
Dirga bernapas lega setelah terlepas dari cengkraman mak Ijem yang meresahkan para pria muda di sekitar tempat tinggalnya. Pria manis tersebut diam sejenak untuk berpikir ke mana dia akan pergi setelah itu. Job Fotografi dan pekerjaan sampingan yang lain tidak membutuhkannya dan hari ini Dirga benar-benar free.
"Ke mas Jambul jam segini belum buka. Terus aku nongkrong di mana ya? Anak-anak juga pasti bekerja di hari sibuk seperti ini." Dirga bergumam dengan bola mata bergerak ke kiri dan ke kanan, saat berusaha mencari tempat yang cocok untuk membuang rasa suntuk di hatinya. Dia masih duduk di atas motor kesayangan sambil membuka kembali ponselnya. Pesan yang dikirim untuk Bea pun belum terbaca hingga waktu menjelang siang.
Setelah menyimpan ponselnya di dalam saku celana, Dirga segera menyalakan motor kesayangannya. Meskipun tujuan pria itu belum pasti, tetapi dia tetap pergi dari rumah. Setelah keluar dari gang tempat tinggalnya, Dirga mengarahkan stang motornya ke kiri dan jarak beberapa ratus meter kemudian, motor berhenti di depan sebuah ruko yang baru saja dibuka oleh pemiliknya.
"Bang, PS nya sudah buka kah?" Setengah berteriak Dirga bertanya kepada pria yang memiliki tato di lengannya itu.
"Udah! Mampir saja tapi teman-temanmu belum pada ke sini," jawab pria tersebut.
Langsung saja Dirga segera mengarahkan motornya ke tempat parkir yang tersedia di depan ruko tersebut. Sebuah tempat rental PS yang masih bertahan di tengah maraknya gadget canggih. Tempat itu tidak pernah sepi karena masih memiliki pelanggan setia setiap harinya, ya ... misalnya seperti Dirga ini.
"Tumben jam segini masih di rumah? Gak ke cafe?" tanya pemilik rental PS tersebut. Dia adalah pria dengan usia sekitar dua tahun lebih tua dari Dirga. Pria itu biasa dipanggil Ucok.
"Lagi off, Bang. Gak ada kerjaan juga," jawab Dirga seraya turun dari motornya. Dia bergegas masuk mengikuti pria bertato tadi.
Seperti biasa, Dirga memilih tempat yang ada di pojok ruangan. Tempat ternyaman yang biasa dia tempati bersama beberapa temannya. Kekasih Beatrice tersebut segera menyalakan tombol yang ada di bagian depan PS tersebut untuk memasukkan kaset. Winning Eleven adalah permainan kesukaannya. Meski akan terasa membosankan karena tidak ada lawan untuk bermain secara langsung, tapi Dirga tetap melanjutkan niat dalam rangka mengusir rasa suntuk dalam dirinya. Akan tetapi, bahkan setelah dia memperoleh kemenangan, itu tak membuatnya merasa puas.
Selang beberapa menit kemudian, satu babak permainan telah selesai. Dirga meletakkan stik berwarna hitam itu untuk merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Sekali lagi dia ingin melihat pesan yang dia kirim kepada Bea tadi pagi.
__ADS_1
"Hah, hanya dibaca saja?" Seketika wajah manis itu berubah masam karena hal itu.
Setelah berpikir beberapa menit, Dirga kembali mengetik pesan untuk kekasihnya yang kini tengah berada ribuan mil dari dirinya. Rasa kesal semakin memenuhi hati pria itu karena perubahan sikap gadis berambut cokelat yang sedang menghabiskan waktu di Spanyol.
Kamu ini kenapa sih, Bea? Kenapa pesanku hanya dibaca saja? Sesibuk apa sih kamu di sana sehingga memberi kabar kepadaku saja tidak sempat? Kamu ini maunya bagaimana? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba saja seperti ini?
Apa perlu hubungan kita ini break sampai kamu memantapkan hati antara memilih aku atau Reyhan?
Dirga mengirimkan pesan panjang lebar untuk Beatrice karena tidak mendapatkan balasan dari kekasihnya itu. Dia meletakkan ponselnya di lantai berlapis karpet itu dan fokus kembali dengan stik PS. Meski tatapan matanya fokus pada layar televisi di hadapannya, tetapi hati dan pikirannya tertuju pada sosok yang berada jauh dari negara ini. Berkali-kali dia melirik ponselnya, tapi ternyata tak ada balasan sama sekali dari gadis yang entah sedang apa di Eropa sana.
