
Prosesi akad nikah telah diselesaikan. Acara berlanjut pada resepsi yang mengusung tema pesta kebun. Soraya menyulap halaman belakang rumahnya yang luas menjadi arena pesta yang indah. Di tangan wedding organizer ternama, dia menampilkan seberapa tinggi kelas sosialnya di hadapan para tamu undangan.
Gelak tawa, canda riang menghiasi jalannya pesta. Ada banyak rekan dan kolega bisnis dari kedua belah pihak yang datang dan turut menjadi saksi kebahagiaan, dari pengukuhan jalinan cinta antara Beatrice dan Dirga.
Saat ini, apa yang sedari dulu Beatrice inginkan akhirnya dapat terwujud. Restu yang lama dinanti, datang jua. Pesta pernikahan yang indah nan mewah pun berlangsung. Di hadapan semua orang, dengan bangga Dirga menyatakan bahwa gadis cantik blasteran Spanyol tersebut sebagai istrinya.
"Ah selamat, Bea. Ini adalah pesta yang sangat indah. Jika tidak berpikir tentang umur, rasanya Tante juga ingin menikah lagi," ucap Astrid yang kini telah resmi berpisah dari suaminya yang doyan mengoleksi istri muda.
"Kenapa tidak, Tante? Tante masih terlihat cantik dan awet muda," balas Beatrice menanggapi.
"Tidak, Bea. Tante ingin istirahat saja. Rencananya Tante akan pergi tinggal di Kanada bersama Agnez," ujar Astrid santai.
"Apa?" Serentak, ketiga sahabatnya terbelalak tak percaya. Soraya, Dena, dan juga Rahma menatap sambil terus membelakakan mata mereka dengan sempurna, membuat Astrid merasa risih.
"Astaga, kalian kenapa? Biasa saja kan bisa. Berlebihan." Astrid sendiri tampak santai, meskipun dalam hatinya memang ada setitik rasa getir. Bagaimanapun juga, itu merupakan sesuatu yang sulit, mengingat seberapa dekat kebersamaan di antara mereka berempat. Akan tetapi, keputusan telah diambil. Rencana untuk menetap di Indonesia sepertinya tidak akan mungkin, mengingat Agnez terus mendesaknya untuk segera pindah ke Kanada.
"Setelah resmi bercerai beberapa waktu lalu, Agnez maksa aku untuk ikut tinggal di sana. Aku pikir itu bukan ide buruk. Lagi pula, sekarang Dena dan Bungsu sudah menikah. Aya juga pasti nanti akan sibuk ngurus cucu andai Bea hamil dan punya anak. Sementara aku sudah tidak punya kesibukan apa-apa. Mau cari brondong juga rasanya ...." Astrid berdecak pelan.
"Ya ampun, Mbak. Mbak Astrid tenang saja, meskipun aku dan mbak Dena sudah menikah, kami janji tidak akan membahas masalah ranjang di hadapan Mbak," celetuk Rahma.
"Iya, Su. Benar tuh. Lagi pula, mbak As kan masih bisa beli alat-alat kalo cuma buat sekadar ...."
__ADS_1
"Den!" Astrid melotot kepada istri dari bule asal Swedia tadi. Sedangkan Dena hanya terkikik geli.
"Apa Mbak As akan seterusnya di sana atau hanya mengajukan izin tinggal saja?" tanya Soraya.
"Entahlah, Ya. Aku lihat situasinya dulu. Sebenarnya si Agnez sudah dari dulu ngajak aku untuk tinggal di sana, berhubung dia juga kan ada bisnis di Kanada. Jadi, sekalian bantu-bantu," jelas Astrid.
"Lalu, Mbak As akan berangkat kapan?" tanya Rahma yang terlihat sedih.
"Akhir bulan ini, Su. Kebetulan segala kelengkapan dokumen sudah siap," jawab Astrid.
"Ya ampun ...." Dena beranjak dari duduknya, kemudian merengkuh pundak Astrid. Begitu juga dengan Rahma yang melakukan hal sama. Sementara Soraya hanya tersenyum nanar memperhatikan mereka.
