Sosialita

Sosialita
Cemburu,


__ADS_3

"Aborsi? Kenapa?" dokter tampan itu seketika membetulkan posisi duduknya. Namun, Rahma tak segera menjawab. Dia melirik sang perawat yang juga berada di ruangan tersebut. Hal itu bisa dipahami oleh dokter Richard. Dia yakin jika pasiennya kali ini pasti memiliki masalah yang teramat pribadi dan sungkan untuk dia utarakan di depan banyak orang.


"Baiklah, Nyonya Rahma. Jika Anda mau, saya bisa memberikan jadwal konseling secara pribadi. Kita bisa membahas itu nanti," tawarnya.


"Benarkah? Tentu saja, Dok. Saya ingin berkonsultasi terlebih dulu sebelum mengambil keputusan. Dokter pasti jauh lebih tahu dan bisa memberikan saran terbaik untuk saya," sahut Rahma dengan antusias.


"Ya, tentu. Kebetulan besok saya hanya praktik di rumah sakit. Jadi, kita bisa bertemu untuk membahas masalah ini seusai jam praktik saya selesai. Bagaimana?" tawar dokter Richard lagi. Selain tampan, ternyata dokter itu juga begitu ramah dan hangat.


"Baiklah, Dok. Saya setuju," sahut Rahma dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia lalu menerima kartu nama yang disodorkan oleh dokter Richard kepada dirinya. Setelah itu, Rahma pun memasukkannya ke dalam dompet.


"Akan tetapi, untuk saat ini saya sarankan Anda tetap menjaga kandungan dengan baik. Jangan lakukan hal macam-macam yang bisa membahayakan kesehatan calon janin Anda sampai kita membahas ini dengan serius," pesan dokter Richard lagi menekankan kepada Rahma.


"Iya, Dok. Anda tidak usah khawatir. Saya tidak akan bertindak yang macam-macam," jawab Rahma. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya, kemudian pamit dan keluar dari dalam ruang praktik. Setelah membayar tarif periksa, Rahma melanjutkan langkah menuju ke apotik untuk menebus resep.


Selagi menunggu obat, Rahma duduk di kursi yang telah disediakan. Saat itu, dia asyik bermain ponsel, hingga sebuah sapaan terdengar dan mengalihkan perhatiannya. "Jeng Rahma? Apa kabar?" sapa seorang wanita paruh baya seraya langsung duduk di sebelahnya.


Rahma terkejut melihat wanita itu. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. "Eh, Jeng Rima. Kok ada si sini?" tanya Rahma sok ramah.


"Iya, nih. Kebetulan kan suami Julia lagi ke luar negeri, jadi saya yang harus menemaninya periksa," jawab wanita bernama Rima tersebut seraya menunjuk putri bungsunya yang tengah hamil muda. Wanita bernama Julia itu tersenyum ramah seraya mengangguk sopan. "Jeng Rahma sedang apa di sini?" tanya Rima heran.

__ADS_1


"Oh, saya hanya cek masalah kewanitaan, Jeng," jawab Rahma. Sebenarnya dia tak nyaman harus berbincang dengan wanita bernama Rima tersebut, karena dia merupakan istri sah dari Abraham Lie, si mpap tersayang ayah dari janin yang tengah dikandungnya.


"Oh, apa Jeng Rahma ada masalah?" tanya Rima penasaran.


"Ah, tidak. Saya hanya cek berkala," kilah Rahma. "Oh, putri Jeng Rima sudah hamil berapa minggu?" Rahma mengalihkan pembicaraan.


"Ini sudah mau enam belas minggu," jelas Rima.


"Eh, tapi kok kecil ya. Maih terlihat langsing," ujar Rahma.


"Ya, memang seperti saya dulu. Saya juga hamil dua kali masih dikira tidak sedang hamil, Jeng," terang Rima. "Oh, iya. Saya senang loh, karena menyambut cucu kedua dari Julia, suami saya jadi makin perhatian sama keluarga. Cuma anehnya dia seperti orang yang sedang ngidam," tutur Rima seraya menautkan alisnya.


