
"Astaga! Kurang ajar sekali si bungsu ini, Mbak!" umpat Soraya dengan helaan napas yang berat. Dia menatap Astrid yang ada di sisinya. Ratu lebah itu sedang merapikan bulu mata anti badai yang melekat di matanya.
"Tau nih si Bungsu! Masa nikah dadakan begini! Tiga hari mana cukup untuk pesan gaun mewah. Astaga!" balas Astrid yang masih sibuk dengan bulu matanya.
Sepuluh hari sejak pertemuan dua keluarga besar telah berlalu. Soraya melewati hari-hari dengan penuh suka cita, karena dia bisa melihat putri semata wayangnya tersenyum ceria. Apalagi yang dirasakan seorang ibu selain kebahagiaan, saat melihat binar indah yang terpancar dari sorot mata putrinya. Namun, ada satu moment luar biasa yang membuat Soraya merasa geram, yaitu kabar pernikahan Rahma.
Ya, mantan pelakor itu menikah hari ini. Dia memberi kabar pada ketiga temannya dalam kurun waktu tiga hari dari waktu pernikahannya. Pernikahan itu digelar secara tertutup di kediaman dokter Richard. Tidak ada resepsi pernikahan ataupun sekadar melaksanakan gala dinner bersama kolega. Hanya keluarga inti dari dokter Richard dan ketiga teman Rahma yang akan menghadiri pernikahan tersebut.
Mobil mewah milik Soraya yang dikendarai Alpianto akhirnya sampai di halaman luas rumah megah dokter Richard. Kedua wanita itu segera keluar dari mobil. Tak lupa mereka merapikan gaun masing-masing sebelum berjalan memasuki kediaman megah itu.
"Awas saja nanti! Si bungsu harus diberi pelajaran, Ay!" gerutu Astrid saat berjalan menuju teras rumah. Pasalnya ratu lebah itu sendiri belum sempat memikirkan kado untuk Rahma.
Kedua wanita sosialita itu akhirnya sampai di dalam ruang tamu yang sudah didekorasi dengan bunga-bunga indah. Tempat akad nikah pun sudah disiapkan di sana. Kedatangan mereka disambut oleh Rahma dan dokter Richard.
"Pernikahan macam apa ini, Su! Astaga ... kenapa mendadak sekali!" protes Soraya setelah berdiri di hadapan Rahma.
Sementara Rahma dan dokter Richard hanya mengulum senyum mendengar protes dari Soraya, "maaf Mbak Ay. Kami sengaja merahasiakan semua ini, karena jika kami memberitahu dari jauh hari, nanti Mbak Aya dan Mbak Astrid rempong persiapan. Lagi pula Mbak Dena juga masih di Swedia," jelas Rahma seraya menatap Soraya.
"Hmmm ... jangan bilang kalau kamu hamil duluan, Su!" sahut Astrid sambil memicingkan matanya.
__ADS_1
"Sembarangan!" Rahma tidak terima dengan tuduhan itu, "kami belum melakukan itu, Mbak As! Iya kan, Sayang?" Rahma mengerlingkan mata ke arah Richard. Dokter kandungan itu hanya tersenyum tipis saat menanggapi ucapan wanita yang akan menjadi istrinya setelah ini.
Tak berselang lama penghulu beserta petugas KUA yang lain tiba di sana. Semua orang berkumpul di ruang tamu untuk menjadi saksi pernikahan kedua pengantin yang tak muda lagi. Sebelum melakukan akad nikah, penghulu memberikan beberapa nasihat pernikahan kepada kedua mempelai. Hingga tiba saatnya, penghulu tersebut menjabat tangan Richard dengan mengucapkan akad nikah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Ayu Pujiningdyah binti Zainuddin Abdillah dengan mas kawin tersebut, tunai," ujar Richard dengan fasih.
Seketika air mata menggenang di pelupuk mata mantan pelakor itu. Dia merasa terharu karena pada akhirnya bisa menjadi seorang istri dari pernikahan sah, tanpa harus merebut milik orang lain. Rahma berharap ini adalah pernikahan yang pertama dan terakhir.
