
Segala persiapan untuk keberangkatan ke Madrid telah selesai. Proses pengurusan paspor milik Soraya dan juga Beatrice telah selesai, hanya dalam jangka waktu dua hari saja. Hari itu, Soraya harus mengambil semua dokumen tersebut di kantor Imigrasi. Urusan pekerjaan pun sudah diserahkan sementara kepada asisten yang biasa membantu Soraya dalam mengurus perusahaan. Janda empat puluh lima tahun tersebut tidak tahu apa alasan yang membuat putrinya ingin segera berangkat ke Madrid. Satu hal yang pasti, Soraya hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Beatrice, dengan berlibur ke tempat yang dipenuhi kenangan tentang Francesco dan masa kecil Beatrice.
"Bea, apakah semua barang-barangmu sudah siap?" tanya Soraya saat masuk ke dalam kamar putrinya.
"Sudah, Ma. Aku sudah mengemasi semua barang-barang yang penting-penting saja," jawab Beatrice. Dia sedang sibuk dengan beberapa buku yang akan dibawanya nanti ke Spanyol.
"Ya sudah kalau begitu Mama mau ke kantor Imigrasi dulu untuk mengambil pasport kita," pamit Soraya sebelum keluar dari kamar putrinya.
Siang itu, Soraya harus pergi ke kantor Imigrasi untuk mengambil dokumen penting yang akan dibawanya nanti sekaligus ke tempat Dena. Dia hendak mengambil tiket pesawat yang dipesan melalui agen milik lajang berusia empat puluh lima tahun tersebut. Sepertinya hari itu Soraya akan disibukkan dengan urusan dokumen keberangkatan menuju Madrid. Dia senang karena Beatrice akhirnya mau terbang ke tempat kelahiran ayahnya.
Mobil mewah yang membawa Soraya melaju dengan anggun, keluar dari halaman rumah megah milik janda pengusaha Spanyol tersebut. Tanpa bertanya untuk yang kedua kalinya, Alpianto segera mengarahkan kemudi mobil menuju kantor Imigrasi yang cukup jauh dari kediaman Soraya.
"Cari jalan alternatif saja agar lebih cepat sampai. Kantor Imigrasi sepertinya tidak lama lagi akan tutup," saran Soraya setelah membaca pesan dari salah satu rekan yang bekerja di kantor tersebut.
"Baik, Nyonya." Alpianto mengangguk pelan setelah mendengar perintah dari Soraya.
Mobil mewah itu semakin melaju kencang karena jalanan kota cukup senggang di siang hari. Jalan alternatif tercepat telah dipilih Alpianto agar sang majikan segera sampai di tempat tujuan. Kelihaian sopir yang sudah bekerja selama empat tahun bersama Soraya itu memang tidak bisa diragukan lagi. Dalam kurun waktu empat puluh lima menit, mobil yang dikendarainya pun sampai di halaman luas kantor tersebut.
"Terima kasih," ucap Soraya kepada Alpianto setelah keluar dari mobilnya. Sementara sang sopir pribadi itu membungkuk hormat sambil memegang gagang pintu mobil tersebut.
Soraya melepas kaca mata hitam branded miliknya setelah masuk ke dalam kantor tersebut. Dia segera menuju meja resepsionis untuk mengutarakan tujuannya datang ke kantor itu.
__ADS_1
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan pak Ferdy. Di mana saya harus menemui beliau?" tanya Soraya.
"Dengan Ibu Soraya Rojas, ya?" Resepsionis tersebut memastikan siapa wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
"Iya benar. Saya sudah membuat janji dengan pak Ferdy sebelumnya." Soraya menunjukkan pesan yang dikirim pria bernama Ferdy itu.
"Bu Soraya sudah ditunggu pak Ferdy di ruangannya. Silahkan masuk ke ruangan nomor dua dari ujung koridor sebelah kanan," jelas Resepsionis tersebut sambil menunjukkan arah yang dimaksud.
"Terima kasih." Soraya tersenyum manis sebelum pergi menuju ruangan yang dimaksud.