Sementara Beatrice yang baru selesai mandi, terlihat begitu kesal saat membaca pesan dari Dirga. Dia melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur. "Dasar laki-laki. Dia yang selingkuh malah nyalahin orang lain. ¡Todos los hombres son iguales! (Semua pria sama saja!)," umpat gadis itu dengan jengkel. Dia tak berniat untuk membalas pesan panjang lebar dari Dirga. Beatrice lebih memilih segera bersiap-siap, karena rencananya hari itu Soraya akan mengajak dia untuk mengunjungi makam sang ayah.
"Masuk saja, Ma!" balas Beatrice dari dalam.
Setelah mendengar jawaban dari putrinya, barulah janda cantik tersebut masuk. Dia sudah tampil sangat cantik dan rapi saat itu. "Bibi Matilde akan menemani kita ke sana, tapi Paquita tidak bisa ikut karena dia harus ke kampus," ujarnya seraya memperhatikan anak gadisnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula, kemarin-kemarin aku sudah menghabiskan waktu berjalan-jalan dengannya," sahut Beatrice sambil merapikan pakaiannya di depan cermin. Setelah menyisir rambut panjangnya, gadis itu pun memberi isyarat bahwa dia sudah siap untuk berangkat. "Apa bibi Matilde yang akan menyetir?" tanya Beatrice yang saat itu mengiringi langkah sang ibu menuju ke luar, tepatnya ke dekat garasi. Di sana Matilde telah siap menunggu di dekat mobil sedan berwarna silver.
"Oh, Bea. Kau sungguh cantik, Sayang," sanjungnya. "Ayo, kita berangkat sekarang. Sebelum cuacanya semakin panas," ajak adik ipar Soraya tersebut seraya masuk ke mobil. Setelah semua duduk manis di dalam kendaraan, Matilde pun segera menyalakan mesinnya.
__ADS_1
"Bibi yakin sudah lulus tes mengemudi?" tanya Beatrice seraya meringis kecil, saat mobil sedan itu mulai melaju perlahan keluar dari halaman rumah.
"Ah, Bea. Jangan meremehkanku, Sayang," sahut Matilde dengan penuh percaya diri.
"Bea pasti belum lupa bahwa dulu kau berkali-kali gagal dalam tes," timpal Soraya dengan diiringi tawa renyah.
"Hey, kau tahu bahwa aku tipe orang yang pantang menyerah. Aku akan terus berjuang sebelum mendapatkan apa yang menjadi tujuanku," sanggah Matilde lagi masih dengan sikapnya yang penuh percaya diri.
"Ya, termasuk saat kau mengejar cinta Carlos," gelak Soraya lagi menanggapi ucapan adik iparnya.
"Tutup mulutmu, Kakak ipar. Jangan jatuhkan harga diriku di depan Bea. Jangan sampai dia tahu bahwa dulu aku jatuh bangun mengejar cinta Carlos," celoteh Matilde lagi sambil terus mengemudi.
"Ya, dan kau baru saja memberitahunya," balas Soraya kembali tertawa. Obrolan ringan dan hangat penuh candaan terus berlangsung antara Soraya dan juga Matilde. Sementara Beatrice lagi-lagi hanya diam termenung memikirkan hubungannya yang tiba-tiba saja kacau dengan Dirga. Lamunan gadis itu baru berhenti, ketika mobil yang dikendarai Matilde telah tiba di komplek pemakaman yang dituju.
Mereka pun turun dan berjalan beberapa meter. Selang beberapa saat, ketiganya telah berdiri di depan nisan berlapis marmer hitam dengan nama Francesco Alvaro Rojas. Soraya pun meletakkan buket bunga yang dia bawa pada pusara sang suami. "Francesco, ini aku. Aku dan Bea datang mengunjungimu setelah sekian lama. Tak terkira betapa besarnya rasa rindu yang kami rasakan untukmu. Sekarang kami telah ada di sini," ucap Soraya. Butiran bening terjatuh dari balik kaca mata hitam yang dia kenakan. Soraya kemudian melirik putrinya.
Beatrice maju selangkah, sehingga jaraknya semakin dekat pada pusara sang ayah. "Papa, aku rindu. Kau adalah pria terbaik yang pernah kukenal dalam hidupku. Kau pria yang penuh tanggung jawab dan selalu memegang tinggi komitmen yang telah dibuat. Kau yang paling setia dan tak pernah berkhianat kepada mamaku. Tak ada pria sebaik dirimu, tidak juga dia," ucap Beatrice pelan.
Akan tetapi, Soraya dapat mendengar itu dengan jelas. Dia segera menoleh kepada putrinya yang tengah tertunduk lesu di hadapan pusara Francesco. Pada akhirnya Soraya tahu alasan Beatrice tiba-tiba mengajaknya pergi ke Spanyol.
__ADS_1
🌹To Be Continue 🌹