
Langit mulai redup karena bola raksasa berwarna jingga di ujung barat bersiap kembali ke peraduan. Rona jingga terlukis indah di ujung barat menemani keempat wanita lintas usia yang sedang berkumpul bersama. Ya, mereka tak lain adalah anggota geng sosialita WRR. Sejak satu jam yang lalu mereka berkumpul di rooftop lantai tiga yang ada di kediaman Dena.
"Aku gak nyangka jika kamu punya ide membuat tempat senyaman ini di rumah, Den," gumam Soraya saat mengamati tempat yang baru selesai di bangun oleh perawan tua itu.
"Ya semua itu karena aku sudah bosan bersenang-senang di club malam atau di tempat yang lain. Setelah ini mungkin aku akan menghabiskan waktuku di sini. Aku harap kalian bersedia berkumpul di rumahku," jawab Dena sambil mengedarkan pandangan. Dia sedang mengamati mini bar mewah miliknya.
Entah berapa lembar rupiah yang sudah dihabiskan Dena untuk mengubah rooftop rumahnya menjadi nyaman seperti itu. Ada mini bar mewah, meja bilyard dan tempat bersantai dengan pemandangan kota jakarta yang padat. Lajang berusia empat puluh lima tahun itu memang tak pernah main-main dengan apa yang diinginkannya.
"Ya ya ya. Sepertinya aku pun lebih suka berkumpul di sini. Kalian tahu sendiri kan aku bukan orang kaya lagi," seloroh Rahma sambil menyilangkan kakinya.
"Aku lebih suka dirimu yang sekarang, Su," sahut Astrid setelah meletakkan gelas minumnya, "semenjak kamu meninggalkan pejabat itu, aku rasa kamu banyak berubah, Su. Apa semua itu karena dokter Richard?" selidik Astrid dengan tatapan mata yang tak lepas dari Rahma.
"Dia kemarin malam dijemput si Richard loh, Mbak As," sahut Soraya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Hmmm ... jangan bilang jika kalian habis bercocok tanam!" tuduh Astri sambil mengarahkan jari telunjukknya ke arah Rahma.
"Enggak. Kami hanya makan malam bersama dan setelah itu dia mengantarku pulang ke apartment," jelas Rahma tanpa ada yang ditutupi.
Kehidupan Rahma berubah seratus delapan puluh derajat sejak hubungannya bersama Abraham kandas di tengah jalan. Kemewahan dan kesejahteraan hidup tak lagi seperti dulu. Kini, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu bekerja di tempat Soraya. Janda cantik itu memberinya kepercayaan untuk mengelolah cabang baru toko perhiasan dan untuk tempat tinggal, Soraya menyuruh Rahma untuk menempati salah satu unit apartemennya. Sebagai sahabat, tentu Soraya tidak tega jika membiarkan Rahma hidup susah tanpa penghasilan dan tempat tinggal. Dia merasa iba dengan wanita sebatang kara yang hidup sendiri di tengah kerasnya ibukota.
"Den, bagaimana kabarmu dengan Alex?" tanya Astrid kepada wanita yang sedang asyik mengisap rokoknya.
"Dih kepo banget sih!" Dena berdecak kesal setelah ada pembahasan tentang Alex. Bukan tidak mau menanggapi pertanyaan dari ratu lebah itu, dia hanya malu jika harus menceritakan bagaimana hubungannya bersama Alex.
Pembahasan itu harus terhenti ketika ponsel Soraya berdering. Mereka tak ada yang bersuara selama Soraya melakukan panggilan bersama Beatrice. "Oke sebentar lagi mama pulang," ucap Soraya sebelum mengakhiri panggilan bersama Beatrice.
"Ada apa, Ay?" tanya Dena setelah mengepulkan asap rokoknya ke udara.
__ADS_1
"Aku harus pulang karena Beatrice akan pergi bersama pacarnya," jawab Soraya sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Oh, apakah itu berarti kamu sudah merestui hubungan mereka Ay?" tanya Astrid seraya menuang anggur ke dalam gelasnya.
"Aku belum pernah membahas masalah restu, aku hanya ingin Beatrice bahagia itu saja," jelas Soraya. "Aku harus pulang sekarang. Next time kita kumpul di sini lagi," pamit Soraya sebelum pergi meninggalkan ketiga temannya.
Tak berselang lama setelah kepergian Soraya, Astrid dan Rahma pun ikut pamit dari kediaman Dena. Kedua wanita cantik itu pun akhirnya turun dari rooftop dan pulang ke rumah masing-masing.
