Oh, Dirga. Tentu saja tahu. Siapa yang nggak kenal sama cover boy daerah sini," jawab mak Ijem seraya mengerlingkan matanya yang berhiaskan bulu mata penolak angin. "Rumah bu Astuti itu ada di sebelah rumah saya, cuma terhalang dua rumah," terang mak Ijem.


"Oh, tapi saya juga belum tahu di mana rumah Ibu," balas Alpianto menanggapi.


"Aduh, panggil saja mbak. Saya merasa sudah tua banget kalau dipanggil 'ibu'. Orang-orang sini juga biasa manggil saya dengan sebutan 'kakak'. Saya sih, nggak masalah mau mbak atau kakak, asal jangan ibu," celoteh wanita paruh baya itu, membuat Soraya merasa jenuh karena terlalu lama menunggu.


Pada akhirnya, Soraya melangkah ke dekat mereka berdua. "Bagaimana, Mas Al?" tanyanya.


"Saya tanya ke yang lain saja, Nyonya," jawab Alpianto. Dia bermaksud untuk menuju ke toko milik mpok Ida. Namun, dengan segera mak Ijem mencegahnya.


"Sudah saya kasih tahu di mana rumah yang Mas maksud. Rumah ibu Astuti yang biasa berjualan sayur di pasar dan seorang tukang pijat urut ada di dekat rumah saya. Rumah saya itu berada di deretan ke lima, yang catnya warna ungu. Nah, di sebelah rumah saya itu adalah rumah bu Dewi. Dia juga janda, suaminya dulu merantau ke Kalimantan tapi nggak pulang-pulang. Di dekat rumah bu Dewi, ada rumah bu Rose. Dia itu galak, punya peliharan herder, tapi ya dia nggak nikah-nikah." Mak Ijem kembali melanjutkan ocehannya yang unfaedah.


Karena pusing dengan penjelasan wanita aneh di hadapannya, Alpianto akhirnya memutuskan untuk bertanya pada beberapa warga yang kebetulan lewat. Mereka terus memperhatikan Soraya yang berpenampilan sangat jauh berbeda dengan kebanyakan warga di sana. Mungkin mereka penasaran dengan wanita yang berdiri tak jauh dari mobil mewah yang terparkir di sisi jalan.


Mak Ijem yang kecewa karena Alpianto bertanya kepada orang lain, segera saja berlalu dari sana sambil menggerutu. Saat itu dia berjalan ke arah toko yang menjual pakan unggas.


"Ya, silahkan saja. Tetap stand by handphone, barangkali saya menghubungimu secara mendadak, dan ingat dengan baik kalau saya tidak akan berlama-lama ada di sini," pesan Soraya dengan tegas.


"Baik Nyonya. Saya permisi dulu," pamit Alpianto sebelum berlalu dari hadapan majikannya.


Helaan napas berat terdengar di sana. Soraya kemudian berjalan memasuki gang meski harus sangat berhati-hati karena kontur jalan yang tidak rata dan juga terdapat beberapa batu kecil. Janda satu anak itu memperhatikan keadaan rumah yang menjadi tempat tinggal kekasih putrinya, sebelum dia memutuskan untuk masuk. Ada sebuah motor butut yang terparkir di depan teras rumah, dengan ukuran tak seberapa luas itu. Soraya tahu betul jika itu adalah motor yang pernah dipakai oleh Dirga untuk mengantar putrinya pulang pada malam itu.


"Ya, sepertinya aku tidak salah rumah," gumam Soraya sebelum melangkahkan kakinya menuju ke pintu rumah tersebut.


Janda cantik tadi melangkah dengan gemulai. Dia terlihat sangat berwibawa dan anggun sore itu. Sebelum mendapatkan penampilan sempurna seperti saat ini, Soraya menghabiskan waktu kurang lebih dua jam untuk bersiap.

__ADS_1


"Permisi, Assalamualaikum," seru Soraya dengan suara yang cukup keras.


"Waalaikumsalam." Terdengar suara sahutan seorang wanita dari dalam rumah. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya yang memakai jilbab instan dengan daster batik berwarna merah pun segera membuka pintu. Dia tertegun untuk sejenak, saat melihat sosok asing di hadapannya.


"Maaf, Bu. Saya sudah melunasi utang beserta bunganya pada awal bulan ini. Saya nggak ada niat untuk mengambil pinjaman dulu, meskipun sedang butuh untuk modal," ucap Astuti dengan tiba-tiba, tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Maaf, saya kemari untuk bertemu dengan Dirga," sanggah Soraya sambil menautkan alisnya.


"Dirga? Oh, Anda siapa, ya?" tanya janda dua anak itu.


"Saya Soraya Rojas, ibunda dari Beatrice," jawab Soraya kembali menunjukkan rasa tak nyaman.


"Owalah, silahkan masuk, Bu," ucap Astuti dengan sikap yang lembut dan sopan.


Soraya tersenyum tipis. Setelah itu, dia mengikuti langkah Astuti masuk ke dalam ruang rumah. Untuk sejenak, dia berdiri di ruang tamu seraya mengedarkan pandangan untuk mengamati apa saja yang ada di ruangan tersebut.


"Silahkan duduk, Bu," ucap Astuti lagi, "maaf rumahnya berantakan," tutur wanita itu merasa tak enak. Dia tahu jika wanita yang sedang duduk berhadapan dengannya itu bukanlah orang sembarangan.


"Maaf jika kedatangan saya merepotkan dan menganggu Ibu sekeluarga, " ucap Soraya membuka percakapan. "Seperti yang telah saya katakan tadi bahwa tujuan saya datang kemari adalah untuk bertemu Dirga. Apa dia ada di rumah?" tanya Soraya tanpa basa-basi lagi lagi.


"Oh si Dirga." Astuti mengangguk pelan, "Anak saya ada di dalam, Bu. Dia sedang mandi," ucap Astuti dengan sikap yang sangat ramah. "Tunggu sebentar ya, saya panggilkan terlebih dahulu," pamitnya seraya berlalu ke bagian lain rumah sederhana tersebut. Sedangkan Soraya hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan.


...🌹To Be Continue 🌹...


...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...


...Happy weekend 😘 Ada rekomendasi karya yang cocok untuk menemani kalian nih😍Kuy baca gratis karya author Hilmiath dengan judul Mafia's Women. Jangan sampai ketinggalan yak🤭Nyesel loh nanti😍 ...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2