"Maksudnya?" tanya Rahma.


Rahma ikut tertawa. Sesuatu yang sangat dipaksakan olehnya. Dalam hati dia merasa begitu terluka saat membayangkan Abraham tengah bermesraan dengan istri sahnya, sementara dia sendiri tengah berjuang melawan rasa mual yang mendera dan begitu menyiksa.


"Keterlaluan kamu, mpap!" gerutu Rahma dalam hatinya. Namun, lagi-lagi Rahma harus terus menyembunyikan perasaan kesal tersebut dari hadapan Rima.


Cemburu. Ya, mungkin saja Rahma sedang mengalami rasa itu. Dia merasa jika hari ini adalah hari yang terburuk di sepanjang hidupnya. Bertemu dengan istri sah pria yang selama ini ada bersamanya dan mendengar bagaimana sikap pria matang itu dibelakangnya.

__ADS_1


"Jeng Rahma kapan ikut arisan lagi bersama kami?" tanya Rima setelah teringat jika wanita sosialita yang ada di sisinya itu sudah lama menghilang dari circlenya. Tentu 'kami' yang dimaksud Rima adalah geng sosialitanya bersama istri para pejabat yang lain.


"Aduh maaf ya, Jeng. Saya belum bisa memastikan kapan bisa ikut lagi karena setiap hari harus menemani ...." Rahma menghentikan ucapannya. Hampir saja dia menyebut sosok pria yang menyebalkan akhir-akhir ini.


"Ah, jadi Jeng Rahma sudah punya pasangan nih, aduh selamat ya, Jeng. Saya tunggu undangannya ya." Rima menyambut kabar tersebut dengan semangat dan tentu dengan binar bahagia. Padahal, jika dia tahu siapa pasangan Rahma selama ini, tidak mungkin bisa bersikap seperti itu.


Sementara Rahma hanya bisa menampilkan senyum palsu di hadapan istri sah Abraham Lie itu. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Rima.


"Saya berdoa semoga Jeng Rahma mendapatkan pasangan yang baik, setia, bertanggung jawab, penyayang dan tentu kaya raya seperti suami saya. Hmmm tidak ada pria setia seperti bapaknya anak-anak, Jeng. Saya bersyukur karena memiliki Abraham dalam hidup saya," ucap Rima dengan percaya diri. Namun, belum sempat Rahma menanggapi kalimat panjang tentang suaminya itu, nama Julia dipanggil oleh perawat. Terpaksa Rima dan Julia pun harus pamit kepada Rahma sebelum pergi.


"Cih! Setia, baik, tanggung jawab dan penyayang! Terlalu bodoh Anda! Jika saja Anda tahu ada benih Abraham yang tumbuh dalam rahim saya, bisa kena serangan jantung Anda!" umpat Rahma dengan suara yang lirih.


Pikiran wanita cantik itu kembali mengingat sosok yang baru saja diceritakan oleh Rima itu. Rasanya, Rahma ingin menemui Abraham di kantor dinasnya saat ini juga untuk meminta pertanggung jawaban pria itu. Namun, dia tidak memiliki keberanian yang besar untuk melakukan semua itu.


"Ck. Sial! Si tua bangka itu ternyata bersenang-seneng dengan istrinya! Enak banget dia main semalam dua kali, sementara aku harus muntah-muntah sendiri akibat ulahnya!" Rahma masih menggerutu karena sangat kesal saat membayangkan bagaimana 'mpap'nya itu saat bermain bersama istrinya.


Rahma beranjak dari tempatnya setelah mendengar seorang Apoteker memanggil namanya. Dia segera membuka dompet untuk mengambil beberapa lembar rupiah untuk membayar obat tersebut. Lantas, dia pun keluar dari klinik tersebut dan memutuskan untuk kembali ke apartment. Wanita cantik itu membuka ponselnya setelah mendapat notifikasi pesan dari nomor tak dikenal.


Mpap ada di apartment sekarang. Cepatlah pulang.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2