Janda cantik Francesco Rojas itu berjalan menuju ruangan Ferdy dengan langkah yang gemulai. Pembawaan yang anggun dan elegan mampu menyihir beberapa kaum pria yang ada di sana. Mereka berdecak kagum melihat kecantikan wanita berambut cokelat itu hingga sang empunya menghilang di balik pintu ruangan yang dimaksud.
"Oh, Bu Soraya. Selamat siang. Aduh, senang sekali bisa dikunjungi Bu Soraya di sini," sambut pria bernama Ferdy tersebut. Ferdy adalah pria berusia hampir sama dengan Soraya. Kebetulan, mereka saling kenal karena istri Ferdy merupakan langganan perhiasan dari toko milik janda cantik yang selalu terlihat segar itu.
"Saya ada keperluan di sini, pastinya saya datang kemari dong, Pak," balas Soraya seraya duduk setelah dipersilakan oleh Ferdy.
"Ya, tentu saja," sahut Ferdy lagi seraya tergelak. "Baiklah, Bu. Semua kelengkapan dokumen sudah siap. Silakan." Pria dengan rambut cepak yang sudah bercampur uban itu menyodorkan seluruh dokumen yang telah selesai diurus kepada Soraya.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya, Pak," ucap Soraya. Dia bermaksud untuk beranjak dari duduknya.
Namun, janda anak satu itu harus mengurungkan niatnya, ketika Ferdy kembali berbicara. "Saya juga sebentar lagi pulang, Bu Soraya," ujarnya.
__ADS_1
"Oh, begitu. Lalu?" tanya Soraya tak mengerti.
"Sekitar dua ratus meter dari sini, ada kedai sushi yang baru dibuka. Kata teman-teman yang sudah ke sana, tempatnya asyik. Kental dengan nuansa Jepang. Selain itu ada banyak pilihan menu lainnya. Sayang sekali, saya belum ada waktu buat makan di sana," jawab Ferdy menjelaskan, membuat Soraya seketika mengernyitkan kening.
"Maksud Anda?" tanya Soraya lagi.
"Ya, barangkali Bu Soraya berminat makan di sana juga. Kita bisa berangkat bersama dan duduk di satu meja. Bukannya itu lebih asyik, karena jadi ada teman ngobrol," sahut Ferdy lagi, membuat Soraya dapat memahami sesuatu. "Bagaimana, Bu Soraya?" tawarnya lagi.
Soraya memaksakan diri untuk tersenyum. Tiba-tiba dia merasa begitu ilfil dengan pria di hadapannya tersebut. Jelas saja Ferdy bukanlah tipe pria idaman Soraya. Melihat kumisnya saja yang terlalu tebal, telah membuat Ferdy terdepak jauh dari sepuluh daftar kriteria pria idaman Soraya.
Janda empat puluh lima tahun itu pun mendehem pelan. "Aduh maaf, Pak Ferdy. Kebetulan saya masih harus ke tempat lain. Lagi pula, saya bukan penyuka sushi. Saya lebih senang dengan makanan khas Mediterania. Jadi, maaf jika saya menolak ajakan Anda," tolak Soraya dengan tutur kata yang halus. Dia lalu melihat arloji di pergelangan kirinya. "Astaga, Dena pasti sudah menunggu. Baiklah, Pak. Terima kasih atas bantuannya. Permisi," pamit Soraya seraya beranjak dari duduknya.
"Bu Soraya tunggu," cegah Ferdy lagi. Soraya pun kembali tertegun dan menoleh.
"Saya tahu restoran yang menyajikan masakan Mediterania dengan cita rasa luar biasa. Kalau Bu Soraya mau, kita bisa buat jadwal untuk icip-icip ke sana," ajak Ferdy lagi pantang menyerah.
"Saya akan berangkat ke Spanyol. Di sana saya akan berwisata kuliner. Jadi, Anda ajak saja bunda Reni untuk pergi ke sana," tolak Soraya lagi. Dia lalu membalikkan badan dan berlalu dari hadapan Ferdy. Soraya melangkah sambil meringis kecil. Tak pernah disangka bahwa dirinya akan mendapat perlakuan seperti itu. "Gue laporin bini lu baru tahu rasa," gumam Soraya seraya masuk ke mobilnya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1