Kini, tingalah Dena sendiri di sana menatap petang yang sudah menjelang. Asap tipis mengepul dari sebatang rokok yang tengah dia isap. Sesekali, Dena menggaruk keningnya. Wanita itu termenung untuk beberapa saat, hingga seorang asisten rumah tangga datang menghampirinya.
"Maaf, Mbak. Ada tamu," lapor wanita paruh baya yang mengenakan daster merah bermotif batik.
"Siapa?" tanya Dena seraya mematikan sisa rokoknya di dalam asbak.
"Bule, Mbak. Orangnya tinggi, cakep, hidungnya mancung," sahut wanita itu lagi.
Seketika pikiran Dena langsung tertuju kepada Alexandre. Lajang empat puluh lima tahun tersebut tiba-tiba menjadi salah tingkah. "Suruh langsung ke sini saja," titah Dena. Dia buru-buru merapikan rambut panjangnya yang tadi disanggul asal-asalan menggunakan sebuah jedai. Dena juga membetulkan pakaian yang dia kenakan, tepat dengan terdengarnya sebuah suara berat dari arah belakang. Seketika Dena menjadi semakin salah tingkah.
"Hai, kamu dari mana?" balas Dena. Semenjak kejadian tempo hari, kedekatan di antara mereka berdua memang menjadi lebih baik. Tak ada lagi pertengkaran seperti biasanya.
"Aku sengaja datang kemari," jawab bule asal Swedia itu menatap Dena sambil tersenyum lembut. "Kuharap tidak mengganggumu," ucapnya lagi.
"Ah tentu saja tidak. Teman-temanku baru saja pulang dari sini," sahut Dena.
"Syukurlah," balas Alexandre. Dia masih menatap Dena dengan lekat. "Aku akan pergi ke Stockholm minggu depan. Apa kamu mau ikut?" tawar pria tampan bertubuh jangkung itu.
"Aku? Denganmu?" Dena menunjukkan raut tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Keluarga besar papaku ada di sana. Aku harus menjenguk keadaannya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan papaku," jelas Alexandre. "Kita bisa sekalian berlibur. Kamu pasti akan menyukainya."
Dena tak segera menjawab. Lajang empat puluh lima tahun itu hanya tersenyum. Apalagi karena saat itu tiba-tiba Alexandre memegangi tangannya. "Aku ingin memperkenalkanmu pada papaku. Semoga kamu tidak keberatan," ucapnya kemudian.
Dena kembali tersenyum. Darah dalam tubuhnya berdesir dengan cepat, ketika Alexandre memainkan jemari, lalu mencium punggung tangan dengan mesra. "Memangnya kamu akan berapa lama di sana?" tanya wanita cantik itu.
"Aku biasa menghabiskan waktu hingga satu atau dua minggu. Namun, jika kamu mau kita bisa mengaturnya lagi. Mungkin kita bisa mengisi waktu dengan keliling Eropa," tawar Alexandre pada akhirnya.
"Wow, keliling Eropa. Aku pasti menyukainya. Lagi pula, sudah lama aku tidak pergi dan terus berkutat dengan pekerjaan," balas Dena.
"Kalau begitu, artinya kamu mau?" Alexandre meyakinkan.
"Ya, kenapa tidak," jawab Dena kembali tersenyum. Kali ini, senyuman yang jauh lebih lebar.
"Ini pasti akan menjadi perjalanan yang menyenangkan. Aku harap kita bisa bersenang-senang bersama dan mengukir momen yang tak terlupakan," ucap pria berambut cokelat itu.
"Dari awal kita bertemu memang sudah menjadi momen yang tak terlupakan bagiku," sahut Dena geli. "Kita benar-benar konyol saat itu."
"Astaga." Alexandre tertawa renyah. Dia belum juga melepaskan genggamannya dari tangan Dena. Pria itu justru semakin erat melakukannya. Dia pun bertindak dengan semakin berani. Alexandre merengkuh pundak Dena, membuat wanita pemilik perusahaan travel tersebut segera meletakkan kepalanya di pundak si pria. Tak lupa, Alexandre juga mengecup kening Dena dengan mesra.
Tak pernah ada ikrar cinta di antara mereka berdua. Segala kemesraan yang terjalin itu berjalan dengan begitu saja. Dena pun sepertinya tidak butuh sebuah pernyataan, karena sikap yang ditunjukkan Alexandre padanya sudah jauh mewakili kata cinta terindah sekalipun.
...🌹To Be Continue🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Hallo semua😍Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍Kuy baca karya author Eni Pua dengan judul Gairah Cinta Kakak Angkat. Yuk gercep biar gak ketinggalan ceritanya😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...