"Aku senang melihat jalinan persahabatan mama dengan teman-temannya. Meskipun mereka senang clubing dan pulang larut, tapi mereka saling peduli," ucap Beatrice setengah berbisik kepada Dirga, yang saat itu telah berkali-kali melihat ke arah meja di mana sang ibu berada.
Begitu pula dengan Reyhan. Adik tiri Dirga tersebut segera berdiri, kemudian memeluk sang kakak. Meskipun dulu dia pernah menaruh hati kepada Beatrice, tapi dirinya sadar bahwa gadis itu telah menjadi milik kakak tirinya sendiri.
Dirga dan Beatrice pun berbincang sebentar di sana, sebelum menghampiri tamu lain yang merupakan rekan-rekan dari mereka berdua. Intinya, acara resepsi pernikahan hari itu berjalan dengan lancar dan juga meriah.
Siang yang melelahkan telah berlalu. Malam pun tiba membuat Beatrice harus berdebar kencang, saat mendapati Dirga di dalam kamarnya. Untuk sementara, Soraya memang ingin agar mereka berdua tinggal di kediamannya terlebih dahulu, selagi mereka mencari rumah yang cocok.
"Kamu sudah mandi?" tanya Beatrice basa-basi. Dia terlihat bingung dengan keadaan saat itu.
__ADS_1
"Sudah. Apa kamu akan tidur sekarang?" Dirga balik bertanya.
"Um ... aku ...." Beatrice tampak gelagapan.
Sementara Dirga hanya tersenyum. Dia lalu berjalan mendekat kepada gadis cantik yang kini telah resmi menjadi istrinya. "Kamu kenapa?" tanya Dirga. Pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Beatrice yang tersipu malu.
"Aku ... aku tidak tahu harus melakukan apa ... um maksudku ...." Beatrice semakin kebingungan. Namun, semua rasa gugup yang tadi dia rasakan seketika sirna, ketika Dirga tiba-tiba menciumnya.
"Biasa saja, jangan terlalu gugup," ucap Dirga pelan. Dia membelai rambut serta wajah istrinya yang cantik, sebelum kembali melayangkan sebuah ciuman yang jauh lebih mesra. Sebagai seorang pria yang usianya telah jauh lebih dewasa dari Beatrice, Dirga pun menuntun sang istri menuju ke arah di mana mereka bisa mengukuhkan rasa cinta dalam bentuk berbeda.
Sementara itu, di dalam kamar yang lain. Soraya berdiri sendiri di atas balkon. Janda cantik tersebut menatap langit malam yang gelap. Seutas senyuman muncul di sudut bibirnya, ketika bayangan paras tampan mendiang sang suami terlukis dengan jelas di pelupuk mata.
Betapa tampan dan sempurnanya seorang Francesco Rojas. Dia telah mengunci hati Soraya untuk tak berpaling, meskipun dia harus menjalani hidup dalam kesendirian. Namun, Soraya tak merasa kesepian sama sekali.
"Frans, putri kita baru saja menikah. Dia sudah menemukan seseorang yang terbaik dalam hidupnya. Aku hanya berharap agar pria itu seperti dirimu. Untuk kali ini, tugasku telah selesai dalam menjaga putri kita. Namun, bukan berarti aku akan lepas tangan dengan begitu saja." Soraya tersenyum lembut. Tenang rasa hatinya saat itu, terlebih saat dia merasakan sebuah sentuhan halus di pundak.
"Selamat, Sayangku. Kau memang ibu yang luar biasa. Aku tahu jika kau istimewa, karena itulah aku memilihmu." Suara berat itu teramat Soraya kenal. Dia lalu menoleh ke samping, di mana berdiri seorang pria dengan postur tegap berambut cokelat.
"Kau di sini?" Soraya tersenyum lebar. Dia lalu bergeser dan menyandarkan kepala di pundak Francesco. Mereka berdua berdiri di atas balkon, menatap langit gelap yang sama.
Malam itu Soraya merasakan hembusan mesra angin malam dengan bayang-bayang Francesco. Dia merasa lega karena pada akhirnya bisa mewujudkan impian putri semata wayangnya.
__ADS_1
...🌹To Be Continued 🌹...