"Silahkan tanda tangan di sini," ucap penghulu setelah membacakan doa pernikahan untuk kedua mempelai. Penghulu tersebut memberikan dua surat nikah untuk mereka.
Sementara itu, Astrid dan Soraya merasa terenyuh melihat bagaimana Rahma bisa tersenyum bahagia. Kedua senior itu merasa lega karena pada akhirnya Rahma menemukan pria yang tepat dalam hidupnya. Harapan mereka adalah semoga Richard bisa menerima semua kekurangan Rahma dan bisa membimbing wanita itu menjadi sosok yang lebih baik.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Soraya saat menemui kedua pengantin tersebut, "aku harap setelah ini kehidupan rumah tangga kalian bahagia." Soraya mengembangkan senyum yang manis di hadapan Rahma.
"Terima kasih atas semua kebaikan mbak Aya kepadaku." Rahma memeluk Soraya dengan erat, dia merasa memiliki banyak hutang budi kepada janda kaya raya itu.
"Semoga pernikahan kalian langgeng ya. Aku harap kalian bisa kompak mengarungi bahtera rumah tangga ini meski dihadang badai besar," ucap Astrid seraya menatap Rahma dengan lekat, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Richard, "tolong jaga adik kami, jangan sampai dia terluka apalagi karena orang ketiga. Ya ... meski Anda sendiri tahu bagaimana dia dulu. Aku titipkan Rahma kepada Anda," tutur Astrid seraya menatap Richard penuh arti.
Jiwa keibuan Astrid muncul di saat seperti ini, karena momen bahagia ini mengingatkannya pada pernikahan Agnez dulu. Lagi pula ratu lebah itu sudah menganggap Rahma bagian dari hidupnya, dia merasa jika sangat dekat dengan ketiga teman sosialitanya itu.
__ADS_1
"Yaaah ... acaranya sudah selesai!" Tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita di sana, hingga membuat ketiga wanita cantik itu menoleh ke sumber suara.
"Dena!" teriak ketiga karena terkejut melihat lajang bukan perawan itu ada di sana bersama pria mirip bule yang tak lain adalah Alex.
"Kenapa kamu tidak menungguku, Su! Astaga ... sia-sia aku ngebut pulang jika aku tidak bisa melihatmu menikah!" cerocos Dena saat berjalan menghampiri ketiga temannya.
"Lah Mbak Dena kan gak bilang kalau mau pulang," sanggah Rahma seraya menatap wanita yang terlihat lebih cantik setelah berada di Swedia cukup lama.
"Jam tujuh pagi aku baru sampai di Indonesia. Setelah dari bandara aku langsung ke sini agar bisa melihat kamu menikah, Su. Ya ... tapi sayangnya telat!" Dena menghela napasnya yang berat.
"Hei perawan tua! Kalau baru datang itu salaman dong! Gak nyerocos mulu! Sopan dikit napa!" protes Astrid seraya menatap sinis ke arah Dena.
"Oh ya ampun! Aku sampai lupa jika belum menyapa kalian," ujar Dena saat menatap Soraya dan Astrid bergantian.
Dena menghampiri kedua wanita senior itu untuk melepas rindu yang menggebu. Dena membiarkan Alex berdiri seorang diri sambil menunggu dirinya yang sedang asik bercengkrama. Sementara Rahma hanya mengamati ketiga temannya. Sesekali dia ikut menimpali pembicaraan Dena. Namun, ada satu hal yang membuat Rahma memicingkan matanya. Setelah dia mengamati tangan Dena, lantas dia mengamati tangan Alex. Ada persamaan yang dia temukan di kedua tangan pasangan kekasih itu.
"Tunggu. Kenapa cincin Mbak Dena sama dengan Alex. Oh, jadi rupanya kalian sudah bertunangan juga?" selidik Rahma tanpa melepaskan pandangan dari Dena yang mendadak salah tingkah.
...🌹To Be Continue 🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...